Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kafe Baru
Bu Ratih kembali menatap gambar abstrak Althaf, lalu menghela napas pelan.
Berbeda dengan murid-murid lain yang menganggapnya lelucon, sang guru seni justru menangkap gelombang emosi yang sama beratnya dengan gambar Diantha tadi.
Jika gambar Diantha adalah luka yang rapi dan terencana, maka coretan Althaf adalah kekacauan batin yang tak lagi sanggup ditampung oleh kata-kata..
"Seni itu tidak harus selalu rapi, Althaf," ujar Bu Ratih pelan, menepuk bahu cowok itu dua kali dengan kehangatan seorang guru. "Coretan yang kacau... sering kali lahir dari pikiran yang sama kulinya. Taruh saja di sini."
"Terima kasih, Bu," gumam Althaf.
Saat Althaf berbalik untuk kembali ke tempat duduknya, pandangannya tak sengaja berpapasan sekejap dengan Diantha. Gadis itu sedang menatapnya dari kejauhan, menatap sosok cowok yang kini meletakkan kertas kacau itu tepat di atas gambar gadis porselen miliknya.
Dua buah karya yang saling menindih di meja guru itu seolah menjadi cermin dari takdir mereka hari ini: sebuah rasa sakit yang terukir indah, dan sebuah kekacauan yang tak mampu dijelaskan pada siapa pun.
Bel tanda berakhirnya jam pelajaran terakhir akhirnya melengking nyaring, membebaskan seluruh siswa dari kepungan materi pelajaran. Satu per satu murid berhamburan keluar kelas, menyisakan ketenangan yang perlahan merayap di ruang X-1..
Di dalam kelas, hanya tersisa empat orang yang masih enggan beranjak: Althaf, Diantha, Sari, dan Rian.
Suasana di antara mereka terasa canggung, menyisakan jarak tak kasatmata yang belum pernah ada sebelumnya.
Guna mencairkan keheningan yang makin menekan, Rian mendadak menepuk mejanya pelan, menarik perhatian tiga sahabatnya..
"Eh, denger-denger ada kafe baru buka tuh di dekat persimpangan jalan luar sekolah. Tempatnya lumayan asyik kayaknya buat nongkrong sore gini. Gimana kalau kita berempat ke sana dulu sebelum pulang?" usul Rian bersemangat, mencoba membawa kembali kebiasaan lama mereka..
Sari langsung mengangguk setuju. "Wah, boleh tuh! aku juga lagi pengen yang segar-segar."
Diantha yang baru selesai merapikan tasnya sempat melirik pelan ke arah Althaf, menunggu bagaimana respons cowok itu.
Namun, sebelum Althaf sempat membuka suara, langkah kaki terburu-buru bergaung di koridor luar, disusul munculnya sosok yang kini mulai akrab di ambang pintu kelas mereka.
Reyhan berdiri di sana dengan senyum sumringah yang merekah lebar. Senyumnya kian cerah saat mendengar potongan obrolan dari dalam kelas.
"Wah, mau pada nongkrong di kafe baru ya?" timpal Reyhan antusias, melangkah masuk tanpa canggung. "Boleh banget tuh, pasti seru! Kebetulan gue juga belum mau langsung pulang. Kalau gitu, Diantha bareng aku aja naik motorku, terus Sari bisa boncengan sama Althaf atau Rian. Gimana?"
Inisiatif Reyhan mendadak mengunci situasi. Tidak ada yang sempat menolak atau mengajukan usulan lain karena Reyhan menyampaikannya dengan begitu polos dan bersemangat..
Althaf menelan ludah, menatap lantai sejenak sebelum akhirnya memaksakan senyum tipis di wajahnya. "Boleh, Kak. Lagian biar makin ramai juga."
Diantha mengepalkan jemarinya rapat-rapat di dalam saku almamater. Keputusan Althaf yang kembali menyetujui keberadaannya bersama Reyhan seolah memukul telak perasaannya sekali lagi.
Dengan nada datar yang menyembunyikan kekecewaan, Diantha akhirnya mengangguk. "Ya udah, yuk berangkat sekarang."
Mereka pun sepakat dan segera beranjak menuju area parkiran sekolah untuk menuju kafe tersebut bersama-sama..
