Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
akhir dari sektor 3
BOOM! BOOM! BOOM!
Malam yang gelap seketika berubah menjadi benderang bagaikan siang hari ketika puluhan proyektil meriam dan roket yang ditembakkan oleh armada Sektor 3 menghantam perimeter luar Sektor 7. Ledakan demi ledakan beruntun menciptakan bola api raksasa yang membubung tinggi ke langit, mengguncang fondasi bumi dengan kekuatan yang mampu meruntuhkan pangkalan militer standar dalam sekejap.
Di dalam kabin tank The Goliath, Jenderal Markus menyeringai puas melihat kobaran api yang melahap dinding beton pertahanan musuh. "Hancur kalian! Rasakan akibatnya karena berani menantang kekuasaanku!" raungnya melalui interkom.
Namun, seringai Markus tidak bertahan lama. Ketika asap tebal akibat ledakan perlahan tersapu oleh angin malam, pemandangan di depannya membuat mata sang Jenderal membelalak tak percaya.
Sebuah kubah energi transparan berwarna ungu pekat berdiri kokoh, menyelimuti seluruh area inti Sektor 7. Puluhan proyektil meriam kaliber 155mm tadi tidak menghantam beton, melainkan meledak di permukaan perisai energi tersebut, meninggalkan riak-riak gelombang elektromagnetik yang perlahan memudar. Elara dan Leonard masih berdiri tegak di atas dinding pertahanan, menatap armada Sektor 3 dengan pandangan meremehkan.
"Sialan! Perisai energi macam apa itu?! Mengapa dayanya begitu besar?!" pekik Markus, memukul panel kendali di depannya dengan murka. "Terus menembak! Jangan beri mereka waktu untuk mengisi ulang dayanya!"
Di atas dinding, Elara melirik layar sistemnya yang mengambang di udara.
┌───────────────────────┐
SISTEM: STATUS PERISAI ENERGI (DARK MATTER SHIELD)
[KAPASITAS DAYA: 98.2%]
[KERUSAKAN STRUKTUR: 0%]
[PEMBERITAHUAN: ENERGI SURGE DARI INTENSITAS MERIAM DAPAT DIALIHKAN]
└────────────────────────┘
"Arkan, gunakan energi dari sisa ledakan mereka untuk mengisi daya meriam plasma kita. Mari kita beri Jenderal tua ini sedikit kejutan balik," perintah Elara dingin.
"Dimengerti, Nona. Sinkronisasi energi selesai. Meriam Plasma Cadangan... Siap memuntahkan fusi!" jawab Arkan dari ruang kendali, jemarinya menari di atas keyboard virtual.
WUUUSSSHHH!
Dua menara pertahanan otomatis di sisi kiri dan kanan pangkalan mendadak bergeser. Moncongnya yang berbentuk silinder besar mulai berpendar terang dengan cahaya biru elektrik yang menyilaukan mata.
ZAPPPPP!
Dua berkas sinar laser plasma murni melesat cepat, membelah barisan infanteri Sektor 3 di bawahnya. Sinar itu memiliki panas mencapai ribuan derajat Celsius. Dalam waktu kurang dari satu detik, tiga truk taktis musuh langsung meleleh menjadi genangan logam cair, sementara ratusan prajurit di sekitarnya yang terkena radiasi panas langsung menjelma menjadi abu hitam dalam sekejap tanpa sempat berteriak.
"Arghhh! Mundur! Hindari sinar itu!" teriak para komandan lapangan Sektor 3 yang mulai panik melihat anak buah mereka lenyap menguap begitu saja.
"Herra, Tobi, gerak," perintah Leonard, suaranya yang dalam menggema melalui alat komunikasi tim. "Jangan biarkan infanteri mereka mendekati perimeter bawah."
"Dimengerti, Bos," sahut Herra dari menara runduknya.
BOOM!
Senapan anti-material kaliber .50 miliknya berbunyi. Di ujung lapangan, kepala seorang kapten infanteri Sektor 3 meledak berkeping-keping saat ia baru saja akan mengarahkan peluncur roketnya. Herra bergerak dengan ritme yang mematikan; setiap detak jantungnya berarti satu nyawa perwira musuh melayang.
