Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?
Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.
Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.
Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.
Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.
Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?
Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Steven Aditya
Gemerlap lampu gantung kristal menghiasi aula utama Hotel Mulia. Peluncuran platform baru Aditya Media Group malam ini berlangsung sangat tertutup. Orang-orang penting dari dunia politik, bisnis, dan hiburan berkumpul memegang gelas sampanye berharga jutaan rupiah.
Steven Aditya berdiri di sudut ruangan VIP. Kemeja hitam pekat, jas tanpa dasi. Tiga direktur perusahaan besar berusaha keras mencari perhatiannya. Pria itu merespons dengan anggukan singkat dan raut wajah bosan. Dominasi absolut menguar secara alami dari postur tubuhnya.
Di kehidupan masa lalunya, pria inilah yang memegang pisau guillotine dan menjatuhkannya tepat di leher Shanaya lewat siaran langsung televisi nasional.
Shanaya mengambil segelas air mineral dari nampan pelayan yang lewat. Ia menyesapnya pelan. Tenggorokannya butuh sesuatu yang dingin sebelum masuk ke medan perang.
"Nay, kamu harusnya nggak ke sini."
Sebuah tangan menahan lengannya dari belakang. Sentuhannya halus, tapi cengkeramannya mengunci.
Shanaya menoleh. Alvian berdiri di sana. Wajah pria tampan itu terlihat tenang, namun matanya terus bergerak memindai keadaan sekitar. Skandal plagiat Anastasia dua hari lalu menghantam nama keluarga Kesuma dengan keras. Saham anjlok parah. Ratusan wartawan masih berkemah di depan pagar rumah mereka.
Alvian merendahkan suaranya, memajukan tubuhnya seolah ingin melindunginya dari tatapan tamu lain.
"Direksi sekarang mulai panik," bisik Alvian lembut, nyaris seperti gumaman menenangkan. "Dan orang panik biasanya cari kambing hitam."
Alvian tersenyum tipis. Tangannya mengusap lengan Shanaya pelan. Gesturnya terlihat protektif di mata orang lain. Padahal bagi Shanaya, itu terasa seperti tanda kepemilikan.
"Aku cuma nggak mau mereka mulai mengarahkan sorotan itu ke kamu, Nay."
Taktik yang sempurna. Memanipulasi keadaan dengan memosisikan diri sebagai satu-satunya ksatria pelindung di tengah kekacauan. Pria ini sangat licin. Jika Shanaya masih gadis delapan belas tahun yang naif, ia pasti sudah memeluk pria ini sambil menangis ketakutan.
"Terus, solusi kamu apa?" Shanaya memutar gelas di tangannya.
"Kalau kita umumkan tanggal pertunangan kita secepatnya, kita bisa alihkan opini publik. Berita bahagia selalu laku buat meredam skandal." Alvian menatap matanya dalam-dalam. "Kasih aku status pasti di keluarga ini. Biar aku bisa pasang badan penuh buat lindungi nama Kesuma di depan direksi."
Mengambil alih kendali di saat krisis. Sangat brilian.
"Aku perlu waktu berpikir, Al." Shanaya menarik lengannya perlahan dari cengkeraman pria itu. Ia memberikan satu anggukan kecil sebelum melangkah pergi. Meninggalkan Alvian yang masih mempertahankan senyum hangatnya, meski urat di leher pria itu berkedut pelan.
Shanaya tidak punya waktu meladeni parasit itu malam ini. Target utamanya baru saja berjalan keluar menuju area balkon VIP.
Udara malam Jakarta menyambut kulitnya saat Shanaya mendorong pintu kaca ganda tersebut. Suasana balkon jauh lebih sepi. Hanya ada beberapa kursi rotan dan sebuah meja kaca bundar.
Steven berdiri bersandar di pagar pembatas balkon. Pria itu memutar sebuah korek api perak di sela jari-jarinya. Suara logam bergesekan itu terdengar berirama dan mengintimidasi.
"Nona Kesuma." Suara bariton itu berat dan datar. Steven bahkan tidak menoleh saat Shanaya melangkah mendekat. "Undangan VIP malam ini disortir langsung oleh asisten saya. Saya yakin namamu tidak ada di daftar."
"Aku pinjam undangan milik manajer pemasaranku." Shanaya berhenti dua langkah di sisi kiri pria itu. "Acaranya lumayan membosankan."
Steven menghentikan putaran korek apinya. Pria itu menoleh perlahan. Mata hitam kelamnya menabrak tatapan Shanaya.
"Keberanian yang konyol." Steven memasukkan korek itu ke dalam saku celananya. "Datang ke acara pria yang baru saja menelanjangi dan menghancurkan masa depan adik sepupumu di depan seluruh negeri."
"Adik sepupuku menghancurkan dirinya sendiri." Shanaya meletakkan gelasnya di atas meja kaca. "Mediamu cuma membacakan vonis eksekusinya."
Mata Steven menyipit. Pria itu tidak terbiasa dibantah, apalagi oleh gadis belasan tahun yang status keluarganya sedang terbakar habis.
