Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 : Lunaris
Sinar matahari sore menerobos masuk melalui jendela kaca besar sebuah apartemen mewah yang menghadap langsung ke pusat Kota Paris.
Di tangan seorang gadis berambut cokelat lurus, terdapat sebuah foto yang mulai sedikit memudar karena usia.
Foto itu memperlihatkan seorang remaja laki-laki berambut putih yang tengah mengenakan seragam SMA, ya siapa lagi kalau bukan Xavier.
Berbeda dengan dirinya sekarang.
Di foto itu memperlihatkan Xavier yang sedang bersandar santai di tembok sekolah sambil tertawa lepas bersama beberapa teman laki-lakinya.
Senyumnya itu begitu tulus, dari matanya juga terlihat cahaya yang tidak membuat matanya kosong, aura dinginnya yang sekarang hampir tidak terlihat sama sekali difoto itu.
Xavier juga tampak sangat berbeda dari dirinya yang mungkin sudah dikenal seluruh negara. Xavier yang dingin dan selalu tegak serta kaku bagaikan robot.
Gadis itu mengusap perlahan permukaan foto menggunakan ibu jarinya. Senyumnya lembut, seolah foto itu merupakan benda yang sangat berharga baginya.
Tak satu kata pun keluar dari bibirnya, seperti masih sangat ingin menatap foto itu lebih lama.
Ia lalu berjalan perlahan menuju jendela. Hamparan Kota Paris langsung terbentang begitu indah. Di kejauhan berdiri megah Menara Eiffel yang diterpa cahaya matahari sore.
Angin mengibaskan rambut cokelat panjangnya. Ia memandangi langit beberapa saat. Barulah bibirnya bergerak pelan.
"Xavier,” suara itu begitu lirih. "Hidupmu sekarang... bagaimana ya?"
Ia menunduk melihat kembali foto itu.
"Apa... kau masih mengingatku?"
Tatapan matanya terlihat dipenuhi kerinduan yang telah lama dipendam. Angin Paris yang berembus lembut melewati jendela.
***
Dentuman musik memenuhi sebuah stadion konser yang dipadati puluhan ribu penonton. Lampu panggung berwarna biru dan ungu menari ke segala arah.
Di atas panggung terlihat enam gadis tampil begitu kompak.
Mereka adalah girl group K-Pop papan atas, yaitu Lunaris.
Sorakan penonton menggema memenuhi arena.
"KYAAAAAA!!"
"NACYLAAA!!"
"MINSEO!!"
Suara para penggemar hampir menutupi dentuman musik.
Di tengah formasi, Nacyla tersenyum cerah sambil menyanyikan bait terakhir lagu mereka. Gerakan dancenya begitu ringan dan presisi. Tatapan matanya juga dipenuhi oleh energi.
Hingga akhirnya musik berhenti.
Keenam member langsung menutup penampilan mereka dengan koreo terakhir.
Beberapa detik suasana menjadi hening. Sampai teriakan fans langsung bergemuruh.
"KYAAAAA!!"
Sorakan penonton dan tepuk tangan langsung menggema di seluruh stadion.
Leader mereka melangkah maju ke depan sambil tersenyum lebar.
Namanya adalah Minseo. Ia mengangkat microphonenya lalu melambaikan tangan kepada para fans. "Annyeonghaseyo, yeoreobun! (Halo semuanya!)”
Sorakan penonton kembali pecah.
Minseo tertawa kecil. "Jeohui neun Lunaris imnida! (Kami adalah Lunaris!)”
Minseo langsung memberi aba-aba kepada teman-temannya. "Hana! Dul! Set! (satu! dua! tiga!"
"Annyeonghaseyo! Lunaris imnida! (Halo! Kami LUNARIS!)” ucap para member sambil membungkuk.
Tepuk tangan kembali memenuhi stadion.
Minseo kemudian mulai memimpin memperkenalkan satu per satu member. "Annyeong! Je ireumeun Minseo imnida! (Halo! Namaku Minseo!)”
Lalu perkenalan beralih kesebelah Minseo.
"Annyeonghaseyo! Yura imnida! (Halo! Aku Yura!)” ucap seorang gadis dengan rambut di cepol.
Gadis di sampingnya ikut perkenalan. "Annyeonghaseyo yeoreobun! Ariel imnida! (Halo semuanya, aku Ariel!” ucap gadis berambut blonde dengan gaya dikuncir kuda.
"Annyeonghaseyo Luney! Haeun imnida! (Halo Luney! Aku Haeun!)” kata si gadis dengan rambut dikepang dua.
"Annyeong! Kaina imnida! (Halo! Aku Kaina!)” si gadis dengan rambut yang digerai dan berwarna merah.
Dan terakhir Nacyla maju satu langkah. Ia tersenyum begitu manis kepada para penggemar. Kemampuan bahasa Koreanya kini terdengar sangat alami.
