Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Cika mulai merasa sedikit lebih baik dan energinya kembali. Namun, tiba-tiba sebuah hantaman kuat menghantam pintu, meninggalkan lubang besar di permukaannya. Dua serangga hijau dari kelompok itu langsung menerobos masuk ke dalam ruangan. Semua orang berteriak panik.
Cika merasa ngeri luar biasa hingga jatuh tersungkur ke lantai. Cairan kekuningan menetes ke tubuhnya, baunya menyengat dan tidak sedap. Tak seorang pun menduga mereka harus menghadapi dua serangga sekaligus.
Budi merasakan punggungnya merinding, tapi ia cepat mengangkat Parang-nya dan menyerang titik-titik lemah pada salah satu serangga. Serangga pertama terlalu sibuk mencari makanan sehingga mengabaikan keberadaan Budi. Akibatnya, ia kehilangan nyawanya dalam sekejap. Serangga itu menjerit kesakitan, tapi tubuhnya hampir tidak bisa bergerak lagi. Budi segera mendekat dan menebas punggungnya, meninggalkan luka panjang dan dalam.
Serangga kedua menyadari ada yang tidak beres. Ia mengguncang tubuhnya dan memperpanjang dua kaki depannya yang tajam.
“Pnngg!”
Serangan kaki depan itu menghasilkan suara yang membuat Budi pusing sejenak. Ia berusaha menghindar, tapi kaki serangga masih sempat mengenai dadanya dan merobek rompi kulit ular yang ia pakai. Sisik rompi itu hancur berkeping-keping dan jatuh ke lantai. Rompi antipeluru buatannya kini terbuka lebar.
Hanya Jeni yang masih cukup sadar. Ia berteriak keras, “Tutup pintunya! Cepat tutup pintunya!”
Rian melihat dua serangga hijau sudah berada di dalam ruangan, tubuhnya langsung menggigil ketakutan. Ia buru-buru mendorong pintu dan menutupnya sekuat tenaga. Cika juga cepat bangkit dari lantai. Semua kejadian itu terasa lama, padahal hanya berlangsung dalam hitungan detik.
Serangga yang diserang Budi menjadi sangat marah. Budi langsung menyerbu lagi dan menebas bahu kirinya sebelum serangga itu sempat bereaksi. Tubuhnya hampir terbelah menjadi dua dan akhirnya ambruk ke lantai.
Budi sempat merasa lega sesaat. Namun, ia sadar serangga kedua belum mati. Ia segera memberikan serangan akhir untuk memastikan kematiannya. Napasnya tersengal-sengal karena kelelahan.
Meski pertarungan itu hanya berlangsung beberapa detik, itu adalah pertempuran yang sangat berbahaya dan menuntut konsentrasi penuh. Satu kesalahan kecil saja, mereka semua akan mati.
Ketiga orang lainnya berusaha sekuat tenaga menahan pintu. Begitu ruangan menjadi sepi, mereka merasa tegang. Dua serangga sombong itu kini tergeletak di genangan cairan kehijauan, tubuhnya hampir terbelah dua.
Semua orang memandang Budi dengan kagum saat ia bersandar di dinding sambil bernapas berat. Jeni hampir tidak percaya bahwa Budi baru saja membunuh dua serangga gila itu dengan begitu cepat.
“Bu..Budi… apakah kita harus membiarkan dua serangga yang tersisa masuk juga?” tanya Rian tiba-tiba.
“Biarkan mereka masuk, tapi satu per satu,” jawab Budi tenang. “Kalau aku bereaksi sedikit lebih lambat, kita semua akan mati.”
Cika merasa sangat malu. “Maaf…” katanya pelan. Kalau ia tidak lengah tadi, pintu tidak akan terbuka lebar dan serangga tidak akan menerobos masuk.
Budi ingin memarahinya habis-habisan, tapi ia tahu kalau melakukannya sekarang justru akan memperburuk suasana. Ia hanya menggelengkan kepala dengan pasrah. “Aku percaya kebanyakan orang akan bereaksi seperti itu di situasi tadi. Lain kali lebih berhati-hati ya.”
Cika sangat berterima kasih. Cara ia memandang Budi mulai berubah. Kehadiran Budi sepertinya mampu meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri mereka.
Setelah itu, segalanya berjalan lebih lancar. Dua serangga hijau yang tersisa tidak lagi menimbulkan masalah besar di bawah pengawasan ketiganya. Budi berhasil membunuh keduanya dengan bersih. Semua mayat serangga diseret masuk ke ruang pertemuan agar tidak menarik perhatian serangga lain dari luar.
