Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 – (FLASHBACK) Naya
Orientasi Mahasiswa Baru – 2019
“Naaaay, cepetan!” Devi teriak dari dalam barisan di tengah lapangan kampus biru yang megah.
Aku yang membawa atribut mahasiswa baru, name tag, topi kertas, dan tas menurunkan tas di pinggir lapangan, lalu bergegas melangkah masuk ke lapangan, mau berdiri di sebelah Devi dan yang lainnya.
Jeng!
Seorang senior pria berambut kriwil, memakai jaket almamater, berdiri menghalangiku maju. Dengan senyuman nakalnya dia berkata, “Terlambat ya?”
Aku melihat jam tangan, “Nggak, Kak! Pas!”
“Terlambat!” kata si kriwil itu sambil menunjukkan jam tangannya yang pas sekali menujukkan pukul 7:00.
Aku terdiam, bete. Kalau dia nggak ngalangin, tadi aku nggak terlambat!
“Yang terlambat di sebelah sana!”
Alfian datang dengan langkah santai, menepuk si kriwil itu, “Bro! Kasian, udah lari-lari tapi malah kena hukuman terlambat.”
“Lagian yang bikin terlambat kan, kakak!” kataku kesal.
“Eh, berani juga lu!” si kriwil itu kaget. “Nama lu siapa?”
Si kriwil dan Alfian melihat name tagku.
“Oh, Naya,” kata mereka bersamaan.
Terdengar suara priwitan kencang.
“Buruan sana lu, nugas!” kata Alfian pada si kriwil.
Si kriwil itu bergegas pergi ke tengah lapangan.
Alfian menatapku, “Sana cepet ke barisan!”
“Makasih, Kak…?” kataku bertanya siapa namanya.
“Alfian!” dia mengulurkan tangannya.
Aku menjabatnya dengan cepat, lalu bergegas ke barisan. Sejak pertemuan itu, aku jadi dekat dengannya. Alfian jadi kakak tingkat yang selalu membantuku. Mencarikan soal ujian tengah semester tahun sebelumnya. Mencarikan buku-buku lungsuran senior. Dan juga membantu aku mencarikan tempat magang. Sampai akhirnya di wisuda-annya.
Wisuda Alfian
Alfian yang lebih tua setahun dariku, lulus lebih dulu. Masa-masa kuliah aku dan Alfian terpotong oleh covid. Jadi aku dan Alfian tidak benar-benar pacaran. Selain karena jarang ketemu, memang tidak ada perkataan minta jadi pacar atau apa di antara kami. Tapi aku dan Alfian sama-sama tidak dekat dengan siapa pun. Dan ke mana-mana, Alfian selalu bersamaku, menjemputku, mengantarku pulang. Nonton dan lainnya. Layaknya pacaran.
Hari itu aku duduk di sebelah orang tuanya melihat acara wisuda. Aku juga ikut makan siang bersama dengan keluarganya Alfian untuk merayakan kelulusannya. Semuanya berlangsung lancar, sampai ketika aku sibuk skripsi.
Alfian menghilang.
Aku kontak tidak dijawab. Aku datang ke rumahnya, dia tidak ada. Tidak ada yang tahu kenapa. Akhirnya aku menenggelamkan diri ke skripsiku. Ketika aku wisuda di tahun berikutnya, Alfian tidak datang. Momen wisuda yang harusnya menyenangkan. Aku merasa sebaliknya.
“Kamu terharu ya, Nak?” kata mamaku, begitu aku menangis karena tidak bisa menahan kekesalan tidak datangnya Alfian.
Aku hanya bisa mengangguk.
Devi yang datang bersama pacarnya, tahu kalau aku tidak terharu.
“Besok kita cari Alfian!” bisik Devi.
“Emang dia ke mana?” tanyaku.
“Cari kerja di Bandung!” kata pacarnya Devi kala itu – sekarang sudah putus.
Bandung - 2023
Aku dan Devi ke Bandung naik travel. Lalu memergoki Alfian yang bekerja di sebuah ruko tempat perusahaan game lokal.
“Kamu ngapain?” Alfian kaget melihatku.
Aku merasa percuma. Aku langsung balik badan, lalu pergi.
“Naya!” Devi dan Alfian sama-sama memanggilku.
Devi menarik tanganku, “Udah sampe sini, udah ketemu, kenapa malah pergi?”
