Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.
Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.
Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.
Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Bu Sinta
Tetaplah saling mendukung, bukan saling menjatuhkan.
💝💝💝
Sejak kepergian Rina, Alina bersikap biasa. Ia menekan perasaan negatif pada Adnan. Meyakinkan hati, jika suaminya telah mengubur perasaan pada wanita itu dalam-dalam.
Azan Maghrib berkumandang saat dua sejoli itu baru saja sampai rumah. Adnan membawa belanjaan ke dapur, lalu Alina menyimpan perdagingan lebih dulu di freezer. Keduanya bergegas mengambil air wudu, lalu melaksanakan salat Maghrib seperti biasa.
Tidak ada yang janggal, ataupun berbeda. Mereka masih saling tertawa dan membereskan belanjaan usai salat selesai. Beberapa kali Alina mengerjai Adnan dengan mainan ulat bulu yang sudah lama ia beli, akan tetapi lupa digunakan.
"Berhenti menggoda, Sayang," kata Adnan sembari menyimpan stok mie instan di kitchen set paling atas. "Aku bisa membalasmu dua kali lebih kejam."
Awalnya, Alina membeli mainan seperti ulat bulu itu karena tertarik saja. Saat mengisi bensin beberapa hari lalu, ia melihat seorang kakek tua tengah duduk melamun sembari memegang beberapa mainan ulat bulat. Merasa kasian, Alina menghampiri dan membeli satu dengan sengaja melebihi uangnya.
Alina tidak tahu, jika Adnan geli dan takut dengan ulat bula. Direktur Utama itu bahkan bergedik ngeri begitu mainan ulat bulu Alina simpan di dekat kaca mobil depan. Beberapa kali Adnan menyuruh istrinya, untuk membuang. Namun, rasa jahil Alina lebih mendominasi.
"Mas, ini cuman mainan, lho." Tangan Alina memegang mainan tersebut. "Kamu, kok, penakut."
"Aku geli, Sayang."
"Sama aku aja engga geli, tapi sama ulat bulu geli!"
"Kamu bisa aku jinakkan, tapi kalau ulat bulu. Aku mendingan bayar orang buat jinakinnya."
Selang satu menit selanjutnya, terdengar bel rumah berbunyi. Adnan mengintruksikan Alina agar segera mengganti pakaian dengan piyama panjang dan jilbab. Mereka tidak tahu, siapa yang bertamu.
Alina menurut, ia pergi ke kamar. Sementara Adnan menuju pintu luar, untuk membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, terpampang lah wajah seorang wanita paruh baya sembari tersenyum.
"Kalian sudah tidur, ya, Nak?" tanyanya.
Adnan tersenyum. "Belum, Bu. Silakan masuk."
Bu Sinta ternyata datang ke rumah menantunya dengan membawa maksud tertentu. Ia masuk, dan duduk di sopa. Matanya terus menyapu ruangan yang mewah, melihat barang-barang mahal menghiasi rumah ini.
Adnan menyunggingkan sebuah senyuman, lalu ke dapur mengambilkan segelas air. Membiarkan ibu mertua tirinya itu memanjakan mata dengan ketakjuban pada rumahnya.
"Diminum, Bu." Adnan meletakkan gelas di meja. Menunggu kehadiran istrinya.
Tanpa basa-basi, Bu Sinta segera mengutarakan niatnya dengan memasang wajah memelas. Meminta Adnan untuk meminjaminya uang 10 juta.
"Ibu butuh sekali, Nak Adnan," cakapnya.
Adnan belum merespon, ia hanya duduk sembari netranya menilisik ke arah Bu Sinta Sebagai seseorang yang cerdas, ia tentu tahu, jika ibu menantu tirinya tengah berakting. Ia bisa menilai mana yang benar, dan salah.
"Nanti, saya bicarakan dulu dengan Alina, Bu," sahut Adnan ramah.
Dahi Bu Sinta berkerut. Apa menantunya takut istri? Sampai-sampai keuangan saja harus berdiskusi dengan istri. Ini diluar dugaannya.
