Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.
Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.
Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.
Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taktik Pengepungan Dua Titik
Pukul delapan lewat empat puluh lima menit pagi, dua SUV hitam bertenaga besar membelah jalanan kota menuju kawasan Senayan. Aran duduk di balik kemudi kendaraan utama, tangannya mencengkeram lingkar kemudi dengan presisi yang mantap. Di kursi belakang, Shanum duduk sendirian, merapikan jilbabnya yang berwarna pastel. Sementara di kendaraan kedua yang mengekor di belakang, Baskara memimpin empat personel pengawal terbaik keluarga Al-Maktoum.
Pagi itu, langit Jakarta tampak dinaungi awan mendung yang tipis. Saat kendaraan melintas di persimpangan arteri menuju lokasi proyek, laju lalu lintas mendadak terhenti total. Deretan mobil mengular panjang akibat penutupan jalan darurat dan rekayasa jalur oleh beberapa petugas berrompi kuning.
"Aran, jalur arteri ditutup total akibat truk mogok di depan," suara Baskara terdengar melalui perangkat radio komunikasi terenkripsi di dasbor. "Kita terpaksa mengambil rute alternatif lewat Tol Lingkar Luar."
Aran memicingkan mata, menatap barikade jalan di depan dengan insting taktis yang mendadak terpicu. "Diterima, Pak Baskara. Kita ambil jalur tol. Tetap jaga jarak dan perketat pengawasan."
Aran memutar kemudi, mengarahkan SUV hitam itu naik menuju gerbang Tol Lingkar Luar. Ia sama sekali tidak tahu bahwa rekayasa kemacetan dan pengalihan rute ini adalah skenario maut yang telah dibocorkan oleh Gus Azhar kepada faksi eksekutor bayaran bentukan Devan dan Surya Wijaya.
Begitu mobil melaju di atas aspal jalan tol yang relatif lengang, atmosfer di dalam kendaraan berubah perlahan. Aran memindai kaca spion tengah dan samping secara berkala. Lima menit setelah memasuki tol, dua unit SUV besar ber Kaca gelap pekat tanpa plat nomor resmi mulai muncul dari jalur lambat. Mereka tidak mendahului, melainkan mengambil posisi mengekor dalam jarak jarak presisi yang sangat terukur.
'Pola pengintaian taktis,' batin Aran dingin.
Aran melirik ke arah kaca spion tengah. Shanum tampak menyadari perubahan raut wajah pengawalnya yang mendadak amat serius dan kaku. Jemari lentik Shanum yang bertaut di atas lapannya mulai bergetar pelan. Wanita itu menyadari ancaman yang sedang mengintai mereka di atas jalan tol ini.
Namun, daripada berteriak panik, Shanum memejamkan mata sejenak. Suara alunan zikir dan doa perlindungan mulai terdengar mengalir lembut dari bibirnya—suara yang begitu halus, pasrah, namun bergetar penuh keteguhan iman.
“Bismillahi alladzi la yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa la fis sama’i wa huwas sami’ul ‘alim…”
Suara zikir Shanum yang menggema lembut di dalam kabin mobil yang kedap suara itu menghantam kedalaman jiwa Aran. Untuk sejenak, dada mantan pembunuh bayaran dari organisasi Viper itu berdesir hebat.
Dahulu, hidup Aran hanya mengenal dua hal: kalkulasi angka kematian dan cara bertahan hidup dengan mengandalkan kekuatan fisiknya sendiri. Bagi Viper-1, Tuhan adalah konsep asing yang tak pernah hadir di tengah dentuman peluru dan pertumpahan darah. Namun, sejak takdir membawanya ke lingkungan pesantren dan mempertemukannya dengan Shanum, perlahan-lahan kegelapan di dalam dadanya runtuh.
Melihat Shanum yang berserah diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta di tengah ancaman maut, Aran merasakan benih iman yang tumbuh di hatinya kini merekah utuh. Ia tidak lagi bertarung sekadar karena perintah atau naluri bertahan hidup seorang prajurit. Aran kini percaya bahwa ada Takdir Yang Maha Kuasa yang menuntun langkahnya, dan bahwa dirinya dihadirkan di sisi Shanum bukan secara kebetulan, melainkan ditugaskan oleh Tuhan untuk menjadi perisai bagi wanita salehah ini.
