Mencintai dalam diam seperti cintanya Fatimah terhadap Ali adalah pilihannya yang membuatnya terjebak dalam situasi sulit dimana sahabatnya juga mencintai pilihan Aisha, disaat ia memilih mengalah dan menyerah karena Naufal memilih Azizah, takdir malah mempersatukan mereka lewat perjodohan tanpa rasa cinta
Mampukah Aisha menjalani pernikahannya? dan merubah sikap Naufal?
Akankah Aisha memilih egois dan bertahan? atau malah menyerah dan pergi? atau memilih bertahan bersama - sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nailah gina khairunnisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhatan Naufal
..."Hadirmu membawa warna dihidupku meski pada kenyataannya kamu tak pernah mengharapkan ku, terimakasih sudah selalu ada di setiap detiknya,"...
***
Selama di perjalanan tak ada percakapan yang terjadi hanya hening yang mengisi ruang itu, bahkan untuk sekedar bersuara saja sangat sulit untuk terjadi di antara dua orang itu. Canggung mungkin juga mendominasi
"Kak," panggil Aisha akhirnya
"Apa?" sahut Naufal datar
"Aku mau nanya, kakak beneran mau lanjutin perjodohan ini?" tanya Aisha sekali lagi hanya untuk memastikan
"Kenapa?"
"Hah?" Naufal memutar matanya malas
"Kenapa Lo nanya kayak gitu?" tanya Naufal
"Aku cuma nggak mau nanti pernikahan kita ke depannya hancur gara gara kakak nggak nyaman sama aku," ujar Aisha jujur, Naufal menarik napasnya dalam dalam kemudian menghembuskannya perlahan
"Sejujurnya hati gue benar benar menolak perjodohan ini, tapi satu hal yang harus Lo tahu gue bukan tipe laki laki yang ingkar sama janjinya sendiri," ucap Naufal tanpa beban
Dan tanpa memikirkan perasaan Aisha yang tersinggung karena ucapannya barusan "Aku minta maaf," ucap Aisha
"Tapi aku nggak bisa lihat Bunda sama Ayah sedih karena nolak perjodohan ini," ujar Aisha lagi
"Gue nerima perjodohan ini dengan berat hati, alasannya cuma satu karena permintaan Mamah gue," ucap Naufal dan Aisha hanya terdiam
"Hati gue sakit Sha, saat gue mencintai seseorang tapi orang itu nggak bisa gue ajak bersanding," kali ini nada bicara Naufal seperti tengah mencurahkan isi hatinya
"Lalu gue harus bersanding dengan orang lain disaat gue benar benar sedang menyayangi orang lain, Lo pasti paham gimana rasanya Sha,"
"Sha, lo tau? Betapa sesaknya hati gue saat mendengar perjodohan ini, bahkan gue mati matian untuk menolaknya tapi Mamah selalu menjadi umpan Papah supaya gue nggak nolak perjodohan ini," ucap Naufal, matanya fokus menatap jalanan yang ia belah
"Sha, maaf kalau gue belum bisa menerima lo sepenuhnya lagi karena dihati gue saat ini hanya ada Azizah, dan gue belum bisa lupain dia," ucap Naufal dengan mata menyayu, kali ini cowok itu benar benar menceritakan semua yang mengganjal di hatinya pada sososk Aisha saat ini tak ada Naufal yang ketus dan dingin saat berbicara
Deg !
Satu hal yang Aisha tahu hari ini bahwa Azizah benar benar sudah menggantikan posisinya di hati Naufal dan itu mampu membuat Aisha merasa senang dan juga sedih
Senang karena sahabatnya berhasil mendapatkan seseorang yang di cintainya namun juga sedih karena Aisha harus menikah dengan Naufal yang tak mencintainya
'Kak, Aku boleh egois nggak buat milikin Kakak sepenuhnya? Setidaknya saat ini kakak ada dalam lingkaran takdir yang menyatukan kakak dengan aku,' batin Aisha
jujur hatinya sangat sakit saat Naufal mengucapkannya tanpa tahu perasaan Aisha yang sesungguhnya tanpa tahu kejadian yang sebenarmya
'Hey, ada apa dengan hatimu Aish? Kamu perempuan tangguh yang tak pernah merasakan sakit saat dilukai, kamu itu perempuan yang hatinya terbuat dari besi,' batin Aisha lagi berusaha menguatkan dirinya sendiri, meski pada kenyataannya ia tak sekuat yang dibayangkan
Hatinya rapuh, sangat rapuh yang mana dilukai sedikit saja ia bisa menangis karena sakit
"Sha, jujur gue nggak bisa menerima perjodohan ini dengan ikhlas," ucap Aisha dengan tertekan
Blam !
