Naoto Raiden, seorang tentara yang tewas dalam konspirasi militer, bereinkarnasi ke masa perang klan di dunia Naruto sebagai bagian dari keluarga Senju. Namun, identitas aslinya jauh lebih agung: ia membawa darah murni Otsutsuki beserta mata Tenseigan yang legendaris.
Memilih untuk hidup santai namun tetap melindungi keluarga angkatnya, Raiden tumbuh sebagai kakak dari Hashirama dan Tobirama. Setelah melewati hibernasi panjang demi berevolusi di planet asing dan mengalahkan Momoshiki, ia kembali ke era Naruto dengan kekuatan yang melampaui dewa. Kini, dengan identitas sebagai suami Tsunade dan mentor rahasia bagi Naruto, Raiden bergerak di balik bayang-bayang untuk membersihkan Konoha dari kegelapan dan menghadapi ancaman klan Otsutsuki yang mulai mengintai bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orpheus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertarungan #1
Sosok berkulit pucat itu meremas tangannya dengan kuat hingga persendiannya berbunyi nyaring. Tatapan matanya penuh dengan niat membunuh.
"Baiklah, sebelum aku membawa kepalamu kembali ke klan, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Orang yang akan membunuhmu adalah Benkeishiki Otsutsuki. Ingat itu!"
Raiden tidak menjawab. Ia hanya menyipitkan mata, sementara mata di dahinya mulai berkilat merah, memancarkan aura tekanan yang sangat berat. Ia segera memasang kuda-kuda bertarung, membiarkan cakranya meledak di sekeliling tubuhnya.
"Ushishikiii...!" Benkeishiki berteriak lantang dan langsung melancarkan serangan.
Benkeishiki adalah tipe petarung taijutsu yang sangat brutal. Kecepatannya melampaui konsep waktu di mata ninja biasa.
BOOOMM!
Benturan fisik terjadi dalam sekejap mata. Namun kali ini, Raiden yang biasanya tak tergoyahkan justru terpental jauh menembus bebatuan planet mati tersebut. Benkeishiki tidak memberikan napas sedikit pun. Ia melesat dan muncul tepat di depan wajah Raiden sebelum pria itu sempat menyeimbangkan posisi.
"Senju-kannon!"
Dalam waktu hanya satu detik, ribuan pukulan bertubi-tubi menghujam tubuh Raiden. Setiap hantaman membawa beban cakra yang sangat mengerikan. Raiden yang mulai babak belur menyadari bahwa situasi ini sangat serius. Kekuatan orang yang dilawannya kali ini benar-benar berada di level yang berbeda—melebihi siapa pun yang pernah ia hadapi di bumi, bahkan melebihi Kaguya.
Di tengah hujan pukulan yang menghancurkan itu, Raiden memutuskan untuk membuang wujud manusianya sejenak.
Raiden saat ini berubah total, kulitnya kembali kewujud semula rambutnya panjang dan yang paling otentik dari klan otsutsuki adalah tanduk di kepala raiden yang melengkung kebelakang.
"Dimensional Erasure!"
Seketika, tubuh Raiden tampak menjadi transparan. Pukulan Benkeishiki yang seharusnya menghancurkan organ dalamnya justru menembus udara kosong, teralihkan ke dua belas dimensi milik Raiden secara bersamaan.
Raiden tidak membuang peluang. Ia mengulurkan tangannya ke samping. "Ame-no-murakumo!"
Sebuah katana hitam pekat bermanifestasi dari kegelapan ruang hampa. Raiden mengayunkannya dengan kecepatan cahaya. "Shinku : hajun!"
Tebasan itu bukan sekadar serangan biasa. Itu adalah pemutusan ruang secara vertikal yang menuju tepat ke arah Benkeishiki. Namun, Benkeishiki bereaksi dengan sangat tenang. Ia menghentikan serangannya dan melompat mundur.
"Amano-iwato!"
Sebuah perisai cakra berpola heksagonal muncul mengelilingi tubuh Benkeishiki. Serangan Raiden yang seharusnya membelah ruang justru terpantul dengan keras, meluncur ke arah planet mati di sebelah mereka.
DUAAAAAARRRR!
Planet itu hancur berkeping-keping menjadi debu dalam sekejap.
"Hahahahahahaha...!" Benkeishiki tertawa terbahak-bahak melihat kehancuran itu. "Mari kita mulai dengan lebih serius... Koka-gan!"
Mata di dahi Benkeishiki terbuka, dan seketika seluruh permukaan tubuhnya mengeras seperti berlian hitam yang tidak bisa ditembus. Raiden tidak mau kalah. Dua belas Gudoudama muncul melayang di belakang punggungnya, bersinar dengan pola bunga emas.
"Nanatsu no Doga!"
