NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 - Banyak Kemungkinan

Malam sudah jauh lebih larut saat Rachael akhirnya benar-benar berdiri dari kursinya.

Ruangan makan mansion de Arther kini jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Beberapa staf mulai membereskan meja perlahan, sementara lampu-lampu hangat tetap menyala lembut di seluruh ruangan besar itu.

Rachael menarik sedikit ujung jaket hitamnya sebelum membungkukkan badan kecil sopan.

“Terimakasih untuk makan malamnya.”

Nada suaranya tenang seperti biasa, kali ini terdengar jauh lebih lembut.

Evelyn langsung berdiri mendekatinya lebih dulu. “Kamu yakin tidak mau diantar?”

Rachael mengangguk kecil cepat. “Aku naik taksi saja.”

“Kami bisa suruh supir mengantar.”

“Nggak apa-apa.” Rachael tersenyum kecil samar. “Aku lebih nyaman sendiri.”

Kalimat itu membuat Evelyn sedikit menghela napas pelan. Seolah ia tahu gadis itu memang belum terbiasa menerima terlalu banyak perhatian sekaligus.

Namun Evelyn tetap mengusap pelan kepala Rachael sekali lagi sebelum mundur. “Kalau sudah sampai rumah kabari.”

Rachael membeku kecil sepersekian detik. Lalu mengangguk pelan. “Iya.”

Axel yang berdiri sambil memasukkan tangan ke saku hoodie-nya langsung berseru santai, “Jangan hilang lagi habis ini.”

Rachael langsung menoleh datar. “Aku bukan NPC random.”

“Belum tentu.”

“Kamu nyebelin.”

“Terimakasih.”

Sebastian tertawa kecil pelan di belakang sana.

Sementara Arthur hanya mengangguk singkat ke arah Rachael. Namun tatapannya tetap tajam seperti sedang memikirkan sesuatu.

Rachael mengangguk hormat kecil. “Malam...”

Lalu tatapannya perlahan bergerak ke arah Leon. Dan anehnya… suasana langsung terasa sedikit berbeda lagi.

Leon berdiri beberapa langkah darinya dengan ekspresi tenang seperti biasa. Namun matanya tetap memperhatikan Rachael sejak tadi.

“Kamu benar-benar mau naik taksi sendiri?” tanyanya rendah.

“Iya.”

“Jam segini?”

“Iya.”

Leon diam beberapa detik. Jelas tidak suka dengan jawaban itu.

Namun sebelum ia sempat bicara lagi, Rachael sudah lebih dulu mundur selangkah kecil sambil tersenyum samar.

“Aku nggak akan mati di jalan.”

“Bukan itu poinnya.”

Rachael berkedip kecil. Lalu tertawa pelan samar, mungkin karena nada serius Leon terdengar terlalu tulus.

“Itu terdengar lucu kalau keluar dari mulutmu.”

Leon menghela napas kecil. Namun sudut bibirnya tetap naik tipis tanpa sadar.

Akhirnya Rachael benar-benar berjalan pergi menuju pintu utama mansion.

Langkahnya pelan.

Tenang.

Namun begitu pintu besar mansion terbuka dan angin malam menyentuh wajahnya—ekspresinya langsung sedikit berubah lagi lebih fokus.

Mobil-mobil hitam berjajar rapi di halaman depan mansion besar keluarga de Arther.

Lampu taman menyala redup menerangi jalan batu panjang menuju gerbang utama.

Rachael berhenti sebentar di anak tangga paling atas. Tatapannya perlahan bergerak memperhatikan area sekitar.

Sunyi.

Pikirannya kembali pada penyadap kecil di lorong tadi.

Lalu pria paruh baya itu. Dan notifikasi samar yang terdengar beberapa menit lalu.

Sesuatu terasa tidak benar. Namun ia tetap berjalan turun dengan santai seolah tidak memikirkan apa pun.

Beberapa menit kemudian, sebuah taksi hitam akhirnya berhenti di depan gerbang mansion.

Rachael membuka pintu mobil sendiri lalu masuk ke dalam kursi belakang.

“Selamat malam,” ucap sopir ramah.

Rachael mengangguk kecil. “Malam.”

Pintu mobil tertutup pelan. Dan tepat sebelum taksi mulai berjalan, Rachael tanpa sadar melirik sekali lagi ke arah mansion de Arther dari balik jendela.

