NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Pagi di mansion Halstrom kembali terlihat seperti potongan kehidupan yang tidak pernah berubah.

Cahaya matahari masuk dari jendela besar ruang makan, jatuh di atas permukaan marmer yang selalu dipoles sampai tidak ada noda sekecil apa pun yang tertinggal. Suasana rumah itu bergerak dalam ritme yang sama seperti hari-hari sebelumnya, pelayan melangkah tanpa suara berlebihan, peralatan makan ditata dengan presisi yang sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun.

Tidak ada yang tampak berbeda di permukaan.

Darius duduk di kursi utama sambil membaca dokumen bisnis di tangannya, matanya bergerak perlahan mengikuti baris angka dan catatan yang sudah ia hafal di luar kepala. Kael sudah pergi sejak pagi tanpa banyak kata, sementara Lysandra masih belum muncul dari lantai atas. Dan seperti biasa, Seraphina menjadi yang terakhir masuk ke ruang makan setelah semuanya terlihat siap.

Langkahnya tenang, tidak tergesa, seolah tidak ada hal di dunia ini yang sedang berubah di belakang layar kehidupan mereka.

“Selamat pagi,” ucap Seraphina pelan saat ia duduk.

Darius mengangkat pandangan sekilas dari dokumen.

“Pagi.”

Nada itu singkat, tidak berat, tidak juga hangat. Hanya bagian kecil dari rutinitas yang sudah terbentuk terlalu lama sampai tidak lagi dipertanyakan.

Namun di balik semua itu, Seraphina sedang memperhatikan.

Bukan dengan cara yang mencolok.

Tidak ada tatapan tajam yang bisa membuat orang curiga.

Hanya perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi kebiasaan baru dalam dirinya.

Cara Darius memegang ponsel.

Gerakan jari saat layar dimatikan lebih cepat ketika ia merasa ada yang mendekat.

Cara pria itu sedikit menggeser tubuhnya setiap kali ada notifikasi masuk.

Hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia perhatikan.

Sekarang semuanya terlihat seperti bagian dari pola.

Dan pola tidak pernah berdiri sendiri tanpa makna.

Pelayan menuangkan teh hangat ke cangkir di depan Seraphina. Aroma lembutnya memenuhi udara, bercampur dengan suara halaman dokumen yang dibalik Darius di seberang meja.

“Jadwal hari ini padat?” tanya Seraphina dengan nada ringan.

Darius tidak langsung menjawab, matanya masih menatap layar sebelum akhirnya bergeser ke arah istrinya.

“Ada beberapa rapat di luar. Investor juga datang siang.”

“Pulang malam?”

“Ya.”

Seraphina mengangguk kecil, lalu mengaduk tehnya perlahan.

“Jangan terlalu lelah.”

Kalimat itu sederhana, terdengar seperti perhatian biasa yang tidak memiliki makna tersembunyi. Bahkan Darius tidak menangkap sesuatu yang aneh di dalamnya. Yang ia rasakan justru kebalikan dari beberapa hari terakhir.

Lebih tenang.

Lebih familiar.

Seperti Seraphina yang dulu.

Darius menutup dokumennya sedikit lebih santai dari sebelumnya. Ketegangan yang sempat mengendap di kepalanya beberapa waktu terakhir perlahan turun, digantikan sesuatu yang lebih ringan.

Mungkin ia memang terlalu berpikir jauh.

Mungkin perubahan itu hanya sementara.

Dan pikiran itu cukup untuk membuatnya kembali merasa memegang kendali.

Di meja yang sama, Seraphina tetap tersenyum tipis.

Tenang.

Terkontrol.

Karena ketenangan Darius berarti satu hal yang tidak pernah berubah dari awal.

Ia mulai merasa aman.

---

Di sisi lain kota, sebuah apartemen di lantai tinggi berdiri sunyi dengan tirai yang tertutup sebagian.

Ruangan itu tidak berantakan, bahkan cenderung terlalu rapi untuk seseorang yang tidak benar-benar hidup di satu tempat dalam waktu lama. Cahaya pagi masuk tipis dari celah jendela, mengenai lantai marmer dan perabot modern yang dipilih tanpa banyak emosi.

Vivienne Laurent berdiri di dekat jendela sambil memegang gelas anggur, meskipun jam belum benar-benar siang. Tatapannya kosong ke arah jalan di bawah, mobil yang bergerak seperti titik kecil yang tidak memiliki hubungan dengan hidupnya.

Pintu terbuka tanpa banyak suara.

Darius masuk.

Tidak ada salam panjang.

Tidak ada basa-basi.

Hanya kehadiran yang sudah terlalu sering terjadi untuk dianggap spesial.

Vivienne menoleh sedikit.

“Kamu telat.”

“Ada urusan di rumah.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, ringan di permukaan, namun cukup untuk membuat udara di ruangan berubah sedikit lebih dingin dari sebelumnya.

Vivienne tersenyum kecil, lalu meletakkan gelasnya.

“Masih belum berubah juga.”

Darius tidak langsung menjawab. Ia berjalan masuk lebih dalam, melepas jasnya lalu meletakkannya di kursi terdekat. Gerakannya terlihat santai, namun ada sesuatu yang lebih berat di balik sikap itu.

Vivienne mendekat perlahan.

“Dia mulai curiga?”

Pertanyaan itu keluar seperti sesuatu yang sudah lama ditunggu.

Darius menggeleng kecil.

“Belum.”

Namun cara ia menjawab tidak sepadat biasanya.