'Kak Naufal, kamu pemuda tangguh yang aku kenal kamu laki laki setia yang pernah aku jumpai dan dalam hatimu, kamu itu sangat penyayang sama siapapun, tapi untuk sekarang izinkan aku kembali masuk ke hatimu,' batin Aisha dalam diamnya
Tapi Aisha tak bisa memaksakan kehendaknya sendiri, semua orang punya hak memilih jalannya sendiri
"Maaf Kak," lirih Aisha ikut menatap jalanan di depan
Setelahnya tak ada lagi yang berbicara keduanya bungkam dengan pikiran mereka masing masing dengan Naufal yang masih fokus menyetir menuju rumah Aisha
Begitu sampai di depan rumah, Aisha langsung turun dari mobil Naufal
"Kak, makasih banyak ya udah nganterin aku sampai rumah," ucap Aisha dengan tersenyum
"Iya sama sama, gue pulang dulu masih ada urusan," pamit Naufal, Aisha mengangguk lalu mobil itu pun segera pergi dari halaman rumah Aisha yang luas
Setelah dirasa mobil itu benar benar sudah menghilang Aisha segera masuk ke rumah dan mendapati Zilia sedang duduk dengan antengnya di depan tv
Zilia yang menyadari kehadiran Aisha di ruangan itu langsung menoleh pada gadis itu
"Eh calon pengantin udah pulang," kata Zilia dengan terkekeh
"Apaan coba," kesal Aisha
"Yah jangan marah marah gitulah nggak baik tau yang mau nikah marah marah," kata Zilia
Bukannya membujuk agar Aisha tak marah yang ada Zilia malah membuat Aisha semakin kesal padanya
"Ih, kamu tuh ya ngeselin banget sih!"
"Nggak kok, kata siapa aku ngeselin?"
"Kata aku barusan!" sinis Aisha, Zilia tertawa melihat tingkah Aisha yang sedang marah, jarang jarang ia melihat seorang Aisha yang lemah lembut marah
"Lagian kamu kenapa udah ada disini? Bukannya tadi katanya ada urusan? Cepet banget selelsainya?" tanya Aisha heran
"Gimana tadi fittingnya? Lancar kah? Ada hambatan kah? Atau ada apa kah?" tanya Zilia menaik turunkan alisnya
"Ih aku nanya malah balik nanya lagi, jawab dulu!" ucap Aisha
"Janji dulu jangan marah," titah Zilia membuat Aisha memicing padanya
"Nggak mau, ntar aneh aneh pula!" tolak Aisha
"Yaudah kalau nggak mau, Aku juga nggak mau jawab, wlee!" cibir Zilia
"Yaudah Aku juga nggak mau jawab pertanyaan kamu yang tadi!" kesal Aisha
"Eh jangan dong, iya nih Aku kasih tahu sebenarnya tadi Aku itu pergi bukan karena ada urusan tapi sengaja nggak ikut biar kamu bisa berdua sama Kak Naufal," aku Zilia membuat Aisha melotot padanya
"Kamu tuh ya bener bener! Tau nggak tadi itu Aku hampir mati ngebayangin satu mobil berdua sama kak Naufal dan ternyata kamu cuma bohongin Aku?!" kesal Aisha
"Ampun ibu negara, saya tidak bermaksud seperti itu," ucap Zilia masih bisa bercanda di saat seperti ini
"Kamu pikir aku lagi bercanda?!"
"Gawat! Kayaknya Aisha benar benar marah nih," gumam Zilia pelan
"Apa?!" kesal Aisha
"Nggak ada apa apa, jadi gimana?" tanya Zilia
"Gimana apanya?!" kesal Aisha
"Fitting bajunya," jawab Zilia
"Kamu bukannya minta maaf karena udah bohongin Aku, malah nanyain urusan baju!" kesal Aisha
"Hehe iya iya maaf deh," kata Zilia dengan terkekeh
"Nggak Aku maafin!" kesal Aisha
"Kok gitu sih?"
"Nggak papa, pokoknya nggak aku maafin sebelum kamu bikinin aku cemilan enak," kata Aisha
"Iya deh aku bikinin, yaudah tunggu disini ya aku bakal buatin kamu makanan enak," ucap Zilia dengan tersenyum penuh arti
"Awas kalo nggak enak," ujar Aisha
"Iya tenang aja deh, aku bakal bikinin kue yang enak banget pokoknya kamu bakal suka di jamin," ucap Zilia sambil terkekeh
"Aku mau nunggu di kamar aja sekalian istirahat," ucap Aisha
"Iya silahkan tuan putri," kekeh Zilia namun Aisha hanya mendelik pelan lalu ia pergi ke kamarnya
Di kamarnya Aisha hanya membaringkan tubuhnya yang terasa lelah setelah pergi ke butik tadi, padahal hanya sebentar tapi rasanya sangat menguras tenaganya
"Terlalu banyak beban hari ini, aku pengen tidur dulu untuk melupakan beban sejenak,"
Aisha bergumam pelan, tak lama kemudian kedua manik mata indah itu pun mengantuk bersamaan dengan terlelapnya seorang Aisha yang tengah di hadapkan berbagai macam masalah
jangan lupa mamour ke novelku yah penantian cinta sejati