“Aku merasa bodoh! Ngapain ngejar orang yang nggak mau sama aku!”
Alfian menarik tanganku lalu berkata, “Maaf. Aku harusnya nggak menghilang.”
Kami pun pindah ke kafe lain, karena malu sudah bikin kericuhan.
Alfian menjelaskan bahwa dia sebetulnya malu padaku karena setahun nganggur, susah dapet kerjaan. “Ini aja aku baru dapet kerjaan di sini.”
“Kamu malu sama aku?”
“Sori,” Alfian menundukkan kepala.
“Serius, itu aja, bukan gara-gara ada cewek Bandung?” Devi bertanya curiga.
“Sumpah! Demi! Nggak ada cewek lain!” Alfian menunjukkan kedua jarinya.
Aku dan Alfian liat-liatan.
“Jadi gimana? Mau balikan apa gimana ini? Malah liat-liatan!” Devi teriak kesal.
Aku dan Alfian terkekeh.
Pernikahan Risa
Sebulan setelah pernikahan Risa. Alfian mengajakku makan malam di sebuah kafe yang bisa melihat MRT. Area rooftop-nya tidak terlalu luas, tapi ditata dengan cerdas. Meja-meja kayu kecil berjajar rapi, sebagian dilindungi payung kain berwarna krem yang bergoyang pelan tertiup angin. Lampu-lampu gantung dengan cahaya kuning temaram melintang di atas, seperti bintang buatan yang sengaja diturunkan agar malam terasa lebih dekat.
Beberapa pengunjung sengaja memilih duduk menghadap rel itu, seolah sedang menonton film tanpa layar. Ada yang sibuk mengetik di laptop, ada yang berbincang pelan, dan ada juga yang hanya diam, memeluk cangkir kopi sambil menatap kereta yang datang dan pergi—mungkin sambil memikirkan sesuatu yang juga sedang “dalam perjalanan”.
Aku kala itu, lagi nggak mood banget. Karena aku merasa terlalu sering bertanya kemana arah hubungan kita, tapi Alfian selalu bilang jalanin aja dulu. Padahal papa dan mama selalu menyuruhku agar jangan lama-lama, karena kan sudah lama kenal.
“Kalau makan di atas sini, ujan nggak sih?” kataku bete. Emang sih bagus, bisa ngeliat MRT lewat, tapi kan nggak ada atapnya.
“Kamu nggak suka?”
“Suka sih, tapi kalau ujan gimana?”
“Kalau ujan, ya pindah ke bawah lah,” Alfian memilih makanan di buku menu.
Aku dan Alfian sama-sama memesan ramen. Setelah pelayan pergi mencatat pesanan kami, Alfian berkata, “Kak Risa sama suaminya gimana?”
“Nggak gimana-gimana.”
“Udah isi?”
“Udah kali!”
“Cepet banget! Alhamdulillah.”
“Isi lontong.”
“Eh!” Alfian menepuk lenganku kesal, “Kirain beneran hamil!”
“Ya mana aku tahu lah. Emangnya aku bidannya Kak Risa, sampe tau udah isi apa belum?”
“Kali aja, ada cerita-cerita.”
“Nggak.”
“Kamu kenapa sih?”
“Kenapa?” tanyaku kesal.
“Kayak bete gitu.”
“Nggak.”
“Jawab nggaknya, kayak bete,” Alfian manyun.
“Nggaaaaaak!” kataku makin kesal.
“Ya udah. kalau lagi bete, aku nggak jadi ngomongin soal kita.”
Aku termenung. Alfian menatap ponselnya, sok cuek.
“Eh! Ditungguin, malah main hape!” kataku merebut ponselnya.
“Katanya lagi bete!”
“Sumpah ya. Hapenya aku buang tuh sampe kena MRT!”
“Oke. Aku ngomong. Tapi kamu jangan marah dong! Udahan betenya.”
“Ya udah, apa?”
“Aku mau ngajak keluarga ngelamar kamu,” kata Alfian pelan lalu tersenyum.
kapaannn lagi yaa Maaaaa punya calon mantu aktor terkenal 😂😂
masa mnta dibalikin lagi cincin nyaa /Facepalm/
dijudesin,egonya tinggi.klo elo sifatnya sprt itu nay cocok tu ma Alfian!!
baca ni Noval lama"MLS bet