NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

“Nama lo siapa?”

“Genesis.”

Pria paruh baya di depan gudang itu mengangkat alis, matanya menyapu dari atas sampai bawah, menilai tanpa basa-basi. “Pernah kerja angkut barang?”

“Sering.”

“Bohong dikit nggak masalah, tapi jangan kebanyakan,” sahutnya datar. “Ini kerjaan capek. Nggak kuat, besok jangan datang lagi.”

Genesis tidak tersinggung. “Kalau gue nggak kuat, gue yang mundur sendiri.”

Pria itu terdiam sebentar, lalu mendengus pelan. “Jawaban lo nggak nyebelin. Gue suka.”

Raka yang berdiri di samping langsung nyenggol pelan. “Gue bilang juga apa, orangnya nggak ribet.”

“Nama gue Pak Hadi,” lanjut pria itu. “Gue yang pegang distribusi sini. Lo mulai sekarang bisa ikut tim pengiriman. Tapi satu hal—jangan banyak gaya.”

Genesis mengangguk. “Siap.”

Pak Hadi melirik lagi sekilas. “Besok subuh berangkat ke atas. Ada kiriman rutin ke beberapa villa. Termasuk area elit.”

Genesis menahan ekspresinya tetap datar. “Jam berapa?”

“Jam empat udah kumpul. Telat dikit, tinggal.”

“Gue datang lebih awal.”

Pak Hadi tersenyum tipis, lalu berbalik. “Kita lihat.”

Begitu pria itu pergi, Raka langsung menepuk bahu Genesis. “Gila sih lo. Baru ngomong dikit udah diterima.”

Genesis menarik napas pendek. “Belum diterima. Baru dikasih kesempatan.”

“Ya itu sama aja.”

Genesis menggeleng. “Beda.”

Raka menatapnya. “Sekarang lo serius banget ya.”

Genesis cuma menjawab pelan, “Gue nggak punya pilihan lain.”

---

Subuh belum benar-benar datang saat Genesis sudah berdiri di depan gudang. Udara dingin menusuk, napasnya terlihat samar setiap kali ia menghembuskan. Truk kecil berjajar, orang-orang sibuk angkat karung, peti, dan kotak bahan makanan.

“Cepat dikit! Ini bukan acara santai!” teriak seseorang dari belakang.

Genesis langsung masuk ke barisan tanpa banyak bicara. Ia mengangkat satu karung beras ke pundaknya, lalu berjalan menuju bak truk. Otot-ototnya menegang, tapi langkahnya stabil.

“Baru ya?” tanya salah satu pekerja di sampingnya.

Genesis mengangguk singkat. “Iya.”

“Kalau tumbang di tengah jalan, jangan nangis,” cengir pria itu.

Genesis membalas dengan senyum tipis. “Kalau gue tumbang, gue nggak sempet nangis.”

Pria itu tertawa. “Asik juga lo.”

---

Perjalanan naik ke arah Puncak dimulai saat langit masih gelap. Genesis duduk di belakang truk bersama beberapa pekerja lain, tubuhnya sedikit berguncang mengikuti jalanan yang menanjak.

Matanya tidak diam.

Ia memperhatikan jalur. Gerbang. Pos penjagaan. Kendaraan yang keluar masuk.

Setiap detail ia simpan.

“Lo kayak orang lagi survei tempat,” celetuk pria di sebelahnya.

Genesis tidak menyangkal. “Emang lagi belajar.”

“Belajar apa?”

“Biar nggak nyasar.”

Pria itu mendengus. “Santai aja. Yang penting angkat barang, dapat duit, pulang.”

Genesis hanya mengangguk.

Dalam hati, ia tahu—ini bukan cuma soal kerja.

Ini soal jalan masuk.

---

Truk itu akhirnya melambat, lalu berhenti tepat di depan gerbang besar dengan penjagaan ketat. Lampu sorot menyapu badan kendaraan, membuat debu-debu halus yang menempel terlihat jelas di udara malam. Di samping gerbang, papan kecil bertuliskan *“Kawasan Villa Eksklusif”* berdiri kokoh, seolah jadi batas tak kasat mata antara dua dunia yang berbeda.

