Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Langit Jakarta sore itu tampak mendung, seolah turut merasakan aura kegelapan yang dibawa oleh jet pribadi yang baru saja mendarat di landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma.
Kenzo melangkah turun dengan setelan jas hitam yang tampak kusut, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan betapa ia nyaris tidak tidur selama di London.
Pikirannya terbagi antara kekacauan bursa saham yang menghantam Praditya Group dan obsesinya yang tak kunjung padam pada Anindya.
Di lobi kedatangan, supir pribadinya sudah menunggu dengan wajah pucat. Kenzo tidak banyak bicara. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan memerintahkan perjalanan menuju rumah dengan satu tujuan.
Ia ingin segera memeluk tubuh Anindya, menghirup aroma wanita itu untuk meredakan badai di kepalanya, lalu, sesuai janjinya ingin memberi pelajaran karena Anindya sempat sulit dihubungi.
Kenzo belum tahu. Ia belum tahu bahwa kehancuran yang sebenarnya baru saja dimulai.
Begitu pintu gerbang besar kediaman Praditya terbuka, Kenzo merasakan sesuatu yang ganjil. Biasanya, Elang akan terdengar berlarian di taman atau setidaknya ada tanda-tanda kehidupan dari balkon kamar utama. Namun, rumah itu sesunyi makam.
Kenzo melangkah masuk, mengabaikan sambutan para pelayan yang menunduk ketakutan seolah-olah maut sedang lewat di depan mereka. Ia menaiki tangga dengan langkah lebar, menuju kamar utama.
"Anin! Aku pulang!" teriaknya sembari membuka pintu kamar dengan kasar.
Kosong.
Ranjang tertata rapi. Tidak ada gaun yang tersampir, tidak ada aroma parfum yang biasa memenuhi ruangan. Kenzo beralih ke kamar Elang. Juga kosong. Mainan Elang tertata di rak, namun napas kehidupan di sana telah sirna.
Kenzo turun kembali ke lantai bawah dengan rahang mengeras. Ia mencengkeram kerah baju salah satu pelayan yang sedang membawa nampan. "Di mana istriku?! Di mana Anindya?!"
Pelayan itu gemetar hebat, nampannya jatuh membentur lantai. "Anu... Tuan... Nyonya..."
"Kenzo."
Suara berat Tuan Praditya terdengar dari arah ruang kerja. Pria tua itu muncul dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia menatap putranya dengan tatapan kosong yang mengandung keputusasaan.
"Papa, apa-apaan ini? Di mana Anin dan Elang? Kenapa rumah ini sepi seperti kuburan?!" seru Kenzo, urat-urat di lehernya menonjol.
"Mereka pergi, Kenzo. Sudah tiga hari ini mereka menghilang," ucap Tuan Praditya datar, suaranya mengandung getir yang mendalam. "Anindya membodohi kita semua. Dia menyelinap keluar tanpa membawa barang apa pun, meninggalkan semua ponselnya agar tidak terlacak. Dia membawa Elang menjauh dari jangkauan kita."
Kenzo terdiam sesaat, seolah otaknya menolak memproses informasi tersebut. Lalu, sebuah tawa kering keluar dari mulutnya, tawa yang terdengar gila.
"Menghilang? Papa bercanda? Di bawah pengawasan puluhan orang, dia menghilang?!" Kenzo berteriak, menendang kursi kayu jati di dekatnya hingga terguling. "Kenapa Papa tidak memberitahuku saat itu juga?! Kenapa baru sekarang saat aku menginjakkan kaki di sini?!"
"Karena perusahaan sedang hancur, Kenzo!" Tuan Praditya membalas teriakan itu. "Data rahasia proyek London yang kau pegang bocor ke publik tepat saat dia pergi! Seseorang sedang menyerang kita dari dalam, dan jika aku memberitahumu saat kau di London, kau akan meninggalkan rapat penting itu dan membuat perusahaan ini bangkrut dalam semalam!"
Kenzo terengah-engah, matanya merah padam. "Aku tidak peduli dengan perusahaan! Aku menginginkan istriku! Cari dia! Tutup semua bandara! Periksa semua pelabuhan! Aku akan membunuh siapa pun yang membantunya pergi!"
Tuan Praditya menggeleng lemah. "Kita sudah terlambat. Dia sudah menghapus jejaknya dengan sangat rapi. Dan sekarang, aku harus pergi ke London untuk menyelamatkan sisa-saham kita yang hancur. Kau tetap di sini, kelola kantor pusat, atau kita akan kehilangan segalanya, Kenzo. Termasuk hakmu atas kekayaan keluarga ini."
