NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 - Cemburu

Dua hari setelah sembuh dari demam, Naura merasa seperti orang yang baru lahir kembali.

Bukan hanya karena tubuhnya yang kembali segar, tapi karena ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Sesuatu yang ia coba abaikan, tapi terus mengikutiinya seperti bayangan. Setiap kali ia mengingat malam itu, malam ketika Azzam tidur di sampingnya, membelainya, dan mengatakan "kewajibanku" perutnya berasa seperti diisi jutaan kupu-kupu yang terbang tak arah.

Ia tidak boleh jatuh cinta. Itu aturannya sendiri. Pernikahan ini dimulai dari wasiat, bukan dari perasaan. Jika ia jatuh cinta dan nanti Azzam tidak merasakan hal yang sama, ia akan hancur.

Tapi mengabaikan perasaan itu sama sulitnya dengan mengabaikan keberadaan matahari di langit siang.

.

.

.

Sore itu, Naura memutuskan untuk keluar rumah.

Setelah dua hari terkurung di kamar karena demam, ia butuh udara segar. Ia mengenakan gamis olive green dan kerudung instan yang mulai sedikit lebih rapi dari minggu lalu, berkat tutorial YouTube yang ia tonton berulang-ulang, lalu menggantungkan kameranya di leher.

Tujuannya satu. Taman bunga di bagian timur pesantren. Ia ingin memotret bunga-bunga yang ia temukan sebelumnya, yang belum sempat ia abadikan karena terganggu oleh bisik-bisik tentangga hahaha beracnda.

Taman itu indah, meski tidak sebesar taman di rumah orang tuanya. Deretan bougainvillea berwarna pink dan oranye tumbuh di sepanjang pagar, bunga-bunga matahari menghadap ke barat menunggu senja, dan di sudut, ada bangku taman yang teduh di bawah pohon flamboyan.

Naura duduk di bangku itu, mengangkat kameranya, dan mulai memotret.

Klik. Klik. Klik.

Ia sedang asyik mengatur focus pada seekor kupu-kupu yang hinggap di bunga bougainvillea saat suara-suara terdengar dari arah masjid.

Naura menoleh, dan jantungnya sekilas berhenti.

Di pelataran masjid, Azzam sedang berdiri, mengenakan jubah putih dan sorban, dikelilingi oleh sekelompok santriwati. Ia tampak sedang memberikan pengarahan tentang sesuatu... mungkin jadwal kegiatan pesantren atau persiapan acara besar yang akan datang. Wajahnya tenang, sopan, dan sangat... berwibawa.

Naura menatap pria itu dari kejauhan, merasa sesuatu yang aneh di dadanya. Keinginan untuk berjalan mendekat, menyapanya, dan berdiri di sampingnya.

Tapi sebelum ia bisa bergerak, sesuatu yang lain menarik perhatiannya.

Seorang santriwati, bercadar, dengan kerudung syar'i yang sempurna melangkah mendekat ke arah Azzam. Gadis itu mengulurkan sesuatu, sepertinya buku atau catatan, dan Azzam menerimanya. Lalu, gadis itu berkata sesuatu yang membuat Azzam menunduk sedikit agar bisa mendengar lebih jelas.

Jarak mereka terlalu... Terlalu dekat.

Naura menegang. Tangannya yang memegang kamera mengencang, jari-jarinya memutih. Ia tidak tahu siapa gadis itu. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi melihat seorang perempuan lain berdiri begitu dekat dengan suaminya, melihat Azzam menunduk mendengarkan dengan penuh perhatian, membuat sesuatu di dalam diri Naura meledak.

Cemburu.

Naura segera memalingkan wajahnya, kembali menatap kameranya, tapi tangannya gemetar sehingga fotonya menjadi blur. Ia menggerutu, menghapus foto-foto itu, dan mencoba lagi. Tapi matanya, matanya yang tidak mau diajak kompromi, terus melirik ke arah masjid.

Gadis itu masih berdiri di sana. Masih berbicara. Dan Azzam... Azzam masih mendengarkan.

"Nggak ada hubungannya denganmu Naura" tegur Naura pada dirinya sendiri. "Itu pasti urusan pesantren. Azzam kan Gus. Dia harus berinteraksi dengan santriwati. Itu wajar. Itu normal. Itu..."