Genesis menunduk sedikit, menarik topi lusuhnya lebih rendah, berusaha menutupi wajah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi matanya justru semakin tajam mengamati setiap detail di depan. Dua satpam berdiri di pos, satu mendekat ke arah sopir, sementara yang lain menyorotkan senter ke bagian belakang truk.

“Bawa apa?” tanya satpam itu singkat.

“Logistik dapur, Pak. Dari bawah. Disuruh kirim malam ini,” jawab sopir santai, seolah ini rutinitas biasa.

Satpam itu mengangguk pelan, tapi tetap naik setengah badan ke bak belakang untuk mengecek. Cahaya senter bergerak perlahan, menyapu karung, kotak, dan tumpukan barang lainnya. Genesis menahan napas, tubuhnya diam membatu di balik tumpukan kardus, bahkan tidak berani berkedip.

Beberapa detik terasa seperti berjam-jam.

Lalu satpam itu turun lagi.

“Oke. Masuk.”

Gerbang terbuka perlahan, suara besi bergesekan terdengar berat dan dalam. Truk mulai bergerak masuk, melewati batas itu—dan saat roda depan melewati garis gerbang, Genesis tahu satu hal pasti.

Dia sudah masuk ke wilayah musuh.

Sepanjang jalan di dalam kawasan villa, lampu taman berjajar rapi, menerangi jalan yang halus dan bersih. Pohon-pohon tinggi berdiri tenang, memberi kesan eksklusif sekaligus sunyi yang menekan. Genesis mengintip sedikit dari sela kardus, matanya bergerak cepat, mencatat arah, tikungan, jumlah bangunan, dan posisi penjagaan.

Dia tidak datang ke sini untuk gegabah. Dia datang untuk menang.

Truk berhenti di area belakang salah satu villa besar—tempat yang langsung dikenali Genesis dari deskripsi yang ia dengar sebelumnya. Bangunan itu berdiri megah dengan balkon luas dan jendela-jendela tinggi. Lampunya menyala hangat, tapi suasananya terasa dingin.

Tempat Alexa dikurung.

Pintu belakang truk dibuka dari luar.

“Turunin sini aja!” teriak seseorang dari bawah.

Genesis langsung bergerak, ikut mengangkat kotak bersama pekerja lain, membaur tanpa menarik perhatian. Setiap langkahnya terukur, setiap gerakannya dibuat se-natural mungkin. Tapi di balik itu semua, fokusnya cuma satu.

Masuk lebih dalam.

Saat kakinya akhirnya menginjak tanah area villa itu, sesuatu di dalam dirinya terasa berubah. Bukan lagi sekadar emosi, bukan lagi sekadar cinta yang nekat—ini sudah jadi tekad.

Dia tidak akan pulang tanpa Alexa.

Dan kalau dunia ini harus dia lawan satu per satu demi itu, dia sudah siap.

Matanya terangkat sedikit, menatap ke arah balkon lantai atas yang gelap sebagian. Napasnya tertahan sepersekian detik.

“Lex…” gumamnya sangat pelan, nyaris tak terdengar. “Aku udah sampai.”

“Eh, lo yang baru ya?” suara seorang pria tiba-tiba menyadarkan Genesis. Seorang pekerja dapur berusia sekitar tiga puluhan menepuk bahunya sambil menyengir. “Jangan bengong, bantuin angkat ini. Kalo ketahuan mandang ke atas terus bisa dicurigain, ngerti?”

Genesis langsung mengangguk kecil, pura-pura canggung. “Iya, bang… maaf. Gue kira langsung diturunin semua di sini.”

“Ya nggak lah, ini villa orang penting. Ada prosedurnya,” jawab pria itu sambil mengangkat satu kotak besar. “Ikut gue aja. Nanti lo taruh di dapur belakang.”

“Siap.”

Genesis mengikuti langkah pria itu masuk lewat pintu samping. Begitu melewati ambang pintu, aroma masakan langsung menyergap hidungnya—hangat, kaya rempah, tapi entah kenapa terasa asing. Bukan seperti masakan sederhana yang biasa ia buat bersama Alexa. Bukan seperti dapur kecil mereka yang penuh tawa dan obrolan ringan.

Di sini semuanya terasa… teratur, cepat, dan dingin.

