Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manipulasi Cinta
“Ingatanmu sudah kembali?” Lyra bertanya dengan nada datar. Ryan merasa wanita itu seperti tidak memiliki emosi apa pun, berbeda dari ekspresinya ketika Ryan baru tersadar dari koma.
Saat Ryan dan Ares memanggilnya kekasih dan istri secara bersamaan, Lyra merasa terkejut sekaligus bingung, tetapi ia berhasil menguasai diri secepatnya.
Sejak awal Lyra sudah tahu cepat atau lambat ingatan pria itu akan kembali, tetapi keputusannya sudah bulat untuk menutup pintu hatinya. Ia tidak ingin mencintai orang yang mengkhianati perasaannya.
“Sudah, aku juga ingat hari kecelakaan itu terjadi.” Ryan tersenyum hangat sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh tangan Lyra, tetapi wanita itu langsung menghindar dengan dingin, membuat senyum hangat Ryan berubah menjadi senyum canggung. “Aku minta maaf karena sempat melupakanmu, Lyra.”
Lyra melirik Ares yang masih duduk tenang di sisinya, sementar Aran tampak menahan emosi yang mungkin akan segera meledak. Tak ingin terjadi masalah, ia berniat meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
“Aku terima maafmu.” Lyra menegakkan punggung, ia menatap mata Ryan yang menyiratkan penyesalan tapi hal itu tidak membuat hatinya tergerak. “Tapi hubungan kita sudah berakhir jadi lain kali perhatikan kata-katamu, aku bukan kekasihmu.”
“Tapi, Lyra_”
“Ayo, Mas.” Lyra langsung beranjak dari kursinya, meninggalkan mantan kekasih dan suaminya yang terus menatapnya.
Ryan yang menatapnya dengan sedih.
Ares yang menatapnya sambil berseringai puas.
“Kamu lihat sendiri, kan?” Ares bersender santai di kursi sambil menatap Ryan yang murung. “Aku sama Lyra nggak ada apa-apa, hubungan kami karena paksaan orang tua kita.”
Kilat mata Ryan berubah mendengar ucapan percaya diri sang kakak, ia tersenyum samar lalu berkata, “Aku … seharusnya mempercayaimu, Mas Ares.”
Ares hanya menanggapinya dengan senyum tenang, berbanding terbalik dengan sorot matanya yang menyala.
Setelah selesai makan siang, Ares pamit kembali ke kantor lebih dahulu dan meminta Ryan tak perlu mengantarnya, sebab Vano sudah datang menjemput. Sementara Ryan tetap di restaurant, ia memanggil Haris ke sana.
“Bagaimana, Tuan?” tanya Haris seraya menarik kursi di hadapan Ryan.
“Lyra bersikap sangat dingin, bukan dia.” Ryan menghela napas berat sambil memeriksa kembali social medianya, di sana tidak ada foto kebersamaannya dengan Lyra atau pun Cahaya. Ia juga sudah memeriksa laptopnya berulang kali tapi tidak menemukan jejak hubungannya dengan Lyra, seakan ada yang sengaja membersihkan jejak-jejak itu darinya.
“Sementara Ares … dia bersikap seperti biasa, seperti orang yang nggak punya emosi apa pun dan benar-benar hanya mengikuti perintah Papa, bahkan dia mengakui pernikahannya dengan Lyra tanpa ragu.”
Awalnya Ryan dan Haris curiga dalang di balik kecelakaannya adalah Ares dan Lyra karena kedua orang itu memiliki hubungan gelap dan mungkin ingin bersama, sehingga sengaja menyingkirkan sang pengantin pria. Namun, setelah Ryan perhatikan reaksi dan gerak-gerik Lyra, wanita itu tampak benar-benar tidak tahu apa pun, bahkan Lyra memang seperti wanita berhati dingin setelah hatinya dipatahkan.
“Kalau begitu sepertinya Tuan Ares memang tidak ada hubungannya dengan kecelakaan atau pernikahanmu, Tuan. Dia tidak mendapatkan keuntungan apa pun selain hanya mengikuti perintah Tuan Tama.”
Ryan tersenyum sambil menggeleng. “Memang itu tujuan Ares berkata jujur, Haris.”
“Apa?” Haris mengernyit tak mengerti sedangkan Ryan hanya bisa mengepalkan tangan, kini kecurigaannya pada Ares semakin besar, apalagi mengingat kebiasaan Ares yang memainkan pena di jarinya seperti tadi.
“Saat aku kecelakaan, ada seorang pria di sana.” Ryan berusaha mengingat kembali ketika kecelakaan itu terjadi.
Saat itu ia terjebak di mobil yang terbalik, bau darah dan bensin memenuhi Indera penciumannya tapi yang paling menarik perhatian adalah seorang pria yang berjalan mendekat sambil memainkan pena di jarinya.
Pria itu tidak mendekat untuk buru-buru menolong, melainkan seperti sedang menikmati sebuah tontonan secara pelan-pelan. Hanya saja Ryan tidak ingat jelas siapa pria itu.
“Haris, seberapa sering kamu melihat Ares memainkan pena di jarinya?”
