Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 — Konfrontasi Terbesar
Malam itu, kota Sydney diselimuti hujan gerimis. Lampu jalan memantul di trotoar yang basah, menciptakan bayangan panjang yang membuat suasana semakin dramatis. Bella duduk di sofa, membungkus dirinya dengan selimut tipis, sambil memandangi secangkir teh hangat. Ia mencoba menenangkan diri, tapi jantungnya berdebar tak menentu.
Belum sempat ia menenangkan pikiran, suara ketukan di pintu membuatnya tersentak. Kali ini bukan ketukan ringan—lebih keras, mendesak.
Bella berdiri perlahan, napasnya tertahan. “Siapa…?” gumamnya pelan.
Pintu diketuk lagi, kali ini suara seorang wanita terdengar jelas. “Bella… buka pintu. Kita perlu bicara.”
Hati Bella langsung mencelos. Suara itu familiar, tajam, dan cukup membuatnya gemetar. Tanpa pikir panjang, Bella menoleh ke Dominic yang baru saja masuk dari dapur, menyiapkan teh tambahan.
Dominic menatap pintu, rahang terkatup tegang. “Jangan khawatir… aku urus ini,” katanya pelan, tapi tegas.
Bella menahan napas saat Dominic membuka pintu. Di sana berdiri Diana, berdiri anggun dengan mantel hitam basah karena hujan, rambut pirangnya menempel di wajahnya. Senyum tipisnya dingin, tapi ada sesuatu yang menantang, seolah ia tahu akan mengganggu hubungan Bella dan Dominic.
“Dominic… lama tak bertemu,” Diana memulai, suaranya manis tapi menusuk. “Aku dengar kau sudah… punya wanita baru. Dan anak kecil juga?”
Dominic tetap tenang, menatap Diana tanpa membiarkan emosinya terpancing. “Aku sudah memilih jalanku, Diana. Aku nggak ingin masa lalu menghancurkan apa yang aku miliki sekarang.”
Diana menatap Bella, senyum dingin tetap terukir di wajahnya. “Oh… kau istri kecilnya sekarang. Menyenangkan melihatmu… tapi jangan pikir kau bisa menahannya selamanya.”
Bella menahan amarah. Ia ingin menutup pintu, menegur Diana, tapi Dominic menahan tangannya. “Diana… kau di sini terlalu jauh. Pergi. Aku tak ingin masalah ini menjadi lebih besar.”
Diana tertawa tipis, sinis. “Oh, Dominic… kau selalu begitu serius. Tapi aku cuma ingin mengingatkan—masa lalu kadang muncul tanpa diundang. Jangan sampai kau menyesal lagi.”
Bella merasakan campuran marah, takut, dan iri. Ia ingin Dominic menatapnya penuh rasa sayang, menegaskan bahwa ia miliknya. Dominic menatap Bella, lalu kembali menatap Diana. “Aku tidak menyesal memilih Bella. Dan kau… tidak punya tempat di hidupku lagi. Pergilah sebelum kau menyesal.”
Diana menatap mereka sebentar, lalu berjalan perlahan menjauh, meninggalkan lobi apartemen dengan langkah anggun tapi penuh arti. Bella menutup pintu, tubuhnya sedikit gemetar.
Dominic memeluknya dari belakang, menaruh tangan di perutnya. “Lihat, kecil… ayahmu ada di sini. Tidak ada yang akan menggantikan tempat kita.”
Bella menutup mata, merasakan kehangatan yang menenangkan. Ia tahu Dominic tulus, tapi bayangan Diana masih menghantui pikirannya. Dominic menunduk, menempelkan pipinya ke rambut Bella. “Aku tahu ini berat, Bella. Tapi kau harus percaya… aku di sini. Selalu.”
Hari-hari berikutnya, Diana mulai lebih agresif. Ia mengirimkan pesan langsung ke Dominic, mencoba memancing emosi, bahkan mencoba menemui Dominic di kantornya. Bella, meski masih jual mahal, mulai merasa cemburu dan gelisah. Tapi Dominic tetap tenang, menghadapi Diana dengan kepala dingin, menjaga hatinya dan hatinya Bella.
Suatu sore, Dominic membawa Bella keluar, berjalan di taman kecil dekat apartemen. Hujan gerimis membuat suasana romantis, tapi Bella tetap waspada. Dominic menggenggam tangannya erat, menatapnya penuh arti. “Bella… percayalah. Biar Diana mencoba apa pun, hatiku hanya untukmu. Kau milikku, dan aku milikmu.”
Bella menatap Dominic, hati campur aduk—marah karena Diana, takut karena masa lalu Dominic, tapi juga… bahagia. Ia mulai menyadari satu hal: Dominic bukan hanya pria yang menyesal, tapi pria yang siap melindungi dan mencintai mereka tanpa syarat.
Di tengah hujan Sydney yang semakin deras, satu hal jelas: Diana boleh muncul, boleh mencoba mengganggu, tapi Dominic memilih Bella. Dan Bella, meski masih jual mahal, mulai membuka hatinya sedikit demi sedikit, siap menghadapi setiap serangan masa lalu—bersama Dominic.
----
Hari itu Sydney terasa panas meski musim hujan belum sepenuhnya pergi. Bella duduk di sofa, mencoba menenangkan pikirannya. Ia sudah lelah dengan permainan Diana—pesan-pesan provokatif, komentar samar di media sosial, dan kemunculan tiba-tiba di kantor Dominic. Hatinya campur aduk antara marah, cemburu, dan takut kehilangan Dominic.
Tiba-tiba, ponsel Bella bergetar. Pesan dari Dominic muncul:
“Bella, kita harus bicara. Sekarang. Diana muncul lagi.”
Jantung Bella langsung berdegup kencang. Kali ini bukan lagi ancaman samar atau komentar dingin. Diana datang untuk konfrontasi langsung. Bella menelan ludah, tapi ia tahu ia harus menghadapi kenyataan itu—bukan lari lagi.
Setelah beberapa menit, Dominic mengetuk pintu apartemen Bella, wajahnya serius. Tanpa menunggu jawaban, ia masuk, menggenggam tangan Bella. “Kau siap?”
Bella mengangguk pelan. “Aku… aku nggak akan lari.” Suaranya mantap meski hatinya berdebar.
Mereka turun ke lobi apartemen, dan benar saja, Diana berdiri di sana, tubuh tegap, mata menatap Dominic dengan senyum dingin yang membuat darah Bella mendidih.
“Dominic… kita perlu bicara,” Diana memulai, suaranya manis tapi penuh tekanan.
Dominic menatap Diana tanpa berkedip. “Kau sudah terlalu jauh. Ini hidupku sekarang, Diana. Aku memilih Bella. Aku milih keluargaku. Pergilah sebelum semuanya makin rumit.”
Diana tersenyum tipis. “Oh, aku hanya ingin Dominic tahu… aku masih punya hak untuk mencoba. Aku tak akan menyerah begitu saja.”
Bella merasa marah dan cemburu bercampur menjadi satu. Ia melangkah maju, menatap Diana. “Cukup, Diana! Aku Bella, istri kecilnya, dan aku nggak akan diam melihatmu mengganggu kehidupan kami.” Suaranya tegas, berani—bukan lagi Bella yang penakut atau ragu.
Diana menatap Bella sejenak, seolah menilai, lalu tersenyum dingin. “Kau berani… menarik. Tapi Dominic… kau benar-benar memilih dia?”
Dominic menggenggam tangan Bella erat, menatap Diana dengan tajam. “Ya, aku memilih Bella. Aku tidak akan kembali ke masa lalu. Kau dengar baik-baik—aku di sini untuk Bella, dan tidak untukmu.”
Diana menatap mereka, wajahnya sedikit berubah. Ia tersenyum samar, lalu melangkah mundur. “Baiklah… untuk sekarang. Tapi Dominic, jangan lupa, masa lalu kadang datang tanpa diundang.”
Setelah Diana pergi, Bella merasakan napasnya mulai tenang. Dominic menatapnya dengan lembut, menaruh tangan di pipinya. “Aku minta maaf kau harus menghadapi ini. Aku tahu ini berat, tapi kau kuat. Dan aku bangga padamu.”
Bella menunduk, menahan air mata. Ia tahu Dominic tulus. Ia tahu ia tidak sendiri. Ia merasa hangat dan terlindungi. Kali ini, ia benar-benar percaya—Dominic memilihnya, dan bersama mereka akan menghadapi setiap masalah yang Diana bawa.
Malam itu, ketika hujan mulai reda, Dominic memeluk Bella erat, menaruh tangan di perutnya. “Lihat… kita bersama. Tidak ada yang bisa memisahkan kita. Kau, aku, bayi kita… kita satu keluarga.”
Bella menutup mata, merasakan ketegangan yang perlahan menghilang. Ia tahu konflik dengan Diana mungkin belum berakhir, tapi satu hal jelas: Bella dan Dominic kini kuat, siap menghadapi apa pun bersama, dan cinta mereka tak tergoyahkan.
kasih gebrakan yg gimana
ini...kyk masih ada ditempat setelah ber bab bab
pergi atau tinggal?
putuskan segera
aku sebal
aku....aakhh bingung mau apa ya 🙄😜🤣
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