NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Cinta Terhalang Status

"Raka! Mama tetap tidak setuju kamu berhubungan dengan wanita itu!"

Suara di ujung telepon membuatku terhenyak. Nada itu tegas, menghakimi.

“Kamu tidak bisa menunda lagi. Kamu harus menyetujui perjodohan ini.”

Suara Mama kembali menyergapku. Tak banyak ucapan yang bisa keluar dari mulutku ketika perempuan itu sudah memberi penegasan. Dadaku serasa dihantam benda keras.

Wajah lembut Ningsih langsung berputar di kepalaku.

Ningsih wanita pertama yang aku kenal ketika merantau ke Jakarta.

Pertemuan yang tak ku sengaja ketika aku masuk ke klub malam. Ningsih setengah mabuk hampir diperkosa teman sejawatnya.

Sejak itulah hubungan rumit ini terjalin. Hingga akhirnya semua kebenaran tentang dirinya terkuak. Ningsih seorang janda beranak satu. Anaknya masih balita. Ia terpaksa menikah dengan lelaki brengsek yang menghamilinya.

"Tapi Ma, aku masih mencintai Ningsih," aku berusaha jujur meluapkan isi hati. Mama terdengar mendengus kesal.

"Belum selesai juga kamu, sama janda tak tahu diri itu!" ucapnya membentak. Darahku mendidih, gelas yang kupegang hampir saja retak.

Ucapan Mama benar-benar melecehkan wanita yang aku sangat cintai.

"Cukup, Ma!" Bentakan itu keluar begitu saja tanpa bisa aku hentikan. Suara di seberang terdengar bisu.

"Beraninya kamu membentak Mama, Raka. Demi melindungi perempuan itu?" Suara mama terdengar bergetar dan terbata. Suaranya mulai terisak. Aku mengigit bibir, terasa getir dan perih. Belum pernah sekalipun kalimat keras yang aku ucapkan ke Mama. Tapi barusan mama sudah keterlaluan. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum melepaskannya. Dada mulai terasa sesak.

"Ma, maafkan Raka. Raka tidak bermaksud membuat mama menangis." Kata-kataku terbata. Aku sudah membayangkan wajah sendu wanita yang sudah membesarkanku selama ini.

"Pokoknya mama nggak mau penjelasan apapun. Bulan depan kamu harus cuti. Mama sudah tentukan tanggal pertunanganmu."

Tut...

Sambungan telepon berhenti. Aku hanya bisa terdiam lama. Ku tarik kursi kantor yang biasa aku duduki. Kali ini terasa panas. Entah karena kegelisahan atau telepon mendadak dari mama tadi.

"Pak Raka, Nyonya Ningsih menunggu anda di ruang tamu," Dimas asisten pribadiku tiba-tiba masuk tanpa aku sadari.

Aku refleks menolehnya. Memberi aba-aba untuk keluar. Pikiranku benar-benar sedang kacau.

"Dimas!" Teriakku kemudian. Setelah menyadari apa yang sedang aku lakukan salah.

Lelaki itu kembali berbalik ke arahku.

"Ada apa, Pak?" Ujarnya. Wajahnya tampak pucat. Ia ketakutan menatapku.

"Suruh Ningsih ke ruanganku." Balasku. Lalu berjalan kembali ke kursi kerjaku.

Laporan yang menunggu tanda tangan persetujuan, masih tertata di meja kerja. Jangankan untuk menandatangani, sekedar untuk membukanya saja hatiku sangat enggan. Percakapan mama dan sosok Ningsih terus bergentayangan.

Kepalaku terasa berdenyut. Terlalu banyak hal-hal yang menumpuk untuk dipikirkan.

"Sayang!" Suara lembut Ningsih membuat lamunanku buyar. Aku menoleh ke arahnya, wajah cantik itu tampak sedih.

"Ada apa mencariku, sayang?" Ucapku membalas sapaannya. Ningsih langsung menghempaskan badan kepelukan. Aku hampir saja tersungkur kalau tanganku tak segera bergantung ke pinggir meja. Sekarang posisi kami saling menatap. Dadaku bergejolak, mata nakalnya seakan mulai merayuku.

"Sampai kapan hubungan seperti ini akan berjalan?" Ucapan Ningsih membuat kepalaku kembali berdenyut. Hampir saja genggaman tanganku terlepas dari pinggangnya.

"Tolong jangan ungkit itu lagi, Ningsih. Aku sedang memikirkan arah hubungan kita."

Aku berusaha mengingatkannya. Aku dilema.