"Karena Alina-lah yang mengatur semuanya. Jadi, jika Ibu mau pinjam. Coba bicara ke Alina," lanjut Adnan berbohong. Ia dan Alina saling terbuka perihal keuangan. Terlebih, Alina tidak pernah mempermasalahkan. Yang terpenting semua kebutuhan, dan gajinya mengalir.
"Kenapa harus ke Alina? Dia mana mau pinjamkan Ibu uang," tutur Bu Sinta. Ada rasa kesal yang hadir di tutur katanya.
"Istriku orang baik. Pedagang keliling saja, ia bantu. Mana mungkin dengan Ibunya sendiri, ia pelit. Kecuali ada yang tidak beres," sindir Adnan dengan tangan dua dilipat di dada.
"Oh ... jelas! Dia itu anak yang susah diatur, makanya Ibu kesal sama dia," kata Bu Sinta penuh penekanan. "Jadi, Ibu pinjam ke Nak Adnan aja, ya."
Dari sini, Adnan bisa menyimpulkan sesuatu. Menguak apa yang terperangkap selama ini. Sekesalnya seorang Ibu, ia tidak akan mungkin membeberkan kesalahan anaknya sendiri. Meski, itu pada menantunya. Bukan berarti seorang Ibu harus menutupi kejelakan sang Anak. Namun, biasanya seorang Ibu selalu tidak terima, jika anaknya dipandang hina oleh orang lain.
"Sebentar, saya ambil cek dulu." Adnan bangkit, melangkah menuju tangga. Bertatapan dengan Alina yang ternyata telah mendengarkan sejak tadi. "Kamu dengar sendiri?"
"Iya, Mas."
"Aku ambil cek dulu sebentar ke kamar. Kamu boleh memilih menemuinya atau tidak." Adnan kembali menapaki dua tangga ke atas.
"Tunggu!" cegah Alina. "Kenapa Mas memilih meminjakan uang. Bukannya Mas tau, kalau wanita itu cuman memanfaatkan Mas aja."
Jelas Adnan tahu. Hanya saja, ia memiliki sebuah rencana di balik kebaikannya malam ini. Bukan ia ingin membalas keburukan dengan keburukan. Namun, Adnan yakin uang 10 juta yang ia pinjamkan saat ini akan berguna di masa depan nanti. Terutama, untuk membungkam mulut mereka.
"Kamu bakal tau nanti." Adnan kembali meneruskan perjalanan ke kamar. Mengambil cek sesampainya di kamar, lalu menuliskan angka 15juta. Sengaja ia melebihkan agar semakin besar peluangnya nanti.
Adnan telah kembali, sedangkan Alina masih mengawasi di ujung tangga. Kakinya berat, untuk melangkah sekadar menghampiri. Muak rasanya untuk melihat wajah tersebut.
Mata Bu Sinta berbinar-binar begitu Adnan datang membawakan cek dengan nominal yang tak di sangka. Ia pun berjanji akan mengembalikannya secepat mungkin. Dalam hati, tentu ia berharap menantunya mengikhlaskan uang tak seberapa ini bagi Adnan.
"Ibu engga perlu buru-buru mengembalikkan. Nanti, jika saya butuh. Saya yang menagihnya langsung pada Ibu," kata Adnan tenang.
"Makasih, Nak." Tersenyum bahagia.
Usai mendapatkan keinginannya, Bu Sinta pun pamit pulang. Adnan mengantar sampai ke teras. Mencium tangannya selayaknya menghormati seorang Ibu.
Bu Sinta telah pergi bersama mobilnya, Adnan masuk rumah. Ia menghampiri istrinya, mendapati Alina tengah menerima telepon.
"Apa, Dok? Telinga saya engga salah dengar, kan?" tanya Alina dengan wajah yang sulit diartikan. "Saya akan ke rumah sakit sekarang."
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa like, coment, dan vote🙈