NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi Penuh Drama

Helen dan Ario berhasil turun di dekat perlintasan kereta api. Mereka terengah-engah, tubuh mereka dipenuhi luka gores dan abu. Di depan mereka, pagar besi stasiun menjulang tinggi. Di belakang mereka, anak buah Bambang mulai mendekat dari sela-sela gang.

Ario memeriksa magasin senjatanya. "Tinggal lima butir."

Helen menatap suaminya. Di saat maut mengintai, ia tidak lagi merasa takut. Ia memegang tangan Ario yang kasar. "Jika kita mati di sini, Ario... setidaknya dunia sudah tahu siapa dia."

"Kita tidak akan mati di sini," jawab Ario tegas, meski ia tahu peluang mereka kecil.

Tiba-tiba, suara sirine polisi meraung-raung dari arah jalan raya utama. Tidak hanya satu atau dua, tapi puluhan mobil polisi dengan lampu biru-merah yang berkedip cepat. Rupanya, skandal yang disebarkan Helen telah memicu tekanan publik yang begitu besar sehingga kepolisian tidak punya pilihan lain selain bertindak tegas dan cepat sebelum Beatrix melarikan diri.

"Angkat tangan! Polisi! Jatuhkan senjata kalian!" suara pengeras suara menggema di udara.

Bambang dan anak buahnya tertegun. Mereka kini terjepit di antara target mereka dan barisan polisi yang mulai mengepung kawasan Tambora.

"Sial!" umpat Bambang. Ia mengarahkan senjatanya ke arah Helen dengan nekat. "Jika aku jatuh, kau ikut denganku, Helen!"

Dor!

Satu tembakan meletus. Namun bukan dari senjata Bambang. Ario telah lebih dulu menembak lengan Bambang, membuat senjata pria itu terlepas dan terjatuh ke rel kereta. Tim buser kepolisian segera merangsek masuk, menjatuhkan anak buah Beatrix satu per satu ke tanah.

****

Helen jatuh terduduk di atas bantalan rel kereta api yang keras. Ia menangis, namun kali ini bukan tangis kesedihan. Itu adalah tangis kelegaan yang luar biasa. Ia melihat polisi memborgol Bambang, sementara seorang perwira menengah mendekatinya dengan hormat.

"Ibu Helen Kusuma? Kami dari Polda Metro Jaya. Anda aman sekarang. Kami memiliki perintah untuk mengawal Anda dan menyerahkan bukti-bukti tambahan yang Anda miliki secara resmi."

Helen menatap perwira itu, lalu menatap Ario yang tersenyum lemah sambil menyarungkan senjatanya.

"Bagaimana dengan Tante Beatrix?" tanya Helen, suaranya bergetar.

"Tim kami sudah berada di kediamannya dan di kantornya. Dia tidak punya tempat untuk lari lagi," jawab polisi itu.

Namun, di Menara V.A. Nordic, Beatrix van Amgard tidak menyerah begitu saja. Sambil memandangi helikopter polisi yang mulai mengepung gedungnya, ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah pemantik api. Di tangannya ada sebuah dokumen yang ia rahasiakan selama ini—dokumen tentang siapa sebenarnya dalang di balik semua ini, sesuatu yang bahkan Aditya Kusuma tidak tahu.

"Kalian pikir ini berakhir?" gumam Beatrix sambil menyulut api ke dokumen itu. Matanya merah, senyumnya kini benar-benar murni kegilaan. "Jika aku harus turun ke neraka, aku akan membawa seluruh kenangan kalian bersamaku."

Asap mulai memenuhi ruangan mewah itu saat api melahap tirai-tirai sutra. Di kejauhan, Helen Kusuma berdiri di bawah perlindungan polisi, menatap langit Jakarta yang perlahan menggelap. Ia tahu, meskipun penangkapan sudah di depan mata, pertempuran terakhir untuk membersihkan nama ayahnya baru saja memasuki babak yang paling mematikan.

****

Langit Jakarta sore itu seolah terbelah. Gumpalan awan hitam pekat menggantung rendah di atas kawasan Sudirman, sementara kilatan petir menyambar-nyambar di balik puncak gedung-gedung pencakar langit. Di lantai 30 Menara V.A. Nordic, suasana jauh lebih mencekam daripada badai di luar. Aroma asap dari kain sutra yang terbakar mulai merayap keluar dari celah pintu ruang kerja CEO, bercampur dengan bau mesiu yang masih tertinggal di udara.

