NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:30.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33 Suara Perut Di Saat Yang Tepat

Suasana gedung Aurora berubah drastis. Ketegangan yang sejak pagi menyesakkan dada seluruh tim perlahan menguap memang belum sepenuhnya hilang. Namun, setidaknya mereka bisa kembali bernapas.

Model utama sudah ditemukan. Bukan, lebih tepatnya, model utama ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Anjani sudah berada di sana.

Dan bagi puluhan orang yang terlibat dalam proyek Aurora, itu sudah cukup.

Ren berdiri dari kursinya. Tatapannya sempat singgah sekilas pada Anjani. Wanita itu masih tampak lelah, tapi Ren tidak bertanya apa pun. Tidak sekarang. Bukan karena ia tidak peduli, justru karena terlalu banyak hal yang harus segera diselesaikan. Dan Aurora tidak bisa menunggu.

"Kita lanjut."

Suara Ren memecah keheningan. Semua langsung kembali fokus.

"Fitting ulang tiga puluh menit.

"Kemudian gladi."

"Briefing media setelah itu."

"Koreografi final malam ini."

"Semua departemen kembali ke posisi masing-masing."

Perintah keluar beruntun dengan tegas, tidak memberi kesempatan siapa pun untuk mengeluh.

Tim Aurora yang sebelumnya panik langsung bergerak seperti mesin yang kembali dinyalakan. Kepala divisi event berlari keluar ruangan. Tim styling mulai mempersiapkan gaun. Tim media kembali mengatur jadwal. Tim investor relation menghubungi pihak-pihak yang sejak tadi menunggu kabar.

Raka bahkan terlihat seperti baru saja lolos dari hukuman mati. Pria itu sampai menghela napas panjang berkali-kali.

"Ya Tuhan..." Ia memegangi dada."Saya tadi hampir resign."

Ren melirik dingin. "Silakan."

Raka langsung menegakkan badan. "Tidak jadi, Pak."

Anjani sendiri bahkan belum sempat duduk. Begitu keluar ruang rapat, ia langsung diseret ke ruang fitting, kemudian ke ruang briefing, lanjut ke area gladi, setelah itu ke ruang make up, dan kembali lagi ke ruang fitting. Semua berjalan begitu cepat. Kepalanya sampai terasa berputar.

Namun anehnya, ia justru merasa lega. Semua kesibukan itu membuatnya tidak sempat memikirkan kejadian sejak pagi. Tentang Satriya yang bikin naik darah dan tentang bagaimana ia hampir gagal datang. Ia hanya fokus pada satu hal.

Aurora.

Di sisi lain. Jauh dari gedung Aurora. Mobil Satriya memasuki halaman rumah. Pria itu turun dengan langkah santai. Perasaannya bahkan cukup baik, karena menurut perhitungannya saat ini Anjani seharusnya masih berada di rumah, masih tertahan, dan kehilangan kesempatan menjadi model utama.

Satriya membuka pintu rumah. "Anjani."

Ia mengernyit karena tidak ada jawaban.

"Bella," panggilnya lagi, tapi tetap tidak ada jawaban.

Langkahnya melambat disertai perasaan aneh yang mulai muncul. Ia berjalan ke ruang keluarga, kosong. Ke kamar Bella, kosong.

Keningnya langsung berkerut. "Anjani?" Nada suaranya meninggi.

Ia mulai memeriksa satu ruangan ke ruangan lain. Semakin lama, semakin cepat. Panik kian menjalar. Dan ketika menemukan jendela gudang yang terbuka, wajahnya langsung mengeras.

"Sial!"

Ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Cintya muncul di layar. Satriya langsung mengangkat.

"Ya?"

Suara Cintya terdengar jauh lebih tajam dari biasanya, meski masih berusaha terdengar lembut.

"Mas."

Satriya langsung tahu ada yang tidak beres. "Ada apa?"

"Kak Anjani muncul."

Deg.

Satriya membeku. "Apa?"

"Dia muncul di kantor Aurora." Nada suara Cintya mulai bergetar. Bukan karena sedih, tapi karena marah yang susah payah sedang ia tahan.

"Rapat investor dibatalkan. Penggantian model dibatalkan. Semuanya gagal," imbuh wanita itu lagi.

Satriya langsung menoleh ke arah jendela gudang yang rusak. Potongan-potongan kejadian mulai tersusun di kepalanya. Anjani berhasil keluar dan berhasil sampai ke Aurora.

Wajahnya langsung mengeras seiring dengan amarah yang keluar dari hidungnya.

Sementara di ujung telepon, Cintya masih berbicara. "Kita sudah hampir berhasil."

Kalimat itu keluar tanpa sengaja, lalu wanita itu buru-buru memperbaiki.

"Maksudku... semuanya sudah hampir selesai."

