Haiii semua.. Ini Novel karya pertamaku.. Mohon dukungannya ya, semoga kalian suka alur ceritanya. 🙏🙏
Ini menceritakan tentang romansa cinta anak sekolah. Kisah cinta yang penuh dengan berbagai perasaan.
Menceritakan seorang gadis remaja lugu dan apa adanya yang tiba-tiba menjalani kehidupan yang sangat rumit.
Febhia Putri Kusuma gadis remaja berusia 16 tahun ini tinggal bersama kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya. Febhia menjalani kehidupan gadis remaja pada umumnya, hingga suatu ketika dia mengalami sebuah situasi dimana kedua orang tuanya harus berpisah.
Dan disituasi yang bersaam Febhia harus mengalami penghianatan dari sahabatnya. Hidupnya makin rumit dan membuatnya putus asa. Cinta pertamanya berpaling darinya. Febhia merasa semua yang ia cintai mulai menghilang perlahan-lahan.
Mau tau kelanjutan ceritanya?? ayoo baca Novel pertamaku ini.. Mohon dukungannya ya.. ❤️❤️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Arida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Tragedy
****
[ Via telfon ]
" Ini siapa? "
" Ini aku Yo, Nadin "
Gio yang terkejut mendengar nama seorang wanita yang tak asing baginya itu, dengan segera menutup panggilan telfon itu. Lalu mematikan handphonenya dan ia lanjut mengendarai mobilnya sampai kost-an.
Ya, Nadin adalah cinta pertama Gio, dan ia juga mantan kekasih dari Fero. Dulu saat SMP mereka bersahabat, hingga suatu ketika Fero mengutarakan perasaannya pada Nadin dan mereka menjalin hubungan. Gio yang saat itu memendam perasaannya hanya merelakan gadis yang di sukai nya itu untuk sepupunya , yaitu Fero.
Hingga suatu ketika hubungan Nadin dan Fero harus berakhir, dan Nadin memutuskan untuk bersekolah di luar kota. Namun kali ini berbeda, Nadin merasa selama ini ia juga memiliki perasaan terhadap Gio, namun ia selalu memungkiri perasaannya itu.
Bhia turun dari mobil Gio dengan terburu-buru, ia takut apabila Arkan masih bangun dan memergokinya tengah malam dengan seorang pria, yah walaupun pria itu adalah Gio.
Gio masih berada di dalam mobilnya, dan sesekali melihat kearah handphone yang saat ini ia genggam.
Lalu dengan mengumpulkan banyak keberanian Gio menelfon kembali ke nomor telfon yang baru saja menghubunginya itu. Gio hanya ingin memastikan apakah wanita barusan yang menelfon nya benar adalah Nadin.
[ Via telfon ]
" Halo.. "
Terdengar suara lembut dari wanita yang tidak asing lagi bagi Gio. Ia begitu mengenali suara ini sampai menusuk ke dalam relung hatinya.
" Nadin? " tanya Gio yang memastikan suara wanita itu benar adalah Nadin.
" Iya Yo, ini aku Nadin. Kamu gimana kabarnya? maaf yah, malem-malem gini aku telfon kamu,"
Gio terdiam, ia masih terpaku mendengar suara wanita yang dulu sangat ia rindukan itu.
" Halo Yo? kamu masih di sana kan?
" Halo Din, iya aku masih di sini,"
" Kamu apa kabar? tadi kamu belum jawab lho pertanyaan ku,"
" Aku baik, kamu masih di jogja? "
" Enggak, aku udah pindah di jakarta, udah lama malah. "
" Oh, kamu tau nomor aku dari mana? "
" Oh itu, aku baru aja tau kamu ternyata satu sekolah sama sepupu aku Raisa."
" Hmmm, yaudah udah malem, besok aku musti bangun pagi aku tutup ya telfonnya."
" Iya, di save ya nomor ku, besok aku telfon lagi."
" Hmm "
Lalu Gio menutup telfonnya dan turun dari mobilnya. Ia berjalan ke arah rumahnya dengan langkah yang lunglai. Ia tak pernah menyangka akan berhubungan kembali dengan Nadin.
*** Keesokan harinya ***
Lagi-lagi pagi ini Bhia harus berangkat dengan Gio, Arkan selalu berangkat lebih pagi karna tugas-tugas sekolah yang semakin banyak, di karenakan sebentar lagi Arkan akan menghadapi Ujian Nasional.
Gio sudah menunggu Bhia di dalam mobil, suasana hati Gio masih bercampur aduk. Dia sudah melupakan Nadin, tapi jika ia tiba-tiba di pertemukan kembali dengan Nadin, entah apa yang akan terjadi pada perasaanya itu.
