NovelToon NovelToon
Aku Dipaksa Menjadi Pelakor

Aku Dipaksa Menjadi Pelakor

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:647
Nilai: 5
Nama Author: Siti_1234

Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..

Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?

Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 13: "KECEMBURUAN YANG MELUAP"

*****

Malam itu hujan gerimis mulai menyiram kota Semarang. Rio keluar dari kantor dengan hati yang penuh keresahan setelah melihat foto di ponselnya—foto yang dikirim oleh salah satu karyawan yang tidak sengaja menangkap Raisa sedang berjalan bersama Reza di dekat kampus, tertawa riang sambil berbagi camilan.

Tanpa berpikir panjang, dia mengemudi ke sebuah warung makan kecil di pinggir jalan yang juga menjual minuman keras. Dia duduk di sudut yang sunyi dan memesan bir satu demi satu, mencoba untuk menghilangkan rasa cemburu dan kebingungan yang melanda dirinya.

Mengapa aku merasa seperti ini? pikir Rio sambil meneguk minuman terakhir. Ratna adalah istriku yang sedang berjuang untuk kita berdua dan anak kita. Raisa adalah adiknya—aku seharusnya hanya melihatnya sebagai keluarga.

Namun pikiran itu semakin kabur seiring dengan efek alkohol yang mulai bekerja di tubuhnya. Dia terus memesan minuman hingga akhirnya merasa kepalanya berputar dan tubuhnya tidak bisa lagi dijaga keseimbangannya. Setelah membayar tagihan dengan goyah, dia berjalan keluar dan mengemudi pulang dengan kondisi yang sangat tidak stabil.

Saat tiba di rumah, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rio membuka pintu dengan bising dan berjalan masuk dengan langkah yang goyah. Raisa yang sedang berada di dapur untuk mengambil air putih mendengar suara dan segera keluar untuk melihatnya.

“Kak Rio? Kamu mabuk ya? Kok bisa begini?” ucap Raisa dengan khawatir, segera mendekat untuk membantunya.

Namun ketika dia ingin membantu Rio berdiri dengan stabil, pria itu dengan tiba-tiba menariknya ke sudut ruangan yang gelap. Raisa terkejut dan tidak bisa bergerak saat Rio menatapnya dengan mata yang merah dan penuh dengan emosi yang tidak terkendali.

“Kamu sangat dekat dengan anak Dokter Arif itu ya?” tanya Rio dengan suara yang sedikit menggema. “Aku melihat kamu bersama dia—tertawa dan bahagia. Apakah kamu suka padanya?”

“Kak Rio, kamu salah paham. Kami hanya berteman dan aku hanya membantu Pak Dokter untuk mendekatkan dia dengan anaknya saja,” jawab Raisa dengan suara gemetar, merasa sangat tidak nyaman dengan kedekatan Rio yang tidak biasa.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Raisa untuk menjelaskan lebih jauh, Rio dengan paksa menarik wajahnya dan menciumnya. Raisa terkejut total dan hanya bisa berdiri diam dengan mata terbuka lebar, tidak bisa percaya pada apa yang sedang terjadi. Saat Rio memperdalam ciuman tersebut, barulah dia tersadar dan dengan kekuatan yang tiba-tiba muncul, mendorong Rio menjauh dengan keras.

"TAAAAAANG!"

Suara tamparan keras menyertai gerakan tangannya yang terlempar ke arah wajah Rio. Pukulan itu cukup kuat untuk membuat Rio sedikit sadar dan mundur beberapa langkah, menyentuh pipinya yang mulai merah dan terasa sakit.

“APA YANG KAMU LAKUKAN, KAK RIO?!” teriak Raisa dengan suara yang penuh dengan kejutan dan kesedihan. Matanya sudah penuh dengan air mata yang mulai menetes. “Kamu adalah kakak untukku—kakak suami kakakku! Bagaimana kamu bisa melakukan hal seperti ini padaku?!”

