NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Waktu seolah merayap tanpa suara. Ketika kelopak mata Benedict perlahan terbuka, sinar matahari sudah berpindah, memancar terik dari balik gorden, menandakan hari telah berganti siang.

Benedict terbangun lebih dulu. Namun, pria itu sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Ia tetap diam, matanya menatap intens pada jemari Zara yang entah sejak kapan telah bertautan erat dengan jemarinya.

Beberapa saat kemudian, sebuah lenguhan kecil lolos dari bibir Zara. Kelopak matanya bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Benedict perlahan menarik tangannya dari genggaman Zara, lalu segera bangun.

“Ini sudah waktunya makan siang,” ucap Benedict. Ia melirik jam tangannya, lalu mengarahkan dagunya ke arah nampan sarapan pagi tadi yang masih utuh. “Kau melewatkan sarapanmu. Kau harus makan sekarang.”

Zara meringis kecil saat mencoba ikut mendudukkan tubuhnya, bersandar pada hulu ranjang. Tenggorokannya masih terasa tidak nyaman.

“Aku tidak mau makan,” tolak Zara pelan, memalingkan wajahnya ke arah jendela untuk menghindari tatapan maut Benedict.

“Aku tidak suka makanan rumah sakit, rasanya pahit.”

“Aku tidak sedang menawarkan pilihan, Zara. Aku tidak peduli makanan ini terasa sepahit apa di lidahmu, kau harus menelannya walau hanya beberapa suap,” ucap Benedict.

Zara mendengus dongkol melihat bagaimana sifat diktator pria ini kembali dalam sekejap mata.

Melihat sendok yang disodorkan di depan wajahnya, Zara langsung memalingkan muka, mengernyitkan dahi dengan tatapan yang semakin dongkol. Benedict tidak menghiraukannya.

“Setidaknya bawakan aku makanan yang baru. Makanan itu sudah dingin,” protes Zara.

Benedict terdiam beberapa detik. Ia menurunkan sendoknya, menatap mangkuk bubur di tangannya, lalu menyentuh pinggiran mangkuk itu dengan ibu jarinya. Benar saja, permukannya sudah sedingin es.

Ia langsung meletakkan kembali mangkuk itu ke atas nakas dengan hentakan yang sedikit kasar, meluapkan rasa jengkelnya.

Ia langsung menekan tombol interkom merah yang berada di dinding tepat di atas nakas dengan gerakan tegas.

“Bawa makanan yang baru, sekarang!,” ucap Benedict begitu saluran terhubung.

Setelah melepaskan tombol interkom, Benedict kembali memutar tubuhnya menghadap Zara. Ia melipat tangannya di depan dada.

“Makanan barumu akan tiba dalam lima menit,” ucap Benedict datar. “Dan saat makanan itu sampai, aku tidak mau mendengar alasan apa pun lagi. Kau harus memakannya walau sedikit, mengerti?.”

Zara mendengus, menyandarkan punggungnya lebih dalam ke tumpukan bantal rumah sakit.

“Kau benar-benar tidak suka dibantah, ya?” gumam Zara, melirik pria itu.

“Yaa,” sahut Benedict pendek tanpa ekspresi.

Kurang dari lima menit kemudian, suara ketukan terdengar. Dua orang perawat masuk membawa troli berisi nampan yang masih mengepulkan uap hangat, sebuah sup ayam dengan potongan sayur.

Begitu perawat pergi, Benedict menggeser meja dorong itu hingga tepat berada di depan dada Zara. Ia meraih mangkuk sup, mengaduknya perlahan, lalu menyendok sedikit kuah bening itu. Benedict meniupnya beberapa kali.

Zara terpaku. Sepasang matanya mengerjap pelan, menatap lekat-lekat wajah Benedict yang kini berjarak sangat dekat dengannya.

“Buka mulutmu,” perintah Benedict, menyodorkan sendok itu ke depan bibir Zara.

Zara sempat ragu namun akhirnya membuka mulut dan menerima suapan pertama. Rasa hangat langsung menyelimuti lidahnya yang semula pahit.

“Bagaimana?” tanya Benedict datar, namun matanya meneliti setiap perubahan ekspresi di wajah Zara.

“Enak,” jawab Zara jujur. “Tidak seburuk yang kukira.”

Benedict tersenyum tipis lalu kembali menyendok kuah sup dan potongan daging ayam kecil, meniupinya dengan sabar, lalu menyuapkannya lagi pada Zara.

Baru setelah suapan keenam, Zara perlahan menggeleng, menolak suapan berikutnya.

“Sudah, Tuan. Perutku mulai terasa penuh. Kalau dipaksakan, aku bisa mual.”

Benedict menatap sisa sup di dalam mangkuk yang baru berkurang seperempat, lalu beralih menatap wajah Zara yang memang tampak sedikit lebih bertenaga dibanding pagi tadi.

