Takdir membuat wanita bernama Anna terlempar ke zaman sebelum abad pertengahan. Menuntut agar ia bisa mengubah sejarah dan takdir kelam seorang raja tirani.
Namun, alih-alih kekejaman seperti yang di katakan semua orang, yang ia temukan hanyalah sesosok jiwa rapuh yang selalu memperlakukan dirinya dengan penuh kepedulian. Dan perlahan, sebuah rasa mulai tumbuh bersama raga yang ia tempati, tapi, apakah itu pantas? Apakah takdir sudah mengizinkan?
Anna terus menahan perasaanya, sampai ketika ia melihat raja datang dengan darah yang menetes di tangannya, sebuah permintaan akhirnya tidak bisa lagi ia tahan. Jauh di dalam hatinya terucap sebuah permohonan.
"Tolong biarkan aku tetap di sisinya, biarkan aku tetap di tempat ini untuknya, biarkan aku mencintanya sampai
akhir."
Tepat setelah permohonan itu terucap, ia langsung berlari, melangkahkan kakinya menuju orang yang telah menjadi sebagian dari jiwanya.
Namun, mampukah ia bertaruh takdir tidak akan membuatnya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Borraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memperjelas batasan
...Beberapa gumpalan kertas yang habis di remas telah memenuhi tempat sampah, bahkan ada beberapa yang berserakan di lantai. Semua itu adalah karya gagal dari pesan yang ingin Anne tuliskan untuk sang suami. Banyak kata yang ingin ia sampaikan, tapi semua itu seolah tak bisa ia tumpahkan begitu saja di atas setiap goresan yang ia buat. Seakan setiap kalimat yang ia buat tidak pernah bisa sempurna. Padahal ia hanya ingin menuliskan pesan untuk membalas suaminya, tapi sampai sekarang masih tidak ada satupun kalimat yang bisa memuaskan dirinya....
..." Tidak, ini terlalu dramatis "...
...Ia kembali meremas kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah yang sudah penuh, dan kembali menyusun kalimat di atas kertas yang baru....
..." Bagus sih, tapi...... terlalu singkat "...
...Sebenarnya ia ingin menambahkan beberapa kalimat lagi, namun masih belum masuk kriteria yang ia inginkan, jadi, lagi-lagi kertas itu hanya bisa berakhir di tempat sampah....
...Masih tak menyerah, ia kembali mengambil kertas dan mulai memutar otaknya, mencari sebuah kata yang menurutnya bagus untuk ia tulis....
...Dan pastinya kalian tahu apa yang terjadi setelahnya, iya, kertas itu masih berakhir sama dengan yang lain, gagal menjadi pilihan sebagai surat balasan untuk sang Raja....
..." Aarrgghhhhh "...
...Anne lelah, bahkan ia sudah mengacak rambutnya beberapa kali untuk meluapkan kekesalan pada dirinya sendiri....
..." Tapi, sepertinya tadi sudah ada yang bagus " Pilihannya sudah berubah....
...Kini ia mulai memeriksa sampah yang berserakan itu hanya untuk mencari sebuah kertas yang menurutnya sudah sempurna. Tapi, gumpalan kertas yang berserakan itu terlalu banyak, dan isinya hampir sama semua, membuat Anne kembali kesal dan kecewa karena tidak ada satupun kertas berisi kalimat bagus seperti yang ada di ingatannya....
...Pada akhirnya, Anne menyerah dengan semua surat yang gagal ia buat. Dan sekarang, yang ia inginkan hanyalah bersantai agar pikirannya yang dari tadi sudah berusaha keras bisa kembali tenang....
...Tapi, baru saja Anne menyandarkan tubuhnya di kursi dekat jendela, sebuah ketukan pintu tiba-tiba mengganggu atensinya....
..." Masuklah " perintahnya karena malas beranjak dari posisinya saat ini, dengan pandangan yang terus tertuju ke arah pintu, menunggu orang tersebut masuk....
...Pintu besar itu mulai terbuka perlahan, menampakkan seseorang dengan tubuh kekar di baliknya. Putra Mahkota! Kenapa dia ada di sini?...
...Bahkan Anne sampai terkejut dengan kehadiran sosok yang tak pernah ia duga sama sekali. Bagaimana bisa pria itu ada di sini? Dan yang paling membuat Anne heran adalah usaha pria itu yang sama sekali tak bisa ia remehkan. Bukan hanya pertemuan di tempat bebas, tapi kali ini sampai menemuinya ke tempat di mana ia bekerja....
...Anne hanya bisa tersenyum untuk menyembunyikan ketidaknyamanannya akan kedatangan sosok itu. Senyum paksa yang ia buat se natural mungkin, agar tidak perlu ada drama yang tidak ia inginkan....
..." Bolehkah aku masuk? " Terlihat sopan, tapi Anne sama sekali tidak menyukainya....
..." Silahkan " Anne menjawab dengan ramah, mempersilahkan Putra Mahkota masuk ke dalam ruangan yang cukup berantakan itu....
...Dengan cepat Anne bergerak untuk menyingkirkan semua sampah dari kekacauan yang ia buat tadi, menyingkirkan semuanya sejauh mungkin, agar tidak menarik perhatian Putra Mahkota....
