"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Pagi di apartemen mewah itu terasa seperti di dalam lemari es. Beku dan menyesakkan. Pasca makan malam bencana di rumah keluarga besar Nugraha, Arvin sama sekali tidak menyapa Zoya.
Pria itu berangkat ke kantor sangat pagi, bahkan sebelum Zoya selesai menunaikan salat Subuh. Hanya keheningan yang tertinggal, meninggalkan Zoya dengan rasa sesak yang kian menghimpit di balik cadarnya.
Namun, di sudut lain kota Jakarta, tepatnya di sebuah suite hotel mewah, Nadia sedang merayakan kemenangannya yang tertunda. Ia duduk di depan laptopnya dengan senyum miring yang mengerikan. Di depannya, seorang pria dengan pakaian serba hitam menyerahkan sebuah amplop cokelat.
"Ini foto-foto terbaru dari hari ini, Nona," lapor pria itu, yang merupakan informan bayaran Nadia. "Target sedang berada di perpustakaan kampus bersama pria yang sama. Mereka tampak sangat akrab."
Nadia membuka amplop itu. Matanya berbinar melihat foto-foto Zoya dan Liam yang sedang berdiskusi serius di perpustakaan. Dari sudut pengambilan gambar yang sengaja dibuat ambigu, mereka tampak seolah sedang berbisik mesra atau saling menyentuh tangan di bawah meja.
"Sempurna," desis Nadia. "Zoya, kau mungkin merasa suci dengan kain-kain penutup tubuhmu itu. Tapi di mata Arvin dan keluarganya, kau akan segera menjadi kotoran yang harus dibuang."
Kampus pagi itu terasa asing bagi Zoya. Ia mencoba fokus pada skripsinya, namun pikirannya terus kembali pada tatapan dingin Arvin semalam. Ia duduk di pojok perpustakaan, tempat yang biasanya tenang untuk berpikir.
"Zoya! Akhirnya ketemu," Liam muncul dengan wajah ceria, membawa dua botol minuman dingin. Ia duduk di kursi depan Zoya. "Kamu kemarin absen lagi? Aku khawatir banget. Apa saudaramu... maksudku, Pak Arvin itu, masih sakit?"
Zoya mendongak, matanya yang sembab tertutup rapat oleh cadar, namun Liam bisa merasakan kesedihan dari sorot mata itu. "Dia sudah sembuh, Liam. Terima kasih."
"Zoya, kamu kenapa? Ada masalah?" Liam mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah penuh empati. "Kalau ada sesuatu, kamu bisa cerita padaku. Jangan dipendam sendiri."
Zoya menggeleng pelan. "Hanya kelelahan, Liam. Tolong, bantu aku selesaikan bab tiga ini saja. Aku ingin segera pulang."
Liam mengangguk, ia membantu Zoya memeriksa referensi buku. Saat Liam menunjuk sebuah paragraf di laptop Zoya, tangannya secara tidak sengaja berada sangat dekat dengan tangan Zoya. Di saat itulah, dari balik rak buku yang jauh, kilatan lensa kamera bekerja dengan cepat.
Zoya tidak sadar. Ia tidak tahu bahwa setiap gerakannya sedang dibingkai untuk menjadi senjata yang akan menghancurkan hidupnya.
~~
Malam harinya, Nadia duduk di ruang tengah rumah Mama Rosa. Ia sengaja datang dengan alasan membawakan oleh-oleh dari luar negeri yang terlupakan. Suasana terasa santai sampai tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan masuk secara serentak di ponsel Mama Rosa, Papa Dewangga, dan beberapa sepupu Arvin yang sedang berkumpul.
Ting! Ting! Ting!
Suara notifikasi yang beruntun itu memecah obrolan.
"Eh, ada pesan apa ini di grup keluarga?" tanya Tante Farah, salah satu sepupu Arvin yang paling gemar bergosip.
Mama Rosa membuka ponselnya. Detik berikutnya, wajahnya memucat, lalu berubah menjadi merah padam karena amarah. Di layar itu, terpampang belasan foto Zoya dan Liam.
Ada foto di mana Liam tampak sedang mengusap kepala Zoya, padahal sebenarnya Liam hanya sedang mengambil daun yang jatuh di rambut Zoya. Ada foto mereka tertawa di kantin, dan yang paling parah, foto di perpustakaan tadi di mana mereka seolah sedang berpegangan tangan.
Pesan anonim di bawah foto-foto itu tertulis. "Apakah ini standar menantu keluarga Dewangga? Berpakaian tertutup tapi berkelakuan jalang di kampus saat suaminya bekerja keras ?"
"Astagfirullah! Zoya?!" teriak Tante Farah. "Lihat ini! Dia benar-benar berselingkuh!"
Nadia berpura-pura terkejut, menutup mulutnya dengan tangan. "Ya ampun, Tante... aku tidak percaya. Zoya yang terlihat sangat alim itu... berani melakukan ini di belakang Arvin?"
Papa Dewangga, yang biasanya tenang, langsung membanting ponselnya ke atas meja jati. "Panggil Arvin sekarang! Dan bawa wanita itu ke sini! Aku tidak akan membiarkan nama baik Dewangga dicoreng oleh wanita kampung seperti dia!"
Di apartemen, Arvin baru saja melonggarkan dasinya saat ponselnya bergetar hebat. Ia melihat grup keluarga besar. Matanya membelalak. Darah seolah berhenti mengalir di nadinya saat melihat rangkaian foto istrinya bersama Liam.
