NovelToon NovelToon
Cinta Beda Umur Juga Asik

Cinta Beda Umur Juga Asik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.


Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.

apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33.

Suasana di lorong rumah sakit terasa dingin dan hening, hanya sesekali terdengar suara langkah kaki perawat yang bergegas atau bunyi peralatan medis dari balik pintu ruang ICU yang tertutup rapat. Bela duduk terkulai di kursi tunggu, tubuhnya masih bergetar hebat, baju dan tangannya masih bernoda darah yang mulai mengering. Tatapannya kosong, terpaku pada pintu putih itu seolah berharap pintu itu akan terbuka dan Arga keluar dengan senyumnya yang menenangkan.

Di sampingnya, bunda euis memeluk bahu putrinya erat-erat, berusaha menyalurkan kekuatan meski hatinya sendiri juga remuk melihat penderitaan Bela. Air mata wanita itu tak henti menetes, namun ia berusaha menahan isak tangisnya agar tidak menambah beban mental putrinya.

"Sabar, Nak... sabar ya," bisik bunda euis lembut sambil mengusap punggung Bela berulang kali. "Dokter-dokter terbaik sedang menangani dia. Doakan saja, semoga Tuhan masih memberikan kesempatan..."

Bela tidak menjawab. Ia hanya menggeleng perlahan, matanya tetap tidak berkedip menatap pintu ICU. Di benaknya, masih tergambar jelas detik-detik terakhir di jalan tadi—senyum Arga yang penuh kasih, kata-kata perpisahan yang terucap lemah, dan tangan yang perlahan terlepas. Rasanya seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir, dan ia tak sanggup membayangkan jika kenyataannya benar-benar seperti yang ia takutkan.

Di ujung lorong, Pak Rudi berdiri membelakangi mereka, berbicara lewat telepon dengan suara yang bergetar tertahan. Baru saja ia menutup telepon, wajahnya terlihat semakin tegang dan sedih. Ia memanggil sopirnya untuk menyiapkan kendaraan, lalu berjalan mendekati istri dan putrinya.

"Mereka sedang dalam perjalanan," ucap Pak Rudi pelan. "Pak Badi dan Bu Sari, orang tua Arga. Mereka akan segera tiba."

Mendengar nama orang tua Arga disebut, Bela akhirnya menoleh perlahan. Air matanya yang sempat berhenti sejenak kembali mengalir deras. Ia membayangkan bagaimana perasaan mereka jika mendengar kabar buruk ini—kehilangan anak laki-laki satu-satunya, yang mereka banggakan dan cintai lebih dari nyawa sendiri.

Setelah sekitar satu jam menunggu yang terasa seperti berabad-abad, dua sosok tua tampak berlari tergopoh-gopoh menuju lorong itu. Pak Badi, laki-laki paruh baya dengan wajah yang memucat pasi, dan Bu Rita yang berjalan tertatih sambil menahan isak tangis. Begitu melihat Pak Rudi, mereka langsung mendekat dengan napas terengah-engah.

"Bagaimana keadaan anak kami, Rudi? Di mana dia? Apakah dia masih hidup?" tanya Pak Badi dengan suara bergetar, tangannya mencengkeram lengan baju Pak Rudi dengan kuat.

Pak Rudi hanya bisa mengangguk pelan, tidak sanggup berkata-kata. "Dia sedang dirawat di dalam, Badi. Dokter sedang berusaha sekuat tenaga. Mari kita duduk dulu."

Bu Rita yang sejak tadi menahan tangis akhirnya menangis tersedu-sedu begitu melihat Bela yang duduk dengan wajah pucat dan pakaian bernoda darah. Ia langsung menghampiri gadis itu, lalu memeluknya erat. Bela pun membalas pelukan itu, menangis sejadi-jadinya di dada wanita yang kelak sempat ia bayangkan akan menjadi mertuanya.

"tante... maafkan saya... ini semua salah saya..." rintih Bela di antara isak tangisnya. "Kalau saja saya tidak membiarkan pak Arga mendekat, kalau saja saya lebih waspada... Pak Arga tidak akan terluka..."

Bu Rita menggeleng cepat, mengusap rambut Bela dengan lembut. "Jangan bicara begitu, Nak. Ini bukan salahmu. Ini kehendak takdir, dan kesalahan orang lain yang memiliki hati gelap. Kita semua berdoa agar dia selamat, ya?"

Waktu terus berjalan dengan lambat. Setiap detik terasa menyiksa. Semua orang duduk dalam diam, hanya sesekali terdengar suara isak tangis yang tertahan. Bela tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya, matanya tidak pernah lepas dari pintu ruang ICU. Ia terus berdoa dalam hatinya, memohon kepada Tuhan agar memberikan kesempatan kedua, agar tidak memisahkan mereka begitu cepat.

