Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.
Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.
Suaminya ke mana??
"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"
Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.
" Mas...maaf " lirih suara Arista.
Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.
Arista tergugu, tak ada air mata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Mobil yang Anisa tumpangi kembali melaju, kali ini mereka mengikuti kembali perempuan tadi. Ternyata setelah memberikan amplop, laki-laki tadi pergi setelah memesan ojek online.
Perempuan yang bersamanya, tak langsung ikut pergi. Dia menunggu beberapa saat , kemudian meninggalkan hotel itu menggunakan taxi online yang datang menjemputnya.
Rafli mengikuti ke mana taxi online itu melaju. Tentu saja dengan jarak yang tidak terlalu dekat, agar mereka tak curiga.
Ternyata taxi itu berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal. Anisa minta di turunkan, dia ingin mengikuti perempuan itu ke dalem.
Sedangkan Rafli memasuki pelataran parkir di pusat perbelanjaan tersebut. Mereka nanti akan bertemu di dalam.
Perempuan tadi memasuki salah satu butik ternama , tampak matanya berbinar melihat deretan pakaian branded, dan tas yang di pajang di etalase butik tersenyum. Bibirnya terus mengembangkan senyum.
Tangannya mengusap etalase display, di sana tampak tas branded berjejer rapi dan manis seolah memanggil ingin di sentuh dan di bawa oleh pembeli.
Seorang karyawati butik mendatangi perempuan itu.
" Maaf, mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawati itu sopan.
" Oh...boleh nggak saya lihat tas tangan yang warna merah itu."
" Boleh, mbak." karyawati itu melayani dengan sopan.
Kunci etalase pun di buka, tas merah maroon yang di minta perempuan itu kini sudah ada di tangannya. Dia mengamati tas itu, dan menimangnya, terus membolak balikkan dari depan dan belakang.
Perempuan itu melihat bandrol yang tertera di sana. Matanya terbelalak, tapi dia dengan cepat menguasai diri, tak ingin terlihat norak di depan karyawan butik.
( Tas model begini aja 150 juta. Aku pikir 150 ribu. Bisa buat bangun rumah di kampung uang segitu).
" E..maaf mbak , saya lihat lihat dulu aja." perempuan itu mengembalikan tas tadi ke tangan karyawan butik.
" Oh..nggak apa-apa, mbak. Mungkin mbaknya mau lihat-lihat koleksi pakaian di butik kami, silahkan. Ada diskon khusus hari ini."
Perempuan itu melangkahkan kakinya ke deretan pakaian yang berjejer rapi. Sebuah notif masuk ke handphonenya.
(" Lagi di mana.")
( Di butik. TF dong mas, buat beli daster kekinian).balasnya.
(Uang yang kemarin memang udah habis?")
(Itu kan uang buat jajan,mas. Masak iya, buat beli daster juga. Kalau anaknya ileran nanti gimana). Di sertai emote merajuk.
(Kamu memang paling bisa merayu. Jangan kemalaman pulangnya.)
(Linda gitu lho..kalo nggak jago merayu , bukan Linda namanya.)
Tring...
Transaksi dari salah satu bank masuk ke dompet dompet digital Linda. Sepuluh juta. Linda tersenyum cerah.
(Ternyata segampang ini nyari duit, kenapa nggak dari dulu aja aku ketemu Restu, laki-laki yang dulu culun, nggak di sangka sekarang malah banyak duitnya)
Yaa..perempuan itu ternyata Linda, perempuan yang ada di rumah mertua Anisa.
Tak jauh dari Linda berdiri , Anisa pura-pura sibuk memilih gaun yang ada di depannya. Masker hitam menutupi sebagian wajahnya, matanya awas mengamati pergerakan Linda.
"Mbak, kalau baju hamil yang ini ada warna coklat susu nggak, sama warna biru muda."tanya Linda memanggil salah satu karyawan butik.
" Oh... sebentar ya, mbak , saya lihat stock dulu." jawab karyawan tadi.
Anisa tersenyum..
Di ambilnya baju hamil yang tadi di pegang Linda, dia bawa menemui karyawan yang tadi. Sementara Linda sibuk memutari butik sambil mencari baju model lain.
