Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghuni baru
"Hoaaam!"
Kayla terbangun begitu mendengar suara tak asing menyapa kedua telinganya dengan nyaring sedari tadi.
Ia menggocek kedua matanya dan melirik ponsel di sampingnya nyang berdering dengan suara keras bak ingin meledakkan gendang telinganya.
Kayla meraih benda itu dan mematikan alarm. Perutnya tiba-tiba keroncongan, sepertinya cacing-cacing di dalam sana sudah kelaparan.
Kayla dengan malas berdiri dan membuka lemari untuk mencari roti serta selai yang sudah ia beli kemarin.
GUBRAK! BRAK!
Gadis itu terkejut, ia langsung menoleh cepat. Terdengar suara seperti barang terjatuh dari luar sana. Karena penasaran, Kayla pun lantas mendekati jendela kamar dan mengintip suasana di luar sana.
Tak ada orang di luar, namun suara itu masih terdengar hanya tak senyaring sebelumnya. Kayla melirik ke samping, ada sebuah mobil pick up yang sudah bertengger di halaman depan kos cowok. Sepertinya ada penghuni baru, pikir Kayla.
Kayla tak memusingkannnya, ia kembali pada aktifitas sebelumnya, tentu saja sarapan! Ia mengeluh dua lembar roti lalu meloloskan selai cokelat di atas roti itu. Tak lupa gadis itu membuat susu vanilla hangat, wah enak pol!
Setelah menghabiskan sarapannya, Kayla beranjak ke kamar mandi di sudut kamar untuk mencuci gelas dan piring kecil yang ia gunakan. Begitu selesai, ia bermaksud membuang sisa bungkus plastik roti ke tempat sampah besar yang terletak di area luar, dekat gerbang kosan putri.
Sambil menenteng plastik sampah kecil, Kayla membuka pintu kamarnya. Suara grasak-grusuk dari arah halaman depan kos putra ternyata masih terdengar, bahkan kini ditambah dengan suara arahan beberapa orang yang sedang menggotong barang berat.
Kayla melangkah keluar menuju pagar pembatas antara area kos putri dan kos putra. Baru beberapa langkah berjalan, matanya menangkap sosok Juna yang rupanya sudah berdiri di sana lebih dulu. Cowok itu masih memakai kaos oblong hitam rumahan dengan celana pendek, tangannya bersedekap di dada sambil memperhatikan orang-orang yang sedang menurunkan kasur dan meja belajar dari atas mobil pick up.
"Heh, Bocil," panggil Kayla pelan saat posisinya sudah berada di samping Juna.
Juna menoleh sekilas, lalu mendengus. "Baru bangun lo? Bau-bau kasur lo belum ilang tuh."
"Sembarangan! Gue udah wangi ya, udah sarapan mewah juga," balas Kayla sewot, lalu dagunya menunjuk ke arah mobil pick up. "Itu siapa yang pindahan pagi-pagi buta begini? Heboh bener, ganggu orang tidur aja."
"Mana gue tahu. Penghuni baru kamar atas paling," jawab Juna cuek, kembali menatap ke arah halaman depan. "Tapi denger-denger dari Bu Arin kemarin, katanya anak kuliahan juga. Satu kampus sama lo mungkin."
Kayla menaikkan sebelah alisnya. "Oh ya? Kampus gue kan gede, belum tentu kenal juga."
Tepat setelah Kayla menyelesaikan kalimatnya, seorang cowok dengan kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung sampai siku keluar dari dalam kabin depan mobil pick up. Cowok itu tampak sedang berbincang dengan salah satu petugas pengangkut barang, memberikan beberapa lembar uang tip sambil tersenyum ramah.
Begitu cowok itu membalikkan badannya untuk berjalan ke arah bagasi mobil, langkah kaki Kayla langsung terkunci di tempat. Gelas plastik sampah di genggamannya mendadak merosot begitu saja ke atas lantai semen.
"R-Raka?!" bisik Kayla lirih, suaranya hampir tidak keluar saking syoknya.
Juna yang mendengar bisikan asing dari mulut Kayla langsung menoleh. Ia mengerutkan kening begitu melihat wajah Kayla yang mendadak pucat pasi dengan tatapan mata yang kosong sekaligus tidak percaya.
Juna bergantian menatap cowok di dekat mobil pick up itu, lalu kembali menatap Kayla dengan pandangan menyelidik. "Raka? Siapa Raka? Lo kenal sama tuh cowok?"
"Eh, diem lo! Nih, tolong buangin sampah gue ya, bye," Kayla langsung memberikan kantong plastik miliknya pada Juna.
