Hola ...
Update setiap hari ... !!!
Warning :
Novel ini bisa membuat kalian tersenyum-senyum sendiri dan tertawa gemasss ...!!!
Novel ini juga mengandung banyak bawang ditengah!!! Selamat membaca ...
Karena ada yang minta sekuel anaknya Galas dan Gayung. Ini aku kasih sekuel mengenai anak kedua mereka, Jusuf Alexander.
Dalam perjalanan menuju kampung halaman untuk menengok kedua orang tuanya yang kini menetap dikota kelahiran mereka. Jusuf Alexander tersesat dijalan karena mengikuti Google Map. Padahal ibunya sudah mengingatkannya untuk tidak mengendarai mobil sendiri. Karena Alex lemah mengingat jalan.
Hingga akhirnya ia tersesat dijalanan terjal dalam kondisi mobil yang tiba-tiba mogok. Apesnya hujan mengguyur begitu deras malam itu. Hingga ia kebingungan untuk meminta bantuan. Sampai kemudian muncul seorang gadis yang menolongnya.
Dari sanalah perjalanan cintanya yang amazing bermula. Ikuti terus ya ...Ok say ...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Curly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 ( Menginginkannya )
Rasa canggung mulai menghampiri, saat mereka masuk ke dalam kamar. Terutama Alex, ia tak bisa melepaskan pandangannya pada Pandan yang langsung merebahkan tubuhnya ditempatnya biasa, menyelimuti seluruh tubuhnya dan tidur menyamping membelakangi dirinya yang masih berdiri mematung disamping tempat tidur seperti orang bodoh.
"Ma-mau langsung tidur?" Entah kenapa, malam ini rasanya berbeda dengan malam-malam yang lalu. Mungkin, karena sikap Pandan yang seolah memberinya harapan. Sehingga, hasratnya seolah semakin tak terbendung malam ini.
"Iya," jawab Pandan singkat dengan mata terpejam. Sesungguhnya ia pun merasakan hal yang sama dengan Alex. Oleh karenanya, ia memilih langsung tidur saja, alih-alih memainkan ponselnya seperti biasa.
"Lampunya ... a-aku matikan," ucap Alex dengan kegugupannya yang begitu kentara.
"Hemm." Pandan berusaha menjaga ketenangannya. Meski didalam sana, jantungnya berdebar tak karu-karuan. Sikapnya yang kadang terlihat berani dan menantang diluar, semata hanya karena ia tak ingin terlihat polos saja. Ia tak ingin dipermainkan atau diremehkan lagi hanya karena ia orang kampung, miskin, lemah atau apapun itu.
Hening. Kelihatannya. Namun dada mereka sama-sama bergemuruh dengan perasaan saling menginginkan satu sama lain yang tak terungkapkan oleh kata. Namun seluruh tubuh mereka merasakannya. Membuat keduanya sebenarnya sama gelisah menahan sebuah rasa nyeri yang menyiksa.
"Pandan." Akhirnya Alex membuka suara. Ia tak tahan lagi dan menggeser tubuhnya mendekat kepada sang istri.
"Hemm?" Dan Pandan dapat merasakan kasur dibelakangnya telah terisi oleh kehadiran Alex. Pandan membuka matanya, tangannya meremas bantal putih itu dengan perasaan tak menentu.
"Dingin," ucap Alex. Dan Pandan dapat merasakan hembusan nafas hangat Alex ditengkuknya juga tangannya yang menelusup masuk ke dalam selimut memeluk pinggang rampingnya. Untuk beberapa saat, Pandan menahan nafasnya sebelum akhirnya mampu menguasai diri. Dan ia dapat merasakan detak jantung Alex yang sama berdebarnya dengan dirinya dari dada Alex yang menempel dipunggungnya.
"Alex, panas," ucap Pandan beberapa saat kemudian setelah mereka kembali membisu.
"Ah, iya ... padahal tadi dingin." Alex menarik tangannya yang mengepal, menekan sebuah keinginan untuk menyentuh sesuatu yang lain. Namun ia tidak menggeser posisinya, hanya saja merubah tubuhnya menjadi tidur telentang. Apakah jika ia meminta haknya sekarang, itu terlalu cepat? Atau mungkin Pandan belum siap untuk itu. Alex menarik nafas panjang. Ia tak ingin menjadi laki-laki egois yang memaksakan kehendaknya hanya karena tak bisa menahan hasratnya.
Alex melirik kembali pada Pandan yang masih memunggunginya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan urusannya, dikamar mandi, tentu saja. Dengan gerakan perlahan, Alex menggeser tubuhnya menuju tepi ranjang. Namun, sebelum sempat ia terbangun sempurna, ia merasakan tangannya ditahan oleh seseorang, istrinya sendiri. Otomatis ia kembali pada posisi tidur, menatap pada Pandan yang perlahan menarik tangannya untuk mendekat. Dan Alex merasakan kembali jantungnya berpacu tak sehat kala tanpa aba-aba, Pandan mencium bibirnya penuh kelembutan. Membuatnya untuk sekian detik terkejut dengan serangan itu. Namun tak lama, ia pun membalasnya dengan ciuman yang lebih keras dan menuntut. Seolah meluapkan rasa hausnya akan ciuman sang istri atau mungkin lebih dari itu. Sehingga tanpa sadar, posisinya kini sudah diatas sementara Pandan dibawahnya mengalungkan tangan dilehernya.
"Kamu yakin?" tanya Alex parau menatap wajah sayu istrinya dengan nafasnya yang sedikit terengah setelah ciuman panjang mereka.
Sebuah anggukan penuh keyakinan menjadi jawaban atas pertanyaan yang Alex berikan. Lalu keduanya saling melempar senyuman dalam pandangan yang sama berkabutnya akan gairah yang membuncah.
