Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Siang ini, matahari masuk ke celah jendela
Setelah puas merenggut rasa manis dari bibir istri yang sudah di hina semenjak awal menikah, Ihsan berusaha melakukan tindakan menjijikan pada istrinya.
Padahal sah-sah saja Ihsan mau melakukannya kepada istrinya, namun caranya salah.
Melina terus berontak dan berusaha lari, namun Ihsan sudah mengunci kaki dan pergelangan tangan Melina agar tak berontak.
"Kamu nggak akan bisa melarikan diri, kamu istriku!" ucapnya tegas.
Tangan Melina mau di tahan ke atas, tapi berusaha berontak.
Ihsan mau melepas kaos yang dikenakannya, hal itu dimanfaatkan Melina untuk mau berdiri---namun di tahan oleh Ihsan.
Tangan Melina yang sudah bebas menampar pipi Ihsan.
Plak!
Tamparan yang nyaring, pipi Ihsan ke samping---tamparan yang pertama kali di terima Ihsan dari istrinya.
Bawah kaki Melina mau menendang, tapi sang suami sudah lebih dulu menahannya dengan kuat.
"Mas...jangan!!" teriak Melina.
"Aku minta hak sebagai suami!" bentaknya.
Melina hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang bercucuran, dirinya harus melayani suami selayaknya melayani binatang.
Ihsan memeluk tubuh Melina, dan merapatkan tubuhnya.
Tirai bagian depannya di buka dengan cara di robek dengan kasar, Melina hanya perempuan lemah yang berusaha mempertahankan kesuciannya.
Ihsan bersiap untuk berkuda dengan menghirup harum pada bagian depan milik Melina, mencecapnya dan merasakan manisnya ujung bunga kuncup itu.
Melina menutup mulutnya rapat-rapat agar tak terdengar suara kenikmatan, jika terdengar suara dari mulutnya-----itu artinya Melina menikmati adegan ini.
Bagi gadis ini, melakukan ibadah bukanlah melakukan ibadah melainkan pemaksaan.
"Udah stoooppp, gua nggak mau!!!" jerit Melina berusaha melepaskan diri.
Ihsan malah semakin mendekapnya, bibirnya sudah bermain dan merasakan manis madu pada kuncup bunga di ujung gunung.
Hal itu dilakukan untuk mengunci tubuh Melina agar tak kabur, Melina berusaha melepaskan diri tapi semua sia-sia.
Cecapan manis Ishan di ujung sana mampu membuatnya terlena----terlena akan sebuah permainan yang di buat oleh suaminya.
"Lebarkan kakinya baby," pinta Ihsan dengan nada lembut.
Melina hanya menggelengkan kepalanya, seolah memohon Ihsan jangan melakukan itu---dan merapatkan kakinya.
"Jangan...hiks...jangan mas...," pinta Melina dengan nada lirih.
Tapi Ihsan tak menggubrisnya setelah puas menikmati kuncup bunga di ujung gunung rasa madu, Ihsan mau melakukan berkuda.
Bagian lembah tersembunyi itu masih di rapatkan oleh dua pilar yang menghalangi.
Dua pilar putih itu berusaha di buka, namun Melina tetap menutupnya rapat.
Berusaha agar sang suami tak melakukan olahraga kuda disana.
"Jangan Mas...," ucap Melina dengan isak tangis.
Tapi dengan kasar Ihsan melebarkan kaki istrinya, memaksanya membuka dua pilar ke arah lembah tersembunyi itu.
Rasa sakit menghantam bagian bawah gadis itu, saat sebuah patok menancap disana----di sebuah lembah tersembunyi milik Melina.
Melina menjerit kesakitan dan menangis, pertama kalinya melakukan ibadah ranjang----padahal Ishan sudah melakukannya dengan hati-hati.
"Sak-sakitt!" jerit Melina.
"Shutt hey...hey sayang tenang...," ujar Ishan memeluk Melina.
Setelah di rasa pas, Ishan melakukan olahraga berkuda dengan menunggangi kuda menuju lembah tersembunyi milik Melina.