"Annyeonghaseyo! Jeoneun Nacyla imnida. Oneuldo waseo jusyeo jeongmal gamsahamnida! Saranghaeyo! (Halo semuanya! Aku Nacyla. Terima kasih banyak sudah datang hari ini! Aku mencintai kalian!)”
"KYAAAAAAAAAAAA!!"
Nama Nacyla kembali diteriakkan oleh para penggemar.
Beberapa menit kemudian.
Acara MC mengambil alih. Lunaris pun membungkukkan badan. Lalu berjalan menuju belakang panggung.
***
Di Balik Panggung. Keenam anggota Lunaris segera berjalan menuju belakang panggung.
Begitu mereka masuk keruangan, para staf langsung menghampiri mereka.
Beberapa penata rias mulai memperbaiki makeup yang sedikit luntur karena keringat, sementara penata rambut sibuk merapikan helaian rambut masing-masing member.
Suasana backstage langsung ramai.
Di salah satu sudut, dua member yang paling usil kembali saling mengejek seperti biasanya.
"Ariel Unnie, akka chumchul ttae ne meolikalag-i machi nal-adanineun bisjalu gat-ass-eo! (kak Ariel, rambutmu tadi waktu dance seperti sapu terbang!)” ejek Yura sambil langsung tertawa terbahak-bahak.
Ariel yang sedang dirapikan rambutnya langsung melotot. "Yah! Neo jigeum mworago haesseo?! (Hei! Apa yang baru saja kau katakan?!)”
Yura masih tertawa. "Jeongmal! Naega bwasseo! Ne meori binggeulbinggeul dorasseo! (Serius! Aku lihat sendiri! Rambutmu muter-muter ke mana-mana!)”
Minseo langsung mengambil bantal kecil lalu melemparnya hingga mengenai bagian lengan Yura.
"Aya! (Aduh!)” Yura memegang lengannya sambil masih tertawa.
Seluruh staf langsung tertawa melihat tingkah mereka.
Sementara itu di sisi lain ruangan Leader Lunaris, yaitu Minseo terlihat berjalan sambil membawa minuman dan menghampiri Nacyla yang sedang duduk tenang sambil dirias ulang.
Minseo tersenyum hangat lalu memberikan satu minumannya didepan Nacyla. Nacyla yang melihatnya sedikit terkejut, “naleul wihan? (untukku?)” tanya Nacyla sambil menatap Manseo.
Minseo mengangguk. “Mullon (tentu.)”
Nacyla tersenyum manis. “Gamawo, Minseo Unnie (Terimakasih Minseo Unnie).”
“A, geuleonde Cyla, akka mogsoliga jeongmal chabunhaess-eoyo. Wanjeonhi maelyodoeeossdabnida. (oh iya Cyla, suaramu stabis sekali tadi. Aku sampai terpukau,)” kata Minseo sambil tersenyum kearah Nacyla.
Nacyla sedikit terkejut. "A, jeongmalyo? Gomawa unnie. (Oh benarkah? Terima kasih, Kak,)” ucap Nacyla sambil tersenyum geli dan sedikit malu.
Minseo mengangguk. "Geuligo han gaji deo malsseumdeulijamyeon, ibeon gong-yeondo jeongmal wanbyeoghaessseubnida. (Dan satu lagi, penampilanmu kali ini sangat sempurna.)”
Nacyla langsung membungkukkan badan kecil. "Jeongmal gamsahabnida. dangsin-ui gong-yeon ttohan jeongmal wanbyeoghaess-eoyo. (Terimakasih banyak kak, penampilanmu juga sangat sempurna.)”
Tak jauh dari sana...
Dua member lainnya, Kaina dan Haeun sedang sibuk mengambil selfie bersama.
"Kaina unnie, yeogi jomyeong-i jeongmal johneyo. (Kak Kaina, cahaya disini bagus,)” kata Haeun sambil berjalan menuju tempat itu.
Kaina langsung berjalan kearah Haeun. “Wa, dangsin mal-i majneyo. (Wah, kamu benar.)”
Kaina dan Haeun langsung berfoto disana dengan gaya manis.
KLIK!
"Najung-e bonaejulge, al-assji? (aku kirim ke kamu ya nanti,)” kata Kaina sambil melihat hasil foto dengan senyuman.
Haeun tersenyum dan mengangguk. “A, ne, jeongmal gomawoyo, Kaina eonni (Ah, baik. Terimakasih banyak, kak Kaina.)”
Kaina tampak geli dengan tingkah Haeun yang terlalu formal. “Ja neo jinjja jab-ameoghigo sip-eo ahahaha. (Ayolah kamu ini benar-benar ingin dimakan, hahaha.)”
Sementara itu Ariel dan Yura tampak masih belum selesai saling menggangu.
