"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Ayah
Di sebuah vila mewah yang bertengger amgkuh di lereng pegunungan, tawa kemenangan pecah layaknya sumfoni iblis. Di dalam ruangan yang dipenuhi asap cerutu mahal danaroma alkohol yang menyengat, Yusuf duduk dengan kemeja yang sedikit terbuka, tertawa terbahak-bahak sambil menghitung tumpukan uang di atas meja jati.
Namun, di sudut ruangan yang paling gelap, duduk seorang pria yang membuat atmosfer perayaan itu terasa mencekam. Pria itu mengenakan jas hitam slim-fit tanpa dasi. Kulitnya sepucat salju, rambutnya perak berkilau di bawah lampu gantung kristal, dan sepasang mata birunya menatap tajam ke arah sebotol wiski di depannya.
Ciri fisik adalah replika semuprna dari Rasyid, akan tetapi aura yang dimiliki jauh berbeda dari sang Kyai. Jika Rasyid adalah cahaya fajar yang menenangkan, pria ini adalah kegelapan palung samudra yang mematikan.
Zein.
Seorang wanita penghibur mencoba mendekati bahunya dengan manja. Tanpa menoleh, Zein menangkap pergelangan tangan wanita itu. Terdengar bunyi krak yang pelan tetapi mengerikan. Wanita itu menjerit kesakitan saat Zein memutar tangannya hingga ia jatuh berlutut.
"Janga penah menyentuhkutanpa izin, sampah," desis Zein. suaranya dingin, sehalus bludru namun setajam silet. Ia melepaskan tangan wanita itu aeolah baru saja membuang tisu kotor, lalu mengusap telapak tangannya deangansapu tangan sutra.
Setelah suara tulang pegelangan tangan wanita itu retak, suasana di vila mewah itu berubah seketika menjadi ruang hampa udara. Jeritan wanita itu terhenti secara paksa saat salah satu pengawal Zein menyeretnya seperti karung sampah. Yusuf, yang tadinya dudk dengan kaki menyilang penuh keangkuhan, kini menarik kakinya dan duduk tegak. Keringat dinginmulai merembes dari pelipisnya
Di sudut lain ruangan, tiga pria berbadan tegap dengan tato menutupi leher, anggota inti geng bayaran yang disewa Yusuf saling melempar pandang. Mereka merasa haga diri mereka terinjak melihat bos mereka, sementara Yusuf tampak sangat ketakutan pada pria bule yang tampak klimis itu.
"Tuan Zein." salah satu pria itu, algojo berwajah parut bernama Baron, berdiri dengan angkuh. Ia memainkan pisau lipat di tangannya. "Kami menghargai uangmu. Tapi kami bukan pelayan yang bisa kau perintah dengan gaya aristokratmu itu. Di sini, di tanah ini, kami yang punya kuasa. Jika kau terus bersikap sombong, mungkin video fitnah itu akan berbalik arah kepadamu."
Zein hanya diam, dia bahkan tidak menoleh, seolah dunianya telah teralih kesebotol wiski yang ada di tangannya. Zein tersnyum tipis. Sebuah senyuman yang sangat mirip dengan Rasyid saat sedang tausiyah, namun penuh dengan racun mematikan.
"Baron," ucap Zein pelan. Suaranya rendah,bergetar dengan otoritas yang membuat bulu kuduk berdiri. "Kau tahu apa perbedaan antara aku dengan saudaraku, si Kyai suci itu?"
Baron mendengus remeh. "Diapakai sorban, sedangkan kau memakai jas. Hanya itu saja."
"Salah." Zein perlahan bangkit dari kursinya. Ia melangkah mendekati Baron dengan gerakan yang sangat tenang, seperti predator yang sudah tahu mangsanya tidak bisa lari. "Rasyid takut pada dosa. Dia takut pda neraka. Sedangkan aku..."
Dalam gerakan yang hampir tidak terungkap mata, Zein meraih rahang Baron dan menekannya dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk pria yang bertumbuh ramping. Ia mendorong tubuh Baron hingga punggung pria itu menghantam pilar beton vila.
"Aku adalah neraka itu sendiri," desis Zein. Matanya yang biru bekilat dingin, tanpa emosi, tanpa belas kasih. Dua anggota gemg lainnya hendak mencabut senjata, namun dalam sekejap, moncong pistol dari pengawal pribadi Zein yang berada di bayangan ruangan sudah menempel di pelipis mereka.
"Kau mengancam dengan video itu?" Zein mengambil pisau lipat dari tangan Baron yang gemetar, lalu dengan gerakan santai, ia menyayatkan ujung pisau itu ke pipi Baron perlahan, hanya untuk melihat darah merembes. "Aku bisa menghapus seluruh keberadaanmu dari muka bumi ini hanya dengan satu telepon. Jangan pernah menyamakan posisimu denganku hanya karena kita duduk di ruangan yang sama."
