NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33

***

Keesokan paginya, badai salju yang mengamuk berhari-hari di desa perbatasan itu akhirnya reda sepenuhnya. Angin kencang yang biasa melolong memekakkan telinga kini berganti menjadi keheningan yang membeku. Sinar matahari pagi menembus celah-celah dinding kayu pondok, memantulkan berkas cahaya keperakan di atas lantai yang dingin. Hawa sedingin es masih terasa menusuk kulit, namun di dalam pondok kayu itu, kehangatan yang asing tengah merayap pelan.

Arthur perlahan-lahan membuka kelopak matanya. Untuk pertama kalinya dalam empat hari terakhir, pandangannya tidak lagi buram atau terdistorsi oleh ilusi yang mengerikan. Kepalanya masih terasa seberat batu, dan setiap persendian di tubuhnya menyuarakan rasa sakit yang luar biasa akibat residu racun Shadow Blade. Namun, pikirannya telah kembali utuh. Kewarasannya yang dingin telah merebut kembali takhtanya.

Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya bukanlah langit-langit pondok yang kusam, melainkan hamparan kain linen biru dan lekuk dada yang naik-turun dengan teratur.

Arthur tertegun. Ia menyadari posisinya. Sepanjang sisa malam tadi, setelah fase delusinya mereda, ia ternyata tertidur lelap dalam dekapan istrinya. Kepala besarnya bersandar di dekat bahu Lilianne, dan ia bisa merasakan kehangatan tubuh gadis itu menjalar ke kulitnya yang sempat membeku oleh demam.

Dengan gerakan yang sangat berhati-hati sesuatu yang jarang sekali dilakukan oleh seorang panglima perang yang brutal Arthur sedikit mendongakkan kepalanya. Ia menatap wajah Lilianne yang berada tepat di atasnya.

Gadis berusia enam belas tahun itu masih terlelap dalam tidur yang mendalam. Wajahnya yang sepucat pualam tampak begitu damai di bawah siraman cahaya fajar. Sisa-sisa air mata semalam telah mengering, meninggalkan jejak samar di pipinya yang halus. Rambut panjang peraknya terurai berantakan di atas bantal jerami, beberapa helai di antaranya menempel di dahi dan bibirnya yang sedikit terbuka.

Untuk beberapa saat, Arthur hanya terpaku, memandangi wajah itu tanpa berkedip. Ada rasa posesif yang aneh yang menggelitik dadanya bukan rasa ingin menghancurkan seperti biasanya, melainkan kepuasan yang pekat karena tahu bahwa mawar ini masih bernapas di dalam sangkarnya.

Tiba-tiba, Arthur merasakan sebuah sentuhan lembut dari bawah selimut tebal mereka. Ada pergerakan kecil, sebuah denyutan halus yang mendorong telapak tangan besarnya yang masih setia bertumpu di atas perut buncit Lilianne.

Janin berusia tujuh bulan itu kembali bergerak, menendang pelan seolah sedang menyapa pagi hari.

Mata biru gelap Arthur melebar kecil. Ia menahan napasnya, membiarkan telapak tangannya merasakan setiap getaran kehidupan di dalam rahim istrinya. Itu adalah darah dagingnya. Legitimasi atas eksistensinya yang palsu di dunia ini. Sesuatu yang semalam hampir saja direnggut oleh perintah kejam ayahnya sendiri, sang Kaisar Agung.

Mungkin karena perubahan ritme napas Arthur atau gerakan janin di dalam perutnya, kelopak mata Lilianne perlahan bergerak. Sepasang mata perak yang jernih namun sarat akan kelelahan terbuka, langsung berbenturan dengan tatapan intens pria yang ada di depannya.

Lilianne tersentak kecil. Kesadarannya langsung kembali penuh saat menyadari bahwa tangan Arthur masih mengunci pinggangnya, sementara wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.

"Yang Mulia..." bisik Lilianne, suaranya terdengar parau dan serak karena udara dingin dan kelelahan semalam. Ia mencoba menggeser tubuhnya sedikit ke belakang, namun cengkeraman Arthur di pinggangnya justru mengencang, menahannya agar tidak menjauh. "Anda... Anda sudah sadar sepenuhnya?"

"Aku sudah sadar, Lili," sahut Arthur. Suaranya terdengar sangat berat, serak, dan kering. Ia tidak melepaskan pandangannya dari mata perak Lilianne. "Dan aku ingat apa yang terjadi semalam. Seluruhnya."

Jantung Lilianne berdegup sedikit lebih kencang, namun ia berhasil mempertahankan topeng tenangnya. Ia menatap lekat-lekat mata biru gelap suaminya, mencari sisa-sisa kegilaan delusi semalam. "Jika Anda sudah mengingat semuanya, maka lepaskan saya, Yang Mulia. Tubuh saya kaku, dan posisi ini... membuat perut saya tidak nyaman."

Arthur tidak langsung menuruti perintah itu. Ia menatap Lilianne dengan dahi berkerut, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu di dalam kepalanya. Tatapannya turun ke arah bibir Lilianne yang pucat, lalu kembali ke matanya.