"Reporter saya, Mira, bilang dia dapat bukti transfer suap itu dari sumber anonim." Nada bicara Steven turun satu oktaf. Udara di balkon mendadak terasa menyempit. "Tapi melihat kamu berdiri di sini dengan tenang sementara keluargamu bersembunyi ketakutan, tebakan saya soal dalang di balik layar rupanya tidak meleset."
Shanaya menolak mundur. Aroma kayu dan mint dari parfum Steven tercium jelas. Sangat maskulin, tajam, dan mematikan.
"Artikel itu menaikkan rating Kanal Satu tiga ratus persen dalam semalam. Server portal beritamu bahkan sempat jebol." Shanaya membalas tatapan itu tanpa gentar. "Aku kasih kamu kemenangan mutlak. Kamu harusnya berterima kasih."
"Saya paling benci meja redaksi saya dipakai sebagai tempat sampah untuk membuang masalah internal keluargamu." Steven memajukan tubuhnya. Jarak mereka menipis berbahaya. "Kamu memotong tangan kanan keluargamu sendiri. Untuk apa?"
"Karena tangan itu sudah infeksi." Shanaya menjawab cepat. "Lebih baik diamputasi paksa sekarang daripada dibiarkan membusuk dan membunuh seluruh tubuh."
Keheningan turun menyelimuti mereka berdua. Deru kendaraan dari jalan raya di bawah gedung terdengar sayup-sayup.
Steven menatap gadis di depannya lekat-lekat. Ia melihat kekosongan gelap dan kalkulasi brutal di mata Shanaya. Gadis ini sedang membersihkan rumahnya dengan cara membakarnya dari dalam.
"Opini publik itu binatang buas." Steven berdiri tegak kembali. Ia merapikan ujung jasnya. "Sekali kamu melepaskan rantainya, kamu tidak bisa mengontrol siapa yang akan digigit besok pagi."
"Makanya aku butuh kamu."
Steven mendengus pelan. Sebuah tawa kering yang merendahkan. "Saya bukan anjing penjaga siapa pun."
Shanaya menahan napas sekian detik. Otaknya berputar cepat. Ini terlalu cepat. Membuka kartu as sekarang bisa jadi bumerang yang langsung membunuhnya. Pria di depannya terlalu cerdas, tapi ia butuh sesuatu yang sangat besar untuk membuat Steven berhenti menatapnya sebelah mata.
Ia mengambil risiko itu.
"Tapi tahun depan kamu butuh aku." Shanaya melipat tangannya di dada. "Saat Aditya Media Group butuh injeksi dana raksasa untuk peluncuran layanan streaming digital baru, Kesuma Group akan jadi satu-satunya investor yang berani kasih modal tanpa menuntut kursi pengawas di meja redaksimu."
Gerakan tangan Steven terhenti total.
Suasana di balkon itu mendadak beku. Rencana peluncuran streaming digital itu adalah proyek rahasia tingkat tinggi. Ia baru mendiskusikannya dengan dua pemegang saham mayoritas kemarin siang di ruangan kedap suara. Belum ada satu pun dokumen fisik yang dicetak.
Steven melangkah maju. Matanya menggelap. Aura permusuhan menguar sangat pekat dari tubuh pria itu, menekan oksigen di sekitar Shanaya.
"Kalau kamu benar-benar tahu proyek itu," suara Steven merendah, berat dan penuh ancaman yang tidak ditutup-tutupi, "berarti ada dua kemungkinan."
Pria itu menatap Shanaya lurus. Sudut bibirnya melengkung tipis, membentuk senyum yang lebih mengerikan daripada kemarahan.
"Kamu membobol sesuatu yang seharusnya tidak bisa dibobol..." Steven menjeda kalimatnya, membiarkan ancaman itu menggantung di udara. "Atau kamu jauh lebih berbahaya dari yang saya kira."
Jantung Shanaya berdetak lebih cepat. Namun, ia tidak memalingkan wajahnya sedikit pun. Ia menantang tatapan mematikan itu dengan dagu terangkat.
Steven menatapnya lama. Membedah setiap inci ketenangan di wajah gadis itu. Pria itu lalu memasukkan tangan ke saku dalam jasnya. Ia menarik keluar sebuah kartu hitam pekat elegan.
Steven meletakkan kartu namanya di meja kaca. Bunyi ketukan pelan itu memecah ketegangan.
"Jika kamu memang sepintar yang tidak dikatakan semua orang, kita bisa bicara lagi."
Steven pergi tanpa menoleh lagi. Pintu kaca balkon tertutup pelan di belakang punggungnya.
Shanaya membuang napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Ia menunduk menatap kartu hitam di atas meja. Nama itu tercetak sederhana namun mengintimidasi dengan huruf perak timbul: Steven Aditya.
Di kehidupan lalu, pria itu adalah algojo yang menghancurkan hidupnya di depan seluruh negeri.
Kali ini, Shanaya akan memastikan pria itu berdiri di sisinya saat dunia mulai terbakar.