Zein melepaskan cengkramannya. Baron jatuh terduduk, memegangi pipinya yang terluka dengan wajah pucat pasi. Zein kemudian berbalik, menatap ke arah Yusuf yang kini sudah berlutut di lantai, tidak berani mendongak.
"Yusuf," papngil Zein.
"Y-ya, Tuan?" suara Yusuf bergetar hebat.
"Pastikan anjing-anjingmu ini mengrti hierarki mereka. Jika ada satu saja kata yang salah keluar dari mulut mereka, aku tidak akan hanya mematahkan tangan. Aku akan memastikan kalian memohon kematian saat aku menguliti kalian hidup-hidup."
Zein kembali duduk di kursinya, menyilangkan kakinya dengan elegan seolah tidak ada hal besar yang baru saja terjadi. Ia menyesap wiskinya kembali. Di bawah lampu kristal, wajah albinonya tampak begitu cantik namun mengerikan. Ia adalah cermin rusak dari Rasyid; wajah yang seharusnya memberikan kedamaian, kini justru menjadi simbol kehancuran.
"Lanjutkan laporannya," peintah Zein dingin. "Dan kau Baron... bersihkan darahmu dari lantaiku. Itu mengganggu pemandangan."
Yusuf dan seluruh orang di ruangan itu kini benaar-benar tunduk. Mereka baru menyadari bahwa mereka bukan sedang bekerja untuk bangsawan biasa, melainkan untuk seorang sosiopat yang telah membuang sisi kemanusiaannya demi satu tujuan: melihat Rasyid hancur berkeping-keping. Di mata mereka. Zein bukakn lagi manusia; melainkan ia adalah iblis yang memakai wajah seorang yang suci.
"Tuan Zein, rencana berhasil sempurna. Rasyid sekarang tidak lebih dari mayat hidup," ucap Yusuf, masih dengan tundukan kepala penuh rasa takut.
Zein tidak menjawab. Ia mengambil sebuah pisau lipat kecil, lalu mulai menyayat foto keluarga besar Pondok Hikmah yang tergeletak di atas meja. Ia menyayat wajah almarhum ayahnya berkali-kali hingga kertas itu hancur, lalu menancapkan pisau itu tepat di jantung gambar Rasyid.
"Dia mendapatkan sorban, gelar Kyai, dan rasa hormat dunia," Zein menuangkan wiski ke atas foto yang terkoyak itu. "Sementara aku dan Ibuku dibuang ke jalanan Turki seperti anjing kurap hanya karena Ayah tidak ingin 'noda' darah aslinya mengotori marwah pesantrennya. Dia ingin darah murni? Aku akan memberikan darah murni yang paling busuk untuknya."
Zein bangkit, berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah pesantren di kejauhan. "Yusuf, pastikan fitnah narkoba itu meluas ke media nasional. Aku ingin melihat pahlawan suci itu membusuk di penjara, dan Tuan Putrinya... akan memohon padaku untuk menjadi alas kakiku."
Sementara itu, di Pondok Hikmah, matahari seolah enggan bersinar. Kesunyian di tempat ini terasa lebih menyakitkan daripada keributan fitnah sebelumnya.
Rasyid berjalan keluar dari rumah joglo menuju masjid untuk salat Subuh. Ia mengenakan sorban yang sedikit miring, wajahnya tirus dengan lingkaran hitam di bawah mata. Namun, saat kakinya menginjak halaman masjid, para santri yang sedang duduk-duduk segera berdiri dan menjauh dengan tatapan jijik.
Jamaah yang tadinya memenuhi saf depan tiba-tiba bubar. Saat Rasyid melangkah ke tempat imam, seorang ustadz senior dengan halus namun tegas menghalanginya.
"Maaf, Kyai... demi menjaga ketenangan jamaah, biarkan Ustadz Ahmad yang memimpin kali ini," ucap ustadz tersebut tanpa berani menatap mata biru Rasyid yang penuh luka.
Rasyid mematung. Ia mundur perlahan, berdiri di barisan paling belakang, sendirian. Tidak ada yang mau berdiri di sampingnya. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit yang merobek jiwanya: Manusia hanya akan mengingat satu titik hitam kecil di atas kain putih yang luas. Seribu kebaikannya selama ini menguap, digantikan oleh satu fitnah yang bahkan belum terbukti.
Sepulangnya dari masjid, Rasyid duduk di meja kerjanya yang gelap. Ia menatap tumpukan dokumen warisan ayahnya dengan benci. Setiap kali ia melihat stempel ayahnya, ia teringat wajah Shanum yang hancur saat mengetahui rahasia itu.
