Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
"Tidak ada apa-apa mah. papah hanya mengada-ada." Ujar Lisa sambil mendekati mamanya.
Lisa mengepalkan tangannya ke hadapan papa Adit, dari belakang tubuh mama Ita, karena posisi duduknya mama ita berada di tengah. Mama Ita masih di buat penasaran oleh kedua orang tersayangnya itu. Dan papa Adit malah tertawa kecil melihat ancaman putrinya itu.
"Papah pasti capek kan, sana istirahat duluan." Ujar Lisa menyuruh papanya supaya tidak membocorkan rahasianya kepada mama Ita.
Tidak menjawabnya, papa Adit langsung beranjak dari duduknya dan mengacak rambut Lisa seperti biasanya lalu berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Dan mama Ita juga mengikuti langkah suaminya, di dalam kamar nanti dia akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada suaminya.
Sedangkan Lisa masih berdiam diri di sofa sambil memainkan ponselnya dan Lisa menuliskan pesan untuk papanya.
"Pah, jangan bilang-bilang ke mamah. AWAS kalau sampai bilang." Isi pesan Lisa.
Papa Adit hanya membalas dengan emoticon tertawa yang mana membuat Lisa semakin kesal dan membalasnya dengan emoticon marah.
Lisa beranjak dari duduknya dan berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sampai di kamar dia membaringkan tubuhnya di kasur empuknya dan dia langsung terlelap.
.
.
.
Dimas....
Keesokan harinya, Dimas berangkat ke kantor papa Adit dengan motor kesayangannya. Sebelum sampai di kantor, Dimas menyempatkan diri mampir ke suatu tempat, dimana di tempat itu terdapat kehidupan anak-anak yang tidak beruntung. Mereka terlahir dari orang-orang yang tidak berpendidikan dan kehidupannya terlantar.
Dimas sesekali mengunjungi mereka sekedar untuk memberikan sedikit makanan atau membawakan camilan dan kalau ada waktu dia mengajarkan anak-anak tentang mengenal huruf dan angka.
Sungguh mereka anak-anak yang malang, mereka tumbuh di tempat yang kumuh, dan tanpa adanya kasih sayang dari orang tua. Dimas mempunyai cita-cita akan membuatkan rumah kecil untuk mereka, tapi apalah daya, dirinya belum berhasil menjadi seseorang yang sukses untuk mewujudkan cita-cita itu.
Saat Dimas datang, mereka semua merasa sangat senang, mereka semua berlari menghampiri Dimas dan berebut mengambil makanan yang di bawanya.
"Ga usah berebut, semua kebagian satu-satu."
"Terima kasih kak." Ujar anak-anak bergantian saat susah menerima kantong plastik yang berisikan macam-macam makanan.
"Sama-sama. Maaf kakak tidak bisa lama, kakak harus bekerja. Kalian jangan nakal ya."
"Siap kak. Berhati-hatilah."
"Baiklah. assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Dimas kembali menaiki motornya dan berlalu menuju ke kantor. Sampai di kantor, seperti biasa Amel sudah menunggu kedatangan Dimas dan memasang senyuman manis berharap Dimas mau melirik dan menyapanya. Tapi Dimas jangankan melirik, dia malah memilih jalan lain yang tidak melewati Amel.
Amel merasa kesal, karena apa yang sudah di rencanakan gagal lagi. Saat Dimas melewatinya dia berencana akan berpura-pura pingsan untuk bisa di gendong oleh Dimas. Tapi rencana hanyalah menjadi sebuah kehaluan.
Dimas langsung bersiap di ruang karyawan, teman-temannya juga sudah ada di sana. Beberapa menit berlalu, waktu bekerja pun di mulai, Dimas naik ke lantai dua dan mulai membersihkan ruangan demi ruangan.
Semua karyawan mulai berdatangan dan mereka menempati ruangan kerja masing-masing.
Saat hendak membersihkan ruangan Amel, Dimas merasa malas, lalu dia meminta salah satu teman wanita untuk bergantian membersihkan ruangan Amel tersebut. Dan Dimas mengerjakan tugas si wanita itu.
Lagi-lagi Amel merasa kalau Dimas sengaja menghindarinya, dan itu membuat dirinya semakin murka.
