Gladis 24 tahu harus menerima kenyataan bahwa masa depannya berada di tangan kedua orang tuanya. Ia dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya untuk memperkuat perusahaan orang tuanya di kancah Internasional.
Gadis yang mempunyai kekasih bernama Fadli seorang dokter kandungan harus rela putus karena kedua orang tua Gladis tidak pernah merestui hubungan keduanya.
David calon suami Gladis adalah seorang pengusaha muda yang terkesan dingin, ketus, pemarah, tempramen. Akankah pernikahan mereka berlansung bahagia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto Prewed.
"Ada apa kamu ajak aku kemari?" tanya Gladis pada David.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," kata David singkat.
Siang itu David mengajak Gladis keluar jalan-jalan di pinggir pantai dekat pepohonan yang rindang.
"Apa itu?" tanya Gladis penasaran menatap David.
"Gladis jika kita nanti menikah aku akan tetap mengijinkan kamu untuk berhubungan degan Fadli," kata David memulai pembicaraan.
Gladis menatap David aneh, apa arti ucapan David dan mengapa pula David berbicara seperti itu.
"Apa maksud kamu?" tanya Gladis tidak mengerti.
"Aku tau Gladis kamu tidak bisa hidup tanpa Fadli, semua ini membuat dirimu sangat sulit tapi aku tidak akan pernah menghalangi perasaanmu kepada Fadli."
Gladis tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh David entah apa yang terjadi pada David sehingga ia bisa berbicara seperti itu.
"Aku tidak mengerti kamu bicara apa Vid," Gladis menatap aneh kepada David.
"Aku tau sampai kapan pun kamu akan mencintai Fadli tidak akan pernah bisa ada yang menggantikan dia di hatimu," jelas David.
Mendengar ucapan David, Gladis terdiam tidak bergeming memang benar ucapan David tidak ada yang bisa menggantikan Fadli di hatinya.
"David aku sudah membuat keputusan dengan semua ini jadi tidak mungkin aku akan kembali dengan Fadli," tukas Gladis.
"Aku tau Gladis, kamu bisa bicara seperti itu tapi tidak dengan hatimu. Kamu bisa membohongi orang lain tapi tidak dengan aku," kata David menatap Gladis.
"Aku tidak perduli kamu mau bicara apa yang jelas aku sudah membuat keputusan Vid."
"Apa kamu tidak mau kesempatan kedua Gladis? Aku akan memberikan kesempatan kedua kepadamu dengan Fadli setelah kita menikah satu tahun aku akan menceraikan mu," ucap David.
Gladis kaget bukan main mendengar ucapan David ia benar-benar tidak mengerti apa yang David inginkan.
"David menikah itu bukan mainan, pernikahan itu sakral janji suci sehidup semati janji kita dengan tuhan, janji itu harus di tepati bukan untuk di mainkan," kata Gladis memberikan penjelasan.
"Bagaimana dengan perasaan kita! Aku bukan laki-laki yang kamu cintai dan kamu juga bukanlah wanita yang aku cintai. Apakah kita harus berpura-pura bahagia?" tanya David lagi.
"Seperti yang aku pernah bilang kepadamu David, aku sudah membuat keputusan aku juga tau tidak mempunyai pilihan, anggap saja semua aku lakukan untuk kedua orangtuaku."
"Balas budi maksudmu!" kata David memperjelas ucapan Gladis.
"Berbakti kepada orang tua lebih tepatnya," kata Gladis singkat.
"Lalu perasaanmu?" David menatap lekat kepada Gladis yang ada di hadapannya.
"Seiring jalannya waktu semua akan berbeda, yang jelas untuk saat ini kita jalanin saja dulu semua keinginan orang tua kita. Kita tidak punya pilihan kan!" kata Gladis lagi.
"Apa itu artinya kamu bisa membuka hatimu untukku?" tanya David menatap Gladis.
Lagi-lagi Gladis terdiam menatap David, pertanyaan David kali ini membuat Gladis tidak bisa menjawab.
"Kenapa diam?" lanjut David bertanya.
"Ah...itu..." kata Gladis gugup.
"David biarkan semu mengalir apa adanya yang jelas aku dan Fadli semua sudah berakhir," tambah Gladis lagi meyakinkan David.
"Kamu belum menjawabnya Gladis jawab pertanyaan ku, apa bisa kamu membuka hatimu untukku?" David memperjelas ucapannya sambil menatap Gladis.
