Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 34
Suasana di dalam apartemen penthouse itu berubah drastis begitu dering ponsel Reno memecah keheningan pagi. Awalnya, Reno tampak santai, namun wajahnya perlahan memucat saat melihat nama yang tertera di layar. Pak Ardi.
"Sial," umpat Reno pelan. Ia menjauh dari Diana yang masih terlelap, mencari sudut ruangan agar suaranya tidak terdengar.
"Halo, Pak Ardi? Ada yang bisa saya bantu?"
"Reno! Kamu di mana? Datang hari ini sekarang! Aku tak peduli dengan cutimu!" bentak suara di seberang telepon dengan nada penuh ancaman.
Kepanikan menyergap Reno. Jika audit itu sampai menyentuh catatan transaksinya, tamatlah riwayatnya. Tanpa sempat berpamitan dengan, Reno segera menyambar kunci mobil dan pakaiannya. Dia harus segera pergi ke kantor untuk menutupi jejaknya.
Beberapa jam kemudian, Diana terbangun di apartemen yang terasa begitu luas dan dingin. Dia mendapati ranjang di sebelahnya kosong. Rasa kantuknya berganti dengan amarah saat dia melihat pesan singkat dari Reno.
'Ada urusan mendesak di kantor. Jangan keluar dulu, aku akan segera kembali.'
"Pengecut! Baru ditelepon Pak Ardi saja sudah gemetar," maki Diana sembari melempar ponselnya ke kasur.
Kesepian mulai menghantuinya. Yang lebih menyebalkan lagi, Andra mengirim pesan yang menyebalkan, apalagi transfer uang seperti biasanya. Diana merasa harga dirinya terinjak. Dia marah dengan mendiamkan Andra. Karena dia tahu setelahnya, suaminya itu pasti akan segera menghubungi dan mengirim uang padanya. Juga uang yayasan.
Jika Andra mengira bisa mendisiplinkannya dengan cara memutus akses finansial, maka pria itu salah besar. Diana masih memiliki kartu kredit pribadinya, meski limitnya tidak sebesar milik Antanagara.
Dengan langkah terburu-buru, dia bersiap dan meluncur ke salah satu mall eksklusif di pusat kota. Dia butuh pelarian. Dia butuh hiburan.
Di mall, Diana bertemu dengan teman-teman sosialitanya. Mereka sibuk berbelanja barang-barang mewah, tertawa kencang, dan membicarakan gosip-gosip terbaru, berusaha menutupi fakta bahwa sebenarnya Diana sedang dalam posisi yang sangat tidak aman.
Sementara Diana menghamburkan uang di mall, di kantor Antanagara, situasi jauh lebih panas. Reno berjalan dengan keringat dingin di dahinya. Saat dia baru saja melangkah masuk ke koridor utama, dia berpapasan dengan Andra.
"Ndra, ada apa Pak Ardi memanggilku? padahal aku sedang cuti menemani istriku yang sedang sakit di rumah! Karena kehamilannya membuat dia sering sakit akhir-akhir ini!" bohong Reno.
Andra menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan getaran di suaranya. Dia menatap tajam ke arah Reno, tepat ke manik mata sahabat yang telah dia percayai selama ini.
"Oh, ya?" sahut Andra datar, suaranya terdengar dingin seperti es.
"Iya, Ndra. Makanya aku minta izin cuti mendadak,"
Andra berjalan mendekat, hingga jarak mereka hanya sejengkal. Dia bisa mencium aroma parfum yang samar-samar menempel di kerah kemeja Reno. Parfum yang sama yang selalu dipakai Diana. Bau pengkhianatan itu kini tercium begitu nyata, membuat ama-rah yang tadinya membara kini berubah menjadi tekad yang dingin dan mema-tikan. Ternyata ucapan ayahnya benar. Namun dia tak bisa gegabah jika tak melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Audit internal perusahaan baru saja menemukan ketidakberesan besar. Seseorang telah melakukan transaksi mencurigakan dengan dana operasional perusahaan! Makanya Papa mengumpulkan kita semua!"
Wajah Reno memucat sempurna. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
"Maksudmu...?"