Langkah kaki kelimanya bergaung pelan menuruni anak tangga utama gedung sekolah. Reyhan berjalan paling depan sambil sesekali menoleh ke belakang untuk melemparkan obrolan, sementara Diantha menyusul di belakangnya dengan pikiran yang masih melayang jauh.
Althaf, Rian, dan Sari berjalan beberapa langkah di belakang mereka..
Diantha yang tak fokus sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja salah menapakkan kakinya di ujung anak tangga.
Sret!..
Tubuh Diantha mendadak kehilangan keseimbangan. Kaki kanannya terserimpet oleh langkahnya sendiri, membuat tubuhnya limbung dan terdorong ke depan dengan cepat.
"Eh!"
Refleks membuat Althaf bertindak sebelum logikanya sempat melarang. Tanpa berpikir panjang, tangan Althaf bergerak secepat kilat menyambar dan mencengkeram erat pergelangan tangan Diantha, menahan tubuh gadis itu agar tidak tersungkur menabrak anak tangga yang keras.
Greb!..
Tarikannya cukup kuat hingga membuat Diantha terhenti seketika dan berbalik sedikit ke arah Althaf. Posisi mereka mendadak begitu dekat. Sentuhan hangat tangan Althaf di kulit pergelangan tangannya terasa bagai sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh Diantha..
Untuk beberapa detik yang singkat namun menyesakkan, mereka berdua terpaku. Manik mata Althaf menatap Diantha dengan raut panik dan kekhawatiran yang sangat murni—kekhawatiran yang selama ini selalu ia sembunyikan rapat-rapat.
Tangan Althaf menggenggam jemari Diantha dengan begitu erat, seolah tak ingin melepaskannya begitu saja.
Namun, momen magis itu hancur seketika saat Reyhan berbalik dengan wajah panik.
"Diantha! Eh, kamu nggak apa-apa?!" seru Reyhan buru-buru mengambil alih posisi. Ia memegang kedua bahu Diantha dan memeriksa kondisinya, secara tak langsung memutus genggaman tangan Althaf yang terpaksa merenggang..
Diantha yang tersadar dari keterpakuannya refleks menarik tangannya dari jangkauan Althaf maupun Reyhan. Sentuhan spontan Althaf tadi membuat jantungnya berdegup kacau, namun kehadiran Reyhan mendadak mengembalikan dinding pertahanan dirinya.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku baik-baik aja," sahut Diantha cepat, memundurkan langkahnya sedikit demi menjaga jarak.
Sari yang berjalan tepat di belakang Althaf langsung mendekat dengan raut wajah sangat khawatir. "Kamu kok meleng sih, Tha' ? Kamu sehat, kan? Dari tadi pagi aku liat kamu kayak nggak fokus gitu." ujar Sari..
"Kalau kamu nggak enak badan, nggak usah pergi, aku antar kamu pulang aja ya?" tutur tulus Reyhan..
Diantha menggelengkan kepalanya pelan, memaksakan senyum tipis untuk menenangkan temannya sekaligus menutupi gejolak di dadanya.
"Nggak kok, aku baik-baik aja. Tadi cuma keserimpet kaki sendiri, hehee," alibi Diantha singkat, mencoba mengabaikan rasa hangat yang masih tertinggal di bekas genggaman tangan Althaf..
Sementara itu, Althaf menarik tangannya kembali dan menyembunyikannya di dalam saku celana abu-abunya. Jemarinya mengepal di dalam sana, meratapi kenyataan bahwa ia baru saja kehilangan haknya untuk memegang tangan gadis itu secara terang-terangan.
Saat yang lain sudah melangkah, Rian dan Althaf masih berada di tempatnya.
"Nih, pegang tangan gue aja..." Rian berusaha melucu agar Althaf tidak terlalu tegang.
"Sialan lo, gue masih normal tau," jawab jutek Althaf yang juga hanya menimpali candaan Rian.
"Lah, gue juga normal kali, cumaaa... kali aja lo masih pengen pegang tangan Diantha, sebagai gantinya gue kasih deh tangan gue buat lo pegang, hahahahaa," kelakar Rian yang receh membuatnya terkena jitakan tangan dari Althaf.
Tapi setidaknya Althaf cukup terhibur dengan candaan sahabatnya itu..