Sementara Herra mengacaukan garis komando musuh dari kejauhan, Tobi telah melompat turun dari dinding setinggi belasan meter menggunakan kemampuan kelincahan Awakened-nya. Tubuhnya mendarat tanpa suara di tengah kepulan asap mesiu, tepat di belakang barisan pasukan elit Sektor 3.
"Siapa itu—"
Sebelum prajurit itu selesai berbalik, belati kembar Tobi sudah melesat maju, merobek tenggorokan pria itu hingga darah segar menyembur deras. Tobi bergerak bagaikan badai bayangan di antara kepanikan musuh. Belatinya menusuk, menyayat, dan memotong bagian-bagian vital tubuh manusia dengan akurasi yang mengerikan.
CRASH! SLICE!
Lengan-lengan terputus bersama dengan senapan yang mereka pegang, jeroan perut terburai ke aspal yang berdebu saat Tobi menembus barisan pertahanan mereka. Bau anyir darah yang pekat langsung memenuhi udara malam yang dingin.
Jenderal Markus yang melihat pasukannya dibantai dari atas tank The Goliath semakin kehilangan akal sehatnya. Ia melepaskan lencana militer di dadanya, mengaktifkan kemampuan tersembunyinya sendiri sebagai seorang Awakened Tingkat Tinggi dengan tipe Earth Manipulation.
"Kau pikir kau bisa mengalahkanku di atas tanah ini, Elara?!" raung Markus. Ia melompat turun dari tank, menghantamkan kedua telapak tangannya ke permukaan tanah gersang.
"EARTHquake CRUSH!"
BRRRRRRRRRR!
Tanah di depan pangkalan Sektor 7 mendadak terbelah dan berguncang hebat. Retakan-retakan raksasa menjalar cepat menuju dinding pertahanan pangkalan, memunculkan pilar-pilar batu tajam setinggi lima meter yang siap menusuk kapan saja. Guncangan ini sangat masif, membuat beberapa kendaraan taktis milik Sektor 7 yang terparkir di dalam gerbang ikut bergetar.
Melihat serangan masif berbasis elemen bumi tersebut, Elara sama sekali tidak bergeming. Ia melangkah maju ke bibir dinding, gaun hitamnya berkibar hebat seiring dengan tekanan angin yang dihasilkan oleh kekuatan Markus.
"Manipulasi bumi? Sungguh kemampuan yang primitif," cibir Elara pelan. Ia mengangkat tangan kanannya, mengarahkan telapak tangannya langsung ke arah pilar-pilar batu yang sedang melaju ke arahnya.
"GRAVITY DOMAIN: REVERSE IMPACT."
WUUUUSSSSHHHH!
Medan gravitasi tak terlihat berkekuatan ratusan kali lipat dari gravitasi bumi mendadak menekan area di depan pangkalan. Pilar-pilar batu raksasa yang dibangkitkan oleh Markus mendadak berhenti bergerak di udara. Tekanan gravitasi yang amat sangat besar itu menghantam batuan tersebut dari atas, meremukkannya hingga menjadi butiran pasir halus dalam hitungan detik.
Tidak berhenti sampai di situ, Elara membalikkan telapak tangannya. Medan gravitasi ekstrim itu kini berpindah dan menekan langsung ke arah sisa-sisa pasukan infanteri Sektor 3 yang berada di sekitar Markus.
CRUNCH! CRUNCH! CRUNCH!
Suara remukan tulang manusia yang patah secara serentak terdengar begitu mengerikan. Ratusan prajurit Sektor 3 mendadak jatuh bertumpu pada lutut mereka sebelum tubuh mereka ambruk, terperosok ke dalam tanah beton yang retak karena tidak kuat menahan beban tubuh mereka sendiri yang mendadak seberat puluhan ton. Organ dalam mereka hancur, darah segar menyembur keluar dari mulut, hidung, dan mata mereka akibat tekanan internal yang meledak.