Jeni duduk di bangku dan melihat genangan cairan di lantai ruangan. Ia bertanya, “Apakah ada air di ruangan ini? Aku haus sekali.”
Rian yang tahu apa yang terjadi tadi langsung nyengir dan berkata, “Ups… sepertinya lebih baik kamu tanya langsung ke Cika.”
Cika terlalu malu untuk menjawab. Ia buru-buru melepas blazernya dan menggunakannya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Jeni langsung mengerti dan menatap Rian tajam. “Saluran kemih wanita lebih pendek daripada pria, makanya kami tidak bisa menahan terlalu lama. Apa masalahnya? Kamu sendiri juga tidak lebih baik dari tadi.”
Rian tidak berani bercanda lagi dengan Jeni. Ia cepat-cepat berkata, “Aku cuma mau meringankan suasana saja…”
Tiba-tiba, mereka semua mendengar suara ledakan keras dari kejauhan, diikuti getaran yang cukup kuat. Jeni terkejut dan langsung bangkit dari bangku. Ia mencoba menelepon beberapa kali, tapi tidak ada yang mengangkat di seberang. Wajahnya memucat.
Rian dan Cika juga mengeluarkan ponsel mereka, mencoba menghubungi keluarga atau rekan kerja, tapi hasilnya sama tidak ada jawaban. Mereka semakin gelisah.
“Menurut kamu apa yang terjadi di luar?” tanya Jeni kepada Budi.
Budi menggelengkan kepala. “Ya ndak tau kok tanya Saya.”
Sejumlah besar serangga hijau telah tiba di kota kecil ini. Siapa yang mau percaya bahwa mereka hanya lewat saja? Seluruh kota sudah runtuh. Situasinya tidak berbeda dengan neraka di dunia nyata.
Suara ledakan di kejauhan akhirnya mereda setelah setengah jam. Tapi bukannya lega, Budi justru merasa dingin di punggungnya. Menghabisi sekelompok besar serangga dalam waktu singkat itu bukan hal mudah. Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah kota ini sudah kalah dan sekarang dikuasai sepenuhnya oleh serangga hijau.
Kota yang tak berdaya ini sekarang seperti lumbung makanan raksasa yang ditinggalkan begitu saja untuk mereka. Pikiran itu membuat Budi gelisah dan dadanya terasa sesak.
Keamanan di masa perang memang selalu rapuh. Bisa hancur kapan saja, seperti istana pasir di pantai. Satu-satunya cara agar Budi merasa aman lagi adalah dengan memperkuat dirinya sendiri. Ia tinggal membunuh lima serangga hijau lagi untuk menyelesaikan misi. Satu poin atribut plus lima poin bonus keterampilan pasti cukup untuk naik level dan membuat kekuatannya melonjak. Setelah itu, ia tak perlu takut lagi pada serangga-serangga ini.
Begitu memikirkan itu, Budi tak mau diam saja. Ia berdiri dan berkata, “Aku mau keluar. Kalian ikut atau tetap di sini?”
Rian langsung bertanya, “Mas Budi, di luar bahaya banget. Di sini kan lebih aman. Kenapa harus keluar?”
“Aku nggak mau terjebak di sini selamanya,” jawab Budi singkat.
Cika bangkit pelan dan berkata dengan suara gemetar, “Aku… aku ikut sama Kak Budi!”
Ia sudah sadar bahwa Budi adalah satu-satunya alasan mereka masih hidup sampai sekarang. Kalau Budi memaksa keluar dan ia ingin tetap selamat, pilihan terbaik ya ikut saja. Lagipula, ruangan ini sudah nggak aman lagi dengan pintu yang rusak parah. Serangga hijau bisa datang kapan saja, dan tanpa Budi, mereka bertiga pasti nggak bisa melawan.
“Mas Budi..bisakah kamu antar aku pulang? Anak perempuanku sendirian di rumah,” pinta Jeni dengan suara memohon.
Budi menggelengkan kepala. Ia melihat keputusasaan di mata Jeni, lalu berkata pelan, “Kita nggak bisa keluar sekarang. Di luar masih banyak serangga. Terlalu berbahaya. Kita tunggu dulu sampai keadaan lebih aman.”
Jeni langsung menangis haru. “Terima kasih banyak… Aku benar-benar nggak tahu harus bilang apa. Aku sangat berterima kasih!”
Budi pernah mengambil risiko besar demi mencari teman serumahnya di hutan waktu itu. Jeni ingat betul. Orang seperti Budi sudah jarang sekali ada di dunia sekarang. Karena itu, ia percaya padanya meski Budi tidak janji apa-apa.