Lampu-lampu besar mansion itu masih menyala hangat di kejauhan. Terlihat aman.

Namun instingnya justru mengatakan sebaliknya.

Mobil perlahan bergerak meninggalkan mansion.

Sementara Rachael bersandar pelan di kursinya sambil mengeluarkan ponsel dari saku jaket.

Lalu mulai mengetik cepat di aplikasi catatan.

— Lorong lantai dua.

— Penyadap kecil dekat ukiran sudut.

— Pria paruh baya.

— Kemungkinan staf internal.

— Pergerakan mencurigakan.

— Jangan langsung percaya siapa pun.

Jemarinya berhenti sebentar. Tatapannya turun ke layar ponsel. Dan untuk pertama kalinya malam itu—

Rachael mengakui sesuatu dalam hati kecilnya sendiri. Ia benar-benar tidak ingin keluarga de Arther terluka karena hal ini.

Terutama… Leon.

...----------------...

Pagi hari di sekolah terasa jauh lebih ramai dibanding biasanya.

Suara siswa memenuhi koridor utama sejak bel masuk pertama belum berbunyi. Beberapa orang berkumpul sambil mengobrol, ada yang sibuk mengerjakan tugas dadakan, dan ada juga yang hanya berjalan santai membawa kopi dingin di tangan.

Namun di tengah suasana normal itu, Rachael berjalan melewati koridor dengan ekspresi sedikit kosong.

Matanya tampak kurang tidur. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai seperti biasa, sementara headphone menggantung di lehernya.

Ia tetap memakai pakaian oversized gelap favoritnya. Tapi kalau diperhatikan lebih lama, ada lingkar samar tipis di bawah matanya.

Karena semalaman, Rachael hampir tidak tidur. Ia terus memikirkan mansion de Arther.

Penyadap kecil itu. Pria paruh baya tadi. Dan kemungkinan kalau seseorang sedang mengawasi keluarga de Arther dari dalam.

Sekarang otaknya terasa berat. Namun langkahnya tetap stabil saat masuk ke kelas.

Beberapa siswa langsung menoleh sebentar ke arahnya seperti biasa.

Rachael mengabaikannya dan berjalan menuju kursinya di dekat jendela.

Baru saja ia duduk, suara kursi di sampingnya bergeser pelan.

Leon.

Rachael langsung berkedip kecil.

Leon duduk menghadapnya sambil memperhatikan wajahnya beberapa detik tanpa bicara. Lalu akhirnya satu kalimat keluar pendek.

“Kamu nggak tidur.” Bukan pertanyaan.

Rachael langsung menyandarkan dagunya di meja. “Tidur kok.”

“Kapan?”

“Lupa.”

“Itu bukan jawaban.”

Rachael menghela napas kecil dramatis. “Selamat pagi juga buat kamu.”

Namun Leon tidak teralihkan kali ini. Tatapannya tetap tertuju pada wajah Rachael.

Karena jelas sekali gadis itu terlihat lelah. Dan yang paling mengganggu, Rachael kembali terlihat seperti sedang memikirkan semuanya sendirian.

Axel yang baru masuk kelas sambil membawa roti langsung berhenti di dekat meja mereka.

“Wah. Wajah kalian kayak habis perang rumah tangga.”

Rachael langsung menunjuk dirinya sendiri malas. “Aku korban kurang tidur.”

“Kamu habis ngapain?”

Rachael diam sepersekian detik terlalu lama.

Kesalahan kecil, Leon langsung menyadarinya.

Namun sebelum suasana berubah aneh, Rachael buru-buru menjawab santai.

“Yah memang sulit tidur.”

Axel langsung mengangguk paham. “Ah. Penyakit kronis.”

“Y deh.”

Leon tetap diam. Tatapannya belum berubah sedikit pun.

Karena entah kenapa, instingnya mulai mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan Rachael.

Dan biasanya kalau gadis itu mulai menyembunyikan sesuatu… masalah besar akan datang tidak lama lagi.

Sementara itu, Rachael diam-diam membuka ponselnya di bawah meja.

Layar catatan semalam masih terbuka. Tatapannya bergerak cepat membaca ulang semua poin yang ia tulis tadi malam.

Lalu jemarinya berhenti di satu kalimat terakhir.

— Cari tahu identitas pria itu.

Rachael perlahan menutup layar ponselnya lagi.

