Di khianati, adalah satu kata yang paling menyakitkan. Bagaimana pria yang tak lagi punya rasa cinta itu bisa menjerat para wanita dalam pesonanya?
Ketulusannya terhadap Echa putri tirinya membuat Arfian menjadi pria paling di idamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"hahahaha...jadi.. sekarang kak Arfian terjebak antara wanita yang bernama Hanum dan Rihanna?" Rega terus saja mengejek Arfian yang beberapa menit lalu baru menceritakan perihal kebimbangannya untuk memilih calon istri.
"kau pikir ini lucu." Dengus Arfian.
Rega menghentikan tawanya, ia tahu jika Arfian tengah di lema saat ini. Sebagai seorang ayah tunggal tentu saja dia menginginkan seorang wanita yang akan menerima putrinya. Jika Hanum sudah jelas seperti itu tentu saja membuat Arfian bingung.
Jika di lanjutkan maka Echa pasti akan tersiksa. Tapi, tidak ada pilihan lain selain Hanum, karena Rihanna jelas-jelas adalah adik Ben. Pria yang telah merebut segalanya dari Arfian, sudah di pastikan Arfian tak mungkin memilih Rihanna.
"maaf-maaf." Seru Rega.
Ia menatap Arfian dengan tatapan serius kali ini.
"begini saja, kakak ajak wanita itu kerumah mamah. perkenalkan dengan mamah, nanti mintalah pendapatnya. bagaimana?"
"aku memang berencana mengajak Hanum kerumah mamah besok."
"uumm...lalu?"
"ya..kenapa bertanya padaku? aku kan minta pendapat mu, maka nya aku menceritakan semuanya." Protes Arfian tak senang. "ck..percuma saja, meminta pendapat pada pria yang tak berpengalaman." Dengusnya.
Rega melipat kedua tangannya. Ia tak terima di remehkan seperti ini.
"begini-begini juga aku pria yang bertanggung jawab." Ujarnya.
"iya-iya. sudahlah, kau pergilah. aku harus bekerja." Usir Arfian.
Rega melihat jam tangannya. Matanya melebar seketika begitu melihat jarum jam yang menunjuk angka 11.
"aahh..aku akan terlambat masuk kelas." Pekiknya terkejut.
Buru-buru pergi karena hari ini giliran ia masuk kuliah. Arfian menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rega. kegelisahan di hatinya sedikit berkurang sekarang berkat adanya Rega yang bersedia mendengarkan keluhannya.
"Rahel..." Tiba-tiba saja dia teringat wanita yang akan di tabraknya tadi saat di jalan.
Tanpa sadar senyuman tersungging di bibirnya. Entah kenapa hatinya terasa hangat begitu mengingat wanita itu. Ia merasa pernah melihatnya tapi lupa di mana.
"aaiiihh...jangan jadi pria brengs*k, Arfian." Ujarnya pada dirinya sendiri begitu sadar atas apa yang telah dia lakukan.
Arfian tak mungkin melakukan hal buruk. Dia sudah berjanji pada Hanum, membantu wanita itu menopang kehidupannya dan sebagai balasannya Hanum harus mau menjadi istri kontrak dan mengurus Echa. Meskipun Arfian ragu apa Hanum akan melakukannya dengan tulus atau hanya demi Leon putranya.
Di tempat lain, nampak Hanum tengah sibuk menyiapkan segalanya untuk acara meeting. Sebagai sekretaris ia harus melakukan segalanya dengan baik dan benar. Presdir perusahaan tempat ia bekerja sangat tak menyukai kesalahan, meskipun hanya sedikit saja yang salah ia bisa marah dan memotong gaji karyawan seenaknya.
"Bu hanum, ini minumlah dulu." Rahel menyodorkan secangkir kopi yang masih panas pada Hanum.
Hanum tersenyum, mengambilnya lalu menyesapnya sedikit.
"kau selalu tahu apa yang aku butuhkan."
"uumm..Bu, apa tadi pria yang mengantarkan ibu itu kekasih ibu Hanum ya?" Rahel duduk di depan Hanum sambil memeluk nampan yang sudah kosong.
Hanum tersenyum. Rahel memang seorang office girl, tapi ia adalah adik kelasnya saat di sekolah. Mereka dekat dan kebetulan sekarang di pertemukan di tempat kerja. Jadi sikap Rahel dan Hanum tak seperti atasan dan bawahan. Mereka nampak seperti seorang teman.
"apa kau tak ingat siapa dia?" Tanya Hanum.
Rahel mengerutkan keningnya. Mencoba mengingat tapi sama sekali tak ada bayangan tentang siapa pria itu. Menggeleng pelan sebagai jawaban.
Hanum menghembuskan nafas kasar. Mungkin Rahel sudah melupakan Arfian karena waktu yang terlalu lama memisahkan mereka. Dulu Rahel sering sekali bertemu Arfian saat duduk di bangku sekolah.
"dia Arfian. mantan kekasih ku..kakak kelas yang sering kau puji-puji karena kepintarannya."Jelas Hanum.
Rahel melotot tak percaya. Ia terkejut tentu saja, dulu Arfian memiliki tubuh kurus dan wajah yang begitu polos. Seorang kakak kelas yang ia sukai karena pintar juga prestasinya di sekolahnya. Hingga dia dan Hanum menjadi rival sampai pada akhirnya mereka berteman dekat.
Rahel mengakui kekalahannya saat Arfian tiba-tiba menyatakan cinta pada Hanum. Ia mundur dari cintanya, merelakan Arfian dengan Hanum.