Rio berdiri dengan goyah, kepalanya mulai sedikit jernih setelah tamparan itu. Dia melihat wajah Raisa yang menangis dan penuh dengan kekecewaan, dan segera menyadari kesalahan besar yang telah dia lakukan.

“Ras… maaf… aku tidak sengaja… aku hanya… aku tidak tahu apa yang sedang aku lakukan,” ucap Rio dengan suara gemetar, mencoba untuk mendekat namun segera berhenti saat Raisa mundur menjauh.

“JANGAN DEKATKAN DIRIMU PADAKU!” teriak Raisa lagi. Dia menangis terisak-isak saat melihat pria yang selama ini dia anggap sebagai kakak baik dan perhatian kini berdiri di depannya dalam keadaan mabuk dan telah melakukan hal yang tidak bisa dimaafkan.

Suara teriakan Raisa membangunkan Sri Wahyuni yang sedang tidur di kamar sebelah. Dia keluar dengan cepat dan terkejut melihat keadaan Rio yang mabuk dan Raisa yang menangis terisak-isak.

“Apa yang terjadi di sini?!” ucap Sri Wahyuni dengan panik. Dia segera mendekat untuk menenangkan Raisa sambil menatap Rio dengan pandangan yang penuh dengan kekecewaan. “Rio, kamu sudah mabuk dan membuat Raisa menangis? Apa yang kamu lakukan padanya?!”

Rio tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya berdiri di sana dengan wajah yang penuh dengan rasa bersalah dan keputusasaan. Dia tahu bahwa dia telah merusak hubungan yang selama ini dia jaga dengan baik, dan telah menyakiti seseorang yang dia sayangi seperti adik sendiri.

“Saya… saya harus pergi dari sini,” ucap Rio dengan suara rendah. Dia mengambil jasnya dan segera keluar dari rumah tanpa melihat ke belakang, meninggalkan Raisa yang masih menangis dan Sri Wahyuni yang tidak tahu harus bagaimana.

Di luar rumah, hujan mulai turun dengan deras. Rio berjalan tanpa arah dengan tubuh yang masih goyah dan hati yang penuh dengan rasa bersalah. Dia merasakan hujan yang menyiram tubuhnya, namun tidak merasa dingin karena rasa sakit di hatinya jauh lebih besar dari itu.

Apa yang telah kulakukan? pikir Rio sambil menahan tangisan. Aku telah menyakiti Raisa—orang yang selama ini aku jaga dan sayangi. Dan aku juga telah mengkhianati Ratna yang sedang berjuang untuk kita di rumah sakit.

Dia berhenti di taman kecil dekat rumahnya dan duduk di bangku yang basah oleh hujan. Air mata dan air hujan bercampur di wajahnya saat dia merenungkan kesalahan besar yang telah dia lakukan. Dia tahu bahwa dia harus segera mencari cara untuk memperbaiki semuanya, namun dia tidak tahu harus mulai dari mana.

Di rumah, Raisa masih menangis di pelukan Sri Wahyuni. Hatinya sangat sakit dan bingung—dia tidak bisa percaya bahwa orang yang selama ini dia hormati dan sayangi bisa melakukan hal seperti itu padanya.

“Tidak apa-apa ya, Nak,” ucap Sri Wahyuni dengan lembut sambil membelai punggungnya. “Rio pasti tidak sengaja. Dia sedang mabuk dan mungkin sedang mengalami kesusahan yang besar.”

“Tapi Bu, bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu? Aku selalu menganggapnya sebagai kakak terbaik,” ucap Raisa dengan suara bergetar. “Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapinya lagi nanti.”

Di rumah sakit, Ratna yang merasa tidak nyaman dan tidak bisa tidur mendengar bunyi telepon yang berdering. Dia mengambil ponsel dan melihat bahwa itu adalah panggilan dari Rio. Namun ketika dia menjawab, hanya terdengar suara hujan dan tangisan yang terdengar jauh di ujung sana.

“Rio? Apa yang terjadi? Kamu menangis?” tanya Ratna dengan khawatir. Namun tidak ada jawaban dari sisi Rio selain suara tangisan yang semakin keras.

......................

...****************...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!