NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Arista menghela nafas, berdiri dan tersenyum pada orang yang menyapanya tadi.

Rahmi. Ibu dari PL Pram , alias mertua Arista melipat kedua tangannya , menatap penuh selidik ke arah Arista dan Anjas yang sedang duduk berhadapan.

Merasa tak ada yang perlu di cemaskan, karena Arista merasa pertemuan nya dengan Anjas adalah urusan pekerjaan, tidak lebih dari itu.

" Ibu, apa kabar?." Arista mengulurkan tangannya hendak mencium tangan ibu Rahmi.

Rahmi mengulurkan ujung jarinya, seolah enggan di sentuh menantunya ,Arista.

Arista tetap menerima uluran tangan Rahmi. Bagaimana pun dia tetap menghormatinya sebagai orang tua.

" Kalian berdua ngapain di sini. Bukankah kamu juga bekerja di perusahaannya Pram. Kenapa enak-enakan di sini, sama istri bos sendiri." Rahmi yang tidak tahu latar belakang Anjas tersenyum sinis.

Anjas yang mendengar pernyataan mertua Arista cuma terkekeh. Seolah mengejek.

" Sejak kapan perusahaan itu punya Pram." kata Anjas terkekeh sekali lagi sambil menyeruput minumannya.

Rahmi yang mendengar ucapan Anjas menjadi gusar. Dia seperti salah tingkah.

" Jaga ucapanmu, kamu cuma bawahannya Pram, jadi nggak usah tertawa senang dulu." kata Rahmi sambil menatap jengkel ke arah Pram.

Pram masih dengan sikap santainya , menggelengkan kepala.

" Bu, malu di lihat orang. Jangan bikin ribut di sini." tegur Arista.

" Kamu juga Arista. Sebagai istri yang baik harusnya tidak menemui laki-laki lain. Apalagi posisi suami sedang cari nafkah." kata Rahmi menatap Arista kesal.

" Iya...Bu. Saya memang salah, tapi saya dan pak Anjas juga sedang membahas soal pekerjaan. " jawab Arista.

" Kalau soal pekerjaan, ngapain di bahas di tempat umum begini. Bukankah lebih enak di kantor. Oh .. iya, kamu kan udah nggak punya kantor, ya.." kata Rahmi sambil tertawa.

Arista mengatupkan giginya, menahan kesal.

" Bu Arista , apa bisnis kita mau di lanjutkan apa tidak. Kalau mau di lanjutkan kita bisa ketemu lagi lain waktu. Sekalian bawa Hanif, saya kangen sama dia." Anjas menyela omongan Rahmi.

Dia sudah sangat jengah sejak pertama kali Rahmi datang.

" Iya..Pak Anjas , kita bahas lain waktu saja. Saya nggak konsen kalau ada orang asing." jawab Arista sambil meraih tas tangannya di atas meja.

Rahmi mendelik. Dia nggak terima di bilang orang asing.

" Kamu bilang ibu orang asing, terus dia kamu anggap apa? Keluarga bukan, saudara bukan , tapi malah kamu baik baikin." kata Rahmi sambil menggerakkan kepalanya menunjuk ke arah Anjas.

" Orang lain tapi lebih bisa menghargai dan menghormati saya, Bu." jawab Arista.

Rahmi menatap Arista geram.

" Selama ini yang membanting tulang itu Pram, anak saya. Kamu cuma diam di rumah , ongkang ongkang kaki, terus terima gaji. ."

" Memang seperti itu kewajiban suami. Saya sebagai istri tinggal terima uang, ngurus anak dan shoping ngabisin duit." kata Arista.

Entah karena udah capek atau karena udah muak, Arista berani melontarkan kalimat seperti itu.

" Kamu berani sekali bilang seperti itu. Saya bilangin sama suamimu."

" Bilang saja, Bu. Kalau sudah nggak mau menafkahi istri, biar saya yang bekerja.."

"Tapi ingat. Ibu jangan pernah berharap lagi bisa beli barang branded lagi di butik, jangan berharap bisa beli perhiasan keluaran terbaru, tas branded, jalan-jalan, arisan. Mulai dari sekarang belajar hidup hemat." bisik Arista di telinga Rahmi.

Badan Rahmi menegang, niat awal dia ingin mengintimidasi menantunya, malah semua berbalik ke arahnya.

Arista walaupun berbisik, tapi masih bisa di dengar oleh ke dua telinga Anjas. Dia tertawa sambil menggelengkan kepala dan melenggang ke luar , sambil memutar mutar kunci mobil di telunjuknya.

Aksi itu seolah sedang mengejek Rahmi dan sekaligus menunjukkan kunci mobil uang dia pegang.

Rahmi menghentakkan kakinya ke lantai.

[ Bagaimana ini, kalau nanti Arista benar-benar kembali bekerja di perusahaannya. Rahmi menyesal karena bicara sembarangan]

Saat Anjas dan Arista sudah berada di parkiran mobil, tak lama masuk sebuah mobil sedan mewah dan berhenti tepat di samping mobil Anjas.

Seorang gadis dengan rok span di atas lutut dan kaos tang top keluar dari dalam mobil.

