NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Jebakan dari Kegelapan

Tiga puluh enam jam telah berlalu sejak Adrian, Elena, dan Malik mengurung diri di dalam ruang operasi taktis bunker pangkalan utara. Di dalam ruangan kedap suara yang tertanam jauh di dalam perut tebing batu itu, waktu seolah berjalan tanpa batas, mengaburkan perbedaan antara siang dan malam. Udara dingin yang dipompa oleh generator tua bergaung rendah, bercampur dengan ketegangan yang makin pekat seiring berjalannya waktu.

Elena berdiri tegak di depan meja baja besar yang dipenuhi kabel-kabel konektor satelit. Sepasang mata indahnya menatap tanpa berkedip ke arah tiga monitor portabel yang menampilkan pergerakan grafik hijau dan merah dari bursa saham bawah tanah internasional. Di sampingnya, segelas kopi hitam yang sudah mendingin sama sekali tidak ia sentuh sejak dua jam lalu. Jari-jari lentiknya bergerak cepat di atas layar tablet taktis, melakukan koordinasi senyap dengan Hendra yang berada di luar wilayah faksi pusat menggunakan jalur satelit militer yang telah dienkripsi berlapis.

"Saham Vanguard Maritim di bursa pra-pembukaan Eropa mulai menunjukkan tanda-tanda fluktuasi yang tidak wajar," kata Elena, suaranya terdengar dingin dan datar, namun sarat akan nada kepuasan strategis seorang CEO. Ia menoleh ke arah Adrian yang duduk tenang di kursi besi di belakangnya.

"Sesuai rencanamu, Adrian. Begitu seluruh dana cair rahasia milik keluarga Arsa di Swiss kita suntikkan untuk melakukan short selling massal melalui ratusan akun cangkang anonim, para spekulan pasar internasional mulai mencium bau darah. Mereka sekarang mengira Vanguard sedang menyembunyikan krisis likuiditas internal yang fatal."

Adrian perlahan membuka sepasang mata gelapnya yang sedalam samudra malam. Tubuh tegapnya bersandar santai di kursi besi, namun aura predator yang posesif, dominan, dan mengintimidasi sama sekali tidak berkurang sedikit pun meski ia sedang terluka. Luka robek di lengan kanannya sudah tidak lagi merembeskan darah berkat balutan perban ketat yang dipasang oleh Elena kemarin pagi, meskipun rasa nyeri yang hebat sesekali masih berdenyut kencang di bawah kulitnya setiap kali ia membuat gerakan mendadak.

"Ini baru permulaan dari jebakan kita, Putri Kecil," sahut Adrian, suara baritonnya yang rendah dan dalam menggema berat di ruang beton itu. Pria itu berdiri dari kursinya, melangkah mendekat dengan langkah tegap yang tenang hingga bayangan tubuh gagahnya sepenuhnya menyelimuti Elena dari belakang. Tangan kiri Adrian bergerak perlahan, menyelipkan beberapa helai rambut hitam Elena yang tergerai acak di bahunya, sebelum telapak tangannya mendarat di atas permukaan meja baja, mengunci posisi wanita itu di dalam jangkauan fisiknya yang protektif.

"Faksi atas Syndicate terlalu terbiasa menggunakan kekuatan finansial untuk menyuap hukum dan menekan pergerakan Arsa Group. Begitu uang mereka sendiri di bursa internasional mulai terbakar oleh kepanikan pasar, fokus mereka akan terpecah secara otomatis. Mereka harus memilih salah satu: terus mengerahkan unit taktis untuk memburu kita di faksi pusat, atau menarik mundur pasukan mereka demi menyelamatkan imperium finansial Vanguard dari kebangkrutan global," lanjut Adrian, tatapan matanya begitu intens menatap profil samping wajah Elena.

Elena membiarkan punggungnya bersandar ringan pada dada bidang Adrian yang hangat, menikmati rasa aman mutlak yang disalurkan oleh suaminya di tengah status mereka yang kini resmi menjadi buronan wilayah. "Hendra baru saja melaporkan bahwa perwakilan faksi atas di wilayah barat mulai panik. Mereka mendeteksi adanya pergerakan penarikan sebagian tim IT mereka dari pelacakan peladen KTI pusat. Mereka dipaksa mengalihkan fokus untuk mempertahankan portofolio saham Vanguard di London dan Hong Kong yang mulai digerogoti para pialang."