"Heh, gue bukan tukang sampah ya!"
Kayla dengan secepat kilat berlalu pergi kembali ke kamarnya. Sementara Juna masih mematung sambil membawa kantong plastik mungil itu di tangannya dengan kesal. Mau tak mau ia harus membuang sampah gadis itu.
Raka masih sibuk mengangkat barang-barang miliknya ke lantai atas, tak lama kemudian muncul Ibu Arin dan menyapa dirinya.
"Eh, selamat pagi mas! Ini mas Raka ya?" sapa Bu Arin ramah.
Raka menoleh, "Ah, iya Ibu! Saya Raka, ehehe," jawab Raka sopan sembari menyeka sedikit keringat di dahinya dengan lengan baju flanelnya.
"Aduh, ganteng pisan ya aslinya. Mari, Mas, Ibu anterin lihat kamar atas sekalian Ibu jelasin aturan di sini," ujar Bu Arin, nadanya mendadak halus dua tingkat, sangat berbeda dengan mode singa saat mengomeli Juna dan Kayla semalam.
Raka hanya mengangguk patuh dan berjalan mengekor di belakang Bu Arin, sambil sesekali melirik anak tangga yang mereka naiki.
"Jadi begini ya, Mas Raka. Di kosan Ibu ini, jam malam itu ketat banget. Jam sembilan teng, gerbang depan sudah digembok. Nggak boleh ada lawan jenis yang bertamu lewat dari jam itu di area koridor bawah maupun atas. Kemarin malam aja ada yang hampir Ibu coret dari kartu keluarga kosan gara-gara melanggar," cerocos Bu Arin panjang lebar, sengaja menyindir kejadian semalam tanpa menyebut nama Juna dan Kayla.
Raka hanya manggut-manggut paham. "Baik, Bu. Saya mengerti."
"Nah, kalau untuk fasilitas, air di sini lancar jaya, token listrik isi sendiri-sendiri ya di kamar. Terus kalau mau cuci baju, jemuran ada di area belakang lantai dua. Tapi ingat, jangan sampai tertukar jemurannya sama anak kos putri, ya! Oh iya, satu lagi, di sini dilarang bawa peliharaan, kecuali kalau Mas Raka mau melihara kecoak di kamar, itu Ibu nggak tanggung jawab," lanjut Bu Arin diakhiri tawa renyahnya sendiri.
"Iya, Ibu, siap," sahut Raka lagi sambil tersenyum tipis, mencoba tetap sopan meskipun telinganya mulai berdengung menerima informasi super padat di pagi hari.
Setelah Bu Arin pamit turun untuk melanjutkan aktivitas domestiknya, Raka berdiri sendirian di depan pintu kamar barunya di lantai atas. Ia menyandarkan kedua tangannya di atas pagar pembatas balkon, menatap kosong ke arah halaman tengah kosan yang kini sudah kembali sepi.
Sementara itu di kamar Kayla, gadis itu kini tengah duduk diam di atas ranjangnya. Rasanya Kayla ingin pindah dari tempat ini!
"Sial, tuh anak kok bisa tiba-tiba pindah kesini sih?" gumam Kayla.
Ia meraih ponselnya dan segera mencari nomor sang ayah. Tak lama kemudian ia menelpon sang ayah, panggilan terus berbunyi namun nomor yang di tuju tak kunjung menjawab.
Panggilan pertama tak terjawab, namun Kayla tak berhenti. Ia kembali menelpon sang aah hingga pria itu akan mengangkat teleponnya.
Akhirnya setelah beberapa saat, sang ayah mengangkat teleponnya.
"Halo, papa!" sapa Kayla dengan suara manja.
Elang menyahut dari seberang sana, "Halo? Ada apa kamu telpon papa?"
"Papa, aku boleh minta sesuatu ngga? Plis ini urgent banget!" ucap Kayla dengan nada memelas.
"Kalau kamu minta papa tf 100 juta, papa matiin teleponnya!"
"Aduh, papa bukan itu! Aku mau pindah kos, pah! Plis, kayaknya aku ngga cocok disini deh!" kata Kayla.
Elang terkekeh, "Ya udah di biasain aja,"
"IH NGGA SEGAMPANG ITU PAH! Plis pah, tolong banget cariin aku kos-kosan baru dong..."
Tet... Tet....
Baru saja selesai berbicara tiba-tiba sambungan telepon sudah di matikan secara sepihak. Kayla membulatkan matanya dan memeriksa nomor sang ayah, ia kembali menelpon namun kini nomor itu tak aktif.
"AAAKHHH! PAPAAA?!?!"
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan