Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pijakan kaki Laura di atas papan dermaga tua yang reyot mengirimkan getaran aneh, bukan hanya melalui telapak kakinya yang tertutup sepatu kets, tetapi juga meresap ke dalam jiwanya. Ia merasakan adanya anomali ganda, sebuah distorsi halus dalam belahan realitas yang terbagi, antara normal dan nuansa mistik. Di atas kepalanya, langit petang mulai merayap menuju senja, namun bukan senja yang biasa. Gerimis tipis nan dingin jatuh perlahan, membasahi ujung rambutnya, sementara di ufuk barat, matahari menyala merah denyan gagahnya, seolah-olah berdarah, memancarkan cahaya keemasan yang menembus tirai kelabu gerimis. Kombinasi kontras antara kehangatan dan dingin, cahaya dan remang, melahirkan sebuah pertanda, sebuah isyarat adanya momen pergeseran halus, perpindahan yang tak kentara, pergerakan yang tersembunyi dari pandangan awam, aktivitas terselubung, dan trik permainan tersembunyi oleh sentuhan tangan-tangan gaib.
"Kalian harus selalu mengingat di mana diri kalian seharusnya berada," bisik Laura, suaranya rendah namun penuh penekanan, matanya fokus menatap satu per satu ke arah tiga sahabatnya yang berdiri di sisinya. Pesan itu lebih dari sekadar peringatan; itu adalah penanda, sebuah penekanan pada batas-batas yang tidak boleh mereka langgar, posisi tetap yang tidak boleh mereka tinggalkan.
Pelayaran sungai kali ini jauh dari keramaian yang biasa. Hanya terdapat sekitar tiga puluh penumpang, tidak lebih, tersebar di dek kapal yang terlihat usang. Mereka semua tampak beragam rasa, mata mereka memancarkan campuran ekspresi. Terdengar ada tawa riang, obrolan ringan, dan sebagian yang terdiam, semuanya diaduk oleh suara ombak kecil yang menampar lambung kapal dan desiran angin dingin yang membawa aroma lumpur yang terendap di pesisir.
Perlahan, awan senja yang disaput rona jingga dan ungu tua mulai mengental, melukis langit di atas Sungai Barito dengan sapuan warna kelam yang semakin pekat. Gerimis yang sedari tadi beterbangan di udara kini mereda, menyisakan kelembapan dingin yang menempel di kulit, seolah alam sendiri menahan napas. Kegelapan tipis yang menggantung, seperti kain beludru yang dijatuhkan perlahan, menjanjikan awal malam yang akan menyelimuti segalanya, utamanya di langit lapisan terbawah.
Suara gemuruh mesin perahu yang tua namun kokoh berdentum pelan, iramanya teratur, berdenyut seperti jantung raksasa yang baru terbangun. Dentuman itu, alih-alih mengganggu, justru berpadu harmonis dengan napas-napas yang penuh antisipasi; campuran kegugupan, rasa ingin tahu, dan mungkin sedikit ketakutan akan sesuatu yang ditemukan di balik tirai malam yang mulai turun. Aroma air sungai yang khas, bercampur dengan bau kayu basah dan asap knalpot diesel, memenuhi udara.
"Sangat gila, gila, gila... ini Barito? Sungainya benar-benar berombak mirip laut! Apakah ini benar-benar sebuah sungai? Auranya menyeramkan, sekaligus membuatku kagum." Seru Roni, tiba-tiba di tengah kebekuan, tangannya memeluk kameranya erat. Matanya menyapu hutan mangrove di tepi seberang sungai yang tampak misterius di bawah cahaya senja gelap.
Amelia tertawa lepas, "Kita baru saja berlayar, tapi kamu sudah lebih jauh berbicara, jangan kamu berpikir macam-macam. Orang-orang menyebut pemandangannya bagus saat malam hari, taburan bintangnya terlihat sangat jelas. Tur malam yang kita pilih memang menawarkan atraksi semacam itu dan tentunya, tujuan kita untuk menikmati suansa unik sungai pasca senja."
"Iya, tapi menurutku beberapa sungai besar terkadang selalu menyimpan hal-hal mistis, itu bukan sesuatu yang baru, selalu saja seperti itu, iya kan" sahut Ariana, merapatkan syalnya.
Laura hanya tersenyum tipis, sorot matanya yang jelita mengamati ketiga sahabatnya yang kini sibuk dengan celotehan dan spekulasi tentang apa yang mungkin menanti mereka di balik tikungan sungai. Suara-suara mereka, seperti riak air kecil yang memecah keheningan, menciptakan kontras dengan suasana senja yang semakin meredup.
Di atas perahu itu, di antara bangku-bangku kayu yang usang dan dinding lambung yang dipenuhi lumut, tak kurang dari sepuluh penumpang anak-anak berkerumun. Mata mereka berbinar-binar penuh semangat, wajah-wajah kecil itu memancarkan gairah petualangan yang murni. Mereka berbisik-bisik, menunjuk ke arah air yang gelap, atau tertawa geli setiap kali perahu berayun pelan. Bagi mereka, perjalanan menyusuri sungai ini adalah tamasya yang mendebarkan, sebuah kesempatan untuk menikmati setiap sensasi yang ditawarkan di depan sana; angin yang berdesir, pemandangan pepohonan yang merimbun di tepi sungai, dan mungkin, harapan akan melihat satwa liar yang bersembunyi. Energi mereka yang meluap-luap, kontras dengan kedataran di raut penumpang dewasa, menciptakan lapisan dinamika yang menarik di dalam perahu yang perlahan terus bergerak itu.
Seorang pria tua, dia adalah nahkoda perahu dengan topi koboi lusuh dan kumis lebat, berjalan datang menghampiri para penumpang. "Selamat datang, semuanya, selamat sore." Bukanya menyapa seraya tersenyum ramah, "Kali ini, untuk pelayaran, kita akan berlayar sekitar dua jam. Rute yang akan kita lalui menuju ke alur besar yang menghadap ke arah perbatasan dengan laut, setelah itu perahu akan kembali berbalik menuju ke dermaga awal titik keberangkatan. Satu lagi... dengarkan, Barito ini memang indah, tapi juga punya cerita yang harus dihormati. Jangan banyak mengkhayal dan tetap di dalam perahu, ingat." Ucapnya menginstruksikan, tatapan matanya cukup memperkuat maksud pesan di kalimat terakhir.
Perahu bergerak merayap, membelah air sungai yang berombak pasang. Obrolan dan riuh rendah dari para penumpang, yang kebanyakan adalah keluarga dan turis lokal, memenuhi geladak.
Laura, yang pandangannya terus menjelajah ke setiap sudut perahu, menyadari adanya anomali lain. Di buritan perahu, sebuah kerumunan kecil menarik perhatiannya. Ada beberapa pria yang sama sekali tidak terlihat saat ia naik, seolah-olah mereka muncul entah dari mana sesaat sebelum tali jangkar dilepaskan. Pertanyaan menggantung di benaknya: apakah mereka penumpang gelap yang naik di menit-menit terakhir dari dermaga tersembunyi, ataukah mereka memang bagian dari daftar penumpang yang luput dari perhatiannya?
Mereka berkerumun, menciptakan lingkaran tersendiri, seolah terpisah dari penumpang lainnya. Hal yang paling mencolok adalah pakaian mereka: semuanya mengenakan kemeja lengan panjang bermotif sasirangan, kain khas daerah tersebut, yang tampak baru dan belum ternoda. Keseragaman itu menimbulkan pertanyaan, apakah mereka sebuah komunitas, atau rombongan keluarga yang sedang melakukan perjalanan bersama, ataukah sesuatu yang lain?