Beberapa pelayan berlalu-lalang tanpa banyak bicara. Hanya instruksi singkat, gerakan cepat, dan tatapan fokus. Genesis menunduk, menyesuaikan ritme, berusaha menyatu tanpa menonjol.

“Taruh situ,” kata pria tadi sambil menunjuk meja stainless panjang.

Genesis meletakkan kotak itu pelan. “Bang… ini biasanya ada berapa orang yang jaga di sini?” tanyanya santai, seolah hanya basa-basi.

Pria itu melirik sekilas, lalu mendengus kecil. “Lo nanya apa sih? Fokus kerja aja, jangan kepo. Tapi ya… banyak. Apalagi kalo lagi ada tamu penting. Kenapa? Takut?”

Genesis mengangkat bahu ringan. “Bukan takut, cuma… baru pertama kerja di tempat beginian.”

“Halah, lama-lama juga kebiasa,” pria itu tertawa kecil. “Yang penting jangan bikin masalah. Di sini salah dikit aja bisa langsung diusir.”

Genesis mengangguk pelan, tapi dalam hatinya justru berbisik lain. *Kalau cuma diusir, itu malah bagus… berarti gue masih hidup buat balik lagi.*

Suara langkah sepatu terdengar dari arah koridor depan. Beberapa pelayan langsung merapikan posisi, suasana seketika berubah lebih tegang.

“Itu siapa?” bisik Genesis pelan.

“Shh… itu orang penting,” jawab pria tadi cepat, nadanya berubah lebih serius. “Calon menantu keluarga ini katanya. Orangnya jarang datang, tapi sekali datang semua harus rapi.”

Genesis menegang sepersekian detik. Calon menantu.

Genta.

Ia tidak menoleh langsung. Hanya dari sudut matanya, ia menangkap siluet pria tinggi dengan postur tegap berjalan melewati lorong, diikuti dua orang staff. Aura yang dibawa pria itu berbeda—tenang, dingin, tapi punya tekanan yang kuat.

Genesis mengepalkan tangannya pelan di samping tubuh.

*Itu dia…*

Pria yang ingin mengambil Alexa darinya.

Pria yang bahkan mungkin tidak tahu siapa sebenarnya Alexa di balik wajah itu.

“Eh, jangan diliatin!” bisik pria dapur tadi sambil menyikut pelan. “Mau mati lo?”

Genesis langsung menunduk lagi, pura-pura sibuk merapikan kotak. Tapi di dalam dadanya, sesuatu mulai terbakar pelan—bukan cuma cemburu, tapi juga tekad yang semakin keras.

Kalau selama ini dia hanya mengejar, sekarang dia sudah berada di medan permainan yang sama.

Dan dia tidak akan mundur.

“Bang,” katanya pelan tanpa mengangkat wajah. “Kamar Nona… yang di atas itu ya?”

Pria itu mengernyit. “Nona Alexa? Iya, di lantai dua. Tapi lo jangan macam-macam. Aksesnya dijaga. Nggak sembarang orang bisa naik.”

Genesis tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Gue cuma nanya.”

“Yaudah, nanya aja. Tapi jangan sampai kaki lo beneran naik ke sana tanpa izin,” balas pria itu sambil tertawa kecil, tidak tahu bahwa kata-katanya justru jadi tantangan.

Genesis menarik napas pelan, lalu mengangkat kembali satu kotak untuk dibawa lebih dalam. Langkahnya tetap tenang, wajahnya tetap datar, tapi pikirannya bergerak cepat menyusun jalur.

Tangga. Akses. Jadwal. Penjagaan.

Satu per satu.

Ia tidak akan gegabah. Ia tidak akan asal nekat seperti sebelumnya.

Kali ini… dia akan masuk, mengambil Alexa, dan keluar tanpa memberi kesempatan siapa pun menghentikannya.

Dan di lantai atas sana, tanpa ia sadari, seseorang berdiri di balik tirai jendela, menatap ke arah halaman dengan dada yang berdebar tanpa alasan yang ia pahami.

Alexa menekan dadanya pelan.

“Kenapa rasanya…” bisiknya lirih, “kayak ada yang datang…”

Angin malam berhembus pelan, membawa sesuatu yang tak terlihat—jarak yang hampir tertutup.

Dan tanpa mereka sadari, jarak itu… tinggal selangkah lagi untuk benar-benar runtuh.

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!