Benkeishiki mengeluarkan tujuh senjata yang terbuat dari manifestasi cakra berwarna merah darah. Ia mengambil sebuah gada raksasa, sementara enam senjata lainnya berputar di belakang tubuhnya seperti lingkaran dewa kematian.
Mereka berdua melesat bersamaan. Dentingan suara benturan senjata terdengar sangat nyaring hingga menggetarkan orbit sekitar. Mereka bergerak begitu cepat bagai kilatan cahaya yang saling beradu. Daratan planet yang mereka pijak lama-kelamaan hancur berkeping-keping akibat tekanan udara dari setiap gerakan mereka.
Saat gada Benkeishiki mengayun horizontal ke arah lehernya, mata di dahi Raiden berkilat tajam.
"Yatagarasu Counter!"
Tubuh Raiden pecah menjadi tujuh bulu perak dan seketika muncul kembali di belakang Benkeishiki, mengincar titik vital di belakang leher.
TING!
Dentingan nyaring kembali terdengar. Tubuh Benkeishiki yang sepenuhnya tertutup perisai Koka-gan tidak bisa tertembus, bahkan oleh serangan terencana Raiden. Efek tolakannya justru membuat Raiden terpental mundur beberapa meter.
"Hahahaha! Tunjukkan semuanya, Ushishiki!" teriak Benkeishiki sembari mengayunkan gadanya dengan gila.
Raiden melihat sekeliling. Planet tempat mereka bertarung sudah hancur berantakan, dan ia melirik ke arah bumi yang tampak tenang di kejauhan. Ia terpikir jika terus melanjutkan pertarungan di tempat ini, maka bumi pasti akan terdampak oleh ledakan cakra mereka.
Ia mengaktifkan matanya lagi.
... KRAK ...
Dunia di sekitar mereka retak seperti layar kaca yang pecah. Dalam sekejap, mereka berdua berpindah ke salah satu dimensi pribadi milik Raiden. Sebuah dunia yang dipenuhi bebatuan panas dan aliran magma yang membara. Bagi orang lain di bawah tingkat Kage, berada di sini berarti terbakar menjadi abu dalam hitungan detik. Namun, bagi anggota Otsutsuki, panas ekstrem ini hanyalah suhu biasa.
Benkeishiki memegangi wajahnya dan menyeringai. "Sebegitu pentingkah manusia-manusia itu bagimu, Ushishiki? Itu tidak seperti dirimu yang dikenal di klan."
Raiden tetap diam. Ia mengarahkan tangannya ke depan. "Bansho Ten'in!"
Sebuah tarikan gravitasi yang sangat kuat mencoba menyeret Benkeishiki ke arahnya. Namun, Benkeishiki hanya tersenyum sinis. "Fudo Myo-o!"
Tubuhnya yang seharusnya tertarik justru berdiri tegak layaknya tiang pancang yang menembus inti dimensi. Gravitasi Raiden seolah tidak ada harganya.
"Ckckck... jangan gunakan teknik dari kasta rendah kepadaku. Itu tidak berefek sama sekali," cela Benkeishiki.
Benkeishiki kemudian menarik napas dalam dari mulutnya. "Shishi Odoshi!"
Gelombang kejut sonik yang sangat cepat meluncur keluar dari mulutnya, melebar dengan kecepatan mengerikan menuju Raiden.
Raiden segera meletakkan katananya secara melintang di depan dada. "Ginran: Enbu!"
Ayunan pelan namun presisi dari katana Raiden memantulkan kembali gelombang kejut itu tepat ke arah Benkeishiki. Benkeishiki sedikit terpental, dan untuk pertama kalinya, sebuah goresan muncul di dadanya. Darah berwarna merah pekat merembes keluar dari luka itu.
"Hahahahaha! Bagus... sangat bagus!" Ia menyentuh darah itu dengan jarinya, kemudian menjilatnya sendiri. "Selain mereka dan Shibai-sama, kau adalah orang yang berhasil melukaiku, Ushishiki!"
Mendengar nama itu, Raiden sedikit terkejut. Meskipun ia adalah seorang reinkarnator yang merasa tahu segalanya tentang dunia ini, ini adalah pertama kalinya ia mendengar nama tersebut secara langsung.
'Shibai-sama? Apakah dunia ini memiliki banyak sekali Otsutsuki? Argh, apakah setelah kematianku di dunia lama,apakah anime ini sudah berganti alur menjadi sesuatu yang tidak kuketahui?' batin Raiden gelisah.
Ingatannya tentang masa kematiannya dulu sangat kabur. Ia hanya sempat melihat awal-awal konflik, namun nama Shibai terdengar seperti entitas yang jauh lebih tinggi daripada Kaguya.
Raiden menggertakkan gigi, menatap Benkeishiki yang kini auranya semakin menjadi-jadi. "Aku tidak peduli siapa Shibai itu. Siapa pun yang mengancam ketenanganku bersama ... akan kuhancurkan!"