NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Benih Kecurigaan

Mobil yang membawa Lisa dan Devan melaju tenang di tengah jalanan kota yang mulai lengang, lampu-lampu malam memantul di kaca jendela menciptakan bayangan yang bergerak perlahan, namun di dalam mobil itu suasana justru jauh dari santai karena percakapan yang terjadi bukan lagi sekadar rencana biasa, melainkan penyusunan langkah yang bisa mengubah posisi semua orang yang terlibat di dalam permainan ini, dan Lisa yang duduk dengan tenang di kursinya terlihat seperti seseorang yang sudah mengetahui arah akhir dari semua ini meskipun jalannya masih panjang.

“Kita tidak punya banyak waktu,” kata Lisa pelan tanpa menoleh.

Devan yang duduk di sampingnya melirik sekilas.

“Mereka belum bergerak sejauh itu,” balasnya.

Lisa tersenyum tipis.

“Justru karena itu,” katanya, “kalau kita terlalu lambat… mereka akan mulai berpikir lebih hati-hati.”

Devan mengangguk pelan.

Ia memahami maksudnya.

“Jadi kamu ingin mempercepat semuanya,” katanya.

Lisa menoleh sedikit.

“Aku ingin membuat mereka tidak sempat berpikir,” jawabnya.

Kalimat itu jelas.

Dan berbahaya.

Beberapa detik hening sebelum Devan bertanya lagi dengan nada lebih serius, “Kita mulai dari siapa?”

Lisa tidak langsung menjawab, ia menatap ke depan beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Clara.”

Nama itu keluar tanpa ragu.

Devan memperhatikan reaksinya.

“Kamu yakin?” tanyanya.

Lisa mengangguk pelan.

“Dia yang paling emosional,” katanya, “dan orang seperti dia… paling mudah dipancing.”

Devan sedikit menyandarkan tubuhnya.

“Dan Arvin?” tanyanya.

Lisa tersenyum tipis.

“Dia akan mengikuti permainan kita,” jawabnya singkat.

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gedung apartemen mewah, tempat tinggal Lisa, dan begitu mereka turun, suasana kembali berubah menjadi lebih tenang, namun justru di dalam ketenangan itu rencana mereka mulai terbentuk dengan lebih jelas.

Lisa berjalan masuk tanpa terburu-buru, sementara Devan tetap di sampingnya, tidak lagi mempertanyakan ke mana arah ini akan membawa mereka, karena sekarang ia sudah memutuskan untuk ikut sampai akhir.

Begitu sampai di dalam apartemen, Lisa langsung meletakkan tasnya dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke kota, lalu berkata tanpa menoleh, “Besok… semuanya suda mulai.”

Devan berdiri tidak jauh darinya.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya.

Lisa akhirnya berbalik.

“Dekati Luna,” katanya.

Devan sedikit mengernyit.

“Kenapa harus dia?” tanyanya.

Lisa berjalan mendekat dengan langkah tenang.

“Karena dia tidak bekerja sendirian,” jawabnya, “dan kalau kita bisa masuk dari dia… kita bisa melihat siapa yang ada di belakangnya.”

Devan memahami arah pikirannya.

“Kamu ingin dia percaya padaku,” katanya.

Lisa mengangguk.

“Dan kamu tahu cara melakukannya,” tambahnya.

Devan tersenyum tipis.

“Sayangnya iya,” jawabnya.

Lisa menatapnya beberapa detik sebelum berkata dengan nada yang lebih rendah, “Tapi hati-hati… wanita seperti dia tidak hanya bermain dengan perasaan.”

Devan membalas tatapannya.

“Begitu juga kamu,” katanya.

Lisa tidak menyangkal.

Ia justru tersenyum.

Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Di sisi lain kota…

Di dalam apartemennya, Clara Wijaya duduk di sofa dengan wajah yang tidak lagi menunjukkan kelembutan, ponsel berada di tangannya sementara pikirannya dipenuhi dengan apa yang ia lihat malam ini, terutama cara Devan memandang Lisa yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.

“Ini tidak boleh dibiarkan…” gumamnya pelan.

Ia membuka ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.

Panggilan tersambung.

“Riko,” katanya.

Di seberang sana, suara Riko Saputra terdengar santai.

“Ada pekerjaan lagi?” tanyanya.

Clara tidak membuang waktu.

“Aku butuh semua informasi tentang Devan Alexander,” katanya tegas, “detail, hubungan, kelemahan… semuanya.”

Riko tertawa kecil.

“Kamu tahu harga untuk itu tidak murah,” katanya.

Clara tersenyum tipis.

"Kamu tenang saja saya tidak akan membayarmu dengan harga yang kecil,” jawabnya dingin.

Di tempat lain…

Arvin Pratama berdiri di balkon apartemennya dengan ponsel di tangan, menatap ke arah kota dengan pikiran yang jauh dari tenang, lalu ia menekan nomor seseorang.

Panggilan itu diangkat.

“Kevin,” katanya.

Suara Kevin Hartono terdengar di seberang.

“Aku sudah mulai cari tahu,” katanya, “dan kamu tidak akan suka hasilnya.”

Arvin mengerutkan kening.

“Bicara.”

Kevin berhenti sejenak sebelum berkata, “Lisa… tidak sesederhana yang kamu kira.”

Kalimat itu membuat Arvin terdiam.

Namun justru itu yang membuatnya semakin ingin tahu.

“Teruskan,” katanya.

Kevin menarik napas pelan.

“Dia mulai mengambil alih beberapa hal di perusahaan… dan caranya terlalu cepat untuk dianggap kebetulan,” jelasnya.

Arvin menggenggam ponselnya lebih erat.

“Dan Devan?” tanyanya.

Kevin menjawab dengan nada lebih serius.

“Kalau dia benar-benar terlibat…” katanya, “maka kamu sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar.”

Keheningan terjadi.

Dan untuk pertama kalinya…

Arvin mulai menyadari bahwa ini bukan lagi sekadar hubungan.

Ini adalah permainan kekuasaan.

Kembali ke apartemen Lisa…

Lisa masih berdiri di dekat jendela, sementara Devan bersiap untuk pergi, namun sebelum ia benar-benar keluar, ia berhenti sejenak.

“Lisa,” katanya.

Lisa menoleh.

“Apa?” tanyanya.

Devan menatapnya beberapa detik sebelum berkata dengan nada yang tidak biasa, “Jangan sampai kamu kehilangan dirimu pada permainan yang kamu buat sendiri.”

Kalimat itu membuat Lisa terdiam.

Namun hanya sesaat.

Karena detik berikutnya…

Ia tersenyum tipis.

“Aku sudah kehilangan itu sejak lama,” jawabnya pelan.

Dan jawaban itu…

Lebih jujur dari yang ia tunjukkan.

Devan tidak berkata apa-apa lagi.

Ia hanya menatapnya sejenak sebelum akhirnya pergi.

Meninggalkan Lisa sendirian di dalam apartemen yang luas namun terasa dingin.

Namun di dalam kesendirian itu…

Lisa menutup matanya perlahan.

Dan dalam pikirannya…

Satu tujuan tetap jelas.

Balas dendam.

Dan kali ini…

Ia tidak akan gagal. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!