"Kau memelukku semalam," ucap Arthur tiba-tiba, sebuah pernyataan yang terdengar menuntut penjelasan. "Kau tidak mendorongku menjauh saat aku kehilangan kendali. Mengapa, Lilianne? Aku ingat aku menyerangmu. Aku ingat aku menahanmu di ranjang ini."

Lilianne menarik napas panjang, membiarkan dadanya membusung sedikit sebelum mengembuskannya dengan perlahan. Ia menatap Arthur dengan tatapan yang sengaja ia buat tampak lelah namun pasrah sebuah umpan yang sempurna untuk memanipulasi ego sang naga.

"Jika saya terus mendorong Anda semalam, Anda yang sedang dirasuki demam gila mungkin sudah mematahkan tulang rusuk saya, Yang Mulia," jawab Lilianne dengan nada dingin yang terukur. "Atau lebih buruk lagi, Anda bisa menghancurkan perut saya dan membunuh anak kita. Saya tidak memiliki pilihan selain menenangkan monster yang sedang mengamuk demi keselamatan kami berdua. Jadi, jangan salah paham."

Arthur mendengus pelan, seulas senyum sinis yang sangat tipis muncul di sudut bibirnya. "Monster, ya? Kau selalu tahu bagaimana cara memilih kata yang tepat untuk menusukku, Lili."

Meskipun kata-katanya terdengar tajam, Arthur perlahan melonggarkan cengkeraman tangannya di pinggang Lilianne. Ia bergeser, memberikan ruang yang lebih luas di atas ranjang sempit itu agar istrinya bisa meregangkan tubuhnya yang kaku. Namun, tangan besarnya yang satu lagi tetap tidak beranjak dari atas perut Lilianne. Ia terus mengelus permukaan kain linen di perut istrinya dengan ibu jarinya.

"Dia bergerak sangat aktif pagi ini," ujar Arthur, mengalihkan pembicaraan saat merasakan tendangan kecil lainnya di telapak tangannya. "Anakku tahu bahwa ayahnya telah kembali dari kematian."

Lilianne meletakkan tangannya di atas tangan Arthur, mencoba memberikan tekanan lembut agar pria itu tidak menekan perutnya terlalu keras. "Dia bergerak karena dia merasa kedinginan, Yang Mulia. Udara di pondok ini semakin mencekam sejak badai reda."

Arthur bangkit perlahan dari posisi berbaringnya, bersandar pada kepala ranjang kayu yang kasar. Kain kompres yang semalam diletakkan Lilianne di dahinya jatuh ke atas pangkuannya. Ia mengambil kain itu, meremasnya sekilas, lalu melemparkannya ke dalam baskom kayu di samping tempat tidur.

"Semalam... aku memanggil nama ibuku, bukan?" tanya Arthur tanpa menoleh ke arah Lilianne. Tatapannya lurus menatap dinding kayu yang retak di hadapan mereka. Atmosfer di antara mereka seketika berubah menjadi sangat tegang dan intim.

Lilianne tidak langsung menjawab. Ia memperbaiki posisi duduknya, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal di samping Arthur. "Iya, Yang Mulia. Anda meracau banyak hal. Anda memanggil mendiang Ratu Seraphina... dan Anda memohon kepada Kaisar Agung agar tidak dibuang ke dalam kegelapan."

Rahang Arthur mengeras hingga urat-urat di pipinya menonjol. Mengakui kelemahan di depan orang lain adalah hal yang paling ia benci, terutama di hadapan wanita yang ia tawan. Namun, entah mengapa, di dalam pondok yang terisolasi dari kemewahan istana ini, dinding pertahanannya terasa sedikit keropos.

"Kau pasti berpikir bahwa aku adalah pria yang menyedihkan sekarang," desis Arthur, matanya melirik tajam ke arah Lilianne, penuh dengan kilatan bahaya yang siap meledak jika Lilianne salah menjawab. "Seorang panglima perang yang menangis di dalam mimpi karena ketakutan pada ayahnya."

Lilianne menoleh, menatap lurus ke dalam manik mata biru gelap yang penuh luka dan kegilaan itu. Ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ini adalah saatnya untuk menanamkan pengaruhnya lebih dalam.

"Saya tidak berpikir Anda menyedihkan, Yang Mulia," ucap Lilianne, suaranya mengalun rendah, mantap, dan sarat akan manipulasi yang tersembunyi dengan rapi. "Saya justru melihat kebenaran yang selama ini Anda sembunyikan di balik zirah perak Anda. Anda menjadi monster karena istana itu tidak pernah memberikan Anda pilihan untuk menjadi manusia. Anda takut dibuang, karena di mata Kaisar Valerius, Anda hanyalah sebuah alat."

Arthur tersentak kecil. Kata-kata Lilianne menghujam tepat ke pusat traumanya.