Namun, yang paling kontras dan membingungkan adalah kondisi wajah mereka. Wajah-wajah itu sangat kusam, seolah baru saja dicuci dengan lumpur hitam pekat, meninggalkan jejak kotor yang mengering. Mata mereka cekung, menyorotkan tatapan kosong yang sulit diartikan. Rambut mereka pun tak kalah aneh; berdiri acak-acakan, kaku dan kusut seperti baru terbangun dari tidur yang sangat panjang di tempat yang tidak biasa. Kontras antara pakaian baru yang rapi, dan penampilan mereka yang kotor, menciptakan aura membingungkan yang kental, membuat Laura bertanya-tanya siapa sebenarnya para pria ini dan dari mana mereka berasal?
Seperti hentak pijakan kakinya di awal dermaga, yang mengirimkan firasat tak nyaman, Laura kini melangkah lambat di antara kerumunan penumpang, sementara otaknya berlari cepat, memproses setiap detail yang tertangkap indranya. Pandangannya menyapu seksama setiap sudut perahu, mengunci pada anomali-anomali yang semakin mempertebal lapisan misteri. Berulang kali, tangannya terangkat untuk membuka layar ponselnya, bukan untuk berswafoto atau mengabadikan pemandangan, melainkan untuk memastikan peta lokasi yang tersimpan di sana, meninjau kembali sejumlah saran atau peringatan yang telah ia kumpulkan, seolah mencari jawaban atas keganjilan yang terasa mencengkeram.
Dan yang terbaru, ia memperhatikan dengan saksama bagaimana wajah beberapa wanita yang sebelumnya juga tak pernah ia lihat, kini membaur di antara penumpang lain. Mereka tidak duduk bersama, namun tersebar di beberapa titik, seolah mencoba menyamarkan keberadaan. Namun, ada satu hal yang mencolok dan mengusik pikiran Laura: wajah-wajah mereka seakan sangat identik. Mata mereka serupa almond yang gelap, hidung mancung dengan ujung sedikit melengkung, bibir penuh yang terkatup rapat, alis tebal yang membingkai dengan sempurna, dan dagu yang tegas. Semuanya seolah dicetak dari satu cetakan yang sama, menimbulkan pertanyaan krusial di benak Laura: apakah mereka satu genetik? Saudari kembar, atau bahkan kloning? Dan, pertanyaan yang lebih mengganggu muncul: apakah mereka adalah pasangan dari sekelompok pria aneh berwajah kusam dengan sasirangan baru itu, yang juga tiba-tiba muncul dan membuat perahu ini jauh lebih banyak membawa penumpang daripada perkiraan awal? Pertambahan jumlah penumpang secara tiba-tiba ini terasa seperti manipulasi yang disengaja, seakan-akan ada perencanaan matang yang dengan sengaja mengubah daftar manifes, membuat segalanya terasa berbeda, lebih gelap, dan penuh muslihat.
Laura berjalan menjauh menuju sudut perahu yang remang-remang, dia lalu duduk sendirian di sebuah bangku, menyaksikan alur sungai Barito sembari mengingat mimpi yang membuatnya berkunjung ke tempat ini. Belum lama melamun. Tiba-tiba, bayangan tinggi jatuh di dekatnya. Ia mendongak, dan napasnya sedikit tertahan. Di hadapannya berdiri seorang pria tua yang memancarkan aura wibawa yang tak terbantahkan.
Rambutnya, seputih salju dan tebal, terjalin rapi menjadi delapan kepangan yang menjuntai anggun di bahunya. Setiap kepangan tampak seperti untaian kebijaksanaan yang telah terkumpul selama puluhan tahun. Matanya, tajam namun teduh, menyorotkan kisah-kisah yang tak terucapkan, dengan perpaduan roman Arab yang kental dan guratan Frank yang tegas, menciptakan paras yang memesona sekaligus misterius. Sebuah mantel cokelat tua membalut tubuhnya, memberinya siluet yang gagah dan anggun secara bersamaan.