Setelah di rasa cukup , Linda kembali ke tempat tadi.
" Bagaimana mbak , ada nggak?" tanya Linda.
" Oh...maaf mbak, ternyata bajunya sudah di beli costumer lain. Tadi beliau yang nge-take duluan." jawab karyawan butik dengan wajah penuh penyesalan.
" Yahh...gimana sih, mbak, kan tadi saya yang pertama minta, kenapa di kasih ke yang lain." kata Linda kesal.
" Seperti yang tadi saya bilang, beliau yang sudah nge-take duluan." karyawan itu mengulangi kalimatnya.
" Ya..udah saya ambil yang warna tadi aja." Linda kembali ke tempat semula.
" Lho..mana bajunya, perasaan masih di gantung di sini." kata Linda.
" Mungkin sudah ada yang beli, mbak. Soalnya tadi mbaknya nggak langsung di masukkan ke keranjang belanjaan. Tadi saya juga sibuk nyari stock dan melayani pelanggan lain." ujar karyawan itu.
" Ih...gimana , sih." Linda semakin kesal.
Terpaksa dia hanya beli piyama dan satu gaun saja.
Sampai di meja kasir, mata Linda tertumbuk pada tumpukan baju yang dia kenal. Itu baju hamil yang tadi dia inginkan. Matanya mencari karyawan butik tadi. Ternyata karyawan itu sedang merapikan gantungan baju.
Dengan langkah cepat , Dinda menghampiri karyawan itu.
" Heh...mbak. Ikut ke kasir'. kata Linda dengan suara keras.
" Mbak..bicara sama saya." tanya karyawan itu sambil menunjuk dirinya.
" Iya...sama siapa lagi. Sama setan." kata Linda dengan emosi.
Karyawan itu menurut dan mengikuti Linda ke meja kasir.
" Itu baju yang tadi kamu bilang sudah habis, kan? Itu apa, masih ada, warna yang saya pesan juga ada dua duanya, kenapa tadi bilang nggak ada."
" Lho...saya kan tadi sudah bilang ke mbaknya, kalau baju itu sudah di beli sama customer lain, sebelum mbaknya. Salahnya saya di mana, mbak?." tanya karyawan itu.
" Tapi tadi setahu saya masih ada warna hitam, pas saya balik lagi sudah nggak ada."
" Baju itu kan masih ada di gantungan , mbak. Jadi belum ada pemiliknya, siapa saja masih boleh ambil. Kecuali sudah ada di keranjang belanjaan mbak, kalau nggak sudah ada di meja kasir atas nama mbak, itu berarti sudah jadi milik mbaknya." karyawan itu beralibi.
Anisa yang baru datang ke meja kasir mengerutkan keningnya.
" Berapa mbak total belanjaan saya." tanya Anisa.
" Total 10 juta 500 ribu, Bu Anisa." jawab kasir tersenyum ramah.
" Ini maaf, ada apa ya, kok, rame rame pada ngumpul di meja kasir? Apa ada yang kecopetan?" tanya Anisa. Reflek tas yang dia pegang langsung di dekatnya.
" Bu...maaf, tadi siapa namanya." tanya Linda.
" Anisa. Nama saya Anisa."
" Sebenarnya baju hamil yang ibu beli itu punya saya, tapi karyawan di sini ternyata amatiran. Baju punya saya malah dia kasih ke yang lain."
" Mbak namanya siapa?." Anisa balik bertanya .
" Linda." singkat Linda menjawab.
" Mbak Linda apa sudah membayar baju ini atau sebelumnya baju ini sudah mbak Linda masukkan ke keranjang belanjaannya mbak Linda?." tanya Anisa tega.
Linda menggeleng.
" Belum. Saya hanya minta warna biru dan coklat susu, sambil nunggu stock saya keliling. Tapi kata karyawan tadi sudah di take sama customer lain."
" Berarti baju itu masih free dong, siapa aja bebas membelinya."
" Memang ibu lagi hamil." tanya Linda menatap Anisa.
Nyesss...
Perasaan nyeri menusuk dada Anisa, pertanyaan tentang hamil membuat dia sedikit goyah.
