Vandra dan Mia saling menyukai diam diam. Vandra cowo gaul yang tampan yang sukanya clubbing, brantem tapi atlet karate yang berprestasi. Sedangkan Mia cewe rumahan yang pintar dan manis.
cerita ini hanya perjalanan cinta anak sma yang dipenuhi intrik intrik kecil, persaingan,
rada setia kawan dan pengungkapan cinta yang manis.
Walaupun tetap ada konflik keluarga yang mengharukan. Tentang pengorbanan ibu dan anak, dan pertentangan keluarga yang sangat kaya raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Viral
"Van, Lo tadi keren banget," puji Eri saat mereka kumpul di kantin.
"Kamu lihat di youtube?" tanya Vandra datar.
"Aku sama Toni tadi mampir ke kelas Lo. Rame banget soalnya," celoteh Eri.
"Pantas Lo berdua ngga balik balik ke.kelas. Dasar kampret," maki Aldi kesal. Harusnya dia juga ikut Eri dan Toni ke toilet. Kesal banget ditinggal sendiri pas pelajaran ekonomi yang buat kepalanya mumet.
Eri dan Toni hanya tertawa.
"Tadi gue sama Irfan juga nonton. Keren banget lihat live gitu," ucap Fino tambah membuat Aldi mangkel. Hanya dia sendiri yang ngga nonton live temannya dalam gank mereka.
"Tadi malah ketemu Pak Hutagalung, dia yang ijinkan kita sama Bu Elga," kekeh Toni.
"Kok bisa?" Aldi menatap ngga percaya. Secara Pak Hutagalung sangat hobi menghukum mereka.
"Katanya karena ngga nyangka Vandra bisa maen musik sangat bagus. Pak.Hutagalung ngga tau aja," lanjut Toni lagi dan kembali terkekeh.
"Kenapa kalian berdua ngga kirim pesan ke gue sih," ketus Aldi makin swwot. Kecewa dia, apalagi sampai Pak Hutagalung punya inisitif begitu.
"Lupa bener. Soalnya kita terpaku.Sama seperti anak anak laen yang nonton. Lo maen musiknya sama Mia bagus banget, drama kalian juga bagus," kata Eri memuji sekaligus menjelaskan untuk mengurangi kekesalan temannya.
"Bener, bagus banget. Siapa yang ngarahin?" kata Irfan menimpali.
"Mia," jawab Doni yang baru bersuara.
"Ck ck ck.... tu cewe memang top deh," puji Irfan sambil mengacungkan dua jempolnya.
Vandra tidak menanggapi komentar teman temannya, dia kembali mengingat ekapresi Mia tadi saat dia kembali mengingatkan jadwal latihan pensi.
"Vandra batalin," rengek Mia lagii. Ekspresi cerianya langsung berubah kesal. Vandra jadi senang mengganggunya.
"Kan udah ngga gugup dekat dekat aku," kata Vandra pede, padahal jàntungnya sudah berdebar ngga menentu.
"Cih, maksud Lo?" kata Mia sinis.
"Aku terlalu tampan ya," ledek Vandra kemudian tergelak.
"Idih," sinis Mia, tapi wajahnya merona dan tanpa ba bi bu, dia langsung pergi membuat Vandra makin tergelak.
Tanpa sadar Vandra melengkungkan bibirnya sedikit membuat wajahnya semakin tampan.
"Sekolah kita tambah terkenal nih. Lihat, viewer di Bu Monika banyak banget. Belum lagi di tempat lain," kata Toni menyadarkan Vandra.
Untung ngga ada yang memperhatikan dia melamun sejak tadi. Shiit... Vandra mengomeli dirinya yang selalu saja berekspresi aneh jika memikirkan Mia.
"Baru sejam udah tembus seribu viewer," seru Eri terkagum kagum.
"Sekolah kita bakal viral, drama kalian sukses, kamu dan Mia bintangnya," kata Toni penuh semamgat.
"Aku masih mikir, kamu dan Mia bisa kolab bagus gitu berapa lama latihannya?" tanya Irfan sambil geleng geleng kepala. Apalagi waktu yang diberikan cuma seminggu.
"Gimana cara Lo latihannya,Van." Fino juga penasaran.
"Biasa aja. Mia ternyata udah pinrar juga maen keyboardnya"
"Berarti dia pernah les alat musik juga ya," duga Toni manggut manggut.
"Iya."
"Kapan kapan boleh juga kita ajak dia kolab di cafe," usul Eri.
"Ternyata kalian benar benar bagus," gumam p Aldi pelan, dia maaih memperhatikan video di chanel Bu Monika.
"Sorry Al. Kita ngga sengaja ninggalin Lo," kata Eri merasa salah juga.
"Gue maafin. Tapi beliin gue slverquin yang banyak. Gue bete banget,"ketus Aldi.
"Lo kayak cewe aja, kalo kesal makan coklat," hina Eri kemudian nyengir.
"Dua puluh. Lumayan," jawab Aldi ngga peduli.
"Gue ngga ikutan. Eri aja yang belin. Lagian salah Lo ngga nyusul ke toilet," sergah Tpni cepat.
"Kalian ini masih aja bahas toilet. Lagi makan tau," seru Irfan kesal.
"Eh, itu Arif lagi deketin Mia," kata Doni sambil menunjuk demgan dagunya. Ternyata Vandra udah lihat dan hatinya jadi gerah.
Mia yang lagi makan bakso bareng Selli sama Sita barusan dihampiri Arif dan langsung duduk di samping Mia yang kebetulan kosong.
"Bisa kalah Lo Van," kata Eri sambil melirik Vandra.
"Kan Mia udah ngga ikut ekskul design grafis lagi," kata Irfana memberi info.
"Kenapa?" tanya Toni heran. Vandra bersyukur dengan pertanyaan Toni, jadi dia ngga perlu ngomong.
"Selama ekskul, ada aja alasan Arif dekat dekar Mia. Anak anak design grafis pada ngerti. Untung ada Zaki," celoteh Irfan.
Zaki? Apa Mia ada hubungan juga, kesal Vandra dalam hati.
"Zaki suka juga?" tanya Aldi kepo karena meliirik wajah kesal Vandra.
Dibilangin tembak, ngga tembak tembak juga, getam Aldi dalam hati.
"Mungkin. Tapi Zaki selalu membantu Mia menghindari Arif," jelas Irfan.
"Zaki memamg terkenal baik dan sopan," tambah Fano.
Vandra mencoba memikirkan apa yang dimaksud kedua temannya. Memang dia ngga sebanding dengan Zaki. Zaki cowo yang ngga pernah bolos, wakil ketua osis. Wajar kalo Mua suka.
"Gue duluan," katanya langsung pergi.
"Marah tu Vandra?" bisik Doni.
"Beneran Vandra suka sama Mia?" Fino masih ngga percaya dengan selera Vandra.
"Kelihatan jelas kan," tegas Akdi sambil terus melihat Vandra yang sudah keluar kantin.
"Tapi ngga pa pa lah. Mia udah bisa dibawa ke cafe, ngga hanya ke toko buku," cetus Eri yang disambut tawa mereka.