NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:31.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

“Iya,” jawab Nyonya Ratih sambil tersenyum tipis.

“Kalian berdua perlu beristirahat dulu di Bandung malam ini. Besok pagi baru berangkat ke Jakarta. Melodi biar Ibu yang menjaga.”

Arsyi menoleh cepat, tampak ragu. “Melodi ikut Tante ke Jakarta?”

“Iya, Nak,” sahut Nyonya Ratih. “Kalian pasti lelah setelah hari yang panjang ini. Gunakan waktu ini untuk beristirahat.”

Harsa terlihat hendak menolak. “Bu, sebenarnya tidak perlu—”

Namun, ia menghentikan ucapannya saat melihat tatapan ibunya yang penuh harap. Ia memahami bahwa penolakan hanya akan menimbulkan perdebatan yang tidak perlu di malam yang sudah cukup melelahkan.

Akhirnya, Harsa menghela napas pelan dan menerima kunci tersebut. “Baik, Bu. Terima kasih.”

Nyonya Ratih menepuk pelan bahu putranya. “Jaga Arsyi dengan baik,” pesannya.

Harsa hanya mengangguk singkat.

Arsyi mendekati Melodi dan mengecup lembut kening bayi itu. “Besok kita bertemu lagi, ya, sayang,” bisiknya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Setelah semua perpisahan selesai, mobil yang membawa Tuan Hendra, Nyonya Ratih, dan Melodi perlahan meninggalkan halaman rumah. Arsyi menatap kendaraan itu hingga menghilang dari pandangan, meninggalkan perasaan hampa yang sulit dijelaskan.

Tak lama kemudian, Harsa membuka pintu mobilnya. “Ayo,” ucapnya singkat.

Arsyi mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju penginapan dimulai dalam keheningan. Lampu-lampu jalanan Bandung menemani perjalanan mereka, menciptakan bayangan yang bergerak di dalam kabin mobil.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Hingga akhirnya, Harsa memecah keheningan. “Arsyi,” panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

“Iya,” jawab Arsyi pelan.

“Aku ingin kita saling memahami sejak awal,” lanjut Harsa dengan nada datar namun tegas. “Pernikahan ini terjadi bukan karena keinginan kita.”

Arsyi menunduk, jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan. “Aku mengerti, Kak."

Harsa melanjutkan, “Aku tidak ingin kamu terlalu berharap pada pernikahan ini.”

Kalimat itu terasa dingin, namun disampaikan dengan kejujuran yang tak terbantahkan.

“Aku melakukan ini karena permintaan Nadin dan demi Melodi,” tambahnya. “Tidak lebih dari itu.”

Arsyi menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Aku juga tidak memiliki harapan apapun, Kak Harsa. Aku menerima pernikahan ini karena alasan yang sama.”

Harsa melirik sekilas ke arahnya, seolah mencoba memastikan kebenaran dari ucapan tersebut. “Bagus kalau begitu. Itu akan memudahkan kita berdua.”

Suasana kembali hening.

Namun, kali ini keheningan itu terasa lebih berat karena dipenuhi kesadaran bahwa hubungan mereka dibangun di atas keterpaksaan.

Beberapa saat kemudian, ponsel Harsa berbunyi. Ia melihat pesan dari ibunya yang berisi lokasi penginapan yang telah dipesan. Setelah memastikan alamat tersebut, ia mengarahkan mobil menuju tujuan.

Tak lama, mereka tiba di sebuah penginapan yang tenang dengan pencahayaan hangat. Harsa memarkirkan mobil dan keluar tanpa banyak bicara. Arsyi mengikutinya dari belakang, langkahnya pelan seolah masih berusaha menerima kenyataan bahwa ia kini telah menjadi istri dari pria yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Di depan pintu kamar, Harsa memasukkan kunci yang diberikan ibunya. Pintu terbuka, memperlihatkan kamar yang sederhana namun nyaman. Ia mempersilakan Arsyi masuk lebih dulu.

“Kamu bisa istirahat,” ucapnya singkat. “Besok pagi kita berangkat ke Jakarta.”

Arsyi mengangguk. “Terima kasih.”

Harsa meletakkan tasnya di sudut ruangan, lalu berdiri sejenak sebelum berkata, “Aku akan tidur di sofa.”

Arsyi menatapnya, sedikit terkejut. “Tidak perlu, aku bisa—”

“Tidak apa-apa,” potong Harsa dengan lembut namun tegas. “Kamu lebih membutuhkan istirahat.”

Arsyi tidak membantah lagi, dia hanya mengangguk pelan.

Malam itu, keduanya berada dalam satu ruangan, namun terasa seperti dua dunia yang berbeda. Tidak ada percakapan lanjutan, hanya suara pendingin ruangan yang mengisi kesunyian.

Arsyi berbaring di atas tempat tidur, menatap langit-langit dengan pikiran yang berkelana. Ia menyentuh cincin di jarinya, simbol dari ikatan yang baru saja terjalin. Di sisi lain, Harsa duduk di sofa dengan mata terpejam, namun pikirannya jauh dari kata tenang.

Pernikahan itu memang telah sah. Namun, cinta masih menjadi sesuatu yang sangat jauh dari jangkauan keduanya.

Tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam, suasana penginapan yang sebelumnya sunyi mendadak berubah. Angin kencang berhembus, menghantam dinding dan jendela dengan suara yang menggetarkan. Tak lama kemudian, kilatan petir membelah langit, diikuti suara guntur yang menggelegar, menggema hingga ke dalam kamar.

