Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Strategi Kamar CEO
Sesampainya di rumah, Raka tidak bisa menahan kegelisahannya. Ia langsung menyusul Gisel ke kamarnya dan menceritakan semua yang ia lihat di jalan tadi—tentang Hana yang basah kuyup, wajahnya yang lebam, dan wanita kejam yang memandangnya dengan kebencian.
Gisel yang mendengar cerita itu langsung berubah mode menjadi "Detektif Gisel". Ia mengetuk-ngetuk dagunya, matanya menyipit penuh spekulasi. "Pasti itu Bibinya, atau mungkin ibu tiri yang jahat di dunia nyata! Nggak mungkin Hana juara satu tapi hidupnya menderita begitu kalau nggak ada yang jahat di rumahnya," duga Gisel berapi-api.
Tepat saat Raka dan Gisel sedang serius berbisik menyusun rencana penyelamatan, pintu kamar terbuka lebar. Dewa berdiri di sana dengan kemeja yang sudah setengah terbuka, menatap heran ke arah istri dan anak sulungnya.
"Ini kamarku, bukan?" tanya Dewa dengan nada datar namun penuh selidik.
Gisel dan Raka serentak mengangguk kaku.
"Lalu... Raka? Kenapa kamu masih di sini?" Dewa menatap putra sulungnya dengan satu alis terangkat.
"Ah... itu, Mas... dia lagi ada sedikit problem, makanya minta solusi ke aku," jawab Gisel cepat sambil nyengir, berusaha menutupi rahasia Raka.
"Oh..." gumam Dewa singkat. Ia berjalan masuk dan berdiri tegak di depan Raka. "Raka, kembali ke kamarmu sekarang. Ini sudah malam."
Raka sempat ragu, ia ingin melanjutkan pembicaraan tentang Hana. "Tapi, Pah..."
Dewa menggeleng tegas sambil berkacak pinggang, memberikan tatapan yang tidak bisa dibantah. "Besok lagi."
"Baiklah," ucap Raka pasrah, lalu melangkah keluar dengan bahu merosot.
Gisel yang merasa urusannya belum selesai langsung berdiri hendak menyusul. "Raka! Aku ikut!"
Namun, belum sempat Gisel melangkah, tangan kekar Dewa sudah lebih dulu menarik pergelangan tangannya. Gisel tertahan, ia menoleh bingung. "Mau ke mana?" tanya Dewa rendah.
"Itu, Raka belum selesai ceritanya, Mas! Masalahnya genting!" protes Gisel.
"Besok saja. Masih banyak waktu untuk mengurus anak itu," ucap Dewa sambil menarik Gisel mendekat ke pelukannya.
Dewa mulai menggoda Gisel, menatapnya dengan tatapan intens yang membuat nyali ceplas-ceplos Gisel mendadak menciut. Ia memojokkan Gisel ke arah tempat tidur, membuat Gisel hanya bisa mengerjap gugup.
"Tapi Mas... Raka—"
"Sstt. Malam ini, fokus ke suamimu saja," bisik Dewa telak, membuat Gisel tak berkutik sementara hatinya masih penasaran dengan nasib Hana.
Gisel hanya bisa mematung saat Dewa menariknya semakin dekat. Napasnya tertahan, matanya berkedip-kedip menatap dada bidang suaminya yang hanya terhalang kemeja setengah terbuka.
"Gisel," panggil Dewa dengan suara baritonnya yang rendah.
"I-iya, Mas?" jawab Gisel, suaranya mendadak mencicit, hilang sudah keberanian ceplas-ceplos-nya yang biasanya meledak-ledak.
Dewa menatap istrinya lekat-lekat. "Tumben diam?"
Gisel menelan ludah, ia merasa terpojok di antara lengan kekar Dewa dan pinggiran ranjang. "Aku... aku takut," bisik Gisel jujur.
Dewa mengerutkan dahi, tampak heran. "Kenapa?"
"P-pelan-pelan ya, Mas..." ucap Gisel sambil menutup matanya rapat-rapat, tangannya meremas ujung sprei dengan gugup.
Mendengar ucapan polos sekaligus "berani" itu, Dewa tertegun sejenak sebelum akhirnya tawa renyahnya pecah. Sebuah pemandangan langka melihat si Tuan Es tertawa lepas hingga bahunya terguncang. Ia kemudian menyentil kecil dahi Gisel dengan gemas.
"Otak kamu ini isinya pikiran mesum terus, ya?" ejek Dewa sambil terkekeh.
Gisel membuka satu matanya, lalu perlahan keduanya terbuka lebar. Menyadari dirinya baru saja salah sangka, Gisel bukannya malu, malah nyengir lebar tanpa dosa. "Terus? Apa lagi? Emangnya Mas nggak rugi apa? Kita sudah sepuluh bulan satu atap, tapi istrimu yang cantik ini masih tetap jadi perawan begini?"
Gisel memajukan bibirnya, berlagak cemberut namun dengan tatapan yang menggoda. Ekspresi "perawan cemberut"-nya itu justru terlihat sangat imut di mata Dewa.
Dewa terdiam, senyumnya memudar digantikan oleh tatapan yang lebih dalam dan intens. Ia mengusap pipi Gisel dengan ibu jarinya. "Siapa bilang aku nggak mau? Aku hanya menunggu waktu yang tepat, Gisel. Dan sepertinya... kamu sendiri yang nggak sabar ya?"
Gisel langsung tersipu, wajahnya memerah sampai ke telinga. Ia segera menarik selimut dan membungkus tubuhnya seperti kepompong. "Dah! Mas tidur aja sana! Urusan Hana besok aku urus sama Raka!"
Dewa hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Meski malam itu berakhir dengan tidur bersama tanpa "kejadian" yang dipikirkan Gisel, benih cinta di hati Dewa sudah tumbuh begitu kuat, jauh lebih kuat dari rasa bersalahnya pada masa lalu.