NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit 3

Gerhana Sembilan Langit 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Menjadi NPC / Fantasi Timur
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 3)

Setelah menaklukkan Benua Kuno, Han Luo dan Long Tian bertujuan menginjakkan kaki di Cakrawala Suci—pusat dunia kultivasi yang sesungguhnya.

Di benua super-masif ini, kekuatan Jiwa Baru Lahir hanyalah prajurit biasa, dan para dewa Pemutus Roh menguasai langit. Menjadi buronan faksi raksasa akibat kematian Jian Wuji, Han Luo terpaksa menyembunyikan taringnya.

Dan saat rahasia sebenarnya di balik 'Dao Langit' dan Penjara Benua Kuno mulai terkuak, Han Luo bersiap menyalakan api pemberontakan terbesarnya. Di negeri para dewa, gerhana akan membuktikan bahwa ia mampu menelan matahari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian

Di depan pintu kayu eboni Kabin Nomor Satu, Manajer Liu mengetuk perlahan.

"T-Tuan Xie Yan... Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Anda. Ada inspeksi keamanan dari otoritas setempat."

Hening sejenak. Lalu terdengar suara batuk yang sangat keras dan menyedihkan dari dalam.

Klek.

Pintu dibuka dari dalam oleh Long Tian (Hei Mian). Wajahnya sangat datar dan kaku, matanya menatap lantai, persis seperti pelayan kelas rendah yang bodoh.

Tetua Wu langsung mengarahkan cerminnya ke Long Tian.

Cermin itu tidak bereaksi. (Aura Long Tian telah disembunyikan sempurna oleh Han Luo menggunakan formasi mikro, dan Long Tian tidak membawa satu pun barang milik Zhong Ye).

Tetua Wu mendengus, lalu mendorong Long Tian ke samping dan melangkah masuk ke dalam kabin VVIP yang mewah itu.

Di dalam, ruangan itu berbau tajam obat-obatan herbal dan darah basi.

Di atas ranjang, berbaringlah Han Luo (Xie Yan). Wajahnya sepucat mayat, keringat dingin membasahi dahinya, dan bibirnya sedikit membiru. Dia terlihat seperti orang yang bisa mati kapan saja.

Tetua Wu menatap pemuda sakit-sakitan itu dengan curiga.

"Kau Xie Yan?"

"U-Uhuk... Benar, Tetua yang mulia..." Han Luo menjawab dengan suara parau yang hampir tak terdengar. "Maafkan saya tidak bisa berdiri menyambut Anda. Penyakit bawaan saya... Racun Sumsum Kutub... sedang kambuh."

Tetua Wu tidak peduli dengan penyakitnya. Dia langsung mengangkat Cermin Pencari Jiwa dan mengarahkannya tepat ke wajah Han Luo.

Seketika, cermin perunggu itu bergetar hebat!

Permukaan cermin mulai memancarkan pendaran warna Merah.

Mata Tetua Wu membelalak. Niat membunuh meledak dari tubuhnya.

"Aura kematian Zhong Ye! Kau menyembunyikannya!" teriak Tetua Wu.

Manajer Liu di ambang pintu hampir pingsan. Tamu VVIP-nya adalah pembunuh dari Istana Matahari Suci?!

Long Tian mengepalkan tangannya di balik punggung, bersiap mengaktifkan fisik naganya jika pertarungan pecah.

Namun, Han Luo tidak panik.

Tepat saat cermin itu akan bersinar merah sepenuhnya, Han Luo memfokuskan Inti Emas Gerhana-nya. Dia membuka seluruh pori-porinya dan melepaskan hawa dingin dari Sutra Hati Es Abadi yang telah dia samarkan menjadi "Racun Sumsum Kutub".

Cesssss!

Suhu di dalam ruangan anjlok hingga minus delapan puluh derajat dalam sepersekian detik. Perabotan di dalam kamar membeku. Air di kolam pemandian langsung menjadi balok es.

Dan yang paling penting... udara di antara Han Luo dan cermin itu membeku secara konseptual.

Cahaya merah yang baru saja hendak menyala terang di cermin perunggu itu, tiba-tiba tersendat. Hawa Kekosongan Absolut (dari kekuatan Gerhana Han Luo yang disembunyikan dalam hawa dingin) langsung menelan energi pelacak dari cermin tersebut.

Warna merah di cermin itu berkedip-kedip, lalu perlahan-lahan... memudar kembali menjadi perak kusam, sebelum akhirnya cermin itu tertutup oleh lapisan es tipis dan layarnya retak kecil.