Disana ada tebing, dan Ishan berusaha berhati-hati karena takut tersandung batu.
"Akhhh...sak-sakit," ucap Melina dengan isak tangis.
Ihsan memacu tubuhnya dalam tunggangan berkuda, Melina mencakar punggung Ishan dalam melakukan olahraga berkuda.
"Oh shitt...kamu mencakarku sayang!" ucap Ishan dengan nada suara yang tinggi.
Ishan terus memacu kudanya untuk menyusuri lembah tersembunyi milik Melina, di antara aktivitas berkuda itu.
Ishan memeluk Melina agar tak terjatuh, mencecap lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan disana.
Ishan terus memacu dalam aktivitas berkuda, Melina yang kewalahan karena bisa di bilang Ihsan sangat kuat dalam hubungan badan ini----seolah kehilangan kesadaran.
Terlihat mata Melina sudah sayu, Ishan terus memacu sampai dirinya mengeluarkan setengah dalam dirinya untuk di berikan pada Melina.
Rahim Melina terasa menghangat, gadis ini perlahan sudah mulai kehilangan kesadaran karena dirinya tak sanggup lagi.
"Ya allah hamba pasrah akan takdir hamba, hamba minta petunjukmu...," ujar Melina dengan lirih.
Melina memejamkan matanya seolah sudah sangat tak mampu mengimbangi kekuatan Ishan dalam berkuda, setelah melakukan pelepasan.
Ishan berusaha kembali ke dua pilar itu, kulit Melina sawo matang jadi dua pilar itu berwarna coklat.
Cahaya matahari sore berwarna jingga mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, menyinari kamar yang pengap karena aktivitas intim di atas ranjang.
Ishan sudah selesai melakukan aktivitas berkuda tidur di belakang istrinya, nampak pria itu sudah mengenakan kembali bajunya.
Melina memejamkan matanya karena sudah lelah, tubuhnya terbaring pasrah.
Ishan mendaratkan kecupan yang manis tapi terasa hambar bagi Melina di punggungnya.
Tangannya dengan lembut membelai rambut istrinya, jemarinya menyisir helai demi helai rambut Melina yang lurus dan panjang.
Matahari terbenam di cakrawala, dan Ihsan melihat bercak merah di atas sprei yang putih.
Bercak merah hasil aktivitas berkuda bersama istrinya.
"Melina...," ucap Ishan membelai rambut istrinya dengan lembut.
"Maafkan aku yang belum bisa jadi suami yang baik untukmu, kamu masih menjaga mahkotamu. Aku berusaha menerimamu," lanjutnya.
Ishan tak tahu jika Melina berusaha meminta cerai darinya, namun ada perasaan berat di hati Ishan yang sepertinya enggan melepaskan Melina.
Ishan sebagai suami tak mau tubuh istrinya di perlihatkan, dirinya dengan inisiatif memakaikan gaun satin berwarna biru muda tanpa lengan, panjang gaun itu sampai lutut.
Ishan terbaring di belakangnya berbaring, ia memeluk Melina dari belakang membelai punggungnya dan memeluknya dengan posesif lalu mencium bahu istrinya.
Wajah Ishan di tenggelamkan di bahu istrinya mencium kulit istrinya dengan napas teratur.
Cahaya senja yang menyinari dinding kamar menciptakan bayangan, seolah menggambarkan jarak diantara mereka.
Kulit keduanya bersentuhan dan Melina di balik gaun satinnya tahu, sebelum cerai Ishan hanya mau mengambil keuntungan darinya.
Ishan seolah sangat serakah tak mau kehilangan Melina atau Livia, melalui hubungan badan penuh paksaan ini.
Sama sekali tak ada kenikmatan yang Melina raih, justru sakit dan trauma yang tiada ujungnya.
Ishan memeluk istrinya dari belakang yang tertidur diantara senja ini, malam ini Ishan akan tidur di kamar ini bersama istrinya.
"Melina kamu sangat cantik, tolong jangan ceraikan aku."
Ishan memeluk istrinya, diantara senja sore ini---Ishan bisa akui jika dirinya amat mencintai Melina.