Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Memulai Babak Baru
Tiga bulan setelah liburan ke pantai, kehidupan Aisha berangsur-angsur menemukan ritme barunya. Rumah di kawasan permata hijau yang dulu terasa sunyi dan mencekam, kini berubah menjadi tempat yang hangat dan nyaman. Tanaman-tanaman di taman belakang tumbuh subur, bunga-bunga bermekaran dengan warna-warni yang cerah. Aisha merawat semuanya sendiri, seolah merawat tanam-tanaman itu adalah cara ia merawat hatinya yang perlahan sembuh.
Bisnis kateringnya mulai berkembang. Bukan menjadi usaha besar, tapi cukup untuk membuatnya sibuk dan merasa berguna. Aisha bangun setiap pagi dengan daftar pesanan yang harus disiapkan, bahan-bahan yang harus dibeli, dan jadwal antar yang harus diatur. Kesibukan itu membantunya tidak terlalu banyak merenung dan mengingat masa lalu.
Baskara juga semakin membaik. Sesi terapi dengan Dokter Andini berjalan lancar. Baskara tidak lagi terbangun di tengah malam karena mimpi buruk. Ia mulai mau bermain dengan teman-temannya, mulai mau berbicara tentang perasaannya tanpa harus ditanya berkali-kali. Dokter Andini bilang kemajuan Baskara sangat pesat, dan itu tidak lepas dari dukungan Aisha dan Arka yang konsisten.
Arka sendiri kini lebih sering hadir dalam kehidupan Baskara. Ia datang setiap akhir pekan, kadang membawa Baskara bermain ke luar, kadang hanya duduk-duduk di ruang tamu sambil menemani Baskara mengerjakan PR. Aisha dan Arka sudah tidak canggung lagi berbicara. Mereka bisa tertawa bersama, bercerita tentang hari mereka, bahkan kadang berdebat ringan tentang hal-hal sepele.
Tapi mereka tidak lagi membahas tentang kemungkinan bersama. Itu adalah topik yang sengaja mereka hindari. Bukan karena tabu, tapi karena mereka berdua sepakat untuk tidak terburu-buru. Luka masih terlalu segar, dan mereka tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
---
Pagi itu, Aisha sedang menyiapkan pesanan katering untuk pelanggan tetapnya, seorang ibu muda dengan dua anak balita yang tidak punya waktu memasak karena sibuk bekerja. Menu hari ini adalah sup krim ayam, brokoli panggang, dan puding buah untuk pencuci mulut.
Aisha mengaduk sup di atas kompor, menambahkan sedikit merica dan pala untuk memberi rasa yang khas. Ia berkonsentrasi penuh, mencicipi kuah sup dengan sendok kayu, lalu mengangguk puas.
Ponselnya berdering. Aisha mengambilnya dari saku celemek, melihat layar. Arka.
“Halo, Arka? Ada apa? Ini masih pagi.”
“Selamat pagi juga, Aisha. Maaf mengganggu. Aku hanya ingin bilang, hari ini aku ada urusan di dekat rumahmu. Aku mampir sebentar, mau lihat Baskara.”
“Baskara masih tidur. Dia libur sekolah hari ini. Tapi boleh saja, kamu mampir. Aku buatkan sarapan.”
“Terima kasih, Aisha. Aku akan sampai dalam setengah jam.”
Panggilan berakhir. Aisha tersenyum kecil. Arka sering mampir tanpa alasan yang jelas akhir-akhir ini. Kadang ia bilang ada urusan di dekat rumah, kadang ia bilang ingin mengembalikan barang Baskara yang tertinggal, kadang ia hanya bilang “sekadar mampir”. Aisha tidak mempermasalahkan. Ia justru senang Baskara bisa bertemu ayahnya lebih sering.
---
Setengah jam kemudian, bel pintu berbunyi. Aisha membuka pintu dengan celemek masih terikat di pinggang, rambut diikat asal, dan wajah sedikit berkeringat karena masak.