Bastian, Galang, Lula dan Bagas baru saja tiba di rumah sakit setelah mendengar kabar buruk menimpa bela dan Arga. Lula langsung memeluk sahabat nya dengan erat, Air mata bela kembali tumpah di pelukan sahabatnya. Galang menghampiri bela yang masih di pelukan Lula, dengan wajah yang sendu. " sabar Bel, Pak Arga pasti kuat." sambil mengelus pundak bela.

Hingga akhirnya, setelah hampir tiga jam menunggu, pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter dengan jas putih dan topi operasi yang masih menempel di kepala keluar dengan wajah yang lelah namun serius. Seluruh orang di ruang tunggu langsung berdiri serentak, menatap dokter itu dengan harapan dan ketakutan yang bercampur aduk.

Pak Badi melangkah maju lebih dulu, diikuti oleh Pak Rudi dan yang lainnya.

"Dokter... bagaimana keadaan anak saya?" tanya Pak Badi dengan suara bergetar, suaranya terdengar sangat berharap namun penuh ketakutan.

Dokter itu menarik napas panjang, lalu menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang penuh empati.

"Kami telah melakukan operasi penyelamatan selama tiga jam penuh," jelas dokter itu perlahan. "Luka tusukan itu cukup dalam dan mengenai organ pencernaan serta pembuluh darah. Kami berhasil menghentikan pendarahan dan memperbaiki kerusakan yang ada. Namun, karena kehilangan banyak darah dan guncangan yang hebat, kondisinya masih sangat kritis. Nyawanya masih dalam bahaya besar."

Suasana menjadi hening seketika. Bela terhuyung mundur, nyaris jatuh jika tidak ditahan oleh Galang.

"Artinya... apakah dia akan selamat?" tanya Bela lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

"Dia masih dalam keadaan koma. Kami belum bisa memastikan apa pun dalam 24 jam ke depan. Jika esok pagi kondisinya stabil dan tidak ada komplikasi lain, maka harapan untuk sembuh akan semakin besar. Tapi jika ada perubahan yang memburuk... maka risikonya sangat tinggi."

Kata-kata dokter itu bagaikan pisau yang menyayat hati mereka. Harapan yang sempat muncul sedikit, kini kembali dibayangi ketidakpastian yang menakutkan.

"Bolehkah kami melihatnya?" tanya Bu Rita lemah.

"Boleh, tapi hanya sebentar dan jangan berisik. Kondisinya masih sangat lemah," jawab dokter itu.

Mereka pun diizinkan masuk satu per satu. Bela masuk terakhir. Begitu melihat Arga yang terbaring lemah di atas ranjang, tubuhnya dipenuhi selang dan alat pemantau detak jantung, air matanya kembali mengalir deras. Wajah Arga terlihat sangat pucat, napasnya teratur namun dibantu oleh alat bantu pernapasan.

Bela berjalan perlahan mendekat, lalu berjongkok di samping ranjang. Ia mengangkat tangan kanan Arga yang terlihat begitu dingin dan kurus, lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya.

"Pak Arga..." bisiknya pelan, suaranya bergetar. "Saya di sini. Saya nggak akan pergi ke mana-mana. Saya akan tunggu sampai Bapak sadar. Bapak janji kan, Bapak akan selalu ada buat saya? Bapak nggak boleh ingkar janji..."

Ia mencium punggung tangan Arga dengan lembut, lalu meletakkan kepalanya di tepi ranjang, tetap menggenggam tangan itu erat.

"Saya sayang Bapak. Lebih dari apa pun. Jadi tolong... bangunlah. Saya masih butuh Bapak. Kita masih punya banyak hal yang harus kita lalui bersama..."

Malam itu, Bela tidak mau pulang. Ia memutuskan untuk menunggu di ruang tunggu, berjanji tidak akan meninggalkan rumah sakit sampai ada kabar baik. Orang tua Arga dan orang tuanya pun memutuskan untuk tinggal menemaninya, bergantian menjaga agar Bela tidak sendirian.

Di sel tahanan sementara, Ratna terbaring lemah di atas ranjang besi. Tubuhnya semakin melemah, penyakitnya berkembang lebih cepat akibat tekanan batin dan stres yang luar biasa. Di dalam sel yang sunyi, ia terus memikirkan apa yang telah ia perbuat. Ia membunuh laki-laki yang ia cintai, menghancurkan masa depan gadis yang tidak bersalah, dan kini ia harus menanggung beban dosa itu seumur hidupnya. Penyesalan yang datang terlambat itu menyiksa hatinya jauh lebih parah daripada penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Sementara itu, di ruang ICU, detak jantung Arga tetap stabil, meski ia belum juga membuka matanya. Di luar sana, orang-orang yang mencintainya terus berdoa dengan sepenuh hati, berharap keajaiban akan datang. Dan Bela, gadis yang telah kehilangan sebagian hatinya, terus berpegang teguh pada harapan—bahwa cinta yang tulus dan doa yang ikhlas akan mampu mengalahkan maut, dan Arga akan kembali membuka matanya, menatapnya, dan tersenyum seperti biasa.

1
Rafi Hafizh
👍
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author👍
Rafi Hafizh
semangat author.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!