"Aku tidak tau David biarkan semua berjalan apa adanya jika tuhan mengijinkan kita bersama-sama semua akan terjadi," ucap Gladis pasrah.
David dan Gladis terdiam sejenak sambil menatap satu sama lainnya, Gladis sangat bingung kenapa bisa David berbicara seperti ini apa yang David pikirkan.
"Aku akan menepati janjiku Gladis, kamu bisa berhubungan dengan Fadli setelah kita menikah nanti," lanjut David lagi.
"Kenapa kamu ingin agar aku dapat kembali dengan Fadli?" tanya Gladis dengan nada meninggi dan heran.
"Karena kamu mencintainya dan kamu tidak bisa melupakannya."
"David sekali lagi aku bilang kepadamu, aku dan Fadli sudah berakhir dan tidak akan pernah bersama-sama lagi. Dan dengan pernikahan kita aku akan melakukannya selayaknya seorang istri yang akan berbakti kepada seorang suami," kata Gladis tegas.
Entah kenapa mendengar ucapan itu hati David sangatlah bahagia, David pun tidak mengerti dengan perasaannya kali ini. Semenjak bertemu dengan Gladis melihatnya untuk pertama kali ia amat menyukainya.
"Woy...berdua saja lo tidak ngajak-ngajak?" panggil Juna.
David dan Gladis pun menoleh ke arah sura itu ternyata adalah Juna dan Ari, mereka berdua menghampiri Gladis dan David yang sedang duduk bersisian di atas pasir.
"Ngapain sih lo mengikuti gw terus?" semprot David kesal.
"Ya elah masa gw tidak boleh kesini," tanya Juna sedikit kesal.
"Tau Vid masa gw sama s juna mulu sih bt gw," keluh Ari.
"Lagian ngapain sih lo berdua di sini?" Juna balik tanya.
"Kepo lo," jawab David singkat dan Gladis hanya tersenyum.
"Ya ampun segitunya lo sama gw Vid," kata Juna dengan nada sedih.
"Lagian ngapain sih lo ke sini ganggu saja," semprot David kesal.
"Lah kan gw mau mencari lo dan Gladis katanya mau sekalian foto prewed bagaimana sih," ungkap Juna kesal.
Gladis dan David pun terkejut dan saling menatap.
"Foto prewed!" ucap Gladis menatap David.
"Iya sekalian di sini bagus kan tuh View-nya pantai," saran Juna kepada Gladis.
"Kebawa tsunami saja lo nanti," celetuk David.
"Eh lo Vid ngomong sembarangan," kata Juna kesal.
"Tau lo memang mau liat Gladis batal nikah, tapi jika kamu tidak jadi dengan David aku juga mau ko Dis," sambung Ari menggoda.
Mata David pun langsung melotot ke arah Ari ia begitu kesal dengan ucapan Ari sahabatnya itu.
"Tidak ada yang bisa ngambil Gladis dari gw selama gw masih hidup," ucap David tegas sedikit mengancam.
Deg...Gladis kaget menatap David hatinya tersentuh dengan ucapan David, apa benar itu ucapan David keluar dari hatinya sendiri atau hanya ancaman semata.
"Hahaha tenang saja bro gw hanya becanda, lagian mana mau Gladis sama gw iya kan Dis?" kata Ari dan lagi-lagi Gladis hanya tersenyum.
"Ya sudah yu kita foto prewed sekarang, di sini saja," ajak Juna antusias.
"Gila lo siang-siang begini," semprot David.
"Tidak akan kenapa-kenapa ko, cepetan ah lama," ajak Juna.
Akhirnya David dan Gladis pun mengikuti ajakan Juna dan Ari meskipun foto prewednya mendadak dan tidak mewah tetapi kelihatan begitu bagus, beberapa pose pun di ambil oleh Juna dari David dan Gladis berjalan berpegang tangan disisi pantai, bermain air di sisi pantai dan duduk berdua menghadap pantai.
"Tidak makeup juga cantik kamu Dis," puji David ketika melihat hasil foto di kamera milik Juna.
Juna, Ari dan Gladis pun menatap David betapa malunya David kala itu.
Sial kenapa sih mulut gw **tidak** bisa di jaga selalu keceplosan seperti ini jika dekat-dekat Gladis.
kemudian, berarti dia tdk menerima kalau bayi nya terlahir cacat.
🙏🙏 kalau sy slh paham