Gadis itu tertawa.

Ia tertawa, menutup mulutnya dengan tangan, dan Azzam... Azzam tersenyum tipis.

Dunia Naura runtuh.

"Azzam tersenyum padanya?!" batin Naura, darahnya mendidih. "Dia tersenyum pada perempuan itu?! Padahal padaku dia jarang tersenyum! Apa yang lucu?! Apa yang mereka bicarakan sampai dia tersenyum begitu?!"

Naura berdiri tiba-tiba, gerakannya terlalu kasar hingga bangku taman itu bergeser dengan bunyi berderit. Ia menggantungkan kameranya di leher dengan gerakan agresif, lalu berjalan menjauhi taman dengan langkah cepat.

Ia tidak tahu ke mana ia pergi. Ia hanya tahu ia harus pergi dari sana sebelum ia melakukan sesuatu... seperti berjalan ke arah masjid, menarik lengan Azzam, dan berteriak, "Dia suamiku!"

"Kenapa gue kayak gini?!" Naura menggerutu dalam hati, menendang batu kecil di jalanan. "Gue kan nggak suka dia! Gue nolak nikah sama dia! Kenapa gue harus cemburu?!"

Tapi hatinya tidak mau mendengarkan logikanya. Hatinya hanya tahu satu hal. melihat Azzam tersenyum pada perempuan lain itu menyakitkan.

.

.

.

Malam harinya, Naura duduk di ruang tengah dengan wajah yang lebih masam dari cuka.

Ibu Jamilah telah menyajikan makan malam nasi, ayam bakar, dan sayur asem... tapi Naura hanya menggerak-gerakkan nasinya dengan sendok, tidak memakannya. Ia bersandar di sofa, lengan disilangkan di dada, dagu menonjol, dan alisnya berkerut rapat.

Azzam pulang dari masjid pukul tujuh malam. Ia membuka pintu depan, melepas sandalnya, dan melangkah masuk ke ruang tengah. Jubahnya sudah diganti dengan kemeja koko sederhana, sorbannya dilepas, rambutnya sedikit berantakan.

"Naura? Kamu belum makan?" tanya Azzam, berjalan mendekat meja makan.

"Nggak lapar," jawab Naura pendek, tidak menatap Azzam.

Azzam terhenti, mencermati nada suara istrinya. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh dahi Naura dengan punggung tangannya. "Kamu demam lagi?"

"Nggak." Naura menghindari sentuhan itu, memiringkan wajahnya ke arah lain. "Aku sehat."

Azzam menarik tangannya, menatap Naura dengan kerutan di dahi. Ia tahu tanda-tanda ini Naura sedang marah. Tapi tentang apa, ia tidak tahu.

"Ada apa? Kamu kelihatannya ingin membunuh seseorang."

"Nggak ada apa-apa," ketus Naura, akhirnya menoleh menatap Azzam. Matanya menyala, tapi bukan dengan amarah yang biasa, ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang terluka. "Makan aja. Aku mau ke kamar."

Ia berdiri, hendak berjalan pergi, tapi Azzam lebih cepat. Tangan pria itu meraih pergelangan tangannya, menahannya.

"Naura," panggil Azzam, suaranya rendah namun tegas. "Bicara. Apa yang salah?"

Naura menatap tangan Azzam yang menggenggam pergelangannya, lalu menatap wajah pria itu. Ia ingin berteriak. Ingin mengatakan, "Kenapa kamu tersenyum pada santriwati itu?! Kenapa kamu mendengarkan dia begitu dekat?! Kenapa kamu nggak pernah senyum begitu padaku?!"

Tapi itu konyol. Itu sangat konyol. Ia tidak berhak cemburu. Pernikahan ini masih muda. Azzam adalah Gus... ia berinteraksi dengan banyak orang setiap hari. Ini bukan urusannya.

"Release me, Azzam," bisik Naura, suaranya lebih lembut dari yang ia inginkan.

Azzam tidak melepaskannya. Ia menarik Naura sedikit lebih dekat, menatapnya dengan mata yang mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik ekspresi istrinya.

"Kamu melihatku di masjid tadi?" tanya Azzam tiba-tiba.

Naura terkesima. "Dia tahu?!"

