"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Sketsa Pertama dan Detak yang Melemah
Keesokan paginya, suasana di dalam kamar rawat Aurora terasa sedikit berbeda. Melalui bantuan suster jaga yang sengaja disuap Eros untuk berpura-pura memberikan fasilitas pinjaman dari rumah sakit, sebuah tablet grafis berukuran sedang kini berada di pangkuan Aurora.
Gadis kecil itu duduk bersandar pada tumpukan bantal. Jemarinya yang kurus menggenggam stylus pen dengan sangat hati-hati. Meskipun selang oksigen masih terpasang di hidungnya dan mesin VAD di dadanya sesekali mendesis berat, sepasang mata bulatnya memancarkan fokus yang sudah lama hilang. Ia mulai menggoreskan garis-garis sketsa pertama untuk klien anonimnya.
Sesuai perjanjian di pesan digital semalam, di samping ranjangnya terdapat nampan makanan yang sudah kosong bersih. Aurora benar-benar menghabiskan seluruh porsi bubur ayam kampung buatan rumah sakit demi memenuhi syarat dari orang asing yang menghargai karyanya itu.
Di balik kaca koridor yang buram, Gavin berdiri mematung. Matanya tidak lepas dari setiap gerakan jemari adiknya yang sedang membentuk siluet gadis kecil memegang lampu petromak di atas layar digital.
"Dia makan, Gav... Dia mau makan karena lo," bisik Arvin yang berdiri di samping Gavin, wajahnya yang kuyu tampak sedikit cerah meskipun air mata masih menggenang di pelupuk matanya.
"Gue cuma memanfaatkan satu-satunya hal yang tersisa dari jiwanya yang belum kita hancurkan, Vin. Bakat dan mimpinya," sahut Gavin lirih, suaranya terdengar datar namun sarat akan kepedihan.
"Selama belasan tahun kita mengurung dia, dia melarikan diri ke dunia gambar ini untuk bertahan hidup. Dan sekarang, dunia ini juga yang menyelamatkan nyawanya dari kita."
Juna yang berdiri di belakang mereka tiba-tiba menatap layar tablet pantau medis yang terhubung dengan sistem ICU Aurora. Jemarinya dengan cepat mengetik sesuatu, menganalisis grafik gelombang yang baru saja berubah warna di layarnya.
"Ada yang nggak beres sama sirkulasi paru-parunya," ucap Juna, suaranya mendadak berubah dingin dan tegang.
Tepat di saat Juna berbicara, pintu kamar rawat Aurora terbuka kasar. Profesor Gunawan masuk bersama tiga dokter spesialis kardiologi anak dan dua perawat senior. Wajah mereka tampak sangat tegang, mengabaikan kehadiran keempat saudara Tenggara di koridor saat mereka langsung mengerumuni ranjang Aurora.
"Aktivitas VAD stabil, tapi kenapa laju saturasi oksigen arteri turun ke angka 84%?" tanya Profesor Gunawan dengan nada suara yang meninggi, memberikan instruksi cepat kepada asistennya. "Siapkan mesin ekokardiografi portabel sekarang juga!"
Aurora yang sedang fokus menggoreskan pena digitalnya seketika terkejut. Alat stylus di tangannya terlepas, jatuh di atas seprai saat para dokter mulai menempelkan gel dingin dan transduser ke dada kirinya, tepat di sekitar area bekas operasi pemasangan pompa mekanis.
"Dok... ada apa? Jantung aku... rusak lagi ya?" tanya Aurora, suaranya mencicit ketakutan. Matanya bergerak liar menatap alat-alat medis yang kembali mengepungnya, memicu kepanikan yang membuat alarm monitor berbunyi bip-bip-bip dengan ritme yang semakin cepat.
"Tenang, Aurora. Tarik napas perlahan, Nak. Jangan panik," bujuk Profesor Gunawan lembut, berusaha menenangkan pasien kecilnya sambil matanya tajam memandangi layar monitor ekokardiogram yang menampilkan visual hitam-putih dari pergerakan katup jantung Aurora.
Di layar itu, tampak jelas aliran darah yang seharusnya mengalir lancar menuju aorta justru mengalami turbulensi hebat. Terjadi pembengkakan jaringan atau edema masif di sekitar area katup mitral yang telah lama rusak akibat infeksi dan penundaan operasi selama belasan tahun.
"Sialan, terjadi inflamasi akut post-dialisis di jaringan ikat katup jantungnya," ucap salah satu dokter kardiologi dengan wajah memucat. "Pembengkakan ini menyumbat sebagian aliran darah yang keluar dari pompa VAD. Jika ini dibiarkan, cairan akan menumpuk di paru-paru dalam hitungan jam. Dia bisa tenggelam oleh cairannya sendiri."
Mendengar penjelasan medis tersebut melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Gavin langsung mencengkeram lengan Eros dengan sangat kuat. "Kak... maksud mereka apa? Bukannya semalam ginjalnya sudah membaik setelah cuci darah?"
Eros tidak menjawab. Rahang sang anak sulung mengeras hingga mengeluarkan bunyi gemertak, matanya menatap Profesor Gunawan yang kini melangkah keluar dari kamar rawat dengan wajah yang dipenuhi beban berat.
"Profesor! Apa yang terjadi?" tuntut Eros saat
dokter senior itu berdiri di depan mereka.
Profesor Gunawan mengusap wajahnya yang lelah, menatap keempat pemuda Tenggara itu dengan pandangan buntu.
"Tubuh Aurora terlalu rapuh untuk menerima semua tindakan agresif ini secara beruntun. VAD menopang jantungnya, hemodialisis membersihkan ginjalnya, tetapi sisa infeksi lama di katup jantungnya justru bereaksi negatif terhadap perubahan volume darah pasca cuci darah. Katupnya membengkak hebat."
"Lalu apa solusinya, Dok? Tolong katakan!" seru Arvin, nyaris bersimpuh di depan kaki Profesor Gunawan.
"Hanya ada satu jalan untuk menyelamatkannya dari gagal napas total," ucap Profesor Gunawan dengan suara berat yang menjatuhkan vonis kejam berikutnya.
"Kita harus melakukan operasi penggantian katup jantung total (valve replacement). Kita harus mengganti katup organ tubuhnya yang sudah hancur itu dengan katup mekanis buatan."
Dokter itu terdiam sejenak, lalu menatap Gavin dan Eros bergantian. "Namun, melakukan operasi dada terbuka (open-heart surgery) pada pasien yang baru saja melewati gagal ginjal akut dan sedang bergantung pada mesin VAD adalah tindakan dengan tingkat kematian di atas tujuh puluh persen. Jantungnya bisa menyerah total saat kita menghentikan aliran darahnya untuk diganti ke mesin bypass jantung-paru."
Dilema baru yang jauh lebih mematikan kembali menghantam Dinasti Tenggara.
Mereka baru saja berhasil mengembalikan senyum dan semangat hidup Aurora melalui pesan digital rahasia Gavin, namun kini raga gadis enam belas tahun itu kembali diletakkan di atas meja perjudian nyawa yang paling ekstrem.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