Arka berdiri di ambang pintu dengan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam. Ia tampak rapi, berbeda dengan Aisha yang terlihat berantakan.
“Masuklah. Maaf, aku sedang masak. Rumah sedikit berantakan.”
“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa.” Arka masuk, melepas sepatunya, lalu berjalan ke ruang tamu. “Baskara masih tidur?”
“Ya. Biar kubangunkan.”
“Jangan. Biarkan dia tidur. Dia butuh istirahat.”
Aisha mengangguk. Ia kembali ke dapur, menyelesaikan pesanan kateringnya. Arka mengikutinya, berdiri di ambang pintu dapur.
“Ada yang bisa aku bantu?”
“Tidak usah. Kau duduk saja di ruang tamu. Aku sudah siapin kopi.”
“Aku lebih suka di sini. Melihat kau masak.”
Aisha tersenyum tipis. “Dulu kau tidak pernah bilang begitu.”
“Dulu aku bodoh. Sekarang aku belajar menghargai hal-hal kecil.”
Aisha tidak menjawab. Ia melanjutkan memasak, sementara Arka berdiri di ambang pintu, sesekali bertanya tentang menu, sesekali memuji aroma masakan.
“Aisha, aku mau cerita sesuatu.”
“Apa?”
“Mia akan keluar dari panti rehabilitasi bulan depan.”
Aisha berhenti mengaduk sup. Ia menoleh, menatap Arka. “Dia sudah sembuh?”
“Terapisnya bilang kemajuannya sangat baik. Mia sudah bisa mengelola emosinya. Dia tidak lagi paranoid. Dia juga sudah tidak perlu minum obat penenang.”
“Itu kabar baik. Aku senang mendengarnya.”
“Dia akan tinggal di rumah perlindungan untuk sementara waktu. Tapi dia sudah punya rencana. Dia ingin membuka usaha kecil-kecilan, mungkin menjual kue atau kerajinan tangan.”
Aisha mengangguk. “Aku bisa bantu. Aku punya banyak pelanggan katering. Mungkin mereka tertarik.”
Arka tersenyum. “Terima kasih, Aisha. Aku tahu kau masih punya perasaan campur aduk tentang Mia. Tapi tawaranmu sangat berarti.”
“Aku tidak melupakan apa yang dia lakukan, Arka. Tapi aku juga tidak ingin terus membenci. Itu melelahkan.”
“Kau wanita yang kuat, Aisha.”
“Aku tidak kuat. Aku hanya lelah menjadi lemah.”
Mereka berdua terdiam. Suara sup mendidih di atas kompor mengisi keheningan.
---
Baskara turun dari kamar sekitar pukul sembilan. Matanya masih sayu, rambutnya acak-acakan, tapi senyumnya langsung mengembang begitu melihat Arka duduk di sofa ruang tamu.
“Ayah! Kok Ayah di sini?”
“Ayah mampir, Nak. Mau lihat kamu.”
Baskara berlari memeluk Arka. “Aku kangen, Ayah.”
“Ayah juga kangen. Kemarin Ayah telepon, kamu nggak angkat.”
“Maaf, Ayah. Aku ketiduran. Tadi malam aku begadang baca komik.”
Arka tertawa. “Jangan begadang terus, nanti kamu sakit.”
“Iya, Ayah.”
Aisha masuk ke ruang tamu dengan nampan berisi tiga piring nasi goreng dan tiga gelas jus jeruk. “Sarapan dulu, kalian. Nanti dingin.”
Mereka bertiga makan bersama di meja ruang tamu, seperti keluarga biasa. Baskara bercerita tentang komik yang ia baca, tentang karakter superhero favoritnya, tentang impiannya menjadi ilustrator suatu hari nanti.
Aisha dan Arka mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya, sesekali tertawa. Tidak ada yang mengingat masa lalu. Tidak ada yang membahas luka. Hanya kebahagiaan sederhana di pagi hari.