Kecemburuan yang selama ini ia pendam meledak menjadi amarah yang menghancurkan. Ia tidak lagi berpikir jernih. Baginya, foto-foto itu adalah bukti nyata pengkhianatan Zoya.
BRAK!
Arvin menendang pintu kamar Zoya hingga terbuka lebar. Zoya yang sedang membaca Al-Qur'an tersentak kaget dan langsung berdiri.
"Tuan? Ada apa..."
Arvin melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur Zoya. Layarnya masih menampilkan foto Zoya yang sedang tertawa bersama Liam. "Jelaskan padaku, Zoya Alana! Jelaskan apa yang kau lakukan di belakangku saat aku sedang sibuk memperbaiki kekacauan perusahaan?!"
Zoya melihat foto-foto itu. Jantungnya serasa berhenti. "Tuan, ini tidak seperti yang Anda lihat. Liam hanya membantu saya..."
"Membantu apa?! Membantu memuaskan rasa hausmu akan kasih sayang yang tidak kau dapatkan dariku?!" Arvin mencengkeram bahu Zoya dengan sangat keras. "Kau tahu? Seluruh keluarga besar sudah melihat ini! Kau mempermalukanku di depan orang tuaku! Kau membuatku terlihat seperti pria bodoh yang diselingkuhi oleh istri yang ia sembunyikan!"
"Saya tidak selingkuh, Tuan Arvin! Demi Allah!" Zoya berteriak di tengah tangisnya.
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan dengan mulutmu itu!" Arvin menarik tangan Zoya dengan kasar. "Ikut aku. Papa dan Mama menunggumu. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu di depan mereka!"
"Tuan, tolong dengarkan saya dulu!" Zoya memohon, namun Arvin sudah kehilangan akal sehatnya.
Arvin menyeret Zoya menuju mobil. Sepanjang perjalanan menuju rumah besar, Arvin memacu mobilnya dengan kecepatan gila. Zoya hanya bisa menangis dalam diam, merasa dunia yang baru saja mulai terasa hangat kini runtuh berkeping-keping menjadi debu.
Di rumah keluarga Nugraha, suasana sudah seperti ruang sidang. Semua mata menatap Zoya dengan kebencian saat ia masuk mengekor di belakang Arvin. Nadia duduk di pojok ruangan, menyesap tehnya dengan anggun, menikmati pertunjukan horor yang ia ciptakan sendiri.
"Jadi ini kelakuanmu, Zoya?" Papa Dewangga berdiri, suaranya berat dan mengancam. "Kami menerimamu di sini karena mengira kau adalah wanita terhormat. Ternyata kau hanya sampah yang dibungkus kain indah."
"Papa, saya bisa jelaskan..." suara Zoya bergetar.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" Mama Rosa bangkit dan berjalan menghampiri Zoya. Tanpa peringatan, ia menarik cadar Zoya hingga terlepas.
Zoya terkesiap, segera menutupi wajahnya dengan tangan, merasa sangat terhina karena wajahnya dipaksa terbuka di depan banyak orang termasuk sepupu-sepupu pria Arvin.
"Lihat wajah polos ini! Di balik ini ternyata ada hati yang busuk!" bentak Mama Rosa.
Arvin hanya diam berdiri di samping, dadanya naik turun. Ia merasa hancur, namun egonya yang terluka membuatnya tidak mampu membela Zoya. Ia membiarkan ibunya menghina istrinya.
Nadia tersenyum tipis. "Arvin, mungkin ini saatnya kau melepaskan beban ini. Kau tidak pantas mendapatkan pengkhianatan seperti ini."
Zoya mendongak, menatap Arvin dengan mata yang penuh air mata dan luka yang amat dalam. "Tuan Arvin... apakah kau juga percaya pada foto-foto manipulasi ini? Apakah pengabdianku selama ini tidak berarti apa-apa dibandingkan fitnah ini?"
Arvin menatap Zoya. Untuk sesaat, ia melihat ketulusan di mata itu. Namun, bayangan foto Liam yang seolah mengusap rambut Zoya kembali muncul. "Bukti tidak pernah berbohong, Zoya. Dan hari ini, kau telah menghancurkan martabatku sebagai suamimu."
Zoya tertawa getir di tengah tangisnya. "Martabat? Kau selalu bicara tentang martabatmu, tapi kau sendiri yang menghancurkan martabatku malam ini dengan membiarkanku diperlakukan seperti binatang di depan keluargamu."
Zoya mengambil cadarnya yang jatuh di lantai, lalu menatap seluruh orang di ruangan itu dengan keberanian yang muncul dari rasa sakit yang paling dasar.
"Jika kalian ingin aku pergi, aku akan pergi. Tapi ingat satu hal... kebenaran tidak pernah butuh pembelaan yang keras. Suatu saat, kalian akan menyesali malam ini."
Zoya berbalik dan berlari keluar dari rumah itu, menembus kegelapan malam tanpa arah tujuan.
Arvin hendak mengejar, namun tangannya ditahan oleh Nadia. "Biarkan dia pergi, Vin. Dia bukan duniamu."
Arvin terpaku di tempatnya. Ia melihat punggung Zoya menghilang di kegelapan, dan tiba-tiba, rasa hampa yang luar biasa menyerang dadanya. Ia telah menang atas egonya, namun ia merasa baru saja kehilangan nyawa di dalam rumahnya sendiri.
...----------------...
To Be Continue ....