Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ban 31 pergunungan jurang bintang dan tarian guntur di ujung pedang
Pegunungan Jurang Bintang terletak di batas utara Ibukota Kekaisaran Naga Langit. Berbeda dengan wilayah sekitarnya yang subur dan penuh kehidupan, wilayah ini seolah-olah terkoyak dari tatanan ruang dan waktu. Tebing-tebing batu yang menjulang tinggi di sini bukan berasal dari batu kapur atau vulkanik, melainkan bongkahan kristal padat yang selalu bergetar, memancarkan resonansi energi petir alami yang tak pernah berhenti menyambar langit.
Di lembah paling dalam, tempat di mana awan-awan hitam pekat menggantung rendah bagai atap penjara, Yan Xinghe berdiri sendirian. Jubah sutra hitamnya berkibar keras ditiup angin badai yang mengandung partikel listrik statis. Setiap helai rambutnya kini sesekali mengeluarkan percikan ungu kecil, tanda bahwa *Tubuh Fana Tanpa Cacat* miliknya sedang beradaptasi dengan lingkungan yang sangat berbahaya ini.
"Energi di sini... sangat murni," gumam Xinghe. Ia tidak menggunakan energi dari dalam tubuhnya untuk menahan sambaran petir yang silih berganti menghantam puncak tebing. Ia membiarkan alam bekerja. Setiap petir yang menyambar di dekatnya diserap masuk melalui pori-pori kulitnya, diproses oleh Inti Mistik di Dantiannya, dan dimurnikan menjadi aliran kekuatan yang membuat meridiannya bersinar terang.
Di hadapannya, dari balik kabut listrik yang bergejolak, muncul seekor makhluk yang menjadi penguasa area ini: *Macan Petir Bersisik Baja*. Makhluk itu sebesar gajah, seluruh tubuhnya dibalut oleh zirah logam yang secara alami menyerap listrik dari atmosfer. Matanya adalah dua bola lampu petir yang memancarkan kebencian.
Makhluk itu meraung, sebuah suara yang terdengar seperti ribuan logam yang beradu dan petir yang meledak serentak.
Xinghe tidak menunggu. Ia menarik *Pedang Berat Tanpa Bilah* dari punggungnya. Kali ini, ia tidak menahan apa pun. Gelombang Niat Pedang yang kini mencapai tingkat tiga puluh persen menyelimuti pedang tersebut, mengubah massa logam berat itu menjadi entitas yang seolah-olah memiliki gravitasi sendiri.
"Kultivasimu di Alam Inti Mistik tingkat awal memang kuat," ucap Xinghe, suaranya terdengar jernih meski di tengah badai. "Tapi di hadapanku, kau hanyalah baterai yang akan membantuku melampaui batas ini."
*CRACK!*
Macan Petir itu menerjang, tubuhnya bergerak dalam kilatan cahaya biru. Xinghe melangkah ringan, menggeser posisinya hanya beberapa inci, membiarkan cakar raksasa monster itu mengiris udara kosong. Dalam satu gerakan putaran bahu yang elegan, Xinghe mengayunkan pedangnya secara vertikal.
Tekanan udara yang dihasilkan bukan lagi sekadar angin, melainkan sebuah tebasan dimensi kecil. Bilah pedang Xinghe menghantam zirah dada Macan Petir tersebut. Tidak ada suara dentuman keras, yang terdengar hanyalah suara "ziiitt" yang tajam saat zirah logam monster itu terbelah dengan presisi yang mengerikan, seolah-olah pedang itu melewati mentega cair.
Darah biru neon menyembur keluar. Namun Xinghe tidak berhenti. Ia memutar pedangnya kembali, menancapkannya ke tanah, dan menyalurkan guntur dari dalam tubuhnya melalui ujung pedang ke tanah di bawah kaki monster itu.
*BLAAAM!*
Sembilan pilar petir ungu meledak dari tanah, mengunci kaki dan tubuh Macan Petir tersebut dalam sangkar listrik. Xinghe melompat ke udara, memutar pedangnya sekali lagi, kali ini dengan kekuatan penuh dari 30% Niat Pedang.
"Tamat."
Sebuah tebasan horizontal tunggal memenggal kepala monster itu. Saat kepala besar tersebut jatuh ke tanah, tubuhnya meledak menjadi jutaan partikel energi murni yang kemudian terserap masuk ke dalam meridian Xinghe melalui tarikan paksa yang ia buat.