Tiba-tiba, aroma masakan yang sangat ia kenali masuk ke indra penciumannya. Sebuah piring berisi nasi hangat dan lauk kesukaannya diletakkan di meja secara diam-diam. Rasyid mendongak, ia melihat punggung Shanum yang sedang melangkah keluar dari ruangan.
Shanum tidak menyapanya. Ia tidak menatapnya. Ia hanya datang untuk menaruh makanan itu, lalu pergi sebelum Rasyid sempat mengucapkan sepatah kata pun. Shanum menjaga jarak yang sangat lebar, namun perhatian kecil itu membuktikan bahwa di balik kekecewaannya, ia tidak bisa membiarkan suaminya mati kelaparan.
Rasyid menyendok nasi itu dengan tangan gemetar. Ia makan sambil menangis dalam diam, membiarkan butiran air matanya jatuh ke atas piring. Makanan itu adalah satu-satunya hal yang masih terasa seperti "rumah" di tengah dunia yang kini memusuhinya.
Di sudut lain pesantren, Zaki sudah tidak bisa lagi menahan sabar. Ia mendatangi Shanum yang sedang duduk melamun di teras belakang.
"Mbak Shanum, saya mohon!" Zaki berlutut di depan Shanum, wajahnya penuh keputusasaan. "Mas Kyai sudah menyerah. Dia merasa dirinya sampah karena dosa ayahnya. Jika Mbak Shanum juga menjauh, dia benar-benar akan mati perlahan!"
Shanum menatap Zaki dengan mata dingin. "Zaki, ayah suamimu yang membuangku ke neraka. Kamu minta aku untuk apa? Memeluk anak dari pria yang menghancurkan hidupku?"
"Tapi Mas Rasyid tidak tahu apa-apa, Mbak! Dia juga korban!" suara Zaki meninggi. "Video itu palsu. Saya tahu ada seseorang yang sengaja meniru ciri fisik Mas Rasyid. Siapa di dunia ini yang punya kulit albino dan mata biru selain Mas Kyai? Ini bukan kebetulan!"
Shanum tertegun. Kata-kata Zaki memancing insting "jalanan"-nya yang tajam. Ia teringat Mr. Demir, ia teringat rahasia kekaisaran, dan ia teringat Yusuf yang tampak begitu percaya diri.
Shanum perlahan berdiri, aura "Singa Jalanan"-nya yang sempat redup kini menyala kembali. Ia tidak bisa membiarkan Rasyid hancur hanya karena dosa masa lalu yang bukan perbuatannya. Jika ia harus pergi ke Turki dalam waktu satu bulan, ia tidak ingin meninggalkan suaminya dalam kondisi sebagai pesakitan.
"Zaki," suara Shanum berubah menjadi tajam dan otoriter. "Cari tahu siapa pria yang ada di video itu. Ciri fisik albino itu terlalu langka untuk sekadar kebetulan. Kita tidak sedang melawan Yusuf. Yusuf hanyalah anjing penjaga."
Shanum mengepalkan tangannya. "Kita sedang melawan seseorang yang sangat mengenal Rasyid. Seseorang yang ingin menghancurkan marwah pesantren ini seakar-akarnya."
Tiba-tiba, ponsel Shanum bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal:
*Tuan Putri, singgasanamu menanti di Turki, tapi bangkai suamimu akan menjadi alas kakiku. Nikmatilah sisa waktumu di tanah terkutuk*itu.
Shanum menatap pesan itu dengan rahang mengeras. Ia menoleh ke arah Zaki. "Lupakan rencana bulan madu ke Bali. Siapkan 'peralatan' kita. Malam ini, kita mulai berburu ular yang bersembunyi di balik bayangan suamiku."
malam ini niatnya mau up 3 nan tapi ternyata malah drop lagi:) Btw aku mau banget ngobrol sama kalian. kalau aku bikin grup fans kalian mau tidak?
biarkan shanum bertemu keluarganya dulu, smua orang mengganggapmu rendah tapi shanum anggap kamu suami yg baik dan pantas dihormati...
shanum berharap pulang keturkey bisa hamil....
zein ingin menghancurkan nama baik rasyid Zen punya dendam kesumat kayaknya...
semoga aja rasyid segera kembali, mencari bukti-bukti akurat agar baik bersih...
yusuf dan zein jebloskan aja kepenjara, ada bukti-buakti yg kuat...
💪
apakah rasyid fan zein ada hubungan saudara....
rasyid sangat terpuruk telah difitnah sama yusuf, apalagi shanum cuekin rasyid tidak terima ulah ayah rasyid dulu sampai tega membuang shanum dirumah bordir🤭
kayaknya yusuf punya dendam kesumat sama rasyid, yusuf berusaha menjatuhkan rasyid...
shanum dan rasyid lebih hati-hati sama yusuf sangat jahat dan licik..