Helen Kusuma berdiri di depan lobi lift, dikawal ketat oleh enam personel kepolisian bersenjata lengkap. Di sampingnya, Ario Diangga tampak siaga dengan tatapan mata yang tak pernah berkedip. Mereka baru saja tiba di gedung itu untuk menyaksikan babak terakhir dari drama panjang yang telah merenggut segalanya dari mereka.

"Ibu Helen, mohon tetap di belakang kami," bisik Kompol Sasmita, pemimpin tim buser. "Laporan menyebutkan tersangka bersenjata dan dalam kondisi emosional yang tidak stabil."

Helen tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya seperti palu. Sepuluh tahun pengkhianatan, ribuan mil pelarian di Venezuela, dan malam-malam dingin di kontrakan Tambora—semuanya bermuara pada satu pintu ganda berlapis emas di depan mereka.

****

Pintu besar itu didobrak paksa oleh polisi.

"Jangan bergerak! Polda Metro Jaya!" teriakan itu menggema, namun segera tenggelam oleh pemandangan di dalam ruangan.

Ruangan mewah itu sudah seperti medan perang. Api menjilat-jilat tirai besar yang menghadap ke arah kota. Di tengah ruangan, di antara puing-puing kaca yang berserakan, Beatrix van Amgard berdiri dengan angkuh. Pakaiannya yang mahal sudah tercemar jelaga, rambutnya terurai liar, dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah pistol mungil berlapis krom.

"Berhenti!" teriak Beatrix saat melihat moncong senjata polisi mengarah padanya. Ia tertawa, sebuah tawa melengking yang terdengar pecah dan mengerikan. "Kalian terlambat! Semua dokumen, semua bukti asli, sudah menjadi abu!"

"Menyerahlah, Tante Beatrix!" Helen tiba-tiba merangsek maju dari balik barisan polisi. Ario mencoba menahannya, namun tekad Helen sudah tak terbendung. "Semuanya sudah berakhir! Rekaman suara, bukti penggelapan, dan saksi kunci Pak Haris... polisi sudah memegang semuanya. Kau tidak punya jalan keluar!"

Beatrix mengalihkan pandangannya pada Helen. Tatapannya penuh dengan kebencian yang begitu murni hingga membuat udara di ruangan itu terasa semakin panas. "Helen... tikus kecil yang gigih. Kau pikir ini kemenanganmu? Kau pikir dengan menjebloskan aku ke penjara, kau bisa menghapus kenyataan bahwa akulah yang memegang kendali atas hidup dan mati orang tuamu selama sepuluh tahun?"

"Kau adalah iblis, Tante Beatrix!" teriak Helen, air matanya mulai mengalir. "Kau meracuni Mamaku! Kau menyabotase mobil Papaku! Untuk apa? Untuk gedung kaca ini? Untuk uang-uang di rekening luar negerimu?!"

****

Beatrix melangkah mundur perlahan menuju jendela kaca besar yang sudah retak akibat ledakan kecil tadi. Angin kencang dari luar mulai menderu masuk ke dalam ruangan, menerbangkan abu-abu kertas yang terbakar.

"Uang? Kekuasaan?" Beatrix tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kesedihan yang aneh. "Kau tidak akan pernah mengerti, Helen. Ayahmu... Aditya... dia adalah pria yang terlalu baik untuk dunia yang kejam ini. Aku melakukannya karena aku ingin dia hanya melihatku, bukan bayang-bayang istrimu yang lemah itu! Dan ketika dia tahu... ketika dia menatapku dengan tatapan jijik itu... di situlah aku sadar bahwa satu-satunya cara memilikinya secara utuh adalah dengan menguburnya bersama rahasiaku."

"Letakkan senjatanya, Nyonya!" Kompol Sasmita maju selangkah. "Jangan mempersulit keadaan. Anda masih punya hak untuk dibela di pengadilan."

"Pengadilan?" Beatrix mendengus jijik. "Seorang Van Amgard tidak akan pernah duduk di kursi pesakitan di depan orang-orang seperti kalian. Aku tidak dilahirkan untuk diadili oleh dunia yang aku bangun dengan tanganku sendiri."

Ia menatap Helen untuk terakhir kalinya. Kegilaan di matanya kini mereda, digantikan oleh ketenangan yang dingin dan mematikan. "Kau ingin keadilan, Helen? Maka ambillah gedung ini. Ambillah puing-puing ini. Tapi kau tidak akan pernah mendapatkan kepuasan melihatku membusuk di sel yang kotor."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!