Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggila
Keesokan harinya...
Robby masih dibuat penasaran kemana istrinya pergi. Ponselnya tetap tidak bisa dihubungi, dan ia juga tidak pernah tahu siapa saja teman istrinya yang bisa ditanyai. Alhasil Robby jadi uring-uringan sendiri. Karena baru beberapa hari tanpa Raina, hidupnya sangat kacau.
Contohnya hari ini...
Pagi-pagi sekali ia bangun untuk bersiap ke kantor. Biasanya saat ia membuka mata, setelan kerja sudah tergantung rapi, kaus kaki, sepatu, bahkan celana dalamnya pun sudah disiapkan oleh Raina. Semuanya bersih, semuanya rapi dan wangi. Namun berbeda dengan hari ini...
Jangankan melihat setelan kerja yang rapi. Sosok istri barunya malah masih asik tertidur pulas di sebelahnya. Bahkan saat ia bangunkan, Monica sama sekali tidak mendengarnya... atau justru malah pura-pura tidak dengar.
"Monica bangun! aku mau kerja!" Robby menggoyang bahu Monica.
Eenggh!
Monica hanya mendesah, tapi ia sama sekali tidak mau membuka mata.
"Cepat siapkan pakaian kerjaku dan sarapannya!"
Robby sudah terbiasa dengan ritme yang Raina ciptakan selama bertahun-tahun. Ia, tetap ingin merasakan hal yang sama saat tinggal bersama Monica.
Monica sama sekali tidak merespon. Ia malah berbalik, memunggungi suaminya yang mulai menahan kesal.
"MONICA BANGUN!" Robby membentak. Ia sudah habis kesabarannya.
"Berisik tau gak!" Monica balik marah. Karena tidurnya terganggu.
"Cepat bangun siapkan pakaian kerjaku dan sarapannya!" titah Robby.
Monica yang tadinya masih setengah sadar langsung melotot seketika. "Kamu... nyuruh aku?" Monica tertawa sinis sambil menunjuk dirinya sendiri. "Sejak dulu, aku tidak pernah melakukan semua itu. Biasanya Hadi yang selalu melayani aku! Sekarang... lebih baik kamu masak buatkan aku sarapan!"
Robby terkejut setengah mati. Monica yang dulu ia kira jauh lebih baik dari Raina... ternyata aslinya jauh, sangat jauh dari dugaannya.
Tadinya Robby ingin lanjut marah. Tapi saat melihat jam dinding, ia seketika panik karena sudah terlambat.
Robby kebingungan sendiri. Ia pontang-panting mencari seragam kerjanya yang ternyata belum dicuci sejak terakhir kali ia gunakan. Bahkan kaus kakinya juga entah kemana. Alhasil ia hanya menemukan dia buah kaus kaki yang berbeda.
"Sial! baru ditinggal Raina beberapa hari hidupku sudah sekacau ini!" makinya.
Robby melihat ke arah ranjang. Istrinya malah lanjut tidur tanpa rasa bersalah. Andai ia sedang tidak terlambat, Monica pasti akan jadi sasaran empuk kemarahan.
"Dasar tidak berguna!"
Robby berlalu. Ia pergi memakai setelan kusut, kaus kaki beda sebelah, dan sepatu yang kusam karena tak sempat disemirnya.
Kacau hidupnya benar-benar kacau.
"Raina kembalilah! aku butuh kamu!"
Dalam keadaan begini! Ia baru sadar beratap berartinya sosok Raina dalam keselarasan pola hidupnya. Dulu, ia hanya menganggap Raina ibu rumah tangga biasa yang kuno dan tidak menggairahkan.
---
Sesampainya di kantor, derita yang Robby alami belum berakhir sampai di situ saja. Ia harus mendapatkan kemarahan dari atasannya. Karena izin libur yang lebih dari semestinya dan ia juga datang dengan tampilan yang berantakan.
"Ada apa denganmu Rob? nggak biasanya kamu begini?"
Teman satu divisinya menatap hobi dengan kasihan. Pria tampan yang dulu selalu tampil sempurna, ini malah terlihat seperti anak yang kehilangan ibunya.
"Istriku pergi entah ke mana!" kata Robby sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
"Kamu buat kesalahan?"
Robby menggeleng. karena yang ia tahu, semua kebusukannya masih tertutup dengan rapat.
"Kalau kamu tidak membuat kesalahan, nggak mungkin istrimu pergi begitu saja. Meskipun aku baru beberapa kali bertemu dengan istrimu, tapi aku tahu dia bukan tipe wanita yang akan meninggalkan suaminya tanpa alasan!"
Perkataan dari temannya, membuat Robby teringat sesuatu. "apa dia tahu kalau selamanya aku selingkuh?" tadinya Robb hanya niat berbicara dalam hati, namun malah terucap secara lisan dan didengar oleh temannya.