Namun, Satriya sedang tidak memperhatikan itu karena pikirannya sudah dipenuhi amarah.

"Aku pulang dan dia tidak ada. Bella juga tidak ada," terang Satriya.

Sunyi beberapa detik, lalu Cintya kembali bersuara.

"Apa?" Kali ini suara Cintya benar-benar berubah. "Bella juga tidak ada?"

"Iya."

"Kak Anjani membawa Bella?"

Satriya tidak menjawab. Dan diamnya itulah yang memperkuat asumsi.

"Oh Tuhan..." Cintya memegang ponselnya lebih erat. "Mas, nggak mungkin..." Ia terdengar ragu, tapi kalimatnya tetap keluar. "Kak Anjani menculik Bella?"

Deg.

Kalimat itu seperti percikan api yang jatuh ke tumpukan bensin. Mata Satriya langsung menyala, karena dalam keadaan marah akal sehat selalu menjadi hal pertama yang menghilang.

Dan sekarang, ia tidak lagi melihat fakta. Ia hanya melihat kemarahan, melihat pengkhianatan, melihat Anjani yang semakin sulit dikendalikan.

*

*

*

Langit di luar jendela sudah gelap sepenuhnya. Lampu-lampu kota menyala seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi.

Hari yang kacau itu akhirnya mendekati akhir. Sebagian besar karyawan Aurora sudah pulang. Lorong-lorong kantor yang tadi sibuk kini mulai lengang. Namun, tidak untuk Anjani. Tepat ketika ia berpikir bisa segera pulang dan tidur selama dua hari dua malam, sekretaris Ren datang memberi pesan.

"Pak Ren meminta Anda ke ruangannya."

Anjani langsung memejamkan mata. Pasrah.

Tok.

Tok.

"Masuk."

Anjani membuka pintu. Ruangan CEO masih terang. Ren duduk di belakang meja kerjanya. Dokumen masih bertumpuk, laptop terbuka, ponsel di sampingnya. Dan seperti biasa, pria itu seolah tidak menyadari ada manusia lain masuk ke ruangan.

Anjani berdiri. Satu menit, dua menit, tiga menit, masih tidak dianggap ada. Akhirnya ia menghela napas panjang, lalu tanpa disuruh berjalan ke kursi dan duduk.

"Permisi, Pak. Saya pinjam kursinya."

Baru saat itu tatapan Ren terangkat dari dokumen. Matanya langsung bertemu mata Anjani.

"Hm."

Anjani menunggu. Ren masih diam. Anjani menunggu lagi. Ren tetap diam. Sampai akhirnya wanita itu menyerah.

"Kalau Bapak manggil saya cuma buat lomba tatap-tatapan, saya pulang saja."

Tatapan Ren menyipit tipis, lalu akhirnya berkata. "Kamu punya utang penjelasan."

Anjani langsung tahu arah pembicaraan ini. "Tentang?"

"Tentang kenapa model utama Aurora menghilang sehari sebelum acara. Dan tentang pesan pengunduran diri."

Kening Anjani langsung berkerut karena heran. "Pesan apa?"

Ren mengambil ponselnya, kemudian mendorongnya ke depan.

Anjani membacanya, seketika matanya membesar.

Pak Ren, maaf. Saya tidak bisa melanjutkan sebagai model Aurora.

Terima kasih atas kesempatan yang sudah diberikan.

Anjani langsung menegakkan badan. "Saya nggak pernah kirim ini."

Ren mengangkat sebelah alis. "Nomornya nomormu."

"Saya tetap nggak kirim."

"Tapi terkirim."

"Saya juga tahu itu terkirim."

Ren diam. Anjani juga diam, lalu tiba-tiba sesuatu muncul di kepalanya.

Satriya.

Wajahnya langsung berubah. "Oh."

Ren menangkap perubahan itu. "Oh?"

Anjani memijat pelipis. "Sepertinya saya tahu pelakunya."

Nama itu bahkan tidak perlu disebut, karena semakin dipikirkan semakin jelas semuanya. Hanya ada satu orang yang cukup nekat melakukan hal seperti itu.

"Satriya." Suara Ren datar.

Anjani langsung mendongak, ternyata pria itu juga sampai pada kesimpulan yang sama.

"Kayaknya."

"Kayaknya?"

"Ya."

"Kamu terdengar tidak yakin."

"Karena saya tidak melihat langsung."

"Kamu terlalu baik."

Anjani langsung mendelik. "Dan Bapak terlalu galak."

Ren mengabaikan bagian itu, lali kembali bertanya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Nada suara Ren terdengar sedikit lebih serius.

Anjani menghela napas sebelum mulai bercerita tentang Bella, tentang rumah Satriya, tentang pintu yang dikunci, tentang ponsel yang mati, tentang jendela gudang, tentang bagaimana ia akhirnya kabur sambil membawa Bella ke rumah sakit.