"Maaf mengganggu," suaranya berat, namun merdu, seperti gema dari masa lalu. "Saya melihat Anda begitu tenggelam dalam pikiran. Bolehkah saya bergabung?"
Laura, yang sedikit terkesima, hanya bisa mengangguk pelan. Pria itu tersenyum tipis, memperlihatkan kerutan di sudut matanya yang menambah pesona wajahnya. Ia kemudian duduk di bangku kosong yang berhadapan dengan Laura, gerakannya luwes dan penuh martabat.
"Nama saya Adu," ia memulai, menatap Laura dengan tatapan yang seolah mampu menembus jauh ke dalam jiwanya. "Adu Si Jari Sebelas."
Laura mengerutkan kening, bingung dengan nama belakang yang unik itu. Adu seolah memahami kebingungannya. Dengan perlahan, ia mengangkat tangan kirinya. Laura mengamati, dan matanya membelalak. Di tangan kirinya, memang terdapat enam jari, bukan lima seperti manusia pada umumnya. Keenam jari itu tampak sempurna, seolah memang seharusnya ada di sana.
"Sebuah anugerah, atau mungkin kutukan, tergantung bagaimana Anda melihatnya," kata Adu dengan senyum tipis, seolah membaca pikiran Laura. "Saya telah melihat banyak hal dengan jari-jari ini, dan mendengar banyak kisah."
Laura, yang biasanya sangat skeptis, merasakan daya tarik yang kuat dari pria tua ini. Aura misterius dan keunikan yang ia miliki begitu memikat, seolah ia adalah karakter yang baru saja melompat keluar dari halaman tak terduga.
Pria tua itu terus saja tersenyum, senyuman yang menyimpan ribuan cerita. Dia kemudian kembali menyapa, "Laura," serunya dengan suara serak namun hangat, "Kau pasti bertanya-tanya tentang hal lain bukan?"
Laura hanya terperanjat dan mengangguk, terperanjat karena ia berpikir bagaimana pria tua itu bisa mengetahui namanya? Lidahnya serba salah, terlalu terpukau untuk berbicara.
"Hidup ini penuh kejutan." Lanjutnya, tatapannya menyapu cakrawala. "Dan aku, adalah saksi bisu banyak kejutan." Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah sebuah tenda kecil di bagian salah satu ruangan bersekat. "Izinkan aku memperkenalkanmu pada beberapa kejutan terindah dalam hidupku."
Dari balik tenda itu, muncullah tiga gadis muda, pucat dan mempesona, semuanya mengenakan gaun merah menyala yang kontras dengan warna kulit mereka yang kelabu. Tinggi mereka seperti susunan anak tangga. Mereka berjalan mendekat dengan senyum tipis di bibir, berdiri mengapit Adu si jari sebelas, membentuk barisan pengawalan yang indah.
"Ini adalah cintaku," kata Adu, mengisyaratkan kepada ketiga wanita itu. "Mereka adalah duniaku, inspirasiku, dan pendampingku dalam suka dan duka." Laura melihat ke arah mereka, batinnya tak mampu berpikir, ingatan tentang mimpi itu meluap-luap, tetapi ia tak mampu mengarunginya, matanya merasakan aura keanggunan dan misteri yang terpancar dari ketiganya. Gaun merah mereka seolah memancarkan semangat dan gairah, mengingatkan Laura pada bunga-bunga eksotis yang mekar di tengah hutan belantara.
Adu Si Jari Sebelas, dengan mata tajamnya yang menangkap setiap detail, seolah tahu apa yang Laura pikirkan. "Mereka adalah bukti bahwa cinta tidak mengenal batasan," ujarnya. "Dan setiap hari, mereka mengingatkanku akan keindahan hidup yang tak terduga."
Laura terdiam, memproses semua yang dilihat dan didengarnya.