Arista mengernyitkan dahinya, melihat penampilan gadis di depannya. Dia mengenal gadis itu bahkan sangat mengenalnya.

Dia Silvia,.adik dari Pram . Anjas yang melihat penampilan gadis di depannya , reflek memutar tubuh dan melihat ke arah lain. Anjas bukannya tergoda , dia malah jengah.

Arista sepertinya sengaja tak mau menyapa adik iparnya. Dia ingin lihat, bagaimana sikap adik iparnya yang sekarang penampilannya sudah jauh berbeda.

"Kata orang berdua dengan lawan jenis , yang bukan pasangannya, yang ke tiganya setan." celetuk Silvia sambil menatap Arista tak suka.

Reflek Arista mengedarkan pandangannya. Selain mereka bertiga tak ada orang lain lagi.

Arista tersenyum kecil.

" Kamu nggak sadar, di sini yang ke tiganya itu siapa?." tanya Arista sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah adik iparnya.

Anjas yang mendengar celetukan Arista tertawa terpingkal-pingkal. Dia nggak sangka Arista bisa sekonyol itu.

Silvia menghentakkan kakinya ke lantai parkiran.

"Awas ya, Mbak. Aku bilangin sama mas Pram." ancam Silvia.

" Bilang saja. Tapi siap-siap ya, kalau ada yang menghentikan mobil yang kamu pakai di tengah jalan. Jangan nangis-nangis, mobil yang kamu pamerin ke semua orang itu, masih atas nama kakak iparmu yang cantik ini." Arista tersenyum menggoda , tak lupa dia pun mengedipkan matanya.

Silvia secara reflek menyembunyikan kunci mobil yang dia pegang je belakang punggungnya.

" Nggak bisa begitu dong, mbak. Mobil ini mas Pram sudah kasih ke aku."

" Kakakmu yang cantik ini, nggak pernah merasa memberikan mobil ini pada siapa pun. Kakak kamu yang membawa mobil ini dan menaruh di rumah kamu. Sampai sekarang nggak di kembalikan."

Silvia panik, dia menelpon seseorang.

" Bu. Ibu ada di mana , aku udah ada di depan. Cepat Bu." kata Sivia yang ternyata menghubungi Rahmi.

" Iya...iya...ini ibu mau ke tempat parkiran. Tunggu sebentar."

Rahmi berjalan terburu-buru, sesekali dia menengok ke belakang.

" Eh...eh...ibu tunggu. Tunggu dulu , Bu."Salah seorang karyawan resto mengejar Bu Rahmi.

Rahmi pucat, dia salah tingkah.

" Bayar dulu maksndn ibu. Jangan main kabur aja, bilangnya pamit ke toilet , nggak taunya kabur."

" Kalau nggak mampu bayar, jangan makan di sini Bu. Nanti karyawan juga yang kena getahnya yang harus gantiin." karyawan resto itu tampak kesal.

" Hei...dengar ya, anak saya itu punya perusahaan. Nanti dia yang akan bayar." teriak Rahmi marak.

Arista , Anjas , dam Silvia yang mendengar keributan itu mencoba mendekat.

Arista membelalakkan matanya, ternyata mertuanya tengah ribut dengan karyawan resto.

Sivia setengah berlari mendekat ke tempat ribut-ribut.

"Ini ada apa sih, Bu." tanya Sivia.

"Ini nih, karyawan resto ini nuduh ibu yang nggak nggak."

"Nuduh yang nggak nggak bagaimana, Bu. Saya cuma minta ibu ini bayar makanan yang sudah di makan." karyawan resto membela diri.

"Astaga, ibu bikin malu aja " kata Silvia kesal.

" Berapa totalnya mbak " tanya Silvia.

" Total 500.000, mbak."

" Hah..1.500.000? Ibu makan sendiri habis

000, apa aja yang ibu makan?". Silvia shock mendengar bil yang dia bayar.

Silvia membuka tas Selempangnya, dia hendak mengambil karu ATM. Wajahnya panik, benda yang di maksud tak ada di dalam tasnya.

Arista yang melihat gelagat adik iparnya, berniat meninggalkan tempat itu. Dia nggak mau terlibat dalam drama dadakan yang di ciptakan oleh mertuanya.

Silvia mengejar Arista.

" Mbak..mbak Arista. Tolong mbak, karu ATM saya ketingalan. Bayarin BIL ibu, mbak." tidak biasanya Silvia berkata sopan.

Arista tersenyum kecil.

" Maaf, kakak iparmu nggak bisa bantu. Telepon aja kakak kamu yang punya perusahaan, uang sebesar itu nggak ada apa-apanya di bandingkan jatah uang jajan kamu." Sindir Arista.

Arista masuk ke dalam mobil. Anjas menuggu di dalam sejak tadi. Saat Anjas tahu, Rahmi tengah ribut dengan karyawan resto, dia berbalik lagi ke arah mobilnya.

Dia senyum kucing. Saat mengetik sesuatu di gawainya.

Arista curiga. Tapi dia nggak berani bertanya.

" Siap pak bos." notif masuk ke gawai Anjas.

Anjas membaca dan tersenyum lebar.

[ Mau main-main sama saya. Nikmati saja akibatnya."]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!