"Kesalahanku adalah karena aku menerima tawaran itu sehingga aku mulai merasa nyaman dengannya."
Melani Pricillia adalah seorang sekretaris baru di Perusahaan Haditama. Ia baru saja bekerja selama 6 bulan pada perusahaan yang dipimpin oleh seorang pria dingin bernama Revan Haditama.
Sebuah tawaran dilayangkan oleh Revan kepada Melani yang membuat wanita itu tergiur dengan isi dari kontraknya. Sebuah kontrak yang mengharuskan Melani berpura-pura menjadi pacar Revan sebagai alasan Revan agar terhindar dari perjodohan yang telah direncanakan oleh orang tuanya. Namun tidak hanya itu, di luar dugaan Revan pun meminta Melani menjadi istrinya dengan bayaran 1 Miliar.
Bagaimana hubungan Revan dan Melani di akhir kontrak? Akankah cinta dapat tumbuh dan menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan hati?
Follow Instagram Author : ekapradita_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdamai Dengan Keadaan
Selamat membaca!
Perasaan bahagia yang mendebar, begitu dirasakan Diana saat dirinya menikmati perjalanannya dari dalam mobil.
"Mah, kenapa Mama menangis?" tanya Melani yang melihat air mata menetes dari kedua sudut mata sang mama.
"Mama ingat Papa kamu, Mel. Saat ini dia pasti bangga karena memiliki anak seperti kamu." Ucapan Diana sontak membuat Melani teringat akan kebohongan yang saat ini sedang ia tutup-tutupi dari Diana. Wanita berparas cantik itu pun terdiam dengan raut wajah yang sempat berubah sendu. Namun, Melani dengan cepat tersadar bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuknya ikut larut dalam kesedihan Diana karena ia ingin membuat sang mama bahagia.
"Mah, sudah ya Mah, jangan sedih!" Ingat Mah, hari ini kita harus bersenang-senang ya!" ujar Melani dengan mengulas senyum dari kedua sudut bibir merahnya.
Perkataan Melani membuat Diana dengan cepat mengusap air matanya dan ia mulai dapat tersenyum tanpa ada kesedihan lagi di dalam hatinya.
Perjalanan kini kembali berlanjut dan Melani mulai fokus dengan lalu lintas yang tampak memadat di depannya. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit lamanya, kini tibalah Melani di sebuah gedung yang berada di sekitar bunderan HI untuk memarkir kendaraannya. Ya, saat itu hari Minggu dan jalanan utama ibukota ditutup untuk semua kendaraan baik roda empat ataupun roda dua. Sebuah kegiatan yang dinamakan Car Free Day memang selalu rutin dilakukan setiap Minggunya.
Selesai memarkirkan Lamborghininya, kini kedua wanita itu dengan ceria mulai berbaur dengan keramaian pengunjung lainnya di sekitar bunderan HI. Bukan hanya sekadar olah raga, banyak di antara mereka yang memang sengaja datang hanya untuk menikmati berbagai macam jajanan yang tersedia di sana, makanan khas betawi yang akan membuat lidah siapapun akan bergoyang saat menikmatinya.
Kini Melani dan Diana sudah menghabiskan waktu selama satu jam dengan ber-selfie di berbagai view di sekitar bunderan HI. Setelah puas dengan foto-foto yang mereka telah ambil dari berbagai angel, keduanya terlihat sedang menyewa dua buah sepeda.
"Mah, ingat ya! Mama jangan terlalu bersemangat bersepedanya, santai saja ya Mah. Mamah harus ingat kondisi jantung Mama ya." Melani begitu memperhatikan kondisi sang mama yang memang belum sepenuh pulih pasca dirawat satu bulan yang lalu karena penyakit jantung yang dideritanya.
"Mama itu sehat, Mel. Ayo kita balapan!" ajak Diana menantang putrinya dan membuat Melani terkesiap mendengar tantangan dari sang mama.
"Mama, aku enggak mau ah, takut Mama kambuh jantungnya. Sudah ya Mah, kita santai aja bersepedanya."
"Lah kamu takut, Mel. Ya sudah ayo kejar Mama sampai ujung sana ya, dadah sayang." Diana memacu laju sepedanya, hingga meninggalkan Melani dengan rasa cemas yang semakin menelusup ke dalam dirinya.
Melani pun akhirnya ikut menyusul Diana dengan menambah kecepatan sepedanya. Sampai akhirnya saat Diana hampir tiba di tempat yang mereka sudah sepakati sebagai garis finish, Melani dari belakang tiba-tiba mendahului sepeda Diana dengan cepat dan melewati garis finish terlebih dahulu, hanya selisih tiga detik dari Diana.
"Yeay, aku menang!!! Karena Mama kalah balapan, berarti nanti aku traktir Mama beli tas seperti tas-tas punyanya teman arisan Mama ya!" ucap Melani bersorak bahagia karena berhasil mengalahkan sang mantan atlet balap sepeda sewaktu masih muda dulu.
"Ya ampun, Mel. Dulu Mama kalau balapan sama teman-teman tuh yang kalah mesti traktir yang menang. Ini kok malah kebalik ya kalau balapan sama kamu."
"Gak apa-apa dong, Mah, namanya juga balapan sama anak," jawab Melani sambil merangkul bahu Diana layaknya seperti seorang sahabat.
Setelah puas bersepeda, kini Melani mengajak Diana untuk jajan cemilan yang tersedia di sana seperti lapis legit, lemper ayam, bacang, sate kikil dan onde-onde untuk mengisi perut mereka agar tidak terasa lapar karena perjalanan mereka hari ini untuk berkeliling kota Jakarta masih sangat panjang.
Pagi itu raut wajah Melani tampak begitu berseri setelah berhasil berdamai dengan keadaannya yang sempat membuatnya seperti tak memiliki semangat untuk hidup. Namun, setelah Melani berpikir lagi dan lagi, akhirnya wanita itu kini dapat menerima semua hal buruk yang kemarin sempat terjadi di dalam hidupnya. Ya, wanita itu saat ini benar-benar hidup dengan satu tujuan yaitu untuk selalu memberi kebahagiaan kepada Diana, seorang ibu yang sangat dicintainya.
"Alhamdulillah sekarang aku bisa membuat Mama kembali bahagia. Walau aku harus kehilangan kehormatanku, tapi setidaknya dengan melihat kebahagiaan di wajah Mama, itu sudah cukup mengobati kenangan buruk yang pernah aku lewati. Sekarang aku mulai sadar, bahwa kontrak yang Revan tawarkan kepadaku bukan hanya menguntungkan untuknya saja, tapi juga untuk aku." batin Melani yang merasa senang melihat senyum bahagia Diana terpancar menghiasi raut wajah wanita yang sudah berumur 48 tahun itu.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak.
Mampir juga ke Sekretarisku Canduku Season 2 ya sahabat semua.