Ekspresinya tetap tenang, tapi jauh di dalam pikirannya, ia sudah mulai menyusun langkah berikutnya.

Bel pelajaran pertama belum berbunyi.

Suasana kelas masih cukup berisik dengan suara obrolan siswa yang saling bersahutan dari berbagai sudut ruangan.

Di tengah semua itu, Rachael justru tenggelam semakin jauh ke dalam pikirannya sendiri.

Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela.

Langit pagi terlihat cerah.

Terlalu cerah dibanding isi kepalanya sekarang.

Jemarinya bergerak pelan memutar pulpen di atas meja, sementara otaknya mulai menyusun ulang potongan-potongan kejadian beberapa hari terakhir.

Moretti.

Nama itu kembali muncul di kepalanya begitu saja.

Semakin dipikirkan, semuanya mulai terasa terlalu kebetulan.

Rachael perlahan menyipitkan mata samar.

Beberapa hari lalu Moretti mengikuti dan mengancam Leon.

Mereka tahu dirinya dekat dengan Leon. Mereka bahkan secara terang-terangan mengatakan akan membunuhnya untuk membuat Leon tunduk.

Kalimat itu masih diingat jelas oleh Rachael.

“Kalau Leon Knight de Arther kehilangan seseorang karena kami… mungkin dia akhirnya akan menunduk pada kami.”

Dulu Rachael menganggap itu hanya ancaman biasa seperti tekanan psikologis.

Tapi sekarang… kalau Moretti benar-benar sedang mengincar keluarga de Arther, maka penyadap di mansion tadi malam bisa saja bukan kebetulan.

Pikiran itu membuat tulang belakang Rachael terasa dingin tipis.

Ia mulai menyusun kemungkinan satu per satu di kepalanya.

Kalau Moretti berhasil menyusup ke mansion… berarti mereka sedang mencari informasi. Atau celah? Atau seseorang di dalam keluarga de Arther yang bisa dimanfaatkan.

Dan kalau mereka sadar Rachael melihat sesuatu tadi malam, maka dirinya mungkin juga sudah masuk ke dalam daftar masalah.

“Ah… sial.” Rachael memijat pelan pelipisnya sendiri.

Otaknya mulai bekerja terlalu cepat lagi. Kemungkinan demi kemungkinan terus muncul tanpa henti.

“Kalau pria paruh baya itu orang Moretti?”

“Atau cuma perantara?”

“Atau justru staf mansion yang dibeli?”

“Kalau penyadap itu dipasang untuk Arthur?”

“Atau…”

Rachael mendadak berhenti berpikir.

Matanya perlahan menyipit tipis.

Leon.

Kalau ancaman Moretti sebelumnya serius dan mereka memang ingin menekan Leon lewat dirinya, maka ada kemungkinan satu hal lain yang lebih buruk.

Mereka mungkin sudah memperhatikan hubungan Leon dan Rachael lebih lama dari yang mereka sadari.

Dadanya langsung terasa tidak nyaman.

Karena itu berarti semakin dekat dirinya dengan Leon… semakin besar kemungkinan Leon akan diserang lewat dirinya lagi.

Rachael perlahan menundukkan wajahnya.

Ekspresinya tetap datar. Namun isi kepalanya mulai semakin kacau sekarang. Dan yang paling membuatnya kesal analisisnya masuk akal.

Leon yang duduk di depannya sejak tadi akhirnya menyadari perubahan ekspresi kecil itu.

“Kamu pucat.”

Rachael langsung tersadar cepat. “Hm?”

“Kamu sakit?”

Rachael buru-buru menggeleng. “Nggak kok.”

Tapi Leon tidak langsung percaya. Tatapannya turun sebentar ke jemari Rachael yang tanpa sadar mulai mengetuk meja pelan dengan ritme cepat.

“Kamu mikirin sesuatu lagi,” ucap Leon rendah.

Rachael diam beberapa detik. Lalu akhirnya tertawa kecil samar seperti biasa untuk menutupi semuanya.

“Aku memang hobi overthinking.”

Leon tidak merasa itu sekadar overthinking biasa. Karena ada sesuatu di mata Rachael sekarang.

Sesuatu yang terlihat seperti ketakutan kecil… bercampur keputusan yang mulai terbentuk perlahan.

Leon mulai merasa kalau Rachael sedang bersiap melakukan sesuatu sendirian lagi.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!