---
Setelah sarapan, Arka membantu Aisha membereskan meja. Baskara pergi ke kamar mandi, meninggalkan mereka berdua di dapur.
“Aisha, aku mau bicara serius.”
“Tentang apa?”
“Tentang kita.”
Aisha berhenti mencuci piring. Ia menoleh, menatap Arka. Wajah pria itu serius, matanya jujur.
“Apa yang ingin kau bicarakan?”
Arka menarik napas panjang. “Aku sudah berpikir panjang tentang ini. Aku sudah berkonsultasi dengan psikologku, dengan teman-teman dekatku, bahkan dengan Tono. Dan aku sampai pada satu kesimpulan.”
“Apa?”
“Aku ingin kita mencoba lagi, Aisha.”
Aisha membeku. Tangannya yang memegang spons cuci piring berhenti bergerak.
“Arka, aku—”
“Dengar dulu sebelum kau menjawab,” potong Arka. “Aku tidak memintamu untuk memutuskan sekarang. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku serius. Aku tidak ingin kita hanya menjadi teman yang baik untuk Baskara. Aku ingin kita menjadi pasangan lagi. Suami istri. Keluarga.”
Aisha menunduk. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan.
“Arka, apa kau yakin? Setelah semua yang terjadi? Setelah aku berselingkuh? Setelah aku menghancurkan kepercayaanmu?”
“Aku butuh waktu untuk menyembuhkan luka itu, Aisha. Dan aku sudah melewatinya. Aku sudah memaafkanmu. Bukan karena aku mudah melupakan, tapi karena aku tidak ingin kehilanganmu selamanya.”
“Tapi bagaimana jika aku melukaimu lagi? Bagaimana jika aku melakukan kesalahan yang sama?”
“Kita tidak akan pernah tahu sampai kita mencoba. Tapi satu hal yang aku tahu, Aisha. Kita berdua sudah berubah. Kita sudah belajar dari kesalahan. Kita tidak akan mengulanginya.”
Aisha terisak. Arka mendekat, memeluknya.
“Aku mencintaimu, Aisha. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Bahkan ketika kau berselingkuh, bahkan ketika kita bercerai, bahkan ketika aku marah dan sakit hati. Cintaku padamu tidak pernah pudar.”
“Arka, aku takut. Aku takut aku tidak pantas dicintai.”
“Kita semua tidak pantas, Aisha. Tapi cinta bukan tentang pantas. Cinta adalah pilihan. Dan aku memilih untuk mencintaimu.”
Aisha menangis di bahu Arka. Ia melepaskan semua beban yang selama ini ia pikul sendirian. Rasa bersalah, rasa takut, rasa tidak percaya diri—semuanya ia lepaskan dalam tangis itu.
Arka membiarkannya menangis. Ia mengusap punggung Aisha pelan, membisikkan kata-kata penghibur.
“Kita tidak perlu terburu-buru, Aisha. Kita bisa jalani perlahan. Kita bisa kencan lagi, seperti dulu. Kita bisa saling mengenal lagi sebagai pribadi yang baru. Tidak ada paksaan. Tidak ada target. Yang penting kita berdua nyaman.”
Aisha mengangguk di bahu Arka. “Baik. Kita coba. Perlahan.”
Arka tersenyum. “Itu yang ingin aku dengar.”
Mereka berdua berpelukan di dapur, di antara piring-piring yang belum selesai dicuci, di antara aroma sup yang masih tersisa, di antara sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela.
---
Baskara masuk ke dapur, matanya membulat melihat Aisha dan Arka berpelukan.
“Ayah, Ibu, kalian baikan lagi?”
Aisha dan Arka melepaskan pelukan. Aisha menyeka air matanya, tersenyum pada Baskara.
“Ibu dan Ayah sedang berusaha, Nak. Doakan ya.”