Mengingat hal itu Rahel dan Hanum jadi tertawa sendiri. Betapa lucu nya mereka dulu mengejar Arfian.
"tapi... kenapa bisa bertemu lagi dengannya? apa dia sudah menikah?" Tanya Rahel penasaran.
Karena selama ini ia tak tahu seperti apa kehidupan Arfian setelah lulus dari sekolah. Yang ia tahu, Hanum putus dengannya.
"ya..dia punya satu orang putri." Jawab Hanum lesu.
Rahel menghela nafas panjang.
"aahh...tentu saja. pasti dia sudah menikah. tapi, bagaimana dengan mantan suami Bu Hanum kalau tahu ibu dan kak Arfian kembali dekat? lalu istri Kak Arfian..."
"stop." Hanum menatap wajah Rahel kesal.
Rahel selalu cerewet, tak pernah berubah dari dulu. Hanum menceritakan semaunya, tentang Arfian yang kini seorang duda dan rencana pernikahan mereka. Hanya satu yang ia tak katakan, tentang kontrak keduanya.
"sekali lagi kau tegaskan, panggil aku kakak seperti dulu."
"tidak bisa. karena sekarang Bu Hanum kan atasan bukan kakak kelas." Kilah Rahel.
"sudahlah terserah kau saja."
"memang ya... kalau jodoh tak lari kemana." Lirih Rahel.
Hanum terdiam. Ia tahu, sampai sekarang alasan Rahel belum menikah. Wanita ini masih saja takut dekat seorang pria dikarenakan trauma masa lalunya.
Hanya Arfian pria yang pernah di sukai Rahel. Sampai hari itu tiba, Rahel mengubur segalanya karena kelakuan bejat sang ayah. Ia tak percaya dengan pria mana pun sampai sekarang.
...***************...
Echa duduk di bangku depan sekolah dengan Wanda. Tengah menunggu Arfian untuk menjemputnya. Guru cantik itu telah menghubungi Arfian 17 menit yang lalu.
"ibu, apa Daddy akan datang?"
"iya. beliau bilang akan segera tiba."
Echa mengayunkan kakinya, matanya melihat kejalanan. Jalan raya yang tak pernah sepi itu menjadi pemandangan indah bagi nya. Sesekali tersenyum saat tak sengaja ada seseorang melihat kearahnya.
Hingga tak sengaja ia melihat sebuah mobil hitam berhenti tak jauh darinya. Perlahan ia turun dari bangku kayu itu.
"Echa..kau mau kemana sayang?" Bu Wanda segera menyusulnya.
Echa mengetik kaca mobil itu, ia tersenyum saat orang di dalamnya menurun kacanya hingga terlihat jelas.
Pengemudi itu nampak tak baik, wajahnya pucat dan keringat bercucuran di pelipisnya.
"paman, kenapa?"
"Echa, kemari.." Wanda menarik Echa agar menjauh, ia hanya takut terjadi sesuatu pada anak didiknya itu.
"Echa..." Panggil pria itu dengan suara lemah yang nyaris tak terdengar.
"paman kenal Echa?" Tanya Echa.
Wanda mengeryit. Laku segera bertanya pada pria yang hampir kehilangan kesadarannya itu.
"Anda siapa?"
"ayahnya....."
Bruk...
Kesadarannya hilang begitu mengatakan jika dia adalah ayah Echa. Wanda semakin bingung, ia tahu siapa ayah Echa. Pria asing di hadapannya ini membuat Wanda berpikir keras.
"Echa kenal paman ini?"
Echa menggelengkan kepalanya. Ia tak ingat pernah bertemu orang ini ataupun mengenalnya sebelumnya.
"Bu, ayo bawa paman ini kerumah sakit."
"tapi..."
"ibu guru kan bilang, jika ada orang yang kesusahan kita harus menolong nya."
Wanda jadi bingung. Setelah lama berpikir ia pun segera membuka pintu mobilnya, mendorong tubuh pria itu kesamping agar dia bisa mengemudi. Lalu membuka pintu belakang, setelah Echa masuk dan duduk di dalam Wanda segera masuk, duduk di kursi kemudi.
Menyelematkan nyawa seseorang jauh lebih penting. Wanda melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit terdekat.
Arfian menghentikan mobilnya tepat di depan sekolah Echa. Matanya mengedar mencari keberadaan putrinya, ia sudah di beritahu bahwa Echa ada di depan sekolah. Tapi, Arfian sama sekali tak menemukannya.
Segera menghubungi gurunya untuk menanyakan keberadaan mereka.
Tut.. Tut..Tut...
Panggilannya kembali terputus. Guru Echa sama sekali tak mengangkat telponnya. Arfian menjadi sangat cemas, turun dari mobilnya. Ia berlari memasuki gerbang sekolah. Berharap jika Echa masih ada di kelasnya.
Setelah lama mencari keberadaan Echa sama sekali tak di temukan. Arfian hampir putus asa dan hendak melapor pada pihak berwajib.
Drt...Drt...
Arfian membatalkan panggilannya saat ada pesan masuk. Menghela nafas lega saar guru Echa lah yang mengirimkan pesan. Tapi begitu membaca pesannya yang mengatakan Echa berada di rumah sakit membuatnya langsung bergegas kesana tanpa bertanya dulu untuk apa berada di sana.
Dipikirannya hanya ada Echa, takut putrinya itu kenapa-kenapa.
...********************...