Kenzo tidak mendengarkan. Ia berlari kembali ke kamar utama, mengacak-acak laci nakas, mencari satu saja petunjuk.
Namun yang ia temukan hanyalah ponsel pemberiannya yang tergeletak bisu, sebuah simbol ejekan dari Anindya bahwa rantai yang ia pasang telah diputuskan dengan paksa.
Tujuh ribu kilometer dari kemurkaan Kenzo, cahaya matahari Dubai menyinari sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan 'Business Bay'. Anindya melangkah masuk ke dalam lobi dengan penuh percaya diri.
Ia tidak lagi mengenakan daster atau gaun pastel yang lembut. Hari ini, ia mengenakan blazer hitam yang dipotong sempurna dengan celana kain berwarna senada, rambutnya diikat rapi, menunjukkan leher jenjang dan tatapan mata yang tajam.
"Selamat pagi, Nyonya Dian," sapa para staf di sana.
Di belakangnya, Sarah dan seorang pria paruh baya bernama Pak Malik mengikuti dengan langkah tegap. Pak Malik adalah tangan kanan Arlan di Dubai, pria yang selama bertahun-tahun menjaga rahasia besar ini.
"Nyonya, ini adalah data operasional 'Arlan International Trading'. Selama ini kami bergerak di bawah radar, namun aset kita di sini sangat stabil. Tuan Arlan memastikan perusahaan ini tidak memiliki keterkaitan hukum dengan Praditya Group." jelas Pak Malik sembari membuka pintu ruang rapat utama.
Anindya duduk di kursi pimpinan. Ia menatap tumpukan dokumen di hadapannya. "Ajari aku semuanya, Pak Malik. Aku ingin tahu setiap detailnya. Aku tidak ingin hanya menjadi pemilik di atas kertas. Aku ingin menjadi orang yang memegang kendali penuh."
Sepanjang pagi, Anindya tenggelam dalam angka dan strategi bisnis. Ia belajar dengan cepat, otaknya yang selama ini tumpul karena tekanan mental kini bekerja dengan efisiensi yang luar biasa.
Ia menyadari bahwa ia memiliki bakat yang selama ini ditekan oleh keluarga Praditya.
"Bagaimana dengan Elang?" tanya Anindya di sela-sela istirahatnya.
"Nyonya tenang saja," jawab Sarah sembari menunjukkan layar tablet. "Babysitter baru yang kita rekrut, Maria, adalah mantan perawat anak profesional. Dia sedang menemani Elang di taman bermain dalam gedung. Keamanan kita juga sudah siaga di setiap sudut."
Anindya melihat layar itu. Elang tampak tertawa lebar saat bermain di bak pasir yang bersih, tanpa ada bayang-bayang pengawal berwajah seram yang mengikutinya. Hati Anindya menghangat. Inilah kebebasan yang ia impikan.
~~
Malam itu di Dubai, Anindya tidak beristirahat. Ia kembali membuka brankas emas di apartemennya dan mengambil flashdisk dari Arlan.
Ia mulai menyusun rencana berikutnya. Bukti-bukti yang ia miliki bukan hanya soal uang, tapi juga bukti sabotase yang dilakukan Kenzo terhadap proyek-proyek Arlan di masa lalu.
Ia menatap layar laptopnya, melihat foto Kenzo yang terpampang di berita ekonomi nasional dengan judul - 'Prahara Praditya Group, Hadapi Krisis Kepercayaan'.
"Kau mencintaiku dengan cara menghancurkanku, Kenzo," ucap Anindya pelan ke arah layar. "Sekarang, aku akan menunjukkan padamu bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang yang paling kau inginkan."
~~
Di Jakarta, Kenzo sedang duduk di lantai kamar Anindya yang gelap, mengelilingi dirinya dengan botol-botol minuman keras.
Ia menatap kosong ke arah jendela, membayangkan Anindya ada di sana, tersenyum padanya. Ia belum tahu bahwa besok pagi, polisi internasional akan mulai mengetuk pintu kantornya.
Anindya di Dubai berdiri di balkon penthouse-nya, menatap cakrawala yang dipenuhi lampu-lampu megah. Ia tidak lagi takut pada kegelapan. Karena sekarang, dialah cahaya yang akan membakar habis masa lalunya.
"Ini baru permulaan, Kenzo. Selamat datang di neraka yang kau ciptakan sendiri."
...----------------...
To Be Continue ....