Haris terdiam sejenak, berusaha mengingat-ingat kembali apa yang ditanyakan oleh tuannya itu. “Sepertinya cukup sering, Tuan. Ketika rapat, ketika sedang berbicara dengan Tuan Tama, bahkan saya pernah melihat dia memainkan pena di jarinya saat di mobil.”
“Benar.” Ryan tersenyum seakan telah menemukan satu titik terang dalam jalannya yang abu-abu. “Satu hal kecil kebiasaan orang memang terkadang menjadi petunjuk yang berarti.”
Sementara di sisi lain, Vano yang membawa Ares kembali ke kantornya tampak cemas, berulang kali pria itu melirik Ares yang justru tampak senang sampai senyum-senyum seperti ABG kasmaran.
Bagaimana tidak?
Ares merasa sangat senang melihat reaksi Lyra yang begitu dingin terhadap Ryan, bahkan sekarang ia yakin seribu persen istrinya itu telah melupakan mantan kekasihnya.
“Apa dia sudah sampai di kantor?” Ares merogoh ponselnya dari saku lalu mencoba menghubungi Lyra.
Panggilan pertama diabaikan, panggilan kedua ditolak, tetapi Ares tidak mau menyerah, ia mencoba menghubungi istrinya itu untuk ketiga kalinya yang akhirnya berhasil.
“Apa?” ketus Lyra dari Seberang telepon.
Ares menarik napas panjang, ia membuang senyum di bibirnya lalu memasang wajah datar sebelum akhirnya bertanya, “Pulang jam berapa nanti malam?”
“Nggak pulang.”
Ares menahan kesal mendengar jawaban itu. “Ada hal penting yang mau aku bicarakan.”
“Apa pun itu, bicarakan lewat telepon, aku nggak bisa pulang.”
“Jangan lupa kamu yang menyeretku ke dalam masalah ini,” seru Ares dengan nada kecewa yang justru membuat Vano mendelik, seakan sudah sangat muak dengan alasan yang terus dijadikan senjata oleh Ares untuk menarik perhatian Lyra.
“Aku hanya anak angkat di keluarga Jatmika, sejak 15 tahun lalu mereka memberiku makan, minum, tempat tinggal bahkan membiayai pendidikanku. Mereka membuatku menikahimu sebagai balas budi tapi kamu dan Ryan justru menyalahkanku.”
Vano meringis mendengar nada bicara Ares yang seakan menjadi manusia paling menderita di bumi. Vano yakin, jika Ares menjadi aktor, mungkin sudah menang segudang penghargaan karena pandai bersandiwara.
“Aku? Kapan aku menyalahkanmu?” Suara Lyra terdengar emosi sedangkan Ares justru menahan senyum senang.
“Ryan sudah ingat siapa kamu tapi dia juga tahu tentang pernikahan kita, aku merasa terjebak.” Ares berkata lirih di akhir kalimat. “Bisakah kamu pulang dan kita bicara?”
Hening selama beberapa saat, Ares yakin saat ini Lyra sedang dilema. “Oke,” jawab Lyra setelah beberapa saat, membuat senyum Ares mengembang sempurna.
Setelah mengakhiri panggilan, pria itu semakin terlihat senang sementara Vano hanya terus meliriknya.
“Tanyakan saja dari pada mati penasaran,” seru Ares yang bisa merasakan ketidak tenangan asisten pribadinya itu.
“Tuan, kenapa mengaku kalau sudah menikahi Nyonya? Bagaimana kalau Tuan Ryan curiga?”
“Sejak dia datang ke kantorku tadi, aku sudah tahu dia mencurigaiku. Dia juga sengaja membawaku ke restaurant Jasmine karena tahu di sana ada Lyra.” Ares tersenyum miring, ia mengambil sebatang rokok lalu melanjutkan, ”Anjing kecil itu juga mencurigai Lyra. Dia sengaja mengaku ingat saat kecelakaan itu hanya untuk melihat reaksi kami.”
“Apa?” Vano memekik, ia semakin panik sementara Ares justru merokok dengan santai. “Jadi bagaimana, Tuan? Apa kita perlu … membungkamnya?” cicit Vano.
Ares menggeleng. “Saat ini dia sudah membersihkan Lyra dari kecurigaannya tapi kecurigaannya terhadapku semakin besar karena aku bersikap seperti biasa.”
Vano meringis sambil menggaruk kepala, tak habis pikir dengan Ares yang bermain api dengan begitu tenang padahal pria itu pasti tahu, bermain api maka pasti akan berakhir terbakar.
“Dokter dan suster yang menangani Ryan di rumah sakit itu, kamu sudah mengurusnya?”
“Sudah, Tuan. Dua hari yang lalu mereka sudah dikirim ke luar negeri, Tuan Ryan atau Tuan Tama tidak akan menemukan mereka. Tidak akan pernah ada yang tahu bahwa sebenarnya selama ini Tuan Ryan diisolasi di rumah sakit. Tuan Ryan juga tidak akan sadar bahwa ingatannya dimanipulasi agar dia melupakan Nyonya dan justru mengingat Cahaya sebagai kekasihnya.”
duh giliran ada gratisan langsung ok hehwhe
Kudukung kamu..
apa iya . hilangnya Ryan hari itu ulah ortunya lira