"Kamu akan tahu nanti, masuklah! Semua orang sudah berada di dalam ruangan meeting!"
Sementara itu, di sebuah butik kelas atas di mall eksklusif, Diana sedang mencoba sebuah tas edisi terbatas. Ponselnya kembali bergetar. Bukan pesan dari Andra, melainkan notifikasi dari bank bahwa akses kartu kredit tambahannya telah ditangguhkan.
Diana membeku. Wajahnya memerah padam, bukan karena malu, melainkan karena murka.
"Berani-beraninya dia!" desisnya pelan, mengabaikan teman-temannya yang masih sibuk memilih perhiasan.
Dia segera menelepon Andra, namun panggilannya langsung ditolak. Diana mencoba lagi, kali ini dengan nada yang lebih menuntut.
"Angkat teleponku, Andra! Kamu pikir kamu siapa berani memutus aksesku?"
Di dalam meeting, ponsel di atas meja bergetar. Nama "Diana" muncul di layar. Andra menatap ponsel itu, lalu menatap Reno yang sedang duduk dengan gelisah di depannya.
Andra membiarkan ponsel itu bergetar di atas meja marmer ruang rapat. Suara dengungan itu memekakkan telinga di tengah keheningan yang mencekam. Pak Ardi, yang baru saja datang tersenyum miring. Dia sudah tahu siapa yang sudah menghubungi anaknya secara tak sabaran. Apalagi setelah dia memerintahkan bagian keuangan memblokir semua akses keuangan Diana dan Reno yang terkait dengan perusahaan.
"Angkat, Andra," suara Pak Ardi berat dan penuh otoritas.
Andra tidak langsung menjawab. Dia menatap Reno yang kini tampak seperti orang yang baru saja divonis hukuman mati. Jantung Reno berdegup kencang, suaranya tercekat di tenggorokan. Andra perlahan menggeser layar, mengaktifkan speakerphone.
"Mas Andra! Apa-apaan ini? Kenapa kartu kreditku tidak bisa dipakai? Segera buka aksesnya sekarang juga! Aku sedang bersama dengan teman-temanku berbelanja di Bali" suara nyaring Diana memenuhi ruangan, terdengar sangat angkuh dan tidak tahu malu.
Andra tersenyum miring, senyum yang tidak pernah dilihat Reno sebelumnya. Senyum dari seseorang yang sudah tidak memiliki beban keraguan. Dia menatap Reno, lalu berkata dengan suara tenang namun penuh penekanan ke arah ponsel.
"Bukankah kemarin sudah aku katakan kalau sedang ada troble di bagian keuangan perusahaan. lagi pula bukannya kamu sedang ada pekerjaan? Kenapa malah ada di mall? Mall dimana Diana? Di Bali atau mall yang ada di sini? Pulanglah! Aku tunggu kau di rumah Papa. Jangan terus bersembunyi!"
Klik.
Andra menutup telepon secara sepihak dan mematikan ponselnya. Karena tahu setelah ini Diana pasti akan terus mengeror dia dengan telepon dan juga pesan.
Reno menatap ke arah Andra. Dia tak mengira jika tahu keberadaan Diana, bukan di Bali melainkan ada di sekitar sini. Apa mungkin Andra juga sudah tahu hubungan dia dengan Diana kembali.
"shiiit... Jangan sampai Andra tahu kali ini! Apalagi dia mengatakan tak akan ada ampun bagi aku ataupun Diana. Lagi pula siapa yang sudah membocorkannya? Apa mungkin Mira? Wanita kampungan itu? Dasar istri tak tahu di untung!" batin Reno.
Dia mulai merasa tak nyaman dengan perasaannya. Apalagi tatapan dari para dewan direksi dan beberapa petinggi perusahaan yang ada di ruang rapat. Sedangkan dia tak tahu masalah apa yang sedang di bahas. Karena dia bekerja hanya untuk mengeruk uang perusahaan Antanagara.
gx sadar diri ,,
dr awal pernikahan atau mungkin dr sebelum menikah situ juga udh berzina ,,
sedangkan nadhira msh suci ,,
siti sehat Diana😒😒😒😒😒😏😏😏😏