Proses pemurnian terjadi secara instan. Energi murni monster tingkat ketujuh itu membanjiri meridiannya. Xinghe merasakan butiran Inti Mistik di Dantiannya perlahan membesar, permukaannya menjadi lebih halus dan bersinar dengan cahaya yang jauh lebih tajam.
Namun, saat ia sedang menyerap energi tersebut, instingnya berteriak. Xinghe memutar tubuhnya dengan cepat ke arah belakang.
Di sana, di atas puncak tebing yang paling tinggi, berdiri tiga sosok berjubah putih dengan lambang *Tanah Suci Gerbang Langit Abadi*. Salah satunya adalah Gongsun Zhi, Tuan Muda yang ia temui di stadion kota kecil dulu. Wajahnya yang feminin kini dipenuhi dengan amarah dan kebencian yang mendalam.
"Ternyata benar dugaan kami," suara Gongsun Zhi menggema di seluruh ngarai. "Kau adalah hama yang harus disingkirkan sebelum kau tumbuh terlalu besar, Yan Xinghe. Menyerahkan warisan teknik dewa itu adalah satu-satunya cara bagimu untuk mati dengan tenang."
Xinghe menatap mereka dengan dingin. Ia menyarungkan kembali pedang beratnya ke punggung. "Kalian selalu datang dalam kelompok untuk menutupi ketidakmampuan kalian sebagai individu. Berapa pun jumlah yang kalian kirim, hasilnya akan tetap sama: kalian hanya akan menambah koleksi mayat di kakiku."
"Bunuh dia!" perintah Gongsun Zhi.
Dua tetua pengawal di sampingnya melesat turun dengan kecepatan yang jauh melampaui master Inti Mistik biasa. Mereka berada di *Alam Melangkah Langit*. Udara di sekitar mereka membeku, menciptakan segel ruang yang mengunci tubuh Xinghe.
Xinghe tersenyum. Ini adalah tekanan yang ia cari. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh konsentrasi pada 30% Niat Pedang di dalam jiwanya. Ia tidak menggunakan kekuatan fisik. Ia menggunakan "kehendak".
Saat dua tetua itu sampai di depannya dengan senjata yang terhunus, Xinghe membuka mata. Kilatan emas murni meledak dari pupilnya.
"Langkah Langit?" suara Xinghe terdengar sarkastik. "Di hadapanku, langit hanyalah tanah yang belum dipijak."
Ia tidak menyerang. Ia hanya melepaskan aura Niat Pedangnya yang terfokus. Tekanan itu menabrak dua tetua tersebut di udara. Tubuh mereka yang sedang melesat terhempas ke belakang seolah-olah ditabrak oleh palu raksasa yang tak terlihat. Mereka jatuh ke tanah dengan dentuman keras, zirah putih mereka retak, dan mereka memuntahkan darah yang bercampur dengan sisa-sisa energi vital mereka yang hancur.
Gongsun Zhi membelalakkan mata. Ia mundur selangkah di atas tebing. "Mustahil! Kau hanya praktisi Inti Mistik! Bagaimana mungkin Niat Pedangmu bisa melukai Master Melangkah Langit?!"
Xinghe tidak menjawab. Ia mulai melangkah, bukan menjauh, melainkan menaiki tebing curam itu dengan berjalan di udara. Setiap langkahnya meninggalkan retakan di udara, membuktikan bahwa ia telah menguasai aturan ruang dasar melalui pemahaman pedangnya.
"Sekarang giliranku yang berburu," ucap Xinghe, suaranya bergema bagaikan guntur di telinga Gongsun Zhi.
Di saat itulah, sebuah kekuatan baru bangkit di dalam diri Xinghe. Ia tidak hanya berada di tingkat pertama Inti Mistik lagi. Melalui serapan energi monster tadi, ia telah melampaui batasan itu. Pintu menuju Tingkat Kedua terbuka lebar. Badai petir di ngarai itu seolah-olah tunduk pada setiap langkah kakinya, membentuk jalan cahaya ungu yang menuntunnya langsung menuju Gongsun Zhi.
Pertarungan yang akan mengubah nasib ibukota itu baru saja dimulai, dan kali ini, tidak akan ada jalan untuk kembali.