Alex mengecup bibir ranum yang tersenyum itu sekilas. Jantungnya semakin berdegup kencang tak menentu. Jakunnya bergerak naik turun menelan salivanya susah payah sebelum melanjutkan malam yang seharusnya akan menjadi malam yang indah bagi mereka berdua.
Alex kembali meraup bibir manis itu, mencecap segala rasa yang ada. Ciuman itu kemudian turun ke dagu, telinga, leher lalu kemudian Alex tak lupa mengecupi tengkuk putih itu dengan sensual, mengigitinya kecil lalu kemudian menghisapnya membuat Pandan merasakan sensani yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun ia sudah membulatkan keputusannya, ia memasrahkan tubuhnya untuk suaminya. Ia tak ingin menyiksa Alex lebih lama, meski ada sedikit rasa takut akan masa depan pernikahan mereka akan seperti apa nantinya. Pandan sungguh tak ingin menjadi istri rahasia. Karena itu mengingatkannya akan masa lalu ibunya yang pernah menjadi simpanan ayahnya, dulu. Dua kata, rahasia dan simpanan, mungkin memiliki arti yang berbeda namun tetap memiliki satu kesamaan, yakni sama-sama disembunyikan.
Tangan Alex hampir saja, menyentuh benda kenyal yang sering mencuri perhatiannya itu. Namun, apadaya ... suara bel yang berbunyi beruntun, memutus pergerakan tangannya yang spontan mengepal menunjukkan bahwa ia sangat terganggu dengan suara bel itu. Lebih-lebih kepada yang telah memencetnya.
"Shitt," umpatnya lirih sembari menjatuhkan wajahnya diceruk leher istrinya.
"Alex ...." Pandan mengusap punggung suaminya itu lembut. "Buka pintunya, kita bisa meneruskannya nanti ...." Ia tahu Alex begitu kecewa, karena ia pun merasakan hal yang sama. Untuk sampai tahap ini pun, ia harus mengumpulkan keberaniannya dengan susah payah tadi.
Alex menarik wajahnya.
"Pandan, apa kita rusak saja bel sialan itu? Sepertinya dia selalu mengganggu kita," ucap Alex dengan raut wajah antara kesal dan geli dengan ucapannya sendiri.
"Alex, Buka pintunya ...." Pandan ikut tersenyum, mengingatkan suaminya karena bel terus dipencet beruntun oleh sang tamu.
Mau tak mau Alex menegakkan tubuhnya dan beralih dari atas tubuh istrinya dengan rasa kecewa yang tak dapat ia tutupi. Pandan ikut bangun dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Pandan, kamu disini saja." Alex mengecup bibir Pandan yang sedikit membengkak karena ulahnya itu sebelum beranjak membukakan pintu.
"Astaga ... Kunyuk mana lagi yang malam-malam begini bertamu, arghtt ...." Mulut Alex tak hentinya mengoceh sembari berjalan keluar kamar.
***
"Aku menginap disini ya, Mas." Ibra masuk begitu saja tanpa memedulikan wajah Kakaknya yang rasanya ingin menendangnya ke jalanan banjir diluar sana.
"Ka-kamu mau menginap?" Alex mengikuti langkah Ibra dengan frustasi.
"Iya. Malas pulang, jauh, macet banjir lagi jalanannya. Capek banget habis lembur." Ibra melempar tas kerjanya begitu saja dan menjatuhkan pantatnya yang penat ke atas sofa.
Alex menarik nafas panjang. Kesal? Sudah pasti. Tapi melihat adik bungsunya yang terlihat lelah, membuatnya tak tega juga untuk mengusir si bontot. Maka pelariannya satu-satunya adalah rokok. Disulutnya nikotin itu dan menghisapnya kuat dengan wajahnya yang tak bisa ia pungkiri. Ia kecewa.
"Mas?" Ibra melirik sang Kakak yang duduk di single sofa tak jauh darinya.
"Apa?" Alex melirik pada adiknya itu. Masih tersisa rasa jengkel disana, namun coba Alex redam. Mengingat Ibra adalah adik kandungnya. Kalau itu Kevin, mungkin sudah ia bantai saat ini juga.
"Kamu ada masalah apa, Mas? Kok kayak stress gitu?" tanya Ibra dengan polosnya. Andai dia tahu, dirinyalah penyebab rasa stres kakaknya.
"Ah, iya ... aku lumayan "stress" saat ini," jawab Alex dengan wajah frustasinya, menekan penuh pada kata stress dalam kalimatnya.
"Karena apa? Cerita sih Mas sama aku, siapa tahu aku bisa bantu." Ibra mencoba berperan menjadi adik yang baik buat Kakaknya.
"Karena seseorang," jawab Alex malas sembari menghisap kembali nikotinnya. Cih, membantu katanya ... cukup kamu pulang kerumahmu sendiri, itu sudah membantuku Ibra sialan... Arrghtt!!!
"Siapa, Mas? Kurang ajar banget tuh kunyuk, berani-beraninya mengusik Kakak kesayangan Ibra." Ibra ikut mengambil sebatang rokok dari atas meja. Ia bukan perokok aktif seperti Kakaknya dan hanya sekali-kali menghisapnya jika menginginkannya saja.
Alex melirik gemas pada si bontot itu. Rasanya ia ingin berteriak di depan mukanya yang lugu akut itu. Masalahnya kunyuk itu kamu sendiri IBRA BODOH!!! Astaga ... sabar Alex ...
***
Sorry guys baru up ...
Semoga kalian masih setia membaca cerita gak jelas ini ...
Jangan lupa LIKE KOMEN VOTE