"Bagus," desis Adrian, sudut lipatan bibirnya terangkat membentuk senyuman kejam yang sangat tipis namun sarat akan dominasi. "Semakin mereka panik di lantai bursa, semakin banyak celah keamanan yang mereka tinggalkan di dalam sistem internal mereka sendiri."

PIP. PIP. PIP.

Suara alarm berfrekuensi rendah mendadak berbunyi nyaring dari arah konsol peretasan utama di sudut ruangan yang gelap. Pengacara senior Malik, yang sejak kemarin malam nyaris tidak pernah memalingkan wajahnya dari barisan kode enkripsi hijau, mendadak menegakkan punggungnya yang bungkuk dengan sentakan napas yang berat dan memburu.

"Tuan Adrian! Nyonya Elena! Sini, lihat ini... cepat!" seru Malik, suaranya yang parau dan tua bergetar hebat oleh kombinasi antara rasa lelah yang luar biasa dan kejutan tak terduga yang terpampang di hadapannya.

Adrian dan Elena segera melepaskan kedekatan fisik mereka dan melangkah cepat mendekati meja kerja komputer Malik. Di atas layar monitor tabung kuno pangkalan, barisan kode merah yang sebelumnya mengunci ketat peladen KTI pusat kini mulai runtuh dan terhapus satu per satu, digantikan oleh barisan teks baru yang berkedip dengan warna biru terang tanda akses telah terbuka.

"Saya berhasil menjebol lapisan enkripsi ketiga milik dewan pengawas korup menggunakan pemancar satelit swasta kalian," ucap Malik, jemarinya yang keriput dan gemetar menunjuk ke arah dokumen digital yang mulai terunduh secara otomatis ke dalam diska lepas pangkalan. "Tapi... ini bukan sekadar manifes suap pejabat biasa yang kita cari kemarin. Ini jauh lebih besar. Ini adalah manifes operasional rahasia dan rute pelayaran bayangan milik Vanguard Maritim selama lima tahun terakhir!"

Elena menunduk mendekati wajahnya ke layar, membaca barisan angka, koordinat geografis laut, dan daftar komoditas ilegal yang diselundupkan di wilayah pelabuhan barat tanpa pernah menyentuh bea cukai internasional. Detik berikutnya, napas Elena tertahan di tenggorokan. Pikiran bisnisnya yang jenius langsung menyadari bahwa dokumen di depan matanya ini adalah hulu ledak nuklir yang sesungguhnya untuk menghancurkan faksi atas.

"Adrian... lihat ini," bisik Elena, sepasang mata indahnya berkilat penuh dengan determinasi yang tajam dan berbahaya. "Ini adalah seluruh data rute logistik gelap mereka. Vanguard Maritim menyelundupkan komoditas bahan baku melalui jalur buta di laut barat untuk menghindari pajak internasional dan mendanai operasi gelap Syndicate di berbagai negara. Jika data ini bocor ke otoritas maritim global, mereka tidak hanya akan menghadapi kebangkrutan saham, tapi juga penyitaan seluruh armada kapal kargo mereka di seluruh dunia."

Adrian yang berdiri di samping Elena menatap barisan data itu dengan mata yang menyipit tajam. Aura predator di dalam dirinya kini bangkit seutuhnya, memancarkan kepuasan taktis yang mutlak. Musuh mengira telah berhasil memojokkan mereka ke dalam sudut paling gelap sebagai buronan, tanpa menyadari bahwa di dalam kegelapan bunker ini, Adrian dan Elena justru baru saja menemukan pedang skakmat untuk memenggal kepala raksasa Vanguard Maritim.

"Kerja bagus, Tuan Malik," ucap Adrian, suara baritonnya yang berat terdengar sangat dingin namun dipenuhi oleh otoritas absolut yang tak tergoyahkan. Ia menoleh menatap Elena, tangan kirinya bergerak turun untuk mencengkeram jemari tangan istrinya dengan remasan yang kuat, menyalurkan energi kemenangan yang pekat. "Mereka bermain kotor dengan membekukan aset domestik kita lewat hukum yang mereka beli, Elena. Maka kita akan bermain mutlak dengan menghancurkan seluruh urat nadi logistik global mereka lewat data ini. Bersiaplah, Nyonya Arsa. Habis ini, kita akan melepaskan serangan balik yang akan membuat faksi atas memohon ampun di kaki kita."

Elena tersenyum menantang, sebuah senyuman elegan yang mempertegas keberaniannya sebagai seorang Alexander sejati saat ia membalas remasan tangan Adrian dengan erat. "Pimpin jalannya, Tuan Arsa. Mari kita runtuhkan mereka berkeping-keping."

......BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!