NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Rahasia di Balik Senyum

Angin musim semi yang biasanya terasa membelai, kini terasa sedikit menusuk di kulit Daisy saat ia melangkah turun dari mobilnya di depan kediaman orang tuanya. Paviliun megah milik Ayahnya—yang merupakan saudara dari Raja—berdiri kokoh dengan arsitektur klasik yang selalu memberikan rasa aman. Namun, kali ini, Daisy datang membawa beban yang tidak bisa ia ceritakan pada siapa pun.

"Daisy, Sayang! Kenapa kau tidak bilang kalau mau berkunjung?" Ibunya, seorang wanita dengan keanggunan yang sama dengan Daisy, segera memeluknya erat.

Daisy memaksakan sebuah senyum manis—senyum yang sudah ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun sebagai seorang publik figur. "Aku hanya merindukan masakan rumah, Bu. Glanzwald terkadang terasa terlalu luas untukku sendirian."

Ayah Daisy, yang sedang membaca dokumen kerajaan di ruang tengah, melepas kacamatanya dan menatap putrinya dengan bangga. "Bagaimana kabar suamimu? Aku dengar dari istana, Matthew telah mengamankan wilayah perbatasan utara. Dia akan segera dipromosikan setelah pulang nanti."

"Dia sehat, Ayah. Surat terakhirnya bilang begitu," jawab Daisy singkat. Ia duduk di sofa beludru, menyesap teh melati yang dihidangkan pelayan.

Sepanjang makan siang, Daisy mendengarkan percakapan keluarganya tentang politik, musik, dan rencana perayaan kemenangan kerajaan. Namun, di dalam kepalanya, suara Lady Beatrice terus bergema seperti kaset rusak.

Gadis yatim piatu... Posesif... Pajangan.

Daisy menatap Ayahnya. Ia ingin bertanya, "Ayah, apakah kau tahu alasan sebenarnya pernikahan ini terjadi? Apakah kau tahu tentang gadis pelayan itu?" Namun lidahnya kelu. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan orang tuanya. Ia tidak ingin mereka merasa bersalah jika ternyata mereka telah menjebak putri satu-satunya ke dalam sebuah pernikahan yang hanya bertujuan untuk membersihkan skandal keluarga Eisenberg.

"Daisy, kau melamun?" Tanya Ibunya lembut, menyentuh tangan Daisy. "Wajahmu tampak pucat. Apa kau lelah bekerja?"

"Mungkin sedikit, Bu. Proyek komik baruku cukup menyita energi," dalih Daisy.

Sifat gengsi Daisy bekerja lembur hari itu. Ia tidak menunjukkan setitik pun kesedihan. Ia tetap menjadi Daisy yang cerdas, mandiri, dan berbakat. Namun, saat ia meminta izin untuk beristirahat di kamar lamanya, pertahanannya mulai goyah.

Kamar itu masih sama. Wangi lavender dan tumpukan buku sketsa lamanya. Daisy berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit. Pikiran tentang gadis yatim piatu itu menghantuinya.

Kenapa gadis itu memilih seorang dokter muda yang sederhana daripada seorang Duke dan Jenderal agung seperti Matthew?

Daisy mencoba membayangkan Matthew yang posesif. Selama enam bulan awal pernikahan mereka, Matthew tidak pernah menunjukkan sisi itu. Matthew justru sangat kaku dan jauh.

"Atau mungkin..." batin Daisy, jantungnya berdegup kencang, "Karena dia sudah belajar dari kesalahannya? Karena dia takut jika dia terlalu mendekat, aku juga akan lari darinya seperti gadis itu?"

Pertanyaan itu membuat Daisy merasa sesak. Ia bangkit dari tempat tidur dan mulai mencari-cari informasi di internet melalui ponselnya—hal yang jarang ia lakukan untuk urusan pribadi. Ia mengetikkan kata kunci samar tentang skandal keluarga Eisenberg beberapa tahun lalu.

Hasilnya nihil. Keluarga Kerajaan dan Eisenberg memiliki kekuatan untuk menghapus jejak digital apa pun yang merugikan nama baik mereka.

Daisy mendengus kesal. Rasa penasarannya berubah menjadi rasa kecewa yang dalam. Dan yang paling membuatnya marah adalah kenyataan bahwa ia peduli.