Papa Adit datang, semua karyawan menunduk hormat melihat kedatangannya. Dimas juga bersikap seperti biasanya, setelah menunduk hormat dia melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Dimas, bisa bicara sebentar?" Ujar papa Adit saat sudah melewati Dimas, dan berjalan mundur lagi mendekati Dimas.
"Bisa pak."
"Mari ke ruangan saya sebentar."
"Baik pak."
Setelah di dalam ruangan, papa Adit menanyakan soal koki yang di bahas kemarin.
"Bagaimana tentang koki itu Mas? Kamu sudah mendapatkan infonya?" Ujar papa Adit.
"Sudah pak, tapi maaf dia menolaknya karena sudah bekerja di tempat lain pak."
"Ya sudah, biar saya suruh asisten saya untuk mencari yang lebih hebat darinya." Ujar papa Adit dengan wajah kecewa.
"Kamu boleh keluar sekarang Mas." Lanjut papa Adit.
"Baik pak, saya permisi."
Di balas anggukan oleh papa Adit, Dimas keluar dari ruangan dan melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
Di kampus Lisa....
Lisa bersama sahabat-sahabatnya memasuki area kampus. Hari ini Lisa ke kampus tidak di antar oleh pak Mamat melainkan di jemput oleh Vika.
Mereka berlima berjalan beriringan menuju ruangan untuk mengikuti pembelajaran. Belum sampai si tempat yang di tuju, ada seorang wanita yang sedang berjalan dan dengan sengaja menabrakkan dirinya dengan Lisa.
Bruukk
"Eh apa-apaan kamu?" Ujar Vika.
"Sorry gua ga sengaja." Ujar wanita itu.
"Jelas-jelas lu sengaja loh, lihat tuh jalan situ masih lebar." Sambung Rere sambil menunjuk jalan sebelah.
"Sudah-sudah, ga usah berantem." Ujar Lisa menengahi perdebatan.
"Kamu gimana sih Lis, jelas-jelas dia sengaja loh tadi." Ujar Aulia.
"Maaf, mungkin aku yang tidak fokus melihat jalan tadi." Ujar Lisa.
Wanita itu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Dan mereka berlima melihat kepergian wanita itu. Setelah kepergian wanita itu, mereka berlima kembali berjalan masuk ruangan untuk mengikuti pembelajaran.
Selesai dengan semuanya, seperti biasa mereka bersama menuju ke kantin untuk makan siang, dan setelah makan siang ini mereka berencana ke rumah sakit untuk menjenguk Risky.
Sebenarnya Lisa malas untuk pergi kesana, tapi mengingat perkataan papanya, akhirnya Lisa menyetujuinya untuk ikut datang ke rumah sakit itu.
Setelah beberapa menit mereka menikmati menu makan siang mereka, dan Rere sudah membayar semua makanannya di kasir, mereka berlima pergi menuju parkiran kampus.
Saat sudah berada di parkiran, mereka semua masuk dan Vika langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Tak lama kemudian mobil Vika memasuki area rumah sakit tersebut. Setelah Vika memarkirkan mobilnya mereka semua turun, mereka masuk ke rumah sakit dan langsung menuju ruangan Risky dirawat.
Risky sudah sadarkan diri. Melihat Lisa dan keempat sahabatnya datang, Risky merasa sangat senang. Walaupun Lisa sudah menolaknya beberapa kali, tapi cinta Risky masih besar untuk Lisa.
"Lisa." Gumam Risky pelan.
Hal pertama yang Risky ucapkan adalah nama orang yang dia cintai.
"Hay Ris, syukurlah kamu sudah sadar sekarang." Ujar Rere.
"Lis, makasih kamu mau datang kesini, aku seneng banget Lis, ternyata kamu peduli sama aku." Ujar Risky yang merasa senang Lisa datang, bahkan dirinya tidak menanggapi sapaan Rere.
Lisa hanya tersenyum mendengar ucapan Risky, dia tidak menjawab apapun dan hanya memilih diam.
"Nak, mereka sering kesini saat kamu masih koma. Mereka sering menemani ibu menunggu kamu di sini." Ujar ibu Risky penuh kehangatan.
"Makasih ya semuanya." Ujar Risky.
.