"Jangan diungkit?" Ningsih berdiri dari pelukanku. Napasnya memburu, ada amarah yang tampak ia coba tahankan.

Ia tertawa mengejek, tangannya melipat di dada. Sorot matanya tajam menatap ke arahku.

"Sampai kapan hubungan rumit ini, Raka?" Suara wanita itu mulai meninggi.

Aku tak tahan terus ditekan, akhirnya batas sabarku runtuh. Tanganku meninju meja kerja cukup kuat. Membuat jari-jariku sedikit perih. Ningsih terlonjak, ia kaget mendapat reaksiku yang cukup keras.

"Maafkan aku, sayang. Aku benar-benar sudah pusing dengan keadaan sekarang." Aku coba mendekatinya. Namun ia menjaga jarak dariku, menyentak tanganku yang mencoba meraihnya.

"Aku tahu, Raka. Status sosial kita berbeda." Ujarnya terisak. Membuat dadaku membuncah. Ia menggempalkan tangannya. Suaranya bergetar dan berat.

"Aku hanya janda beranak, Raka. Bagaimana kamu akan menjelaskan kepada keluarga besarmu?" Suara merintih itu semakin membuat aku terpuruk. Beban kerja seminggu ini cukup membuatku kehilangan arah. Ditambah perjodohan mama.

Aku berusaha mendekati perempuan itu, namun ia terus menghindar.

"Tolong jangan buat aku semakin terpojok begini, sayang." Rintihku kepadanya penuh harap.

"Aku dengar dari Dimas kalau mamamu tidak setuju dengan hubungan kita." Suaranya tercekat. Ia meratap. Mengusap mukanya berkali-kali. Aku seperti lelaki bodoh yang tak bisa berbuat banyak untuk orang yang aku cintai.

Namun getaran ponsel membuat perhatianku sedikit teralihkan. Notif WhatsApp masuk. Aku bergegas meraihnya. Membuka layar ponsel.

Minggu depan mama tunggu. Tiket pesawat Jakarta—Padang sudah mama pesan. Kalau kamu tak mau dijodohkan bawa wanita pilihanmu tapi dengan syarat perempuan asli Minang.

Darahku berdesir. Pesan mama seperti ancaman yang tak memberi aku ruang gerak.

Mama yang terlalu fanatik dengan adat istiadatnya tidak membenarkan siapapun anaknya keluar dari garis keturunan. Tanganku gemetar. Ku lirik lagi Ningsih yang masih tersedu duduk di sofa ruanganku. Wanita itu terlalu jauh masuk dalam sendi hidupku, sehingga ia ataupun aku tak bisa saling melepas.

"Ningsih, maafkan aku." Aku berusaha mendekatinya. Tapi Ningsih selalu berusaha menjaga jarak.

"Kenapa Raka? Karena aku janda? Karena aku tak punya suku seperti perempuan di daerahmu?" Terdengar ucapan Ningsih penuh amarah. Bibirnya bergetar menatapku. Mata itu tak lagi tajam seperti awal tadi.

Aku merangkulnya ke dalam dekapanku. Dadanya naik turun sebab isakan. Matanya basah, aku benar-benar merasa sangat bersalah.

Aku mengusap rambutnya perlahan. Mencoba menenangkan hatinya yang sedang bergejolak.

Entah apa yang harus aku jelaskan. Aku selalu menjanjikan kalau kami akan bersatu. Tapi kenyataan itu sangat jauh dari harapan. Ini terasa amat mustahil.

Ia merebahkan kepalanya ke bahuku.

Pelukan ini terasa seperti pelarian terakhirku. Hangat, namun rapuh. Aku tahu, seerat apa pun aku memeluknya, kenyataan tak akan berubah. Mama tetap dengan adatnya, dan aku terjebak di antara dua perempuan yang sama-sama melahirkan luka di dadaku.

Jika aku memilih Ningsih, aku akan kehilangan keluarga. Jika aku menuruti Mama, aku menghancurkan wanita yang kini bersandar di bahuku.

"Maafkan aku sayang. Aku belum bisa meluluhkan hati mama untuk menerimamu."

Aku berbisik pelan di telinganya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa begitu pengecut. Tak mampu memilih, tak mampu melepaskan.

"Jika Mamamu, meminta hubungan ini berakhir. Apa yang akan kamu lakukan, sayang?" Ningsih menatapku dalam. Tatapan yang sangat membunuh. Aku membeku seperti laki-laki tak punya harga diri. Pertanyaan Ningsih benar-benar menusuk yang aku sendiri tidak punya jawaban untuk menjelaskannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!