Pak Adu kembali menatap Laura, matanya yang tajam kini memancarkan rasa ingin tahu yang tulus. "Nah, Laura," katanya, "aku sudah banyak bercerita. Sekarang giliranmu. Dari mana asalmu, Nona muda?"
"Saya dari Bogor, Pak," jawab Laura, suaranya sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Ia masih sedikit terkejut dengan perkenalan yang tak biasa tadi, namun keramahan Adu perlahan melunturkan kekikukannya.
Pak Adu mengangguk pelan, seolah Bogor adalah tempat yang ia kenal baik. "Bogor... jauh sekali. Lalu, apa gerangan yang membawamu sampai ke Banjarmasin ini? Pasti ada tujuan penting, bukan?"
Laura tersenyum tipis. "Tidak ada yang terlalu penting. Hanya ingin melihat-lihat saja. Saya dengar Banjarmasin punya pasar terapung yang menarik."
Pak Adu tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gemerisik daun tua. "Pasar terapung memang istimewa, nak. Tapi Banjarmasin ini lebih dari sekadar pasar. Ia adalah jantung kehidupan sungai ini." Ia terdiam sejenak, menatap air yang mengalir, seolah sedang berbicara dengan arwah sungai.
"Aku sendiri, besok akan kembali ke desaku," lanjutnya, pandangannya beralih kembali ke Laura. "Aku ke Banjarmasin hanya untuk berbelanja kebutuhan yang sulit kudapatkan di desa. Setiap dua bulan sekali, aku melakukan perjalanan ini. Naik perahu, menyusuri sungai, mencari apa yang dibutuhkan oleh orang-orang di desa." Ia menghela napas panjang. "Kadang, aku merasa seperti pedagang tua yang berlayar mencari rempah-rempah, hanya saja yang kubawa pulang bukan rempah, melainkan garam, gula, kain, dan benang."
Ketiga wanita bergaun merah itu tersenyum, mengamini ucapan Pak Adu. Laura memperhatikan, ada kebanggaan dan kasih sayang di mata mereka saat memandang pria tua itu. Perjalanan rutin Pak Adu ke kota, jauh dari sekadar transaksi jual beli, adalah sebuah ritual, sebuah jembatan yang menghubungkan dunia modern dengan kehidupan sederhana di pedalaman. Ia adalah penyedia, penjelajah, dan mungkin juga pembawa cerita dari dunia luar bagi desanya.
"Desa kami sangat terpencil, Laura," sambung Pak Adu. "Tidak ada jalan darat yang bisa dicapai. Hanya sungai ini yang menjadi urat nadinya." Ia menunjuk ke arah hulu. "Dan aku, dengan jari sebelas ini, akan terus berlayar selama tubuhku masih sanggup."
Laura merasa seperti sedang membaca sebuah bab dari buku cerita lama, di mana setiap tema miliki keunikan dan peran penting dalam sebuah narasi besar.
Dirinya masih tenggelam dalam lamunannya, membayangkan desa terpencil yang diceritakan Pak Adu, ketika tiba-tiba, ia merasakan keheningan yang aneh. Suara Pak Adu yang serak dan tawa lembut ketiga istrinya yang bergaun merah mendadak lenyap. Ia mendongak, dan jantungnya serasa berhenti berdetak.
Adu Si Jari Sebelas... dan ketiga istrinya... mereka tidak ada.
Perahu masih melaju perlahan, namun sekarang, bangku yang tadi diduduki Pak Adu kini hampa, gaun-gaun merah yang berkibar anggun tadi kini tak terlihat. Seolah-olah mereka adalah fatamorgana, ilusi yang lenyap begitu saja dalam sekejap mata.
Laura mengedarkan pandangan panik. Tidak ada jejak. Tidak ada suara. Tidak ada bayangan. Hanya air sungai yang tenang, dan langit senjakala yang luas.