Baskara tersenyum lebar. “Aku doain setiap hari kok, Bu. Aku mau Ayah dan Ibu balikan.”
Arka mengusap rambut Baskara. “Doa kamu terkabul, Nak. Ayah dan Ibu akan coba lagi. Perlahan.”
Baskara berlari memeluk Aisha dan Arka bersamaan. Mereka bertiga berpelukan di dapur yang hangat.
“Aku seneng banget, Ayah, Bu,” bisik Baskara. “Aku kangen kita kayak dulu.”
“Kita tidak akan seperti dulu, Nak,” kata Aisha lembut. “Kita akan menjadi lebih baik dari dulu.”
---
Sore harinya, Arka pamit pulang. Baskara memeluknya erat-erat sebelum pergi.
“Ayah, besok main lagi, ya.”
“Besok Ayah ada rapat. Lusa, ya? Ayah janji.”
“Lusa, ya, Ayah. Jangan lupa.”
“Ayah tidak akan lupa.”
Arka menatap Aisha. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi ia hanya tersenyum. “Sampai jumpa, Aisha.”
“Sampai jumpa, Arka. Hati-hati di jalan.”
Arka berjalan keluar, masuk ke mobilnya, dan melaju perlahan meninggalkan rumah. Aisha berdiri di teras, melambai sampai mobil itu hilang di tikungan.
Baskara berdiri di sampingnya, menggenggam tangan Aisha.
“Bu, aku seneng.”
“Ibu juga seneng, Nak.”
“Aku doa setiap malam, supaya Ayah dan Ibu balikan. Dan sekarang doaku terkabul.”
Aisha menunduk, menatap Baskara. “Kamu memang anak yang baik, Nak. Ibu bersyukur punya kamu.”
“Aku juga bersyukur punya Ibu. Meskipun Ibu pernah salah, Ibu tetap Ibu terbaik.”
Aisha memeluk Baskara. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
---
Malam harinya, setelah Baskara tidur, Aisha duduk di teras belakang. Ia memandangi taman yang mulai gelap, bunga-bunga yang tertidur, dan langit yang dipenuhi bintang.
Ponselnya berdering. Arka.
“Sudah tidur?” tanya Arka.
“Belum. Masih di teras. Menikmati malam.”
“Aku juga. Di balkon apartemen. Memandangi langit Jakarta yang jarang berbintang.”
Aisha tersenyum. “Di sini bintangnya banyak. Sayang kau tidak di sini.”
“Aku akan sering ke sana. Kalau kau mengizinkan.”
“Aku mengizinkan. Baskara pasti senang.”
“Aku tidak bertanya tentang Baskara. Aku bertanya tentangmu.”
Aisha terdiam sejenak. “Aku juga senang, Arka. Tapi jangan berharap terlalu banyak. Aku masih butuh waktu.”
“Aku tahu. Aku tidak akan terburu-buru. Kita jalani saja hari demi hari.”
“Baik. Kita jalani hari demi hari.”
Mereka berbincang tentang banyak hal—tentang rencana akhir pekan, tentang terapi Baskara, tentang Mia, tentang bisnis katering Aisha. Percakapan mereka mengalir dengan alami, tanpa kecanggungan, tanpa beban.
“Aisha, aku ingin mengajakmu kencan. Bukan untuk Baskara, bukan untuk orang lain. Hanya untuk kita berdua.”
Aisha tersenyum. “Kencan seperti apa?”
“Kencan biasa. Makan malam, nonton film, atau sekadar jalan-jalan di mal. Yang penting kita berdua.”
“Baik. Aku terima.”
“Besok malam?”
“Besok malam. Aku akan titip Baskara pada tetangga.”
“Aku jemput jam tujuh.”
“Sampai jumpa, Arka.”
“Sampai jumpa, Aisha.”
Panggilan berakhir. Aisha memegang ponselnya, tersenyum lebar. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak takut.