"Geuligo neoneun naboda kido jagguna, hahaha. (Dan kamu juga lebih pendek dariku, hahaha,)” kata Ariel sambil tertawa puas.
Yura langsung berdiri. "Ibwa! na ki jagji anhdago! (Hei kamu ini! Aku tidak pendek tau!)”
Tak lama kemudian seorang staf perempuan membawa tablet berisi jadwal aktivitas. Ia tampak menghampiri Nacyla. "Nacyla-ssi, hyuga neun eonje sseusil geoyeyo? (Nona Nacyla, kapan Anda akan mengambil cuti?)”
Nacyla berpikir sebentar. "Ajik bumonimkkeseo naljja-reul allyeojuji anasseoyo. (Orang tuaku belum memberi tahu tanggal pastinya.)”
Ia lalu tersenyum sopan. "Naljjaga jeonghaejimyeon baro malsseum deurilgeyo. (Kalau tanggalnya sudah ditentukan, aku akan langsung memberi tahu.)”
Staf itu mengangguk danembungkukkan badan. "Ne, algesseumnida. (Baik, saya mengerti,” setelah itu staf pun pergi.
Minseo tampak penasaran.
"Hyugayo? Wae hyugaleul gasineun geoyeyo? (Cuti? Mengapa kamu mengambil cuti?” tanya Minseo yang penasaran.
Nacyla tersenyum kecil. “A, geugeoyo... je yeodongsaeng-i gyeolhonhaeyo. (Ah itu... adikku akan menikah.)”
Minseo langsung membulatkan mata. “Wa jinjja?! (Wa benarkah?!)”
Nacyla mengangguk. "Ne. Geuraeseo jib-e gagaeya haeyo. (Iya. Jadi aku harus pulang ke rumah.)”
Minseo tersenyum. "Yeodongsaengbunkke chughadeulibnida. (Selamat ya untuk adikmu.)”
Namun belum sempat suasana menjadi haru, Yura dan Ariel yang mendengar pembicaraan itu langsung menoleh.
Lalu Yura tersenyum jahil. "Aigo~~ Cyla unnie, jagi yeodongsaenghante jil sudo issdani... (aduh... kak Cyla ternyata bisa kalah juga dari adik sendiri.)”
Nacyla langsung menoleh. “Ha?”
Minseo ikut menahan tawa.
Ariel langsung menlanjutkan ucapan Yura. "Dongsaengeun gyeolhonhaneunde unnie-neun ajik namjachingu-do eopseo!(Adiknya sudah mau menikah, sedangkan Kak Nacyla bahkan masih belum punya pacar!)”
Semua langsung tertawa.
Nacyla langsung memegang dahinya. "Yah! Geureoke nolijima!(Hei! Jangan mengejekku begitu!)”
Yura tertawa semakin keras. "Uri geurupe seo du beonjjae eonni-neunde ajik solo! (Padahal kamu kakak kedua di grup, tapi masih jomblo!)”
Ariel ikut menimpali. "Dongsaengi meonjeo gyeolhonhae! (Malah adiknya yang menikah duluan!)”
Nacyla sampai tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa menggeleng sambil tertawa malu. "Neo-deul jeongmal... (Kalian ini benar-benar ya...)”
Semua kembali tertawa.
Saat itulah Kaina dan Haeun langsung menghampiri mereka.
“Yaedeul-a, geuleohge jangnanchiji ma. (Hei kalian ini, jangan main mengejek begitu dong,)” ucap Kaina dari belakang mereka.
Haeun langsung memeluk Nacyla. “Najung-eneun ulileul akkyeojul salamdeul-i jul-eodeul teni seulpeohaeya hal geoyeyo. (Harusnya kalian sedih karena nanti yang memanjakan kita berkurang.)”
“A jebal... geunyang nongdam-ieoss-eo. (Ah ayolah... kami haya bercanda,)” ucap Ariel sambil tersenyum dan sedikit terkekeh.
Yura mengangguk. “Mianhae hyeong, geunyang nongdam-ieoss-eo. salanghae. (Maaf kakak, aku hanya bercanda. Aku mencintaimu.)”
Ariel dan Yura lalu ikut memeluk Nacyla dari kanan dan kiri.
Nacyla tertawa pasrah. “Aigoo... nado salanghaeyo. (Aku juga mencintai kalian.)”
Haerin melihat pemandangan itu sambil menggeleng pelan. "Jeodo an-ajugo sip-eoyo. (Hei aku juga mau dipeluk.)”
Seluruh member tertawa bersama.
Bahkan para staf di sekitar mereka ikut tersenyum melihat kekompakan Lunaris.
Meski di atas panggung mereka tampil bak bintang dunia yang memukau puluhan ribu penonton, di balik panggung mereka tetaplah enam gadis muda yang saling menyayangi, saling menggoda, dan sudah menjadi seperti keluarga sendiri.