Markus sendiri terengah-engah, berlutut dengan satu kaki sambil menahan tekanan gravitasi Elara yang menindih pundaknya bagaikan sebuah gunung tak kasat mata. Wajahnya yang penuh kerutan kini dialiri peluh keringat dingin dan darah yang mulai menetes dari lubang hidungnya.
"K-Kau... monster..." bisik Markus dengan napas yang terputus-putus, menatap Elara yang kini memandangnya dari atas dinding dengan tatapan dingin layaknya seorang dewi kematian yang sedang mengadili mangsanya.
🧟♀️🧟♀️🧟♀️🧟♀️
Bau karat darah dan belerang yang menyengat mengepul dari dataran yang amblas di depan gerbang Sektor 7. Di bawah tekanan medan gravitasi Elara yang mengerikan, sisa-sisa Divisi Utama Sektor 3 kini tak lebih dari hamparan daging yang melekat di tanah. Tulang-tulang yang patah dan armor yang ringsek menjadi satu, mengunci ratusan prajurit dalam posisi bersujud paksa yang mematikan.
Di tengah lingkaran pembantaian itu, Jenderal Markus masih bertahan. Sebagai Awakened Tingkat Tinggi, struktur tubuhnya jauh lebih padat dari manusia biasa, namun sepasang lututnya telah retak membentur aspal. Urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol parah, nyaris pecah akibat tekanan udara yang berlipat ganda.
"A-Aku... Jenderal Markus... tidak akan kalah dari pelacur sepertimu!" raung Markus, suaranya parau tersendat darah.
Dengan sisa kekuatannya, Markus memaksakan tangannya bergerak, mencoba mencengkeram sebongkah batu besar di dekatnya untuk memicu mutasi elemen bumi terakhirnya. Namun, sebelum jemarinya menyentuh batu, sesosok bayangan besar meluncur dari atas dinding pertahanan dengan kecepatan kilat.
BLAAAM!
Leonard mendarat tepat di depan Markus, menciptakan dentuman kecil yang menerbangkan debu-debu berdarah. Tanpa sepatah kata pun, tangan kiri Leonard bergerak secepat kilat, mencengkeram rahang Markus dengan cengkeraman besi seorang Supreme Warrior.
KRETEK.
"Arghhh!" Markus melenguh tertahan saat tulang rahangnya bergeser dan retak seketika.
Leonard mengangkat tubuh Jenderal tua itu dengan satu tangan, membiarkan kaki Markus bergelantungan di udara. Pedang hitam besar di tangan kanan Leonard menempel tepat di dada Markus, siap menembus jantungnya kapan saja. "Kau terlalu banyak bicara untuk seorang pecundang yang sebentar lagi akan menjadi pupuk," ujar Leonard, suaranya sedingin es malam gurun.
Dari atas dinding, Elara melangkah turun. Sepatu bot taktisnya mengetuk tangga beton dengan ritme yang anggun namun penuh intimidasi. Di belakangnya, Arkan terus memantau tablet digitalnya, memastikan tidak ada satu pun unit musuh yang lolos dari perimeter Sektor 7.
"Leo, turunkan dia," perintah Elara begitu kakinya menginjak tanah yang berlumuran darah.
Leonard melemparkan tubuh Markus ke hadapan Elara seperti melemparkan sekarung sampah. Markus terbatuk-batuk, memuntahkan gumpalan darah hitam ke atas bot bersih milik Elara. Namun, Elara tidak menghindar; ia justru menginjak tangan kanan Markus yang mencoba merangkak maju.
CRUNCH!
"Gaaaah!" Markus menjerit saat tulang-tulang jemarinya remuk di bawah tumit sepatu Elara.
"Jenderal Markus," Elara membungkuk sedikit, matanya yang berwarna ungu gelap menatap langsung ke dalam manik mata Markus yang dipenuhi ketakutan teramat sangat. "Kekuasaanmu di Sektor 3 selesai malam ini. Semua asetmu, senjatamu, dan laboratorium milikmu... sekarang adalah milik Kekaisaran Quizel."