“Setidaknya sudah ada yang masuk,” ucap Benedict sembari meraih selembar tisu untuk menyeka sudut bibir Zara yang sedikit basah.

Tok. Tok. Tok

Pintu terbuka, Luca masuk dengan langkah lebar. Pria itu membawa sebuah map berisi tumpukan berkas.

“Tuan,” sapa Luca sembari membungkukkan kepalanya hormat. Ia melangkah mendekat dan menyodorkan berkas-berkas itu.

“Ini berkas-berkas yang perlu anda tinjau dan tanda tangani segera,” ucap Luca.

“Letakkan di meja,” perintah Benedict.

Luca bergerak cepat, meletakkan map itu diatas meja di sudut ruangan.

Benedict melirik sekilas ke arah Zara yang bersandar di ranjang, lalu melangkah mendekati Luca yang berdiri di dekat meja.

“Bagaimana dengan yang kuperitahkan?” tanya Benedict, sengaja mengecilkan suaranya agar tidak terdengar oleh Zara.

Luca langsung paham ke mana arah pertanyaan itu, ia ikut merendahkan intonasi suaranya.

“Sudah selesai, Tuan” jawab Luca. “Ada sebuah kode yang ternyata mengarah langsung pada keluarga Alfonso.”

“Alfonso?” ulang Benedict.

Benedict sedikit memiringkan kepalanya, menghunuskan sorot mata yang tajamnya.

“Kau sudah memastikannya?”

“Sudah, Tuan. Kali melacak hingga ke akar. Semuanya valid.”

Luca menjeda sesaat, menarik napas pendek sebelum menyampaikan informasi yang lebih penting.

“Namun, perintah penyerangan itu bukan datang dari Julian Alfonso. Melainkan dari ayahnya, Barron Alfonso.”

Sebuah seringai tipis perlahan terukir di wajah Benedict.

“Setelah anaknya, kini ayahnya juga ingin bermain denganku?” desis Benedict, diiringi kekehan sinis.

“Kirim semua mayat preman-preman itu ke rumah Alfonso. Pastikan Barron menerimanya sebagai hadiah sambutan dariku.”

Luca mengangguk. “Baik, Tuan.”

Pintu itu kembali tertutup dengan desis halus seiring langkah Luca uang menghilang dibalik koridor.

Dari atas ranjangnya, Zara menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Ia benar-benar tidak mendengar satu kata pun dari obrolan kedua pria itu.

Benedict mulai membaca satu persatu berkas yang Luca bawakan. Pria itu tampak begitu fokus. Sampai akhirnya, gerakan pena Benedict mendadak berhenti.

Melalui sudut matanya, Benedict menyadari ada pergerakan yang tidak biasa dari arah ranjang. Ia mendongak, mendapati Zara sedang bergerak gelisah. Wanita itu mencoba memutar sedikit tubuhnya ke kiri dan ke kanan, mencondongkan punggungnya pada hulu ranjang, lalu mencoba meraih bagian belakang pakaiannya dengan gestur yang tampak sangat tidak nyaman dan frustrasi.

Benedict meletakkan penanya di atas meja. Ia berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mendekati sisi ranjang.

“Ada apa?,” tanya Benedict. “Kau merasa sakit lagi?”

Zara tersentak kecil mendengar suara Benedict yang tiba-tiba berasa di dekatnya. Ia menghentikan gerakannya yang canggung, menatap Benedict dengan binar mata yang tampak ragu, malu, sekaligus tersiksa. Wajahnya memerah karena menahan rasa tidak nyaman.

“Bukan…. bukan sakit,” jawab Zara, menghindari tatapan Benedict.

“Lalu?” desak Benedict.

Zara menggigit bibir bawahnya, meremas ujung selimutnya dengan gugup sebelum akhirnya menjawab dengan suara nyaris berbisik.

“Punggungku….. punggungku mendadak sangat gatal. Dan aku….. aku susah menggaruknya sendiri karena selang infus ini.”

1
Lalat
lanjutt ka
Lalat
SERIUSS?? WHATTTTTT
Lalat
iyaya, jjr gw ga expect dia ngmng gt
Lalat
fix kekurangan darah
Lalat
lucuuu 😍
Lalat
blh jg tu
Lalat
lucuu
Lalat
Indonesian bisa di beli ga 🤭
lontong sayur
aku suka
lontong sayur
episode ini manis 🌚
lontong sayur
episode ini manis 🌚🌚🌚
lontong sayur
gemes 🐣
Erna Olivia
lanjut min
Nanda
sakit sih aku klo di posisi Zara
Mita Paramita
lanjut Thor 😘😘😘 bikin adegan romantis
Nanda
serem ya Benedict klo lagi mode gitu
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor bikin bennec bucin 🤣
Nanda
cuek tapi perhatian gitu yaa
Nanda
smngt thorr, pls up tiap hari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!