Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Suasana panik menyelimuti wajah Kartini, ketika dari perahu itu melangkah turun seorang wanita dengan busana pantai yang modis dan tampak sempurna. Namun sayangnya, wajah yang cantik itu dipenuhi amarah.
"Nadine? Kamu kenapa bisa ada di sini?!" Arga terkejut seketika berdiri dan menjatuhkan gitarnya di atas pasir hingga berbunyi nyaring, lalu melangkah maju berdiri di hadapan Nadine. Arga sengaja matikan handphone untuk umum dan hanya membawa nomor hp khusus keluarga, tapi tetap saja Nadine tahu keberadaannya.
Nadine tidak menjawab, matanya menatap tajam ke arah Kartini yang masih duduk di atas pasir, seolah berhadapan dengan musuh bebuyutan.
"Jangan tanya bagaimana caranya aku bisa sampai ke tempat ini Arga!" Tandas Nadine tidak lagi menggunakan embel-embel Mas, seperti biasanya dan berkata dengan nada tinggi. "Seharusnya aku yang tanya. Kenapa kamu berkhianat Arga? Kamu pikir aku tidak akan tahu pengkhianatan kamu?!"
Melihat kemarahan Nadine, Kartini yang sudah berdiri memeluk gitar hanya diam terpaku.
"Nadine, dengarkan aku dulu, ini nggak seperti yang kamu pikirkan..." Arga mencoba menjelaskan, tangannya terangkat mencoba menenangkan wanita itu.
"Nggak kayak yang aku pikirin apanya, Arga?!" potong Nadine mendelik. "Kamu pergi berdua ke tempat ini dan tidak memberitahu aku, apa namanya jiga bukan berkhianat Arga?!" pekik Nadine, hingga para pengunjung yang rata-rata bersama pasangan itu menoleh ke arahnya.
"Aku akan jelaskan Nadine."
"Aku tidak butuh penjelasanmu, Arga! Kamu nyata-nyata mengkhianati aku hanya demi Pembantu macam Dia!" Nadine berteriak, menekan kata pembantu dengan ekspresi merendahkan Kartini.
Kartini tetap diam, biar saja Nadine mengatakan dirinya seperti apapun, ia akui memang salah karena telah berada di antara hubungan Arga dan Nadine. Namun, ia hanyalah wayang yang dimainkan dalangnya. Kartini tidak akan membela diri karena Arga yang seharusnya berkata jujur demi Kakek.
"Heh, kamu! Tidakkah kau sadar siapa dan apa posisi loe? Sampai berani-beraninya bersaing dengan gue!" Nadine maju mengangkat tangan dan mengarahkan telapak tangannya ke wajah Kartini.
Plak!
Belum sampai tangannya menyentuh pipi Kartini, tangan Arga tiba-tiba menangkis.
"Kamu kelewatan Arga!" Nadine benar-benar kecewa karena Arga membela Kartini.
Kartini menahan, jantungnya berdegup kencang campur aduk antara kaget, sedih, dan ngeri.
"Kartini tidak salah Nadine, makanya dengarkan aku dulu. Kami hanya..."
"Hanya apa?!" sela Nadine, terdengar seperti terompet rusak. Arga pun akhirnya tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Jangan cari alasan hanya jalan-jalan, Arga! Kalian pergi ke tempat romantis ini hanya berdua," Nadine bukan orang bodoh, melihat interaksi mereka sedekat itu, nyanyi bareng, duduk berdua dan tertawa bahagia, seperti seorang suami istri. Apa lagi yang akan Arga jelaskan.
Nadine yang sudah di kuasai emosi itu tangannya bergerak cepat menarik rambut Kartini.
"Nadine! Cukup!" Arga berdiri di antara mereka, memisahkan jarak Nadine dan Kartini. Wajahnya tampak tegang dan panik.
"Bela terus Ga?!" Mata Nadine berkaca-kaca, namun tatapannya tetap tajam. "Pembelaanmu sejak tadi itu sudah menjadi bukti bahwa kamu memilih pembantu gendut ini daripada aku yang sudah menemanimu selama dua tahun," Nadine pun menangis, menyeret kakinya menjauh dari Arga dan Kartini.
Suasana menjadi sangat tegang. Keindahan pantai yang tadi membuat hati Kartini damai, kini terasa sesak. Ia merasa seperti orang ketiga yang merebut kebahagiaan orang lain, meskipun ia tahu, dirinya juga tidak menginginkan semua ini.
"Mbul, kamu tunggu di sini dulu ya, aku akan menjelaskan kepada Nadine," Arga berpesan akan menjemput Kartini ke tempat ini.
Belum Kartini jawab, Arga sudah berlari hingga pasir yang dia injak ngebul.
"Nadine.... tunggu!"
...~Bersambung~...
arga kmu baru tau kan kartini itu bisa semua👍
awas arga jng bela nadin,, kk klu arga bela nadin tenggelamkan aj si arga d laut sekalian