Bhia membuka pintu mobil Gio, ia mulai masuk dan memakai sabuk pengamannya. Lalu kemudian Bhia sibuk dengan handphone nya yang tiba-tiba berdering. Ia melihat layar handphonenya dan melihat panggilan itu ternyata dari Angga.
Bhia mengangkat telfon dari Angga dengan raut wajah yang malas. Ia masih merasa kesal pada Angga.
[ Via telfon ]
" Iya halo pa, ada apa? "
" Kamu udah mau berangkat sekolah ya ?"
" Hmmm "
" Gimana ya papa ngomong nya Bhi.? "
" Kenapa pa? jangan bikin aku khawatir deh? "
Gio yang mendengar percakapan Bhia itu seketika langsung menoleh ke arah Bhia.
" Mama kamu Bhi, "
" Mama?? kenapa sama mama pa? " tanya Bhia yang mulai panik sehingga membuat Gio menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Bukannya jawaban yang di terima Bhia tapi malah isak tangis Angga.
" Papa sekarang dimana? aku ke sana ya? "
" Maaf sayang, papa nggak bisa jagain mama, sekarang mama udah tenang sayang di sana."
" Enggak , enggak , papa sekarang dimana? kasih tau aku !! "
Angga pun memberikan alamat kepada Bhia, Bhia yang sudah sangat panik itu memohon pada Gio untuk mengantarnya. tanpa bertanya lagi Gio langsung menyetujui permohonan Bhia.
Gio melajukan mobilnya dengan sangat kencang, Gio juga memberitahu Bhia supaya ia mengabari Arkan. Lalu Bhia dengan segera menelfon Arkan dan memberitahukan apa yang di katakan Angga tadi lewat telfon.
Bhia memberikan alamatnya pada Arkan, dan Arkan juga akan menyusul Bhia ke tempat tersebut. Dalam perjalanan Bhia hanya bisa menangis sambil menggigit kuku jari jempolnya.
Gio yang melihat Bhia merasa ikut dalam kesedihan yang di alami Bhia. Ia pun sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk menghibur Bhia. Gio hanya bisa sesekali menatap ke arah Bhia dengan tatapan sedihnya itu.
Sesampainya di tempat tujuan, Bhia dengan segera membuka pintu mobil Gio tanpa menutupnya lalu berlari ke sebuah rumah yang sudah di kerumuni banyak orang.
Bhia masuk ke dalam rumah itu matanya tertuju pada sosok yang berbaring di depan Angga, lalu Bhia menghampiri Angga sambil menangis tersedu-sedu.
Ia membuka kain yang menutupi wajah seseorang yang sedang berbaring itu. Saat ia membukanya betapa terkejutnya Bhia, ternyata itu adalah Ningrum.
" Enggak, ini nggak mungkin, pa mama kenapa? mah, bangun ma bangun, " ujar Bhia mengguncang-guncangkan tubuh Ningrum.
" Sabar sayang, ikhlaskan mama yah" ujar Angga mencoba menenangkan putrinya itu.
" Enggak pa, ini bukan mama, aku mau cari mama, " elak Bhia, yang masih belum percaya mama nya telah tiada.
Bhia berlari keluar dari rumah itu, Gio yang berada di depan pintu rumah itu dengan segera meraih tubuh Bhia yang tiba-tiba saja tak sadarkan diri.
" Bhi, bangun Bhi.. " Gio pun mengangkat tubuh Bhia dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Lalu Gio pun kembali ke rumah itu, ia masuk dan menghampiri Angga. Ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa Ningrum bisa meninggal dunia.
Angga akhirnya menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya kepada Gio. Ningrum tadi malam mendatangi rumah Angga dan membawakan surat perceraian, namun karna Angga masih ingin mempertahankan pernikahannya, ia pun menolak surat itu dan merobeknya menjadi beberapa bagian.
Lalu Ningrum yang merasa frustasi dan marah ketika melihat Rossi yang masih berada di rumah itu tiba-tiba meminta Angga untuk memilih antara Ningrum dan Rossi. Lagi-lagi saat itu Rossi berulah dan mencoba bunuh diri, ia mencoba melompat dari atap kamar Ningrum di depan Ningrum, namun dengan segera Ningrum meraih tangan Rossi dan malah dirinyalah yang terlempar jatuh ke bawah.
Gio yang mendengar cerita Angga hanya bisa menahan nafasnya, ia merasakan sesak di dalam dadanya. Ia membayangkan bagaimana Bhia jika mengetahui yang sebenarnya. Bhia pasti sangat terpukul jika mengetahui kejadian yang sebenarnya.
mampir juga yuk dinovelku