"K-Kau... tidak akan bisa... Sektor Pusat... Sektor 1... mereka akan menghancurkanmu..." ancam Markus dengan napas yang tersengal-sengal, mencoba menggunakan nama Sektor Pusat sebagai pelindung terakhirnya.
Mendengar kata 'Sektor 1', mata Elara berkilat penuh minat. Ingatannya langsung kembali pada monolog malamnya tentang asal-usul hujan darah dan sinar biru. "Sektor Pusat? Justru mereka yang sedang kutunggu, Markus. Tapi sayang, kau tidak akan hidup cukup lama untuk melihat bagaimana aku meruntuhkan menara mereka."
Elara berdiri tegak kembali, membelakangi Markus seolah pria itu sudah tidak lagi memiliki nilai untuk diajak bicara. Ia mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat kepada Arkan.
"Arkan, aktifkan Tank Penghancur The Goliath milik mereka yang sudah kaubajak. Gunakan meriam ganda 155mm-nya untuk mengeksekusi Jenderal mereka sendiri. Biarkan dia mati oleh senjata kebanggaannya."
"Dengan segala hormat, Nona Ratu," jawab Arkan dengan senyum sadis. Jarinya menekan tombol perintah pada layar virtual.
Di belakang mereka, menara meriam ganda dari tank raksasa The Goliath yang tadinya mati mendadak berputar lambat. Moncong hitam besar berdiameter raksasa itu merunduk, membidik langsung ke arah tubuh Markus yang terbaring tak berdaya di atas tanah gersang.
Markus menatap dua lubang gelap di depannya dengan mata membelalak liar. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai tiran, ia merasakan sensasi dingin dari kematian yang mutlak. "T-Tunggu! Elara! Jangan—"
BOOOOOMMMM!!!
Ledakan jarak dekat itu menggelegar dahsyat, menghancurkan tubuh Jenderal Markus beserta aspal di bawahnya hingga menjadi serpihan debu dan cairan merah yang menguap seketika. Tirani Sektor 3 telah berakhir dengan cara yang paling mengenaskan di tangan senjatanya sendiri.
Sistem di dalam kepala Elara mendadak berdengung keras, memunculkan rentetan laporan kemenangan yang luar biasa manis di layar hologramnya.
┌───────────────────────┐
SISTEM: KEMENANGAN MUTLAK TERHADAP SEKTOR 3!
[JENDERAL MARKUS: TEWAS / DIEKSEKUSI]
[DIVISI UTAMA SEKTOR 3: MUSNAH REKOR PERTEMPURAN 100%]
[ASET BARU: 1 TANK TITAN 'THE GOLIATH', 42 KENDARAAN TAKTIS]
[PROGRES OTORITAS WILAYAH: SEKTOR 3 SEPENUHNYA DIKUSASI]
[NOTIFIKASI: 1/3 SEKTOR BESAR TERCAPAI UNTUK MEMBUKA DATA INTARSIA]
└──────────────────────┘
Elara menatap layar tersebut dengan senyum puas yang mematikan. "Satu dari tiga sektor besar telah jatuh... Jalan menuju rahasia kiamat ini semakin terbuka lebar."
Dari arah barak, Pak Jaka kembali muncul dengan pasukan gerobak dan cairan dekomposisinya, wajah paruh bayanya tampak sangat cerah melihat 'ladang bahan baku' baru yang jauh lebih luas dari kemarin. "Aduh, Nona Elara! Ini panen raya! Benar-benar panen raya untuk ladang kita!" seru Pak Jaka gembira, langsung memimpin anak buahnya untuk membersihkan sisa-sisa pertempuran akbar malam itu.
Bersambung 🧟♀️🧟♀️ 🧟♀️
kalo gak udah ikut jado zombie kalian 😬
gas donk kalo giniii, enak bener sistemny 🤤
jadi pengen dehh /Hey//Hey//Hey/
copy kekuatan pasukanmu!