Semakin lama Anjani bercerita, semakin dingin wajah Ren. Bahkan sampai membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.

"Jadi." Suara Ren akhirnya terdengar. "Dia mengurungmu."

Anjani langsung mengoreksi. "Menahan."

"Sama saja."

"Beda."

"Tidak."

"Sedikit beda."

"Tidak."

Anjani menghela napas. Percuma, berdebat dengan Ren kadang seperti berdebat dengan tembok beton. Bedanya tembok beton tidak bisa menyela setiap lima detik.

Beberapa saat kemudian, percakapan berubah menjadi adu mulut kecil seperti biasa. Ren tetap profesional, tapi menyebalkan. Sementara Anjani menjawab dengan nada sopan yang entah bagaimana tetap bisa menusuk.

"Kalau lain kali terjadi sesuatu, lapor."

"Ponsel saya mati."

"Pinjam ponsel orang."

"Saya sedang sibuk membawa anak sakit."

"Telepon tiga detik tidak membuat dunia kiamat."

"Bapak pikir saya ninja?"

Ren hendak menjawab, namun tiba-tiba--

Grrrrrrrkkk...

Suara itu terdengar jelas. Jelas memalukan. Ruangan langsung sunyi. Anjani membeku, begitu juga dengan Ren.

Beberapa detik, lalu perlahan tatapan Ren turun ke arah perut Anjani. Wajah Anjani langsung memerah.

Astaga. Astaga. Astaga.

Kalau ada lubang di lantai sekarang juga, ia rela masuk.

"Itu..." Anjani berdeham. "Bukan saya."

Ren menatap datar. "Sangat meyakinkan."

Anjani menutup wajahnya. "Anggap saja Bapak tidak dengar."

"Sulit."

"Kenapa?"

"Karena suaranya seperti pengumuman darurat."

"Pak Ren!"

Sudut bibir Ren bergerak tipis, nyaris seperti ilusi, tapi nyata.

"Kapan terakhir makan?"

Anjani hendak menjawab santai. Namun kemudian sadar kalau ia benar-benar belum makan sejak kemarin sore karena sepulang kerja ia merawat Bella.

Ekspresi Ren langsung berubah. Gurat menyebalkan di wajahnya perlahan menyingkir. Dia hanya diam, lalu menekan tombol interkom di meja.

"Raka."

Suara asistennya langsung terdengar. "Ya, Pak?"

"Beli makanan."

"Untuk siapa?"

Ren melirik Anjani yang masih malu setengah mati, lalu menjawab. "Untuk manusia keras kepala yang lupa kalau dia perlu makan."

Di seberang interkom terdengar suara Raka yang hampir tertawa.

Sementara Anjani, ingin menghilang saja malam itu.

Bersambung~~

1
Yeni Astriani
ditunggu selalu kelanjutan ceritanya Author☺☺☺
ryuka
owww oowww.. yg sadar duluan malah raka 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🤭
Najwa Aini
kalau kata pribahasa madura..
tep kotep cellot.
Najwa Aini
Lanjut investigasi, Raka. cari alasan lain yg ada di balik alasan lbh efisien itu
Najwa Aini
Ambrukk malah
Ayuwidia
Aamiin, dan semoga kesalahpahaman kamu ke Ren nggak berkepanjangan 🤭
Hary Nengsih
lucu perang m anak nya
ryuka
kangen obrolan sae sma bella lagi thorrr 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
ryuka
ya ampunn saaeee.. kamu tuh lucu bgt siihhh 🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
Yeni Astriani
lanjut Author
Najwa Aini
kok malah berasumsi hanya karena mendengar satu potongan kalimat..
kayaknya ini bukan karakter Anjani..
Najwa Aini
Berarti dari dulu² perintah Ren itu agak syaithoni..ya..baru sekarang cukup manusiawi
Najwa Aini
sebegitu kuat ya getaran bahunya Raka
Najwa Aini
sebentar..apa dulu yg digoreng nih..yg aromanya sampai memikat gitu
Najwa Aini
sebentar..Aurora itu nama Brand ya..
aku pikir itu tajuk untuk koleksi terbaru yang launching..
bukan tajuk sih tepatnya tapi..tema. mungkin ya..kayak beberapa Brand yg lagi melaunching koleksi terbaru mereka dalam perhelatan berjudul..Manik Raya. atau swarna bumi gitu...
Najwa Aini
ketenangan Anjani itu memukul mental Satrya
Ayuwidia
woahhh ini mah celetukan othornya 😆
Ayuwidia
Woahhh, kalau Sae ikut berasa liburan sekeluarga 😍
Ayuwidia
Woahhh, jawabannya ngadi², tapi masuk akal. Siapa tahu orang yg benci dia datang ke Gunung Kawi buat nyantet 😆
Ayuwidia
Owalah, ternyata Raka 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!