Krak.

Tetua Wu terkesiap, buru-buru menarik cerminnya yang kini terasa sedingin es abadi.

"A-Apa yang terjadi?!" Tetua Wu menatap cerminnya yang retak, lalu menatap Han Luo.

Han Luo terbatuk hebat, menyemburkan seteguk darah (palsu) ke selimut putihnya. Tubuhnya menggigil parah.

"M-Maafkan saya, Tetua..." rintih Han Luo dengan wajah penuh penderitaan. "Cermin Anda... artefak Yang murni itu... memicu reaksi perlawanan dari Racun Sumsum Kutub di tubuh saya. Tubuh saya... tidak bisa mengendalikan hawa dinginnya..."

Manajer Liu yang menggigil di pintu segera maju.

"Tetua Wu! Tolong hentikan! Tuan Xie Yan adalah pasien kronis dari kepulauan pinggiran! Dia ke sini untuk mencari tabib! Jika hawa dinginnya membunuh kita atau merusak kapal ini, Persekutuan kami akan meminta pertanggungjawaban Istana Matahari Suci!"

Tetua Wu menggertakkan giginya. Dia melihat cerminnya yang retak karena hawa dingin ekstrem, lalu melihat pemuda yang sedang sekarat di ranjang itu.

Logika Tetua Wu mengambil alih: Pemuda ini hanyalah orang cacat yang dipenuhi racun es mematikan. Cermin tadi berkedip merah mungkin karena artefak ini salah merespons benturan elemen antara suhu ekstrem dan energi pelacaknya. Tidak mungkin orang penyakitan ini bisa membunuh seorang Pemutus Roh Setengah Langkah seperti Zhong Ye. Itu sangat tidak masuk akal.

"Cih," Tetua Wu memasukkan cerminnya ke dalam jubah dengan kesal. "Hanya orang sakit yang membawa sial. Ayo pergi!"

Tetua Wu dan dua pengawalnya berbalik dan keluar dari kabin dengan langkah tergesa-gesa, tidak ingin membeku lebih lama di dalam ruangan itu.

Manajer Liu menghela napas panjang, membungkuk pada Han Luo. "Tuan Xie, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya akan menyuruh pelayan membersihkan ruangan Anda."

"T-Tidak apa-apa, Manajer... uhuk... saya hanya butuh istirahat," bisik Han Luo.

Setelah pintu tertutup rapat dan langkah kaki rombongan inspeksi menjauh, suhu di dalam ruangan perlahan kembali normal.

Long Tian yang berdiri di sudut ruangan, melepaskan napas yang sedari tadi dia tahan.

"Tuan... itu terlalu dekat," bisik Long Tian ngeri. "Cermin itu hampir mendeteksi Anda."

Di atas ranjang, postur Han Luo yang gemetar dan sekarat itu lenyap seketika. Dia duduk bersila, membersihkan darah di bibirnya dengan saputangan, dan tersenyum sinis.

"Cermin itu mendeteksinya dengan sempurna, Hei Mian," kata Han Luo tenang. "Tapi sebuah cermin tidak bisa menampilkan gambar jika kau membekukan dan memecahkan kacanya dari dalam."

Han Luo bangkit dari ranjang, berjalan ke arah jendela. Di luar sana, armada emas Istana Matahari Suci mulai membuka blokade mereka, membiarkan Kapal Penembus Bintang melaju masuk ke perairan pelabuhan yang sesungguhnya.

"Penyamaran yang paling sempurna bukanlah dengan menyembunyikan kelemahanmu," gumam Sang Dalang, menatap benua raksasa di depan mereka yang memancarkan cahaya peradaban absolut. "Tapi dengan menggunakan kelemahanmu itu sebagai senjata untuk membodohi mata mereka."

Mereka telah melewati satu masalah.

Di depan mereka terhampar kota pesisir dari Daratan Utama—Kota Tepi Langit. Tempat di mana para elit faksi raksasa, monster-monster tua, dan sekte-sekte kelas dunia berpusat.

Han Luo membuka kipas kertasnya dengan bunyi klak yang tajam.

"Selamat datang di Cakrawala Suci, Hei Mian. Mari kita lihat, siapa dewa pertama yang akan kita tipu di tanah ini."

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yup yup yup 🔥🌽
Mamat Stone
/Smirk/💥
Mamat Stone
/Joyful/💥
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
👻🤣
Mamat Stone
🤣👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Joyful/
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
senggol tabok 👊💥
Mamat Stone
senggol bacok /Cleaver/💥
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!