Vivienne memperhatikan itu.

“Kamu tidak terdengar yakin.”

“Aku yakin.”

Kalimat itu lebih cepat dari sebelumnya.

Terlalu cepat.

Vivienne tidak menekan lebih jauh, hanya mengangkat bahu pelan.

“Kalau begitu kita lanjutkan seperti biasa.”

Darius mengangguk.

Namun di dalam kepalanya, kata “biasa” mulai terasa sedikit berbeda dari sebelumnya.

Seperti sesuatu yang tidak lagi sepenuhnya stabil.

---

Sementara itu di mansion, Seraphina berada di ruang kerja pribadinya.

Evelyn Hart berdiri di depan meja sambil menyerahkan laporan lanjutan. Beberapa halaman berisi data tambahan yang baru saja dikumpulkan dari pengawasan yang sedang berjalan.

“Semua sistem sudah aktif,” ucap Evelyn.

Seraphina membuka satu file tanpa tergesa.

“Rekaman?”

“Berjalan.”

Jawaban itu membuat ruangan tetap berada dalam ritme yang sama.

Tenang.

Tanpa tekanan.

Seolah yang sedang mereka lakukan bukan sesuatu yang akan mengubah hidup seseorang.

Seraphina menggeser layar kecil di samping meja. Tampilan kamera dari apartemen Vivienne muncul dengan kualitas yang cukup jelas.

Kosong.

Untuk saat ini.

Namun itu bukan masalah.

Karena yang ia tunggu bukan momen kosong.

Evelyn memperhatikan layar itu sekilas.

“Kalau dia mulai curiga…”

“Dia akan.”

Seraphina menyelesaikan kalimat itu tanpa menoleh.

Seolah itu bukan dugaan.

Tapi kepastian yang sudah dihitung sejak awal.

---

Malam tiba lebih cepat dari biasanya.

Darius pulang saat langit sudah gelap, lampu mansion menyala lembut di sepanjang koridor. Begitu masuk, ia melihat Seraphina sudah berada di ruang tamu, duduk dengan posisi santai yang tidak menunjukkan tanda apa pun.

“Sudah makan?” tanya Seraphina.

“Belum.”

“Makan malam sudah siap.”

Mereka bergerak ke ruang makan seperti biasa.

Tidak ada perubahan dalam urutan kejadian. Tidak ada percakapan yang terasa aneh di permukaan. Bahkan Lysandra yang sempat menyinggung soal dana acara pun hanya mendapat jawaban singkat yang sama seperti beberapa hari terakhir.

“Sesuaikan dengan anggaran.”

Dan semuanya kembali berjalan.

Namun di ruang kerja di lantai atas, layar kecil masih menyala.

Kamera dari apartemen Vivienne menunjukkan pergerakan baru.

Darius masuk.

Vivienne menyambutnya dengan senyum kecil.

Percakapan mereka mengalir seperti biasa di awal. Namun perlahan, jarak di antara keduanya menghilang sedikit demi sedikit. Bahu yang lebih dekat. Tangan yang bergerak lebih santai. Dan akhirnya, batas ruang pribadi mulai tidak lagi jelas.

Seraphina duduk di depan layar itu tanpa ekspresi berubah.

Matanya mengikuti setiap detail.

Bukan hanya apa yang terjadi.

Tapi bagaimana itu terjadi.

Cara mereka berdiri.

Perubahan posisi.

Ritme interaksi yang sudah tidak bisa disebut sekadar pertemuan biasa.

Sampai akhirnya, pintu apartemen tertutup dari dalam.

Klik kecil terdengar di rekaman.

Dan semuanya menjadi lebih jelas.

Seraphina tidak bergerak untuk beberapa detik.

Lalu menutup layar.

Pelan.

Tepat.

Seperti seseorang yang baru saja menandai titik akhir dari bagian pertama sebuah rencana.

Evelyn masuk beberapa saat kemudian.

“Sudah cukup?”

Seraphina berdiri dari kursinya.

“Sudah.”

“Langkah berikutnya?”

Ia berjalan perlahan menuju jendela.

Di luar, kota masih bergerak seperti biasa. Tidak ada yang berubah di permukaan, tidak ada tanda bahwa sesuatu sedang bergerak di balik layar kehidupan yang terlihat normal.

Namun di dalam mansion ini…

Semuanya sudah berbeda arah.

“Biarkan dia merasa aman sedikit lebih lama,” ucap Seraphina.

Evelyn menunggu.

“Karena saat dia mulai sadar…”

Hening singkat.

Seraphina menatap pantulan dirinya di kaca.

Tenang.

Terlalu tenang.

“Sudah terlambat untuk mengubah apa pun.”

Di belakangnya, layar masih menampilkan potongan terakhir rekaman yang sudah selesai dikunci.

Dan di tempat lain kota itu, Darius masih belum tahu bahwa apa yang ia anggap sebagai rutinitas rahasia…

Sudah berubah menjadi sesuatu yang bisa digunakan kapan saja.

1
Ma Em
Ternyata Darius wanita simpanan pantas saja selalu mengambil uang Seraphina dikantor karena demi menyenangkan gundiknya , pelan2 Darius ingin menguasai perusahaan Seraphina .
Ma Em
Seraphina semangat semoga kamu bisa mengendalikan lagi perusahaan yg duluan nya dikuasai Darius dan sekarang bisa beralih kembali pada kekuasaan Seraphina , biar para benalu yg selalu moroti uangmu itu sadar meskipun itu suami dan anak2 mu Seraphina .
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!