Bagaimana mungkin? Ia baru saja berbicara dengan mereka! Ia baru saja mendengar cerita tentang desa, tentang perjalanan, tentang cinta. Apakah ia tertidur? Apakah ia bermimpi? Laura mencubit lengannya sendiri, merasakan sakit yang nyata. Ini bukan mimpi.
Ia berdiri, berjalan bolak-balik di atas perahu yang mulai terasa asing. Keringat dingin membasahi dahinya. Apakah mereka terjatuh? Tapi tidak ada suara cipratan air, tidak ada teriakan. Dan lagi, bagaimana mungkin keempatnya menghilang secara bersamaan tanpa suara sedikitpun?
Angin berdesir pelan, seolah berbisik rahasia yang tidak bisa ia pahami. Adu Si Jari Sebelas, pria misterius dengan enam jari di satu tangannya, mata tajam, dan rambut dikepang delapan, bersama dengan ketiga istrinya yang bergaun merah, lenyap ditelan sungai, meninggalkan Laura dengan segudang pertanyaan yang tak terjawab.
Ia memandang ke hulu, lalu ke hilir, berharap melihat siluet mereka, atau mendengar suara mereka. Namun, yang ada hanya kesunyian yang mencekam. Kisah Adu Si Jari Sebelas, yang tadinya terasa nyata dan hangat, kini berubah menjadi sebuah teka-teki yang menghantui.
Laura, dengan kerutan samar di dahinya, memutuskan untuk beranjak. Ia melangkah pelan, seperti bayangan yang luwes, melewati kerumunan penumpang lain yang asyik bercengkrama, tawa renyah mereka terdengar hambar di telinga Laura. Matanya menyisir setiap sudut, berharap menemukan kembali sosok-sosok misterius itu. Namun, nihil. Sekelompok pria bersasirangan dan sekelompok wanita berwajah mirip itu seolah menguap ditelan suasana yang semakin pekat. Ke mana mereka raib? Pertanyaan tambahan itu menggantung di benaknya, menambah lapisan demi lapisan kebingungan.
Ia terus melanjutkan langkahnya, menyusuri lorong sempit yang dibentuk oleh beberapa dinding pemisah. Dinding-dinding itu, terbuat dari bilah-bilah kayu usang yang sudah lapuk, menciptakan sekat-sekat ruangan yang berjajar, mengingatkan Laura pada kandang sapi tua yang pernah dilihatnya di pedesaan. Ruangan-ruangan itu gelap gulita, tanpa lampu penerang sama sekali, menambah kesan angker pada bagian dalam perahu. Perahu ini, memiliki dua lantai, dan di area yang lebih rendah ini, beberapa penumpang yang ia temui memancarkan aura yang sangat tidak ramah. Tatapan mereka dingin, acuh tak acuh, atau bahkan sinis saat Laura lewat, seolah kehadirannya adalah gangguan yang tak diinginkan.
Setelah melewati koridor sempit dan tatapan dingin, Laura akhirnya berhasil mencapai sisi geladak yang berbeda, di mana udara lebih segar dan pandangan lebih lapang. Di sana, ia menemukan tiga sahabatnya. Amelia, Ariana, dan Roni, semuanya tengah sibuk dengan dunianya masing-masing, terbuai oleh pesona fana teknologi. Amelia dan Ariana asyik mengambil video dengan ponsel mereka, merekam momen-momen tenggelamnya matahari di atas Sungai Barito, tanpa menyadari keganjilan yang baru saja disaksikan Laura. Sementara Roni, dengan kamera khususnya yang menggantung di leher, tak kalah sibuk. Jari-jarinya cekatan mengatur fokus, mengabadikan nuansa langit yang kini mulai sepenuhnya didominasi rona gelap, serta pesisir di kejauhan yang samar-samar terlihat, diselimuti misteri malam yang perlahan merayap. Mereka tampak tenggelam dalam euforia petualangan, tak menyadari bayangan-bayangan tersembunyi yang mulai merangkak di sekeliling mereka.