Di atas tempat tidur, Arsyi yang semula terlelap perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan ruangan yang sesekali diterangi cahaya petir dari luar jendela. Suara angin yang menderu membuat suasana terasa semakin mencekam.

Arsyi menoleh ke arah sofa panjang di sudut ruangan. Di sana, Harsa tampak berbaring dengan posisi miring, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Wajah pria itu terlihat lelah, seolah beban hari yang panjang belum sepenuhnya terlepas dari dirinya.

Sebuah kilatan petir kembali menyambar, diikuti suara guntur yang lebih keras dari sebelumnya.

“Duar!”

Arsyi tersentak. Napasnya tertahan sejenak, sementara jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya refleks menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Ia berusaha menenangkan diri, namun suara angin yang menghantam jendela membuat rasa takut itu semakin nyata.

Ia memang tidak pernah benar-benar berani menghadapi badai. Sejak kecil, setiap kali hujan deras disertai petir, ia selalu mencari perlindungan pada seseorang, dulu pada ayahnya, kemudian pada Nadin, kakaknya. Kini, untuk pertama kalinya, ia harus menghadapi ketakutan itu sendirian.

Arsyi memejamkan mata, mencoba mengabaikan suara di luar. Namun, setiap kilatan cahaya yang menembus tirai jendela membuatnya kembali gemetar. Ia semakin menenggelamkan diri di dalam selimut, memeluk tubuhnya sendiri, berharap rasa takut itu segera berlalu.

“Tenang … ini cuma badai,” bisiknya pelan pada diri sendiri.

Namun, suaranya sendiri terdengar rapuh. Guntur kembali menggelegar, kali ini lebih keras hingga membuat kaca jendela bergetar. Arsyi tak mampu menahan diri lagi. Ia membuka matanya dan kembali melirik ke arah Harsa. Pria itu tampak masih terlelap, tidak menyadari ketakutan yang sedang ia rasakan.

Arsyi ragu sejenak. Ia ingin memanggil Harsa, namun teringat kembali percakapan mereka sebelumnya, tentang batasan, tentang harapan yang tidak boleh ada dalam pernikahan ini. Keraguan itu membuatnya menahan diri.

“Aku tidak boleh merepotkannya…” gumamnya pelan.

Namun, badai di luar seolah tidak memberi ruang untuk keberanian. Kilatan petir kembali menyambar, disusul guntur yang menggetarkan seluruh ruangan. Tanpa sadar, air mata mulai mengalir di sudut matanya.

Arsyi akhirnya bangkit perlahan dari tempat tidur. Selimut masih melingkupi tubuhnya saat ia duduk, memeluk kedua lututnya. Tatapannya kembali tertuju pada Harsa yang masih berbaring di sofa.

Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berbisik, “Kak Harsa…”

1
Eva Karmita
dasar licik pelakor kegatelan semoga aja jebakan mu ngk berhasil dasar wanita gila pewaris otak setan 😤😏
Endang 💖
haraa siap2 kau di bodohin sama sekertaris mu, atau jgn2 pembatalan bisnis ini juga rencana dari rina
Nanik Arifin
Rina skretaris, tahu & sering berhubungan dg mitra" perusahaan. Rina dibalik pembatalan kerjasama.
caramu sungguh busuk, Ran
Nanik Arifin
Ayuk Harsa, kasih celah sekretarismu yg jatuh hati pdmu sejak dlu celah tuk masuk. biarkan rumah tanggamu, anakku & keluargamu hancur oleh hasutan Rani
Fitra Sari
lanjut Thor doubel up donk
mama
CEO ter oon masuk jebakan🤣..mudah2 jebakan ny berjalan dgn lancar,dan perceraian segera datang harsa..semangat buat rina..gas pool buat CEO goblok masuk perangkap mu..jgn ksih celah buat gagal🤣..baru kali ini baca nopelll CEO nny oon bin goblok🤭..gak punya detektip ato asisten apalagi kaki kan buat hendel masalah2 darurat🤣
neny
klau pun di beri obat perangsang,,smg dia lampiaskan sm istri nya
neny
smg harsa tdk terjebak ya sm ulat keket itu,💪💪😘
Teh Euis Tea
takutnya si harsa di jebak si rina minum obat perangsang
Rarik Srihastuty
fix ini akal2an Rina buat jebak di harsa
Ita rahmawati
fix kamu dikadalin SM buaya betina harsa² 🤦
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂
Ikaaa1605
Yyyaaahhh dasar licik emng si rina
Dewi
si Rina keliatannya aja baik tpi dibelakang ada niat jahat
Aditya hp/ bunda Lia
Kan sudah jelas ini ulah si Rina dan dia mau ngejebak si idiot Harsa dasar CEO oon ntar kamu di kasih minum obat setan ....
Valen Angelina
smua kerjaan Rina ini mah.... liat pak harsa gmn cara atasinya....
axm
jangan jadi orang bodoh harsa,harus harsa jeli gerak gerik rina 🤭
Maryati ramlin
dobel up
Naufal Affiq
kalau kau percaya dengan omongan rina,berarti kau harsa orangbudik
Valen Angelina
pasti arsy yg disalahkan wkwkkw....
Eva Karmita
ini sudah pasti ulahnya si rina sekertaris gatal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!