" Apa model baju ini khusus buat orang hamil?. Aku rasa tidak, baju aku rasa cocok untuk segala suasana." Anisa berdalih.
" Betul Bu Anisa. Baju ini memang di design untuk segala suasana, jadi tidak di khususkan untuk ibu hamil saja."
" Designer butik ini memang sengaja membuat model yang universal." kata kasir menjelaskan.
Tentu saja Anisa tahu, karena dia sangat mengenal siapa designer dan pemilik butik ini.
" Apa mbak Linda sedang hamil." tanya Anisa .
" Iya..enam bulan."
Linda menganggukan kepalanya.
Anisa terlihat sedang berpikir dan menimbang.
" Ini saya kasih satu , takut nanti anak kamu ileran." Linda memberikan salah satu bajunya.
" Nggak usah Bu Anisa. Saya mau bikin perhitungan sama karyawan ini." kata Linda sambil menunjuk ke arah karyawan tadi.
Karyawan tadi terlihat cemas. Padahal tadi dia sudah memberikan argumen yang jelas. Kenapa pembeli yang satu ini nggak ngerti juga.
" Hallo..mas. Bisa ke butik Ariestar gallery nggak sekarang, aku mau mas ke sini pokoknya."
" Ya...sudah mas ke sana."
Anisa menarik nafas, dia nggak ngerti dengan perempuan di depannya. Mungkin belum pernah belanja di butik , jadi nggak paham aturannya.
Anisa tahu siapa yang sudah di hubungi perempuan di depannya. Dia sebenarnya ingin tahu bagaimana reaksi laki-laki itu.
Tapi Anisa masih mau main-main dulu. Masker yang sempat dia lepas, dia kenakan kembali.
" Mbak ...saya titip belanjaan saya dulu, ya. Saya mau ngopi dulu." kata Anisa melenggang santai.
" Silahkan Bu Anisa. Belanjaan Bu Anisa aman." jawab kasir.
" Kamu , siapa namanya."
" Mira mbak." jawab karyawan tadi.
" Jangan ke mana-mana, tunggu suami saya."
" Lho...saya nggak mau di jadiin istri ke dua mbak. Jelek-jelek begini saya nggak mau jadi pelakor." jawaban Mirna absurd.
"Maksud kamu apa?." tanya Linda menatap tajam.
" Tadi mbaknya bilang,saya suruh tunggu suami, mbak. Saya nggak mau jadi pelakor mbak,." jawaban Mira masih sama dengan yang tadi.
Sementara petugas kasir mengulum senyum, dia sebenarnya pengin ketawa, tapi dia tahan.
" Kamu...awas aja."
" Mata saya masih awas, mbak."
( Sialan. Untung gua nggak keceplosan. Bisa-bisa mereka semua tahu.)
Pria itu masuk ke dalam butik, langkahnya tergesa, dia mencari seseorang.
" Mas Restu..aku di sini." Linda melambaikan tangannya.
Pria itu melangkah menghampiri Linda.
" Ada apa, Lin. Kenapa belum pulang juga dari tadi."
" Baju yang aku mau beli , sama karyawan itu malah di kasih ke orang lain, mas. Padahal aku lagi hamil, aku ngidam baju itu, mas."
Pria itu menatap ke arah Mira.
" Betul begitu kejadiannya?." tanya Restu.
" Nggak betul itu pak."
Akhirnya Mira menceritakan kronologi dari awal.
" Padahal ibu tadi sudah berbaik hati mau kasih bajunya satu. Tapi istri bapak menolaknya." Mira menjelaskan.
" Udah gitu kata istri bapak,saya tadi di suruh nunggu bapak. Sudah saya jelaskan juga ke istrinya bapak, saya itu nggak mau jadi pelakor." kata Mira.
Restu menelan ludah, dia terlihat salah tingkah.
" Tapi nggak apa-apa sih, saya rela jadi pelakor, asal bapak orangnya." kata Mira senyum-senyum menyebalkan.
Sedangkan si kasir tidak bisa menahan tawanya.
" Kamu itu ya, dari tadi bilang pelakor..pelakor..terus. Aku bukan pelakor tahu nggak." Linda tampak meradang.