"Aku... aku nggak tahu apa yang kamu omongin," Naura berbohong, mengalihkan pandangannya.

"Kamu melihat saya berbicara dengan santriwati itu," lanjut Azzam, nadanya tenang tapi ada kilat sesuatu di matanya yang membuat Naura ingin menelan lidahnya sendiri. "Kamu cemburu?"

Kata itu jatuh seperti bom.

"CEMBURU?!" Naura membantah terlalu keras, terlalu cepat, sangat panik. "NGGAK! NGGAK MUNGKIN! Kenapa aku harus cemburu?! Kamu kan suamiku secara hukum, tapi bukan berarti aku punya hak untuk..."

"Naura," Azzam memotong, suaranya lebih lembut sekarang, dan langkahnya mendekat, mengurangi jarak di antara mereka sampai Naura bisa merasakan napasnya. "Santriwati itu bernama Salsa. Dia minta izin untuk mengadakan acara khatam Al-Qur'an bulan depan, dan dia bercerita soal kucing pesantren yang baru melahirkan. Itu topik pembicaraannya. Kucing."

Naura berkedip. "Kucing?"

"K-kucing?" ulangnya dengan suara kecil.

"Iya. Kucing." Azzam tersenyum, senyum yang sama dengan yang ia berikan pada Salsa sore itu, tapi kali ini, senyum itu ditujukan sepenuhnya pada Naura, dan ada kehangatan di sana yang membuat lutut Naura lemas. "Saya tersenyum karena ceritanya lucu. Bukan karena aku tertarik padanya."

Naura merasa wajahnya membakar. Merah matang. Merah seperti kepiting rebus. Ia baru saja membuat kegaduhan karena... kucing?

"Aku... aku nggak cemburu," bisik Naura, suaranya kehilangan tenaga. "Aku cuma... cuma... penasaran. Itu aja."

Azzam tertawa pelan yang membuat perut Naura berputar aneh. Ia melepaskan pergelangan tangan Naura, tapi tangannya turun, meraih tangan Naura, dan menggenggamnya.

"Kamu boleh cemburu, Naura," bisik Azzam, matanya mengunci pada mata Naura. "Karena jujur, saya juga akan cemburu jika melihatmu tersenyum pada pria lain."

Naura menelan ludah.

"Tapi kamu tidak perlu khawatir," lanjut Azzam, mengangkat tangan Naura ke bibirnya, dan menciumkan punggung tangan itu dengan sangat lembut, sentuhan yang ia berikan secara sadar, bukan karena keadaan darurat, tapi karena ia ingin melakukannya. "Satu senyum untukmu lebih berharga dari seribu senyum untuk orang lain."

Jantung Naura berhenti berdetak.

Lalu berdetak lagi, dua kali lebih cepat, dua kali lebih keras, hingga ia yakin Azzam bisa mendengarnya.

Ia menarik tangannya dengan gerakan panik, membalikkan tubuhnya, dan berjalan cepat menuju tangga. "A-akuu mau tidur! Selamat malam!"

Ia berlari naik tangga dengan wajah yang sudah semerah api, meninggalkan Azzam yang berdiri di ruang tengah dengan senyum yang semakin lebar.

Saat Naura mencapai kamarnya, ia menutup pintu, bersandar di pintu itu, dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Kamu benar-benar masalah besar, Gus Azzam," bisik Naura, tapi kali ini, suaranya tertawa. Tertawa karena kebahagiaan yang ia coba sembunyikan, tapi tidak lagi bisa.

Di bawah, Azzam berdiri di ruang tengah, menatap tangga yang baru saja dilewati istrinya. Ia meraih ponselnya, membuka pesan dari Salsa sore tadi, lalu membalasnya.

Azzam: Salsa, acara khatam diizinkan. Dan terima kasih sudah ceritakan soal kucing itu. Kamu tidak tahu betapa bergunanya cerita itu untukku.

Ia mematikan ponsel, berjalan menuju meja makan, dan mulai makan malamnya sendirian, dengan senyum yang tidak mau hilang dari bibirnya.

Karena untuk pertama kalinya, ia mendapat konfirmasi bahwa istrinya, gadis yang ia nanti sepuluh tahun yang lalu... mulai merasakan sesuatu yang sama.

Ia cemburu dan itu adalah tanda terindah yang pernah ia terima.

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!