"Kaisar mengirim Shadow Blade untuk membunuh anak ini, Arthur," Lilianne melanjutkan, kali ini ia sengaja menghilangkan sebutan formalitas sesaat untuk memberikan efek kedekatan yang menekan. "Ayahmu sendiri ingin memotong sayapmu di desa ini. Dia takut pada ambisimu. Dia takut jika anak ini lahir, faksi militer yang kau pimpin akan memiliki simbol mutlak untuk menggulingkan takhtanya."

Arthur mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku sudah tahu... orang tua sialan itu tidak akan pernah membiarkanku memiliki sesuatu yang berharga."

"Maka dari itu, bangunlah, Yang Mulia," Lilianne mengulurkan tangannya, meletakkannya di atas kepalan tangan Arthur yang gemetar menahan amarah. Sentuhan kulit Lilianne yang dingin terasa seperti penenang yang instan bagi darah Arthur yang mendidih. "Saya telah mengirimkan laporan palsu menggunakan sandi pembunuh itu. Kaisar mengira anak kita sudah mati dan Anda sedang sekarat. Kita memiliki waktu tiga hari sebelum mereka menyadari tipu muslihat ini."

Arthur menoleh, menatap tangan Lilianne yang menggenggam kepalan tangannya. Untuk pertama kalinya, ia melihat istrinya bukan lagi sebagai mangsa yang meronta-ronta di bawah cengkeramannya, melainkan sebagai sosok yang berdiri di sampingnya di tengah medan perang.

"Kau merancang semua ini saat aku tidak sadarkan diri?" tanya Arthur, ada nada kekaguman yang gelap di dalam suaranya.

"Saya melakukannya demi keselamatan anak saya, Yang Mulia," jawab Lilianne tegas, matanya berkilat menantang. "Jika Anda runtuh di sini, saya dan bayi ini akan langsung dicabik-cabik oleh serigala-serigala di ibu kota. Jadi, penuhilah janji Anda. Jadilah tembok tertinggi yang melindungi kami. Terima semua anak panah dari Kaisar Valerius untuk saya... dan saya berjanji, saya akan membantu Anda merebut takhta itu dan menghancurkan siapa pun yang pernah membuat Anda menangis di dalam kegelapan."

Arthur menatap Lilianne dalam-dalam. Kegilaan posesifnya tidak berkurang, namun kini arahnya telah bergeser. Wanita dari Utara ini telah menawarkan sesuatu yang paling ia butuhkan sepanjang hidupnya: sebuah kepemilikan yang mutlak dan sekutu yang tidak akan membiarkannya dibuang.

Arthur membalikkan telapak tangannya, ganti mencengkeram jemari Lilianne dengan erat, menautkan jemari mereka di atas sprei.

"Kesepakatan yang bagus, Lili," bisik Arthur, suaranya kembali dipenuhi oleh dominasi yang pekat, namun kali ini ada komitmen yang mematikan di dalamnya. "Aku akan menjadi tamengmu. Aku akan membantai setiap orang yang dikirim oleh ayahku. Tapi ingat satu hal... setelah takhta itu berada di tangan kita, kau tidak akan pernah bisa pergi dari sisiku. Selamanya."

Lilianne membalas cengkeraman tangan Arthur dengan kekuatan yang sama, matanya memancarkan ketegasan murni. "Saya tahu, Yang Mulia. Dan saya tidak akan pernah mundur."

Di luar pondok, matahari musim dingin mulai merangkak naik, menyinari hamparan salju yang putih bersih. Di dalam kamar sempit itu, aliansi berdarah telah resmi terikat. Sang Mawar telah berhasil menjinakkan sang naga, mengubah obsesi gila suaminya menjadi senjata paling mematikan yang siap menghancurkan fondasi Kekaisaran Valerieth demi masa depan anak di dalam rahimnya.

Bersambung...

1
Runi Mayantri
akhirny trketuk jga hatimu yg dingin arthur 😄
Runi Mayantri
mkin seru !!!!💪💪💪💪
Runi Mayantri
knpa kaisarny kejem bget,arthur jga kan anakny
Runi Mayantri
kereeeeen
Runi Mayantri
semangat ya thor
Runi Mayantri
mantul bgt critanya
Runi Mayantri
waaaw,baru pembukaan udah seru
Runi Mayantri
aduh,sakitnya
meymonic
syukur dh mulai warasssss🤭
meymonic
aaaa hal hal yang seru akan segera di mulaiiiiiiii🤭😍
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune ya 🫶😚
total 1 replies
meymonic
alur nya bagus
Heresnanaa_: maaciw kak🫶🥰
total 1 replies
meymonic
ga sabarrr thorrrr, lanjuttt dongggg😍🤭
Heresnanaa_: stay tune beb 🫶🥰
total 1 replies
meymonic
bagussssssssssss👍👍👍👍👍😍😍
meymonic
thorrr bagusss bngtttttt😍😍😍😍
Heresnanaa_: hai Kaka, makasih yaaa🫶
happy reading 🥰🫶
total 1 replies
Murni Dewita
👣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 😚
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
Heresnanaa_: stay tune up 😚
total 1 replies
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 🥰
total 1 replies
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 🫶
total 1 replies
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!