Aran menatap mata Shanum melalui kaca spion tengah, menyalurkan ketenangan yang dalam dan kehangatan iman yang baru ia temukan.
"Tetap berdzikir, Shanum, kita akan baik-baik saja." tutur Aran dengan suara rendah yang sangat tenang dan menyejukkan. "Minta perlindungan kepada Allah. Selama napas saya masih berembus dan atas izin-Nya, tidak akan ada satu pun manusia yang sanggup menyentuh atau menyakiti Anda."
Shanum membuka matanya, menatap pendar ketulusan dan ketenangan di mata Aran lewat spion. Rasa takut yang sempat menyergap dadanya seketika sirna, berganti dengan rasa aman yang tak tergoyahkan.
"Terima kasih, Aran," bisik Shanum tulus di antara hembusan napasnya. "Saya percaya padamu... dan saya bertawakal kepada Allah."
Aran tersenyum dan memandang Shanum dari sebuah spion kecil ditengah kabin, berusaha mengalirkan ketenangan untuk menuntun mental Shanum agar tidak panik.
Saat kedekatan jiwa mereka menguat dalam bingkai iman yang suci, ancaman di luar mobil mengeksekusi puncaknya.
Brak!
Secara mendadak, sebuah truk kontainer berukuran sedang dari lajur kiri memotong jalur secara ganas, memaksa mobil pengawal Baskara di belakang melakukan pengereman mendadak. Bumper mobil Baskara terhambat oleh badan truk yang melintang, memisahkan secara total kendaraan utama Shanum dari tim bantuan.
"Aran! Kami terisolasi di belakang! Truk memotong jalan!" teriak suara Baskara melalui radio yang mulai terganggu gelombang destruktif.
"Tetap di posisi Anda, Pak Baskara! Saya yang ambil alih!" balas Aran tegas.
"Baik, setelah masalah disini beres. Saya akan segera menyusul kalian" Jawab Baskara mantap.
Dua SUV hitam tanpa plat nomor yang membuntuti tadi seketika menghentakkan akselerasinya. Satu SUV meluncur kencang memotong jalur dari sebelah kanan, lalu sengaja membanting setir ke kiri untuk memagari bumper depan mobil Aran. Sementara SUV kedua mempet ketat dari sisi kiri, menghimpit kendaraan Shanum hingga sejajar dengan pembatas jalan tol.
'Taktik pengepungan dua titik', analisis Aran kilat.
Di dalam SUV musuh yang menempel di sisi kiri, kaca jendela gelap perlahan turun. Dua pria berbadan tegap dengan topeng balaklava hitam mengacungkan tongkat pemukul baja dan alat pemecah kaca khusus, bersiap menghantam jendela mobil Shanum untuk memaksanya berhenti darurat.
"Menunduk dan tutup telinga Anda, Mbak Shanum!" teriak Aran, suaranya berubah menjadi nada komando bertempur yang penuh intimidasi.
'tidak akan ada yang bisa menyakiti anda selagi saya masih bernapas' batin Aran yakin, sambil terus menambah kecepatan untuk melarikan diri dari kepungan dua mobil yang semakin mendekati mereka.
Shanum dengan patuh segera merapatkan tubuhnya di atas kursi belakang, melipat kedua tangannya di atas kepala seraya tak berhenti melafalkan zikir di dalam hati.
"Jangan panik mbak, jika terjadi sesuatu, tetap pertahankan posisi anda dan tetap didalam mobil." perintah aran.
"Jangan gunakan tubuhmu dan nyawamu sebagai tumbal untuk keselamatan saya." Kata Shanum disela-sela dzikirnya yang terus diucapkan.
Aran memindahkan tuas transmisi ke mode manual, meremas lingkar kemudi dengan cengkeraman baja. Matanya berkilat penuh keteguhan. Ia tak lagi sekadar seorang mantan eksekutor yang dingin, melainkan seorang pelindung yang bertarung di bawah naungan takdir dan iman. Pengepungan di atas aspal jalan tol telah capai puncaknya, dan Aran bersiap menembus barikade maut itu demi keselamatan Shanum Al-Maktoum.
saling support sabi kali thor🤭