..." Silahkan masuk, maaf jika anda kurang nyaman karena memang cukup berantakan di sini " Anne segera menarik Putra Mahkota untuk ia ajak duduk di sofa yang mengarah ke jendela, mencoba mengalihkan pandangan pria itu dari semua kekacauan yang tidak bisa ia singkirkan seluruhnya....
..." Tidak apa-apa, santai saja. "...
...Tak ada balasan lagi setelah kata itu. Anne tidak tahu harus memulai dari topik mana, karena memang tidak ada yang ingin ia bicarakan dengan pria ini. Hanya ada senyuman yang bisa ia berikan setiap kali Putra Mahkota melihat ke arahnya....
..." Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini? " Putra Mahkota memulai pembicaraan, pembicaraan yang memang telah ia siapkan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, yaitu, cinta milik sang Ratu....
...Tapi, ingat, Anne di sini tidak bodoh, ia termasuk pemegang naskah yang bahkan sudah tahu jalan takdir yang akan terjadi setelahnya. Walaupun tidak secara rinci, namun itu sudah cukup untuk bisa membuatnya mengambil sebuah keputusan dengan benar....
..." 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢. "...
...Itu memang benar....
...Jadi Anne hanya tersenyum dan bersikap tenang, sambil perlahan menuangkan air ke sebuah cangkir untuk ia suguhkan pada tamunya. ...
..." Ah, tentu saja sangat baik " balasnya seraya kembali menegakkan tubuh setelah menyuguhkan minuman pada Putra Mahkota. ...
...Sekarang, yang harus Anne lakukan hanyalah tetap menjaga batasannya dengan pria ini, bahkan lebih baik jika ia bisa menegaskan kembali batasan yang ada pada Putra Mahkota, agar pria ini bisa tetap sadar akan jarak yang memang seharusnya ada. ...
..." Apa Leopold tidak pernah menyakitimu lagi? " ...
..." Putra Mahkota jangan bercanda seperti ini, sejak kapan Raja tega menyakiti istrinya? " ...
...Terlihat Putra Mahkota sedikit tidak puas dengan jawaban yang di berikan oleh Anne, mungkin bukan itu yang ia harapkan. ...
..." Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu " ...
...Anne kembali tersenyum ramah. " Anda tidak berharap hal itu benar-benar terjadi pada saya, kan? " ...
...Putra Mahkota hanya bisa terus tersudut dengan setiap kata yang Anne ucapkan, karena meskipun terdengar tenang, tapi itu cukup tajam, seolah bisa mengintimidasi seseorang tanpa sadar. ...
..." Ah, tentu saja tidak " ...
..." Syukurlah, ternyata penilaian saya tidak salah, anda memang orang baik "...
..." Oh iya, bagaimana dengan kabar anda sendiri? Apakah akhir-akhir ini baik? " Anne melanjutkan ucapannya yang belum selesai. Sekaligus untuk menyelesaikan kesan ramah miliknya. ...
..." Saya juga baik-baik saja " ...
...Lihat, kan? Bahkan Putra Mahkota saja sudah kembali sopan padanya tanpa sadar, pria itu tak lagi berkata 'aku kamu' tapi kembali menjadi 'saya'. Tanpa perlu perdebatan seperti sebelumnya, Anne sudah bisa membuat batasan itu kembali ada, perubahan kata panggilan itu adalah awal yang akan terus membatasi jarak antara dirinya dengan Putra Mahkota. ...
..." Baguslah kalau begitu, ngomong-ngomong, kenapa anda datang kesini? Apa ada sesuatu yang penting? "...
..." Tidak ada, saya hanya merasa sudah lama tidak bertemu dengan Ratu " ...
..." Jadi? " tuntut Anne yang sekaligus ingin tahu sejauh apa keberhasilannya menciptakan batasan. ...
..." Jadi, saya sudah tidak bisa lagi menahan rindu yang saya rasakan pada Ratu. " ...
...Hampir saja Anne lupa jika yang kini ia hadapi adalah Putra Mahkota, seseorang yang tidak bisa ia remehkan begitu saja. ...
...Tak ada yang bisa Anne katakan, sudah waktunya ia mengikuti arus yang di buat pria ini, agar ia bisa mengendalikan keadaan tanpa harus terlihat terlalu dominan. ...
..." Apa Ratu sudah bisa memberi saya kesempatan? "...
...Anne masih tersenyum. " Saya pikir, anda sudah mengerti maksud dari semua ucapan yang saya katakan sejak awal, ya, karena anda masih belum paham, maka akan saya jelaskan dengan senang hati, saya tidak akan memberikan kesempatan bagi siapapun yang ingin merusak keluarga yang saya miliki...... jadi, maafkan kelancangan saya, silahkan anda pergi dari sini, saya tidak mengantar. " ...
...Anne mengulurkan tangannya untuk menunjuk ke arah pintu, mempersilahkan tamunya agar segera pergi. ...
...Jelas tak ada lagi yang bisa di bantah saat sang Ratu sudah terang-terangan seperti ini, pada akhirnya, Putra Mahkota hanya bisa bangkit dan kemudian melangkah untuk pergi. ...