"Kamu selingkuh? Fix dia pasti pergi ninggalin kamu!" ujarnya dengan sangat yakin.
"Nggak mungkin dia tahu. Selama ini dia baik-baik aja kok! dia masih melayani kebutuhanku dengan baik. Ya, meskipun selama bekerja dia tidak pernah lagi memasak untukku!" jawab Robby.
"Fix! aku berani jamin 100%. Istri kamu sudah tahu tentang perselingkuhan kamu, tapi dia memilih diam untuk mencari bukti. Sekarang, setelah semua bukti ada di tangannya... dia baru pergi dan nggak lama surat pengadilan pasti datang ke rumahmu!"
Robby tertawa. Iya merasa temannya ini terlalu konyol dan terlalu berimajinasi. Sepanjang yang ia tahu selama mengenal Raina, wanita itu tidak pernah tahan jika ia membuat kesalahan. Apalagi jika Raina tahu ia selingkuh, maka saat itu juga Rena pasti akan langsung konfrontasi.
"Imajinasimu terlalu liar bro!" ucap Robby.
Belum selesai iya tertawa. Masuk notifikasi pesan dari Monica, yang memberitahu jika mereka berdua mendapatkan surat dari pengadilan.
"What! Raina beneran minta cerai?" saking terkejutnya, Robby sampai berdiri dari kursinya.
"Apa aku bilang! kamu sih ngeyel!" sambung temannya.
Robby langsung pergi begitu saja. Ia meninggalkan semua pekerjaan, yang sebenarnya adalah kesempatan terakhir dari atasannya.
"Kamu mau kemana? nanti bisa dipecat loh kalau mangkir lagi!" teriak temannya mengingatkan.
Tetapi surat pengadilan yang baru saja Monica terima, lebih membuatnya takut dari ancaman pemecatan itu.
"Mana suratnya?" pinta Robby ketika ia baru saja datang.
Monica langsung memberikannya.
"Nggak! Ini nggak mungkin. Raina sangat mencintai aku. Dia gak mungkin tega meninggalkan aku!" Robby menggeleng. Ia sama sekali tidak percaya dengan surat itu.
"Terima kenyataan nya Rob! Raina dan Hadi sama-sama mengajukan perceraian!" Monica memegang kedua tangan Robby. "Seharusnya kamu senang Rob! dengan begini kita bisa menjalani hubungan ini secara terang-terangan. Dan aku tidak perlu berbagi suami!"
Robby menghempas tangannya dengan kasar. "GILA KAMU!" Robby membentak. "Sejak awal hubungan kita ini cuma untuk main-main dan senang-senang saja. Dari awal, wanita yang aku cintai cuma Raina!"
Robby makin panik. Ia ingin mencari istrinya, tapi tidak tahu ada dimana. Ingin menghubunginya pun, nomornya masih tidak bisa dihubungkan hingga saat ini.
"Jadi kamu gak pernah cinta sama aku?" Monica menatap Robby dengan kecewa.
"Kalau bukan karena kamu yang pandai menggoda! Aku tidak akan Sudi melirikmu!" jawab Robby.
Monica memukulnya. Ia sangat kecewa. "Kamu brengsek Rob!"
"Terserah! Aku sama sekali tidak peduli. Sekarang, aku ingin mencari Raina dan membatalkan perceraian ini!"
Robby meninggalkan Monica. Ia tidak peduli dengan istri keduanya yang mengejar sambil berteriak memanggil namanya. Karena fokusnya sekarang adalah mencari Raina dan menyatukan kembali pernikahan mereka
---
Disisi lain...
"Kamu nakal banget sih Mas!" Raina menepuk tangan Hadi yang sejak tadi terus memeluknya.
"Aku sedang bahagia sayang! Karena sebentar lagi urusan perceraian kita akan selesai!"
"Tapi aku gak mau ketemu Robby lagi Mas!" Raina berbalik, ia mengalungkan kedua tangannya di leher kekasihnya.
"Gampang! biar semua itu jadi urusan pengacara saja. Kita... hanya perlu memikirkan kapan kita akan menikah!"
Hadi sudah tak sabar. Ia ingin segera mengikat Raina dan menjadikannya istri selamanya. Namun, keinginannya tidak bisa langsung direalisasikan. Karena setelah perceraian, masih ada masa Iddah yang mengharuskan Hadi menunggu Raina selama 90 hari
mungkin sebenarnya... : Mirna SDDANG TAK INGIN bicara, apalagi menjelaskan panjang lebar. Ia lebih memilih pergi meninggalkan SUAMINYA yang tadi....bla bla bla....🙏🙏🙏🙏
dy juga yg melanggar 😂😂😂