" Lho...apa ada kalimat saya yang bilang kalau mbaknya pelakor? Nggak ada kan, mbak Cindi." Tanya Mira ke Cindy, petugas kasir.
Cindy menggelengkan kepalanya.
" Jangan-jangan mbaknya , beneran pelakor, ya?."kalimat Mira semakin memprovokasi
" Sudah..sudah..ayo kita pulang. Kamu buat malu aja, mas kira ada apa." Restu setengah menyeret tangan Linda.
" Permisi. Saya mau ambil belanjaan saya, mbak."terdengar suara perempuan.Anisa sudah berada di dekat meja kasir.
Restu terkejut, dia seperti mengenali suara itu. Pegangan di tangan Linda dia lepaskan. Perlahan dia menengok ke arah suara tadi, ternyata ada di dekat meja kasir,dia menatap punggung hingga ke kaki.
( Postur tubuhnya mirip Anisa)
Anisa berbalik, Restu tampak tegang, tapi setelahnya dia bernafas lega. Wajah perempuan itu tertutup masker dan memakai kaca mata tebal.
" Bu...apakah tawaran tadi masih berlaku?." Linda bergegas mendekati Anisa sebelum dia pergi.
"Tawaran yang mana y, mbak." Anisa balik bertanya.
Linda menelan ludahnya.
" E..baju yang tadi , kata ibu mau di kasih ke saya satu." kata Linda tak punya malu.
" Apa apaan sih, kamu. Sudah kita pulang, nanti kita cari lagi, kalau nggak sekarang kamu beli yang lebih bagus, lebih mahal." kata Restu kesal melihat sikap Linda yang seolah mengemis.
Hati Anisa seperti di tusuk duri. Sakit, tapi tak berdarah.
" Maaf. Bajunya sudah saya sumbangkan ke orang yang lebih membutuhkan. Tadi mbaknya kan nggak mau." Anisa bicara pelan.
" Tapi saya juga membutuhkan, mbak ." Linda masih bersikukuh.
Anisa menatap bergantian ke arah Linda dan Restu.
" Sepertinya suami mbak bukan orang susah. Mbaknya kan tadi di suruh milih baju yang lebih bagus dan lebih mahal. Tinggal pilih aja mbak, bila perlu butiknya sekalian di beli." kata Anisa tersenyum.
Restu menatap mata di balik kaca mata tebal itu. Sorot mata itu seperti tak asing, tapi dia mencoba menepis.
" Saya permisi. Terima kasih mbak Mira, mbak Cindy, atas bantuannya." Anisa melambaikan tangan.
" Sama-sama Bu. Jangan lupa mampir lagi." teriak Mira.
"Kalian kenal wanita tadi?." tanya Restu.
" Oh...ibu yang tadi. Kenal dong, pak. Baru saja tapi kenalnya, pak." jawab Mira santai.
" Kamu tuh ..ya, dari tadi ngeselin banget."
" Saya? Saya ngeselin kenapa?" Mira memasang wajah lugunya.
" Heehgg..awas ya, nanti suami saya suruh beli butik ini. Saya pecat kalian semua." kata Linda.
" Hahh...beli aja belum udah mau mecat aja. Mbak ini kocak." Mira semakin jadi.
Restu menarik tangan Linda ke luar dari butik itu.
" Dasar pelakor.. sok, nggak ngaku lagi." gerutu Mira.
"Heh...apa kamu bilang." Linda berusaha masuk ke dalam butik lagi.
Mira dadah dadah .
"Kamu itu ya, bikin malu aja. Padahal posisinya kamu itu salah, tapi masih ngotot." Restu ngomel sepanjang jalan.
" Kok..marah mas."
" Mas nggak mau berdebat. Pulang. Mas sudah pesankan taxi online."
" Taksi online? Kita nggak pulang bareng?"
"Masih ada urusan yang belum selesai. Pulanglah."
"Akting kamu tadi bagus, Mir." kata Cindy.
" Aku nggak akting, Cin. Aku tuh, beneran kesel. Tadi sebenarnya aku udah mau maki-maki tuh, perempuan. Sayang di larang sama Bu Anisa.