"Kenapa aku harus kecewa?" Tanyanya pada pantulannya di cermin. "Aku adalah 'The Muse'. Aku punya dunia di genggamanku. Aku menikah dengannya hanya karena kewajiban. Aku tidak mencintainya... kan?"

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa kecewa ini muncul hanya karena harga dirinya terluka sebagai seorang istri sah. Tidak ada wanita yang suka mengetahui bahwa dia mungkin hanyalah rencana cadangan untuk menutupi kesalahan masa lalu suaminya.

Tapi, saat ia teringat bagaimana ia diam-diam menantikan surat dari Matthew, bagaimana ia merawat bunga-bunga di Glanzwald, dan bagaimana ia mulai menyukai aroma parfum maskulin di bantal Matthew... Daisy tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Benih-benih itu sudah ada, tumbuh di sela-sela kesunyian hutan pinus, dan sekarang sedang disiram oleh air mata kecemburuan.

Keesokan harinya, sebelum pulang ke Glanzwald, Daisy memutuskan untuk mampir ke perpustakaan nasional. Ia menggunakan akses khususnya sebagai kerabat raja untuk masuk ke bagian arsip fisik berita lama yang belum didigitalisasi.

Setelah berjam-jam mencari, ia menemukan sebuah potongan koran kuning dari empat tahun yang lalu. Sebuah berita kecil di pojok halaman sosial: "Batalnya Pertunangan Duke Muda Eisenberg dengan Lady Beatrice. Alasan: Ketidakcocokan Visi."

Dan di bawahnya, ada sebuah catatan kaki tentang hilangnya seorang pelayan paviliun utama secara misterius di minggu yang sama. Tidak ada nama. Hanya disebut "Pelayan M".

Daisy menutup buku arsip itu dengan tangan gemetar. Ia membayangkan Matthew yang berusia dua puluh dua tahun saat itu. Masih muda, emosional, dan mungkin... hancur.

"Jadi kau pernah mencintai seseorang sedalam itu, Matthew? Sampai-sampai kau menakutinya dengan caramu mencintai?" Bisik Daisy.

Ia merasa iri. Sangat iri. Pada seorang gadis yang bahkan tidak memiliki nama di koran itu. Gadis itu pernah mendapatkan sisi "berapi-api" dari Matthew, sementara Daisy hanya mendapatkan sisi "es" yang membeku.

Daisy kembali ke mobilnya dengan perasaan yang lebih berat daripada saat ia datang. Ia memutuskan untuk kembali ke Glanzwald. Hutan pinus itu sekarang terasa lebih seperti penjara daripada tempat perlindungan.

Sesampainya di Eisenberg Manor, ia berjalan melewati taman bunga yang sudah mulai mekar sempurna. Ia melihat tanaman yang ia tanam dengan penuh harapan beberapa bulan lalu. Daisy mengambil gunting taman dan, dalam sekejap emosi yang meluap, ia memotong beberapa tangkai mawar yang paling cantik dan membuangnya ke tanah.

"Jangan mekar untuknya," ucapnya dengan suara bergetar. "Dia tidak layak melihat keindahan ini."

Namun, setelah melakukannya, Daisy terduduk di atas rumput dan menangis. Rambut hitam panjangnya menutupi wajahnya. Sifat pemalunya kini hancur oleh rasa sakit yang nyata. Ia baru menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada pria yang mungkin tidak akan pernah bisa mencintainya dengan cara yang sama, karena hatinya masih tertinggal pada seorang pelayan yang melarikan diri darinya.

Malam itu, Daisy tidak membalas surat Matthew yang terakhir. Ia membiarkan surat itu tergeletak di lantai ruang kerjanya. Ia memutuskan untuk berhenti menjadi istri yang menunggu.

Ia akan fokus pada dirinya sendiri. Jika Matthew pulang di musim panas ketiga nanti, dia tidak akan menemukan mawar yang mekar. Dia akan menemukan seorang wanita yang mandiri, sukses, dan memiliki hati sedingin es—persis seperti yang dia ajarkan selama ini.

"Kau ingin seorang pajangan, Matthew? Akan kuberikan kau pajangan yang paling sempurna," gumam Daisy sebelum ia tertidur dalam kesunyian paviliun yang luas itu.

1
Nia Nara
Pernikahan itu panjang, nanti 10 atau 20 tahun lagi, tiba2 maira kembali, terlalu beresiko.
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!